Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Ayah


__ADS_3

Akram meminta Hakim mengirim dua mobil dan juga barang-barangnya ke rumah baru. Sementara dirinya sendiri akan menuju rumah mertuanya.


Mengendarai mobilnya sendiri, tak sampai tiga puluh menit mereka tiba di sebuah pagar yang menjulang tinggi.


Amara membuka kaca mobilnya untuk menunjukkan wajahnya pada satpam agar membukakan pagar. Bangunan mewah tiga lantai menyambut dengan deretan mobil mewah yang terparkir di halaman.


“Langsung bawa mobilnya sampai ke depan saja, Mas. Aku malas jalan,” kata Amara menunjuk tepat di depan teras.


Keduanya turun dari mobil dan disambut oleh pelayan yang menyambut dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


“Ibu sama ayah di mana, Mak?” tanya Amara pada Sumiyati.


“Bapak sama ibu masih keluar sebentar. Mbak Mara sama Mas Akram mau makan siang dulu?”


Akram menggeleng. “Tidak, Bu. Terima kasih. Kami sudah makan.”


“Panggil emak saja, Mas. Beliau orang yang telah merawatku sejak kecil.” Amara menunjukkan betapa berartinya wanita itu pada suaminya.


“Memangnya mereka ke mana?” tanya Amara heran. Dia sudah mengirim pesan pada orang tuanya bahwa dia akan kembali ke rumah siang ini, tetapi memang mereka tidak menjawabnya.


Wanita paruh baya itu hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan Amara.


“Mas mau keliling rumah gak? Barangkali mau lihat-lihat,” tawar Amara pada suaminya.


“Boleh, tapi ditemani kamu, ya.” Akram tersenyum manis.


Amara mengangguk, kemudian meminta Sumiyati dan beberapa pelayan untuk membantunya mengemas barang-barang yang ada di kamar. Tidak semuanya karena dia hanya akan membawa barang yang penting saja. Selebihnya mereka akan membeli dan mengisi rumah baru itu sesuai dengan keinginan.


Keduanya mengelilingi rumah sambil mengobrol santai. Sesekali mereka saling menggoda dan merayu, kemudian tersipu malu.


Manis sekali.


Setelah lelah berkeliling Amara membawa suaminya ke kamar untuk istirahat sembari menunggu orang tuanya yang akan pulang sebentar lagi.

__ADS_1





Suara ketukan pintu yang berulang membuat Akram terbangun dari tidurnya. Dia menatap sang istri yang masih lelap sambil memeluk tubuhnya. Perlahan dia memindahkan tangan istrinya lalu turun dari ranjang menuju pintu.


“Maaf ibu ganggu,” kata Raisa saat menantunya yang membuka pintu. Wanita paruh baya itu mengamati wajah menantunya yang tampak kusut dan seperti baru bangun tidur.


“Gak apa-apa, Bu. Mara masih tidur.”


Raisa mengangguk. “Ini sudah sore, gak baik tidur menjelang magrib.”


Akram mengangguk mengerti. Dia kembali menutup pintu saat mertuanya berlalu pergi. Dia memilih membersihkan diri lebih dulu, saat keluar dia sudah melihat istrinya bersandar di ujung ranjang dengan wajah lelah.


“Mandi, mau aku siapkan air hangat gak buat berendam?” tanya Akram mendekati istrinya, menghadiahi kecupan di kening wanita itu.


“Kan ke sini gak bawa baju ganti.” Akram tampaknya ingin mengenakan pakaian lamanya, tetapi Amara melarang dan memintanya menunggu sebentar sementara dirinya keluar dari kamar.


Tak lama Amara kembali ke kamar dengan membawa beberapa pakaian ganti. “Itu milik ayah, masih baru. Mas bisa pakai itu dulu gak apa-apa, kan?”


“Tapi gak enak sama ayah.” Tersenyum dengan sungkan.


“Mau menginap atau langsung pulang, Mas?”


“Terserah kamu saja.”


“Lebih baik kita langsung pulang saja ya. Gak enak tadi ditawari nginap sama mama gak mau malah nginap di sini. Biar adil.”


Akram hanya mengangguk saja mengikuti apa pun yang diinginkan istrinya.


Selepas makan malam keduanya berpamitan untuk kembali ke rumah baru. Amara memeluk kedua orang tuanya dengan isak tangis pelan. Sementara Raisa tampak berat harus berpisah dengan anaknya.

__ADS_1


“Ayah dan ibu bisa berkunjung ke rumah kami jika rindu sama Mara. Pintu rumah kami akan selalu terbuka,” kata Akram dengan senyuman.


Adnan menepuk bahu menantunya pelan, tetapi tegas. “Hari saat kamu mengucapkan ijab pada putri tercintaku, maka berpindah segala tanggung jawab kami sebagai orang tua.” Tampak pria paruh baya itu menghela napas dengan berat. “Meskipun dia telah jadi istrimu, selamanya dia tetap akan jadi anak perempuanku. Aku dan ibunya akan selalu menyayangi dan mencintai dia seumur hidup kami.”


Akram mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia mengerti akan perasaan mertuanya yang pada akhirnya harus mengalah ketika anak perempuannya menikah dan mengikuti suaminya.


“Ayah,” kata Amara memeluk superhero dalam hidupnya. Dia terisak pelan sambil mengucapkan kata ‘maaf’ untuk menebus semua salahnya yang pernah menyakiti hati mereka. Baik yang sengaja ataupun yang tidak disengaja.


“Selama Mara hidup bersama kami, bahkan sejak masih dalam kandungan, kami telah mencintainya, menjaga, dan melindunginya. Setelah dia lahir hingga dewasa, kami selalu mendampingi, mendidik dan menjaganya meskipun pernah gagal, kami selalu menyayanginya dengan sepenuh jiwa. Seumur hidup, kami gak akan pernah menyakiti, melukai, menyusahkan dan menelantarkannya. Kami asuh dia dengan segenap jiwa raga, merawatnya dengan penuh tanggung jawab dan doa, menjaga dengan penuh cinta. Maka kami gak rela jika dia terluka atau tersakiti. Kami gak rela siapa pun membuatnya sengsara, termasuk kamu ... Suaminya,” kata Adnan dengan tegas, mengeratkan pelukannya pada sang putri tercinta, menciumi puncak kepalanya dengan mata merah menahan air mata yang ingin tumpah.


“Jangan pernah berlaku keras dan kasar, karena kami gak pernah melakukannya. Jangan pernah membentak dan bertindak kejam, karena kami gak pernah mencontohkannya. Jangan pernah bertindak zalim, karena kami pun gak pernah menzaliminya. Sebagai orang tua kami mengerti putri kami memiliki kekurangan dan kelemahan, seperti kamu yang juga pasti memiliki kekurangan dan kelemahan. Tutupilah kekurangan dan kelemahannya dan jagalah aibnya seperti kamu jaga aibmu. Didik dan nasehati dengan kelembutan, ajak dia menggapai ridha Allah, bimbing tangannya menggapai surga bersama. Hiasi hidup kalian dengan taqwa dan raihlah keberkahan, bukan kemegahan dan kemewahan.”


Kini bukan hanya Amara saja yang menangis, tubuh Raisa bahkan bergetar hebat mendengar penuturan pria yang telah menemaninya puluhan tahun.


“Jika suatu hari nanti kamu gak lagi mencintainya, jangan katakan padanya. Itu akan menyakiti dan melukainya. Katakan saja pada kami orang tuanya, dan kami akan datang menjemputnya. Sebagaimana hari ini kami melepasnya untuk hidup bersamamu, maka jika suatu hari nanti kamu gak lagi bisa merawat dan menghargainya, kami yang akan mengambil kembali dia darimu.”


“Semoga saya bisa menjaga amanah yang telah ayah dan ibu berikan.” Akram mengangguk, menyeka sudut matanya yang basah.


Ayah adalah cinta pertama anak perempuan dan kini dia bisa menyaksikannya secara langsung bahwa itu adalah benar.


Amara menangis, semakin memeluk erat sang ayah dan menyembunyikan wajahnya di dada tegap pria yang telah menjadi panutannya.


Adnan yang berusaha menahan tangisnya pun tak mampu lagi menahan diri. Dia menangis, tetapi di bibirnya tersungging sebuah senyum penuh cinta. “Ayah akan selalu mencintaimu, Nak.”


“Ayah,” isaknya semakin keras.


To Be Continue ....


...♡♡♡...


...Aku yang biasanya gak baper, ngetik part ini jadi nangis. Ah ... jadi keinget almarhum bapak yang demi allah cintanya begitu besar banget sama aku anak perempuan satu-satunya....


...Al-Fatihah untuk bapak. Semoga tenang di sana, Pak 🤲...

__ADS_1


__ADS_2