
Cek yang diberikan pria itu cukup besar untuk perbaikan mobilnya. Namun, Amara tidak mengambilnya karena semua sudah ditanggung oleh perusahaan.
Amara memutuskan untuk mendonasikan uang yang diberikan pria itu kepada tiga panti asuhan yang ada di Surabaya. Cukup dia menghargai niat baik dan kesungguhan pria itu.
“Matamu terlihat sayu, jelas sekali kamu kurang tidur,” kata Raisa yang memperhatikan putrinya.
“Iya, Bu. Beberapa hari memang gak bisa tidur nyenyak,” jawab Amara jujur.
“Ada masalah apa?” tanya Adnan ikut menoleh dan memperhatikan mata sang anak yang memiliki lingkar hitam di bawah matanya. “Kalau ada masalah, jangan disimpan sendiri. Kamu bisa cerita sama ibu atau ayah.”
“Gak ada masalah yang berarti. Semuanya baik-baik saja.”
Setelah sarapan, Amara segera pamit lebih dulu untuk berangkat ke kantor. Karena nanti siang dia harus rapat dengan beberapa perusahaan kontruksi yang telah ditunjuk oleh direktur perencanaan dan direktur teknik.
Sesampainya di kantor Amara segera meminta Naura untuk membuatkan kopi hitam, sebagai penyemangat paginya.
Bruk!
Tangan Amara menyenggol tas yang ada di sebelahnya hingga jatuh dan isinya berserakan. Dia segera menunduk dan membereskan isinya dengan malas.
Tangannya terpaku saat sebuah kartu nama pria yang mengganggu pikirannya teronggok di sebelah tasnya.
“Hanif Akram Arsalan, nama yang begitu penuh arti,” gumamnya pelan, memasukkan kembali semua isinya.
♡
__ADS_1
♡
♡
Selepas rapat Amara segera keluar kantor, dia berniat makan siang karena jam istirahat tadi dia justru ketiduran di sofa ruang kerjanya.
Amara menjawab sopan sapaan yang dilontarkan untuknya. Kakinya terus melangkah keluar dari gedung tinggi itu dan memilih berjalan kaki menuju deretan food court yang tak jauh dari sana.
Hanya butuh waktu sepuluh menit berjalan kaki.
Selesai menyantap makanan dia terkejut dan menoleh saat mendengar keributan dan suara tangisan pilu seorang wanita.
Matanya terpaku pada keributan yang ada di sana. Amara segera bangkit dan mendekat, melihat beberapa orang hanya menonton dan merekam tanpa mau melerainya.
“Pak! Anda gak boleh melakukan kekerasan pada wanita.” Amara maju dan berteriak keras saat pria setengah baya akan mendaratkan pukulan pada seorang wanita yang menggendong bayi.
“Apa pun kesalahannya Anda gak bisa memukuli seorang wanita seperti itu, Pak.” Bukannya ingin ikut campur urusan orang lain, tetapi hatinya tergerak saat mendengar suara tangisan bayi yang meraung seolah tahu bahwa ibunya tengah terluka.
Banyak yang merekam dan menjadikan kejadian itu tontonan, tetapi tak satupun dari mereka ingin membantu.
Sebagai sesama wanita, Amara menaruh empati karena sepengetahuannya, apa pun kesalahannya seharusnya dibicarakan baik-baik tanpa harus ada kekerasan.
Apalagi wanita itu menggendong bayi yang tidak bersalah.
“Tahu apa kau, hah! Gak perlu ikut campur urusan rumah tangga kami,” bentak pria itu menyeret wanita yang terduduk di lantai.
__ADS_1
“Saya akan laporkan Anda ke polisi atas tuduhan kekerasan. Ada banyak saksi di sini,” ancam Amara mengangkat ponselnya.
Brak!
Pria itu menendang meja, membuat beberapa orang berteriak dan menjauh ketakutan.
“Kurang ajar!” Pria itu mendekati Amara dengan mata memerah penuh emosi. “Pergilah atau kau akan tahu akibatnya.”
Amara tetap menggeleng tegas, membuat emosi pria itu kembali tersulut. Tangannya terangkat berniat menyakiti Amara, tetapi seseorang menahan kepalan tangan itu dan menghempaskan dengan kasar.
“Jangan gunakan kekerasan kepada wanita, Pak!
Amara menoleh melihat siapa yang membantunya. Seketika tatapan keduanya bertemu dan seulas senyum terbit di bibir keduanya.
“Jangan ikut campur!” teriaknya berniat memukul pria itu, tetapi kekuatan mereka seimbang.
Belum lama perdebatan itu terjadi, dua orang polisi mendekat dan menangkap pria setengah baya itu, entah siapa yang melaporkannya. Wanita yang membawa bayi berteriak meminta perlindungan pada polisi dan mengatakan bahwa suaminya ingin membunuhnya.
Satu orang polisi membawa sang pria dengan tangan yang sudah terborgol, lalu satu polisi lainnya membawa wanita itu.
Saat melewatinya wanita itu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih meskipun tanpa suara.
Suasana riuh di sana akhirnya buyar. Amara menoleh saat pria berparas rupawan itu bertanya tentang keadaannya yang dijawab baik-baik saja. Justru saat ini jantungnya yang tidak baik-baik saja. Ingin sekali Amara mengatakannya, tetapi pipinya sudah merona lebih dulu.
“Astaghfirullah,” gumamnya pelan, menyentuh dadanya yang semakin berdetak keras.
__ADS_1
To Be Continue ....