
Wajah Akram tampak begitu bahagia begitu mendengar kabar jika Amara tengah mengandung. Usia kandungannya sudah dua belas minggu. Namun, dia harus dirawat karena kondisinya yang lemah. Makanan apa pun tidak bisa masuk, karena dia akan muntah lagi setengah jam kemudian, menyebabkan tubuhnya dehidrasi dan lemas.
Awalnya Amara tidak percaya jika dia hamil, sebab beberapa minggu yang lalu dia masih kedatangan tamu. Namun, kata dokter itu bisa jadi hanya flek karena Amara sendiri mengakui darah yang keluar tidak seperti biasanya.
“Terima kasih, Sayang. Alhamdulillah Allah titipkan rezeki untuk kita,” kata Akram mencium puncak kepala Amara yang hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Mama dan papa senang sekali. Alhamdulillah akhirnya kami bakal punya cucu dari Akram,” kata Azizah mendekat dan mengusap pipi menantunya, “semoga kalian diberikan kesehatan dan kekuatan.”
Tak lama Ahmad Arsalan masuk ke kamar dan mengusap pucuk kepala Amara sambil tersenyum lebar.
Siang harinya Raisa dan Adnan datang dan memeluk langsung memeluk putrinya dengan penuh rindu.
Ruangan inap VVIP itu akhirnya riuh dengan rasa bahagia karena kabar kehamilan Amara yang ditunggu-tunggu. Meskipun sedikit disayangkan jika kondisi kesehatan Amara yang justru menurun karena muntah yang terus terjadi.
Sore harinya Akram meminta semua orang untuk pulang saja. Biar dia yang akan menjaga Amara di rumah sakit. Dia juga meminta izin pada Adnan untuk memberikan Amara cuti selama masa kehamilan. Tentu tanpa banyak pertimbangan Adnan langsung memberikannya karena khawatir kondisi anak dan calon cucunya.
“Mandi ya biar segar, atau kalau gak mandi biar aku basuh saja tubuhmu biar gak lemas.”
Amara menggeleng pelan. “Gak mau, dingin.”
“Pakai air hangat lah.” Masih mencoba membujuk.
“Gak mau, Mas!”
Akram tak lagi memaksa. Memang akhir-akhir ini Amara hampir malas mandi, seperti anti dengan air.
Malam harinya Raisa dan Azizah kembali datang ke rumah sakit sambil membawa banyak makanan. Namun, sedikit pun Amara tidak tertarik untuk mencicipi makanan itu.
“Kenapa?” tanya Akram pelan.
“Gak apa-apa, Mas. Aku cium bau makanan perutku jadi mual,” jawab Amara pelan.
“Tapi kamu harus makan meski cuma dikit.”
Amara menggeleng dan menutup mulutnya.
“Jangan dipaksa, Nak. Nanti malah muntah, memang perjalanan kehamilan setiap orang itu berbeda-beda. Di trimester awal, pusing dan mual itu memang sudah biasa.” Azizah berkata sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
“Tapi bagaimana jika kondisi Mara seperti ini terus, Ma?” Wajah Akram tampak begitu khawatir.
“Dokter akan memberikan vitamin untuk mengurangi mual. Sepertinya memang Mara juga harus bed rest selama beberapa waktu.”
“Kamu makan saja biar ditemani mama dulu, Mas. Aku mau makan buah saja, boleh bantu kupas apel, Bu?” kata Amara menatap Raisa yang mengangguk.
Amara menghabiskan dua buah apel, jeruk dan segelas susu yang telah disediakan rumah sakit. Sudah cukup membuatnya kenyang dan lebih baiknya karena dia tidak muntah.
Pukul sepuluh malam Azizah dan Raisa pamit pulang setelah memastikan anak-menantunya makan dengan benar.
♡
♡
♡
Setelah empat hari di rumah sakit, akhirnya Amara diizinkan pulang setelah kondisinya membaik. Namun, Azizah sepakat akan tinggal di rumah mereka untuk memantau kondisi menantunya atas izin Amara dan Akram juga tentunya.
Sebagai seorang pria yang sudah beristri, apa pun yang dilakukan tentunya harus atas persetujuan istri agar tidak akan ada pihak yang akan merasa tersakiti nantinya.
Selama itu pula Akram tak pernah berangkat ke kantor karena ingin selalu menemaninya. Beberapa kali juga Amara telah meminta Akram untuk pergi meninggalkannya, tetapi pria itu menolak dan meminta Hakim membawa pekerjaan ke rumah sakit.
“Jangan lama-lama, Mas.”
“Iya, nanti kalau agak lama biar aku tinggal saja dan nanti titip suruh ambil mama.”
Amara terkekeh dan menggeleng pelan sambil memukul bahu suaminya pelan. “Jangan ngerepotin mama mulu.”
Sambil menunggu suaminya mengambil obat ke apotek yang jaraknya lumayan jauh, Amara mengambil ponsel dan membuka media sosial untuk membunuh rasa bosan.
“Umi Rahma, maaf sekali lagi aku harus merepotkan. Mohon doanya saja untuk kesembuhan beliau. Sampaikan terima kasihku juga untuk Ustadz Yusuf. Assalamu’alaikum.”
Amara yang mendengar nama yang tak asing di telinganya segera menoleh dan terkejut. “Ning Fatimah,” katanya sedikit keras membuat sang pemilik nama segera menoleh.
“Mara,” ucapnya tak kalah terkejut.
Amara segera bangun perlahan dan mendekati wanita yang ternyata adalah guru, sekaligus teman yang baik selama dirinya di pondok Ustadz Yusuf.
__ADS_1
“Apa kabar, Ning Fatimah?”
Fatimah memaksakan senyumnya. “Alhamdulilah baik, Mara. Bagaimana kabarmu? Maaf ya aku gak bisa datang ke pernikahanmu, umiku sedang sakit,” jelas Fatimah.
“Gak apa-apa, Ning. Bagaimana kondisi beliau?”
“Umiku sudah sehat, Mara. Sekarang justru abah yang sakit dan harus dirawat di sini,” kata Fatimah dengan sedih.
“Kok gak berkabar kalau di Surabaya? Sudah lama kah di sini?” tanya Amara sambil menatap iba ke arah Fatimah yang tampak begitu tertekan.
“Sudah seminggu. Kebetulan di sana alat-alat dan dokternya kurang memadai oleh karena itu dirujuk ke rumah sakit ini.” Fatimah menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Rumah sakit ini memang salah satu rumah sakit besar di Kota Surabaya yang dipakai sebagai rujukan jika rumah sakit daerah tidak memadai.
“Ning Fatimah kok gak berkabar, Ya Allah. Seminggu tinggal di mana?”
“Aku tinggal di guest house yang ada di belakang rumah sakit.”
Amara mengangguk mengerti. Di belakang rumah sakit ini banyak penginapan yang sering digunakan bagi keluarga pasien yang jauh.
“Umi Rahma juga gak kabari kalau Ning Fatimah ada di Surabaya, jadi sama sekali gak tahu.” Amara tampak menyesal karena tak tahu apa pun.
Fatimah mengulas senyum tipis. “Memang aku yang melarang umi bilang. Kamu kan baru menikah dan aku gak mau merepotkan. Oh ya kamu sedang apa di sini?” tanya Fatimah sambil mendekap bahu Amara akrab.
“Aku beberapa hari dirawat di sini. Gak tahu kalau lagi hamil juga, bawaannya muntah terus jadi lemes.” Amara mengusap perutnya lembut.
“Selamat, Mara. Semoga kamu dan calon bayi sehat sampai persalinan nanti,” kata Fatimah tulus.
Keduanya terus bercerita satu sama lain sambil menunggu. Fatimah ikut bahagia dengan apa pun yang telah diterima Amara saat ini.
Amara tersenyum saat menangkap kedatangan suaminya. Dia langsung berdiri membuat Fatimah sedikit terkejut hingga menoleh ke arah pandang yang sama.
“Ning Fatimah kenalkan ini suamiku, Mas Akram.”
Deg!
Seketika itu juga Fatimah merasakan jantungnya seperti ditikam ribuan pisau.
__ADS_1
To Be Continue ....