Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Sabar dan ikhlas


__ADS_3

“Mara asli mana?” tanya Fatimah mencoba mencairkan suasana.


“Surabaya.”


“Saya asli dari Kediri.”


Amara hanya mengangguk ketika Fatimah mencoba mengajaknya berbicara banyak hal.


“Saya sudah tiga tahun di sini. Mungkin awalnya sedikit kurang nyaman, tapi nanti akan ada waktunya kamu bisa menyesuaikan diri.”


Amara kembali mengangguk tanpa ingin menimpali.


“Saya juga masih belajar memaknai kehidupan. Baik saya atau orang-orang di sini gak ada yang benar-benar suci tanpa dosa. Kami semua juga masih belajar, sering kali ada salah dan khilaf entah dari kata-kata atau perbuatan.”

__ADS_1


“Ning Fatimah saja masih bisa bersikap rendah diri, apalah aku yang hanya manusia penuh dosa ini.”


Fatimah menggeleng tidak setuju dengan pernyataan Amara. “Semua pernah melakukan kesalahan, tapi Allah maha pemaaf jika hambaNya benar-benar memohon ampun. Lebih baik menyadarinya dan melakukan taubat daripada tidak sama sekali.”


“Tapi semuanya tetap saja percuma karena masa lalu yang terjadi gak akan bisa dihapus atau waktu gak bisa diputar lagi.”


“Masa lalu gak bisa diubah, benar. Tapi dari masa lalu orang akan belajar memahami banyak hal. Salah satunya kamu yang akhirnya sadar bahwa kenikmatan dunia itu bukan hanya tentang kesenangan dan nafsu semata.” Fatimah belajar untuk tak terlalu menekan Amara untuk memilih pandangan yang sama dengannya. Dia ingin menjadi teman bicara, diskusi dan curhat. Bukan sosok guru yang akan mengajarinya.


Mereka sampai di masjid dan duduk dibarisan para wanita mendengarkan kajian sore.


Amara menunduk, meresapi tiap bait kalimat yang penuh makna dari ceramah yang didengar. Setitik cairan bening jatuh dari sudut matanya.


“Sebagai manusia, mengikhlaskan suatu hal memang secara umum tidak mudah dilakukan. Seperti halnya dengan sifat sabar yang pada suatu masa tertentu juga mencapai batasnya. Namun, mengedepankan sikap ikhlas merupakan suatu perbuatan yang baik, yang mana ikhlas tanpa batas merupakan hal yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Dengan mengedepankan sifat ikhlas sendiri dapat membuat kita menjadi lebih tenang, lebih lega, dan bersahaja.”

__ADS_1


Amara kembali pipinya yang basah. Fatimah hanya sesekali melirik tanpa berniat menenangkan.


“Ikhlas juga disebut sebagai rahasia antara Allah dan hambanya, bahkan tidak ada malaikat yang mengetahui dan mencatatnya, tidak ada syetan yang mengetahui dan merusaknya, tidak ada pula hawa nafsu yang mengetahui lalu menyondongkan ke hal lain yang buruk.”


Ceramah diakhiri saat waktu mendekati magrib. Setelah salat berjemaah, mereka semua bubar dan kembali pada aktivitas rutin masing-masing.


“Mara mau belajar ngaji di rumah Umi Rahma atau di pendopo?” tanya Fatimah.


“Di pendopo saja.”


Fatimah mengangguk dan membawa Amara menuju pendopo khusus putri. Sesekali wanita itu kembali mencoba mendekatkan diri dengan bertanya hal-hal yang umum. Namun, Amara hanya menggeleng atau mengangguk saja.


“Mara,” panggil Fatimah pelan membuatnya menoleh. “Jangan berharap apa pun kepada manusia, melebihi kepada Allah.”

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2