
*Selamat Membaca ^×^"
~
Kampung halaman menjadi tempat yang ia ingin hindari saat ini juga. Tapi, mengingat ada sanak keluarga yang menunggunya dirumah, Sania menyempatkan diri untuk pulang.
Terlalu berlebihan jika mengatakan keluarganya menunggu kepulangan dirinya, nyatanya Sania yakin ia hanya dibutuhkan ketika waktu gajinya tiba.
Dengan kata lain ia hanya menjadi sumber uang bagi keluarganya. Kejam memang. Tapi memang itu kenyataannya.
Tapi, ia harus datang ke kampung halaman. Selain untuk memberi tahu, bahwa dirinya sudah tidak lagi kerja. Ia juga ingin melepas rindu pada Kamal, kekasihnya.
Kekasih, satu orang yang harus Sania putuskan saat tiba nanti. Sebenarnya Sania masih sangat mencintai laki-laki yang sejak SMA dekat dengannya itu. Tapi, kejadian kemarin lah yang membuat Sania ingin memutuskan mengakhiri hubungan ini. Sebelum terlambat.
Kehilangan kehormatan mungkin menjadi hal yang biasa bagi sebagian masyarakat di kota. Tapi, dikampung nya hal tersebut masih menjadi hal yang sangat tabu. Dengan kata lain, mungkin Sania akan terus menjadi bahan omongan banyak orang jika sampai ada yang tahu.
Sania menggeleng, sepertinya keputusan untuk menikah akan dikubur begitu saja. Sudahlah, Sania akan hidup main-main sampai tua nanti. Dengan kata lain ia ingin menghabiskan masa tua-nya dengan kebahagiaan yang ia ciptakan sendiri.
Ia beranjak menelusuri jalan yang masih banyak pohon. Rumahnya sudah terlihat didepan mata, perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Mencari ketenangan.
Rumah masih terlihat sama seperti saat ia meninggalkan kampung kala itu. Rumah yang masih menjadi tempat tinggal padahal sudah tidak layak pakai.
Ayahnya yang tidak mau bekerja keras dan ibunya yang hanya meminta uang pada Sania, sementara Sania pula yang menyekolahkan adiknya. Membuat mereka selalu berharap lebih pada Sania, tanpa mau bekerja keras terlebih dahulu.
__ADS_1
"assalamu'alaikum bu, Sania pulang"
Sumi terpogoh-pogoh keluar, "kamu pulang nak? Kenapa bulan ini uang bulanan belum ditransfer? Dan untuk apa kamu pulang?"
Nah kan, benar perkataan Sania!
"Sania dipecat bu dari pekerjaan ini" dusta Sania, ia tersenyum miris. Ia lebih memilih dipecat daripada diperlakukan seperti tadi malam
"apa! Terus uang bulan ini bagaimana, adikmu ingin menikah dan kamu diam saja!"
"menikah? Santy ingin menikah? Kenapa tidak ada yang memberi tahu Sania. Sania masih dianggap keluarga kan dirumah ini?"
"Bukannya kamu sudah diberi tahu melalui telepon lewat Santy? Kata adikmu, kamu sedang sibuk. Tapi kenapa sekarang kamu malah dipecat! Tidak tahu kah, adikmu sedang membutuhkan uang banyak"
"dengan temanmu Kamal. Besok mereka akan melangsungkan pernikahan"
"Kamal! Kenapa Santy menikah dengan kekasihku? Kemana mereka saat ini!"
"kekasih kamu?" Sumi mengernyit, "Kamal bilang kalian hanya teman saja. Mereka sudah lama pacaran sejak kamu pergi. Jadi, tidak usah mengada-ada kamu. Mungkin saja, kamu yang suka dengan Kamal dan tidak terima Kamal menikah dengan adik kamu"
"kenapa harus Santy?!"
Sania menaruh tas besarnya, lalu beranjak keluar rumah tapi ditahannya oleh Sumi, "mau kemana kamu"
__ADS_1
"mau cari Santy? Enak saja dia menikah dengan kekasihku"
Memang niat awal, perempuan itu Ingin mengakhiri hubungan dengan Kamal. Tapi bukan begini caranya. Dirinya dikhianati setelah ia pergi untuk mencari uang.
Dan uang yang didapatkan untuk adiknya digunakan Santy untuk berpacaran dengan Kamal. Oh tidak, itu sama saja mencari mati. Sania bukan orang baik yang akan langsung memafkan adiknya begitu saja.
"sekali lagi kamu melangkah keluar rumah, ibu pastikan kamu akan pergi dari rumah ini untuk selamanya! Walaupun Kamal pacar kamu, saat ini laki-laki itu Ingin menikah dengan adik kamu. Bahkan mereka sudah tinggal bersama sejak lama. Lagi pula Kamal lebih cocok dengan Santy yang cantik daripada kamu"
Dibedakan lagi? Sudah sejak kecil Santy selalu diprioritaskan oleh kedua orang tuanya. Disaat ia harus membantu ibu dan bapaknya berjualan dipasar, dengan enaknya Santy diam dirumah dan menghabiskan uang yang sudah ia susah-susah cari.
"bukan masalah lebih cantikan siapa bu! Tapi, disini aku dikhianati oleh dua orang yang nyatanya dekat denganku. Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Bahkan mereka tinggal bareng! Apa ibu tidak mikir apa yang akan mereka lakukan, jika tinggal bareng dan melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan"
Sania tersentak dengan ucapannya sendiri. Apa bedanya ia dengan Santy? Toh, Sania sendiri sudah melakukan hal yang seharusnya belum boleh dilakukan orang yang belum menikah.
"kamu saja yang lebay. Sudah biarkan mereka menikah, adik kamu sudah tinggal bersama sejak lama. Kedua orang tua Kamal juga senang mendengarnya. Kenapa kamu yang repot, tinggal relakan Kamal pada adikmu. Kan gampang. Sekarang tugas kamu, mencari uang sepuluh juta untuk melancarkan acara pernikahan adik kamu besok"
"menikah besok? Sepertinya mereka sengaja untuk tidak memberi tahu Sania" Sania tersenyum sinis. Air matanya sudah habis tadi malam, hatinya sudah terasa mati, "untuk apa aku cari uang untuk pernikahan adikku, pernikahan yang hanya buat aku sakit hati"
Sania beranjak masuk kekamar dan mengunci nya dari dalam. Dengan dia melabrak adiknya juga, tidak memungkinkan untuk membatalkan acara pernikahan yang mungkin sudah rampung seratus persen.
Mungkin ini sudah jalan yang diberikan tuhan untuknya.
Sania menenggelamkan wajah dibalik bantal dan mulai terisak. Perempuan itu masih mendengar teriakan Sumi dari luar kamar.
__ADS_1
Kemaren kehilangan kehormatan saat ini kehilangan kekasih? Hidup yang sempurna.