Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 15


__ADS_3

Happy Reading 🤗


Santy dan Kamal tak kunjung berhenti memperhatikan komplek perumahan mewah yang baru saja dilewatinya. Semakin kedalam semakin besar pula rumah yang terlihat. Mereka memandang kagum keindahan rumah yang tak pernah terfikirkan oleh mereka.


Sesekali Santy melirik Sania yang tampak biasa saja. Sekali lagi perempuan itu menyatakan iri pada kakaknya, karena mendapat suami yang ternyata jauh lebih sukses daripada Kamal yang hanya pengangguran dan mengandalkan uang kedua orang tuanya.


Huh, kalau gitu aku nyesel nikah dengan mas Kamal kalau ternyata suami kakak lebih sukses daripada mas Kamal.


"yeayyyy campeee" Pekik Sean


Sania terkekeh seraya menguyel-uyel pipi tembem Sean. Setelah sampai, Sania dan Seno turun. Tentu saja setelah menunggu Santy dan Kamal turun terlebih dahulu. Tidak sopan memang.


Bahkan selama perjalanan, Sania terus menerus meminta maaf pada Seno atas kelakuan adiknya yang tidak tahu malu. Seno hanya tersenyum maklum lalu mengatakan 'tidak apa-apa'.


"wawww, ternyata kehidupan kakak dikota jauh lebih enak. Omong-omong, kenapa suami kakak sampai memilih kakak untuk ajdi istrinya ya. Padahal dikota lebih banyak perempuan cantik dibanding kakak"


"namanya sudah takdir dek" hirau Sania


"kakak bukan penyebab ka Sneo bercerai dengan mantan istrinya kan? Biasanya disinetron kan banyak pembokat (pembantu) yang genit dan menggoda majikkanya biar majikkanya berpaling dan berakhir menikahi si pembokat itu"


"omonganmu benar-benar tidak bisa dijaga ya! "


"kan, Santy hanya mengutarakan pertanyaan. Kalau kakak merasa marah, kan Santy jadi curiga" Ucap Santy lalu berlalu melewati Sania begitu saja memasuki pantry


"San, mas langsung istirahat ya" ucap Seno tiba-tiba datang dari belakang yang sedang menggendong Sean dipunggungnya


"iya mas, aku mau masak makan malam dulu. Jangan lupa bersih-bersih dulu baru istirahat. Baju kotornya jangan lupa ditaruh dikeranjang"


Beberapa minggu kerap menjadi pengganti Ajeng kala itu. Membuat Sania paham, bahwa atasannya AKA yang sekarang menjadi suaminya benar-benar jorok. Dengan kata lain sangat berbeda dengan penampilannya yang selalu tampak perfectsionis.


"iya Saniakuuu" jawab Seno, "yuhuuu pesawattt meluncurrr"


"yuncuurrrr. Gooooo" Sean sangat semangat saat tubuhnya dilayangkan oleh Seno kekamar mereka


"dadahhh miii" sahut Sean seraya terus melambaikan tangan, seakan ingin pergi jauh

__ADS_1


"dadahh sayangnya mbaa" balas Sania dengan senyuman lebar


...~§~...


"dek, bantuin kakak masak dong" pinta Sania


Santy menggeleng, "ogah ah! Suruh Kamal aja tuh yang bantuin kakak. Santy mau tidur, cape! Oh iya, jangan digoda kamalnya" sungut Santy, "kamar nya dimana?"


Sania menunjuk salah satu kamar yang masih kosong disamping kamar utama. Dengan santai Santy langsung masuk meninggalkan Kamal yang kerepotan membawa barang mereka.


Sania mengendikan bahu, acuh. Lalu lanjut memotong sayuran untuk makan malam mereka semua.


"San, ada yang perlu aku bantu?" Kamal tiba-tiba datang dan menyita sedikit perhatian Sania


Sania sudah berhubungan dengan Kamal sejak SMA, tidak mungkin kan hanya dengan waktu satu dua hari ia sudah lupa kenangan indah kala itu. Walaupun masih ada sedikit getaran dihati perempuan itu, tapi ia memantapkan diri bahwa saat ini ia sudah menjadi istri orang lain.


Walaupun sampai sekarang ia tidak tahu, pernikahan ini benar-benar serius apa hanya sebagai ajang bercandaan bagi seorang Seno. Mereka belum memiliki waktu berdua untuk berbincang.


"tolong ulek bumbu itu"


"terlambat mal, semuanya sudah terjadi"


"aku benar-benar minta maaf, aku memang mencintai adik kamu. Tapi aku tidak berfikiran sampai untuk menikahinya. Karena sosok istri yang aku impikan, hanya ada pada dirimu. Istri yang mandiri dan bisa membimbing suaminya. Tidak seperti Santy yang masih terlalu muda untuk melakukan itu semua"


"aku tidak peduli isi fikiranmu seperti apa. Sekarang terima saja menerima istrimu yang masih kekanak-kanakan itu. Kamu terima saja hasil perbuatanmu"


"tapi kan---


"sudahlah aku tidak ingin berbicara tentang masa lalu. Dan lebih baik, kamu pergi dari sini. Aku tidak mau keberadaan kita berdua akan membuat orang lain berburuk sangka" Ucap Sania membuat Kamal menghentikan ulekan-nya


"baiklah, kalau itu maumu. Tapi, aku minta maaf sekali lagi"


"iya-iya sudah sana kau pergi"


Kepergian Kamal membuat perasaan Sania kembali tenang. Ia kembali melanjutkan masak nya yang sempat tertunda.

__ADS_1


Setelah selesai memasak, ia memasuki kamar 'kamar tempat dulu ia tempati' untuk bersih-bersih. Sania belum se berani itu untuk mengklaim kamar Seno sebagai kamar miliknya.


Setelah dirinya merasa lebih segar, ia langsung mendatangi kamar Seno yang terletak dilantai atas.


"mas, makan malam dulu yu" panggil Sania


"masuk saja San, tidak dikunci"


"miiii" Sean merengek dan melemparkan bola kain yang tadi dimainkannya


"dikirain kamu istirahat mas, Sean juga dikira tidur. Gak kedengaran suaranya dari tadi" ujar Sania seraya menaruh Sean diatas kasur


"penggennya sih gitu, tapi masih banyak kerjaan" Seno mendekati diri pada Sania dan memeluk perempuan itu dari belakang, "padahal aku cape banget lohhh" rengeknya


"makannya istirahat saja. Kerjanya lanjut besok, sekarang makan malam dulu yu"


"hayuuuu" jawab Sean dan Seno berbarengan


...~§~...


"ka ambilin aku ayam-nya dong. Oh iya besok, aku mau makan udang ya. Jangan masak ayam lagi, nanti Santy bosan"


Kamal menggeleng saat mendengar perkataan istrinya, tak ayal dalam hatinya ia menyetujui perkataan Santy. Sayang kan, sedang berada dirumah orang kaya tapi makan yang itu-itu saja.


"tuan rumahnya saja belum makan, kalian main makan saja! Tidak sopan. Dan Santy, kakak sudah ajarkan kamu untuk menghormati orang yang lebih tua"


Santy memandang malas Seno dan Sania. "kakak ipar, Santy izin makan yaaaa" ujar perempuan itu sedikit mengejek


"silahkan!" jawab Seno singkat, "kalian kapan pergi dari sini?" sarkas laki-laki itu


"tadinya sih saya dan Santy, ingin segera bulan madu saat sampai disini. Tapi saat melihat disini, kami memutuskan untuk pergi setelah seminggu menginap disini. Tidak apa-apa kan ka?" jawab Kamal seakan tidak sadar dengan makna lain dari perkataan Seno


Seno mengangguk, "silahkan liburan dirumah saya kalau gitu. Maaf hanya ada segini aja kondisi rumahnya"


"Tidak apa-apa ka, jangan lupa saja jamu kita dengan baik" jawab Santy dengan tidak tahu malunya

__ADS_1


"sudah diam! Makan terlebih dahulu" Ucap Sania menengahi-nya seraya terus menyuapkan bubur nasi pada Sean


__ADS_2