
Happy Reading ~
"mas" lirihnya
Seno menoleh, "kenapa? Kau mau membela adikmu juga?" Seno mengangkat salah satu alisnya
Laki-laki masih belum dapat meredam emosinya. Tangannya mengepal kuat, seakan menjaga cincin permata didalamnya.
Sania menggeleng, "tidak, aku tahu kali ini adikku sangat salah. Disini Sania mewakilkan Santy dan Kamal untuk meminta maaf kepadamu. Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan mereka"
Seno menarik nafas sebelum mendekatkan tubuhnya untuk menatap Sania dengan dahi mengernyit lalu tak lama perempuan itu merasakan keningnya disentil oleh laki-laki itu.
"ini bukan salah kamu, sudahlah yang penting mas mendapatkan kembali cincin itu kembali" ucapnya seraya mengacak poni perempuan itu
"sepenting itukah cincin itu?" Seno berhenti melangkah sejenak saat mendengar cicitan suara Sania
Laki-laki itu menoleh lalu mengeluarkan cincin permata itu didepan Sania dan menunjukkan nya dihadapan wajah perempuan itu, "kamu tahu sendiri kan seberapa penting kenangan tentang Karin? Mungkin kalau perhiasan lain yang adikmu ambil, mas tidak mungkin semarah tadi. Tapi adikmu dan suaminya malah mengambil satu-satunya perhiasan yang buat Karin ingin menikahi ku. Sampai disini kamu paham kan seberapa penting cincin ini?"
"mas selalu menceritakan seberapa penting kenangan milik nyonya. Tapi bagaimana denganku?" Sania menunjuk dirinya sendiri, "apa mas tidak berfikir untuk menjaga perasaan Sania? Sania istri mas kan?" ucapnya dengan sangat lirih
Sania menyandarkan tubuhnya kebahu sofa, seraya tersenyum lemah. Tak ayal lengannya tetap merapihkan segelintir pakaian kotor bekas liburan nya kemarin.
"tapi kamu tahu sendiri kan---
"iya Sania tahu dan sangat paham. Mas sangat mencintai nyonya Karin dan dengan sepenuh hati mas ingin menjaga kenangan peninggalan nyonya Karin. Tapi nyatanya mas sudah bercerai dengan nyonya Karin kan? Bahkan saat ini kita sudah sah dalam negara maupun agama. Apa mas tidak memikirkan keberadaan Sania? Atau memang benar mas menikah dengan Sania hanya untuk tanggung jawab saja?" sahut Sania," apa mas tidak memikirkan bagaimana perasaan Sania?"
"bukan begitu---
" sudahlah mas, Sania mau istirahat!" Sania bangkit lalu berlalu seraya membawa baju kotor tersebut," apa mas tahu, kalau memang jadinya seperti ini. Sania menyesal telah menikahi mas. Lebih baik Sania meratapi kesedihan tentang malam itu, daripada terus bersedih karena pernikahan ini" lanjutnya
__ADS_1
Seno mengusap rambut depannya dengan kesal. Perkataan Sania membuat laki-laki itu kembali merasa bersalah kepada perempuan itu.
Arghhhh, apa yang baru saja aku lakukan!
...~§~...
Rapat yang seharusnya dilaksanakan siang ini berlalu begitu saja tanpa kehadiran sang pemilik perusahaan. Dengan santai laki-laki itu mengatakan pada asisten-nya untuk mewakilkan ia dalam rapat. Asisten-nya yang baru saja pulang dari luar kota akibat tugas kantornya hanya bisa menyetujui seraya mengucapkan serampah kotor didalam hatinya yang tertuju pada atasan-nya itu.
Kini Seno melepaskan celemek. Lalu duduk dihamparan sofa dan mulai menyicip nasi gorengnya yang ia buat. Nasi goreng untuk makan siang gak papa kan?
Setelah terjadinya pertengkaran kecil beberapa jam yang lalu, tidak ada tanda-tandanya Sania untuk keluar kamar. Seno sudah berulang kali mengetuk kamar yang ditempati Sania, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Maka dari itu, laki-laki itu memutuskan untuk memberi suprise pada istrinya, dengan memasak-kan nasi goreng spesial untuk istrinya.
Bukan suprise yang besar, tapi untuk tipe laki-laki yang tidak bisa memasak seperti Seno. Hal tersebut merepukan hal yang sangat luar biasa. Seno mengikuti resep yang ada di ponsel. Tidak ada yang dikurangi maupun ditambah, jadi kalau kurang enak salahkan saja resep nya!
"kan kurang asin!" keluhnya lagi dan lagi, "yang kasih resep, gimana sih!!!"
"biarlah, tapi ini lumayan ko" putus Seno, akhirnya
Setelah merapihkan meja makan dan sedikit menghias nya, Seno beranjak memasuki kamar Sean.
Laki-laki itu sedikit menguyel pipi tembam anaknya, Sean menggeliat dan langsung tersenyum saat wajah ayahnya terpampang didepan matanya saat ia baru saja membuka mata.
"yahhhh, endongg"
Seno mengangkat seraya beranjak keluar kamar. Kedua laki-laki berbeda usia itu sudah berada didepan pintu kamar Sania.
Cukup lama mereka berdiam didepan pintu, hingga pekik-an Sean membuat pintu kamar itu otomatis terbuka. Sania muncul hanya untuk mengajak Sean masuk. Tetapi sebelum pintu ditutup kembali, Seno sudah menahan dengan tumit kakinya.
__ADS_1
"kamu masih marah?"
"fikir saja sendiri!" jawabnya Sewot, "udah tahu istri lagi sakit perut! Eh omongan mu itu malah bikin nambah sakit aja!"
Seno langsung mengangguk paham, oh! Tamu bulanan wanita.
Seno menutup mata Sania dan membimbing nya untuk sampai ke meja makan.
"apaan sih! Lepas gak" Ucap Sania dengan wajah datar. Tetapi Seno tidak mau tahu, ia tetap membimbing Sania kemeja makan dengan mata tertutup.
"SURPRISE!" pekik Seno
Perempuan itu hanya mengerjapkan mata, bingung. Entah harus bereaksi seperti apa.
"ohhh, wowww aku terkejut" ucapnya dengan wajah datar
"ah gak seru kamu mah" Seno menyodorkan piring kehadapan Sania, "cobain deh. Mas udah bikin sepenuh hati"
Sania mengambil dan mengunyah nya dengan pelan, "lumayan untuk seorang pemula" puji Sania, "makasih mas"
Sebenarnya bagi pecinta asin seperti Sania, masakan Sneo termasuk sangat hambar. Perempuan itu tidak suka makanan hambar! Tapi ya sudahlah, sudah dimasaki oleh suami harus bersyukur.
"udah gak marah lagi kan?"
Perempuan itu mengendikkan bahu seraya menyeka sekitar mulutnya dengan tisu, "entahlah, perkataan mas memang ada benarnya. Sania bisa apa?"
"Bukannya seperti itu--
Alah basi, dengusnya dalam hati," sudahlah mas. Jangan diingat-ingat lagi, kalau gak mau Sania diemin lagi" ujarnya
__ADS_1
Seno hanya bisa menunduk dengan Sean dipangkuan-nya. Seakan baru sadar perkataan nya yang kelewatan beberapa waktu yang lalu.
Aku harus apa biar Sania tidak marah lagi?