Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 87


__ADS_3

Minggu pagi kediaman keluarga 'S' terlihat sedikit sibuk dibanding hari-hari biasanya. Sania yang bolak-balik membangunkan anak-anak dan Seno yang memilih menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa.


Kalau kalian berfikir mereka akan liburan. Itu merupakan jawaban yang benar-benar salah!


Kemarin sore, Seno mengusulkan agar Sania mengunjungi kedua orang tua-nya dan dengan sedikit ragu Sania menerima usulan Sania. Sejahat apapun orang tua Sania, mereka masih memiliki suatu ikatan yang tak terlihat.


Mau terlihat tidak perduli pun tidak bisa, nyatanya dalam hati perempuan itu sesekali ada waktunya untuk merindukan kedua orang yang sudah menemani semasa mudanya itu.


"iya nih aku bangun!" sungut Sean dan terduduk diatas kasur, masih memejamkan mata. Terlihat sangat lucu bagi Sania


"kalau udah bangun mas masih merem gitu" sahut Sania dengan lembut


Sania mulai melipat selimut pooh milik Sean serta mencari pakaian untuk dipakainya setelah mandi.


"katanya mau ikut kerumah nenek" ajak Sania


Benar saja, Sean langsung membuka matanya lalu bergoyang ria, "mau kerumah nenek! Kerumah nenek. Nenek-nya udah gak marah lagi kan sama Sean?" tanya Sean kala ingat Sumi yang selalu mencari kesalahan Sean dan Reyka


"enggak, nenek udah gak marah lagi sama Sean" seru Sania sedikit tidak yakin, "sudah-sudah, kalau kebanyakan bicara nanti malah kesiangan lagi. Mandi ya mamih tunggu dimeja makan!"


...~§~...


"kita belangkat....." seru Sena dengan tangan terangkat merasa sedikit sulit karena kursi khusus Yang diduduki-nya. Sena menggeser sabuk yang menghalau tubuhnya lalu mengangkat tangan kembali bersorak bahagia, pertama kali merasakan yang namanya 'jalan-jalan'


Tidak seperti antusias-nya yang ditunjukkan ternyata selama perjalanan Sena hanya mengisi waktunya dengan tertidur saja. Berbeda dengan Reyka dan Sean yang memilih melihat keadaan sekitar sembari bertanya jika ada hal yang mereka ingin ketahui.


"mas kamu ngantuk?" tanya Sania sembari memikat pelan lengan Seno di kemudi


"enggak ko" Seno tersenyum, "lagi pula bentar lagi juga nyampe ko"


Seno tersenyum miris, padahal ia sudah menahan kantuk sejak dua jam yang lalu. Perjalanan yang selalu ia rasakan sangat berbeda jika ia yang menyetir dan bersama supir.


Ditambah jalanan terasa padat merayap menyulitkan Seno untuk menyalip bebas. Seno berjanji, kedepannya ia akan memilih membawa supir. Jika tahu seperti ini!


"bohong kamu mas! Udah nepi dulu aja, daripada terjadi apa-apa hanya karena kamu mengantuk" seru Sania mengejutkan seno


Seno menghela nafas dalam lalu mengiyakan. Mumpung melihat sebuah rumah makan didepan Seno segera membelokan-nya, "kita makan dulu aja ya"


"orang ngantuk ko malah makan" keluh Sania, "yang ada makin ngantuk mas"


"kalau mas tidur di mobil pasti kalian bosen. Lebih baik kalian makan didalem dan mas istirahat sebentar disini" usul Seno


"ya sudah, aku anter anak-anak makan dulu ya mas" sahut Sania lalu merogoh tas slempang dan memasukkan beberapa barang penting untuk dibawa-nya bersama


"hati-hati, yang" Sania menyalimi lengan Seno sebelum menyusul anak-anak yang sudah terlebih dahulu turun


"kamu mau nitip apa gitu?"

__ADS_1


"ice americanoz" ucapnya sedikit teriak agar Sania yang sedang memutar didepan mobil mendengar pesanan-nya


Sania mengacungkan jempol setelah itu berlari menyusul Reyka yang sudah kesulitan membawa kedua adiknya yang 'sedikit' heboh.


"kalian mau makan apa?" tanya Sania sembari melongok kesana kemari, mencari makanan yang tepat untuk dikonsumsi


"papih gak makan?" tanya Reyka


"enggak papih mau istirahat dulu" jawab Sania lalu mulai menggiring anak-anak ke-gerai makanan khas sunda


"aku mau ayam bakar" seru Sean tiba-tiba saat pamflet dihadapan-nya menampilkan sepotong ayam bakar yang tampak menggugah selera


"Sena mau apa?"


Sena menggeleng lalu meminta Sania untuk menggendong-nya. Rupanya Sena masih antara sadar dan tidak sadar lantaran baru bangun tidur.


"mih" panggil Reyka, "makanan-nya bungkus saja. Kita makan dimobil, sekalian bareng papih"


"ya udah mamih pesen dulu ya. Nanti kita sama-sama makan sebelum lanjutin perjalanan"


"oke mih!"


...~§~...


Setelah mengistirahatkan tubuh di rumah makan atau rest area, tubuh Seno sedikit lebih rileks dibanding sebelumnya.


Berbeda dengan sang kakak, kini Sena yang paling semangat dari semuanya. Dengan duduk dipangkuan Sania, anak itu tidak berhenti berceloteh dengan apa saja hal yang ia lihat membuat Seno dan Sania tertawa sesekali.


Merasa gemas.


"mas pernah kesini ya sebelumnya?" selidik Sania saat Seno melajukan mobil memasuki kampung-nya


"setiap bulan-nya juga mas selalu kesini" Ucap Seno, "mas bikin proyek disekitar sini" jelas Seno saat melihat wajah penuh keingin tahuan Sania


"proyek apa tuh?"


"proyek untuk menemukan sang pemilik hati" Sania mendecih, "dan sekarang berubah menjadi proyek untuk mengembalikan hati orang tersebut"


"apaan sih mas" Sania tersipu malu


"hahahah.... Lucu banget sih istri mas" Seno mengacak-acak hijab Sania membuat perempuan itu merengut kesal


Ckit... Tidak terasa perjalanan selama lima jam sampai juga. Rumah mewan tapi tampak tidak terurus sudah berada dihadapan mereka semua.


"mas kenapa sepi?" tanya Sania seraya membuka seat belt dan turun dari mobil


"mas juga gak tau. Kita tanya tetangga dulu aja" suruh Seno lalu membantu sania menurunkan anak-anak

__ADS_1


"oh iya, mas taruh salah satu pelayan dirumah kita untuk menemani kedua orang tua kamu" ujar Seno memberi tahu


"Hah? Maksudnya" Ucap Sania sembari bilang 'hati-hati' pada Sean dan juga Reyka yang sudah asyik berlarian mengitari halaman rumah


"satu tahun yang lalu mas balik lagi kesini. Dan semuanya tampak berbeda. Pokoknya kamu akan tahu nanti. Sekarang tolong pegangan Sena dulu, mas mau keluarin barang"


"eh iya mas" Sania mengambil alih Sena yang sedang asyik mengunyah biskuit


"nak sini jangan jauh-jauh. Kita masuk kedalam rumah nenek dulu" panggil Sania


Sean dan Reyka langsung menghampiri Seno dan Sania seraya membantu membawakan tas tas kecil yang cukup dibawa oleh mereka.


"assalamualaikum ibu, bapak"


"assalamualaikum" tambah Seno


"sepertinya gak ada orang deh mas" tiba-tiba Sania berucap setelah mengintip dari kaca kedalam rumah, yang memang nampak gelap


Ceklek, "gak dikunci!" seru Seno


"assalamualaikum" seru mereka semua berbarengan


Benar saja. Rumah tampak gelap, kosong melompong. Hawa tidak enak langsung melingkupi keluarga itu.


Bahkan perabotan-perabotan yang harusnya terawat tampak usang seperti tidak ada yang membersihkan-nya. Sania sedikit mengernyit saat mendapati debu yang tertinggal disudut ruangan.


Menandakan rumah ini masih ada tanda-tanda kehidupan!


"mih Sean takut" Sean memeluk kaki Sania, gemetar


Sania mengangkat tubuh Sean kegendongan-nya, kemudian mendekatkan Reyka pada tubuhnya.


Siapa saja pasti takut melihat rumah yang sama sekali tidak ada penerangan. Hanya sinar matahari yang membantu penerangan rumah itu.


Sania jadi bergidik, membayangkan kondisi rumah ini jika dimalam hari.


"kata kamu salah satu pelayan disuruh bantu-bantu disini. Tapi mana?"


Seno menoleh dan menyimpan ponsel setelah mengirim pesan pada John dan Alex mengenai pelayan dirumah ini. "mas juga kurang tahu. Coba mas lihat kedalam dulu ya"


"ikuttt" seru anak-anak yang memang tidak mau ditinggal oleh Seno


"kalian tunggu disini aja ya. Kedalam pasti makin gelap, emangnya kalian gak takut?" Ucap Seno menakut-nakuti anak-anak


Memang benar, didepan rumah saja semua terlihat hanya dibantu dengan cahaya matahari. Apalagi didalam yang sama sekali tidak ada celah untuk sinar matahari masuk.


"uhuk... Uhuk.... Ada yang datang ya?" Ucap seseorang dengan suara serak mengejutkan kelima orang tersebut

__ADS_1


__ADS_2