Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 52


__ADS_3

~Bukan kamu yang harusnya menangis, tapi dia yang sudah meninggalkan sosok malaikat seperti kamu~


...~§~...


"hai Sania? Apa kabar"


Sania balas tersenyum canggung lalu mengangguk seakan mengatakan dirinya sedang baik-baik saja. Keberadaan Karin dan Seno dalam satu meja sangat mengganggu fikiran. Oh jangan lupa, Reyka yang kini sudah berada dipangkuan Seno.


"baik mba, kabar mba sendiri gimana? Kenapa mba datang kesini" seru Sania seraya menata minuman dihadapan mantan pemilik rumah yang kini ditempati oleh Sania


Katakanlah perkataan Sania akan membuat sakit hati pada perempuan didepan-nya. Sania hanya ingin melindungi keluarganya dan pernikahannya saja.


Bolehkah kali ini Sania egois? Seakan ingin berteriak pada Karin bahwa rumah yang didatangi-nya kini sudah menjadi suami darinya. Karin hanyalah masa lalu, yang sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Seno.


“Tidak baik-baik saja semenjak perempuan murahan itu tinggal bersamaku” Karin menarik nafas lekat-lekat, “ternyata sakit sekali ya melihat laki-laki yang sangat mba cintai memperlakukan bak ratu pada perempuan lain”


Benar mba sakit sekali…


“Lalu ada keperluan apa kalian datang kesini”


Keketusan Seno membuat perempuan disampingnya seketika terkejut. Tidak pernah ia melihat Seno seketus itu pada Karin. Tapi mengapa?


Sania menoleh pelan-pelan, benar! Tatapan penuh memuja dulu kini sudah tidak ada. Yang ada hanya tatapan malas. Dan oh iya, Sania baru sadar bahwa Reyka sedang tertidur dipangkuan Seno. Jangan lupakan Seno yang terlihat terpaksa memangku anak itu.


Bolehkah Sania bahagia melihat ini?


“tidak ada maksud apa-apa”


Mereka semua terdiam.


Bawah meja teras bergetar akibat goyangan yang disebabkan kaki Karin. Berkali-kali Sania mengisyaratkan untuk berhenti hingga ia melihat keberadaan tas besar yang sejak tadi ia tidak melihatnya.


“mbak minggat dari rumah?” Seno tak kalah terkejut, laki-laki itu kini menatap Sania dan Karin bergantian


“maksud kalian apa?”


“iya Sen, aku pergi dari rumah” sendu Karin

__ADS_1


Rasa sakit hatinya kian menjalar bersatu dengan amarah. Marah karena ia tidak berhasil untuk membalas perbuatan Fanya, sakit hati karena ias merasa tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk menopang dan melihat kemesraan Fanya dan Alex tiap harinya.


“lalu untuk apa kamu datang kesini?” sengit Seno


Awalnya ia merasa kasihan melihat kedatangan Karin dengan Reyka yang tertidur dipangkuannya sedang menatap kosong pekarangan rumahnya. Jangan lupakan bekas memar dipelipis-nya menambah Seno merasa prihatin.


Tanpa berkata Karin hanya mengisyaratkan untuk menaruh Reyka dipangkuannya. Awalnya memang Seno tidak mau, tapi melihat tampang melas Karin. Mau tidak mau laki-laki itu merelakan pahanya untuk menumpu Reyka yang sedang tertidur


Seno hanya berharap, Sania tidak akan salah paham lagi.


"lagian aku gak tau lagi harus kemana"


"tapi gak kesini juga!" balas Seno, "kita gak ada lagi hubungan yang membuat kamu memutuskan untuk balik kesini lagi"


"tapi--


"kita sudah gak ada hubungan apapun lagi! Jadi jangan seenaknya kamu datang lalu pergi sesuka kamu"


"AKU GAK TAHU LAGI HARUS KEMANA"


Karin terdiam lalu menunduk. Ia paham, tapi ia tidak menyangka akan mendapat amukan dari Seno sendiri ketimbang Sania.


Karin memandang tas besar, Reyka dan langit gelap yang menandakan akan turun hujan besar bergantian. Sebenarnya Karin kabur tanpa persiapan, ia tidak memegang uang tunai sebanyak itu untuk menyewa sebuah apartemen.


Tapi, kalau perempuan itu mengenakan atm. Ia takut Alex akan mengetahui keberadaan dan kembali datang hanya untuk mengambil Reyka.


Alex selalu mengumandangkan kalau Karin boleh pergi asal tidak membawa Reyka. Bagaimanapun Reyka sudah menjadi keturunan yang akan meneruskan usaha Alex. Melihat Fanya sedang hamil anak perempuan.


“aku gak tahu harus kemna lagi” pecahlah tangisan Karin, “aku gak berniat menganggu pernikahan kalian. Tapi aku bener-bener gak tahu harus kemana lagi, yang aku kenal dikota ini hanya kalian”


Sania meremas lembut lengan Seno untuk menghentikan amarah laki-laki itu. Melihat keadaan Karin yang sangat memprihatikan mengingatkan Sania akan masa lalu-nya kala itu. Berada dititik terendah tanpa ditemani oleh siapapun. Merupakan hal yang paling sakit yang pernah Sania rasakan.


“ijinkan mba Karin tinggal seminggu atau dua minggu dimari. Memangnya kamu gak kasihan” Ucap Sania seraya mengusap lembut surai Reyka agar tidak terganggu dengan omongan disekitar


“gak lama banget itu--, baik satu hari atau tidak sama sekali” Seno kalah dengan tatapan lembut Sania


“terim kasih, terima kasih banyak. Aku janji gak akan ngerepotin dan secepatnya aku akan cari pekerjaan dan pergi dari sini”

__ADS_1


...~§~...


Rumah terasa ramai dengan kehadiran Reyka. Antusias seorang Reyka pada sang adik membuat anak itu selalu heboh jika sedang didekat Sean. Didekapnya, diuwel-uwel, diikuti terus membuat Sania sellau tertawa dibuatnya.


Bukan karena sikap Reyka, tapi karena respon Sean yang terlihat tidak suka. Sean merasa sangat risi dengan keberadaan Reyka. Pergi kemanapun selalu diikuti, pipi dan perutnya menjadi korban cubitan Reyka, bahkan ia selalu dipeluk erat tanpa mau dilepas. Sontak saja Sean selalu berteriak untuk menghalau keberadaan Reyka.


Bisa dibayangkan teriakan kencang Sean disusul tawa geli Reyka memenuhi seluruh penjuru rumah. Bahkan para pelayan terus tertawa melihat tingkah mereka berdua.


Oh iya, sejak tadi Sania tidak pernah melihat keberadaan Karin. Ia memutuskan untuk mendatangi kamar Karin. Suara tangisan semakin terdengar seraya Sania mendekati kamar tamu, ruangan tempat Karin berada. Jika ini malam hari mungkin Sania sudah merinding dibuatnya.


Tok… tok… tok…, diketuknya pintu berwarna cokelat tua tersebut


Tanpa ada balasan Sania memasuki kamar tamu seraya membawa kotak p3k. Sepertinya luka dipelipis Karin membutuhkan pengobatan lebih lanjut.


“mba?” Karin mendongak dari posisinya yang menelungkup diantara kedua kakinya dan menangis


Wajahnya yang sembab, “ada apa San?”


Sania berjongkok dihadapan Karin dan mulai mengeluarkan kotak p3k, “mba mau cerita? Setidaknya itu akan mengurangi beban mba, walaupun sedikit”


“entahlah San, aku marah tapi bingung harus marah dengan diri sendir atau dengan mas Alex. Aku sakit hati-pun tidak ada yang perduli, yang ada Fanya dan Alex akan semakin menunjukkan kemesraan-nya jika melihat tangisanku. Karena itu aku gak pernah menangis jika disana, aku mencoba kuat walaupun rapuh” sahutnya, “jadi Cuma sekarang aku bisa melampiaskan semuanya”


“nangislah mba sampai mba puas. Kalau udah, Sania rasa untuk apa mba menangis? Untuk laki-laki tidak tahu diri itu? Itu sama saj amba mengeluarkan mutiara demi sengenggam kotoran macam mas Alex. Tangisan mba terlalu berharga untuk menangisi laki-laki itu”


“tapi san, sakit rasanya. Bagaimana melihat ia saling berkecup mesra didepanku, bagaimana Fanya bertingkah bagai seorang nyonya dana ku pembantunya. Bagaimana Fanya yang memakai semua fasilitas yang dulunya milik aku. Bagaimana seorang Alex mulai main tangan karena aduan Fanya yang semata-mata hanya bualan”


“Sania memang gak paham” Ia menatap lekat-lekat Karin, “tapi, mba itu berharga. Tangisan itu gak cocok keluar dari netra mba yang berharga. Yang seharusnya nangis itu mas Alex yang sudah menyia-nyiakan malaikat seperti mba"


Karin terdiam begitu juga tangisannya yang terhenti. Lalu mendongak dan tersenyum, "kamu benar, Lagi pula dia akan semakin senang jika melihat aku menangis" ucapnya diiringi dengan senyuman diwajahnya


"jangan nangis lagi ya mba" sahut Sania seraya membereskan kotak p3k karena Karin yang tidak mau menggunakannya, "oh iya, kalau ada masalah jangan sungkan cerita sama aku. Insya Allah aku akan siap mendengarkan"


"makasih san, makasih banyak"


"iya mba sama-sama. Bukankah sesama manusia harus saling membantu"


"kamu benar"

__ADS_1


__ADS_2