
SENO POV
Tidak terkira, ternyata sudah dua tahun lebih perempuan yang sudah memporandakan hati saya pergi meninggalkan saya sendirian.
Kacau balau menjadi definisi seorang Seno semenjak itu. Hidupnya berubah menjadi kelam. Hatinya galau. Fikiran-nya dipenuhi rasa bersalah.
Tapi mau bagaimana, Seno terlalu pengecut untuk mencari keberadaan istri maupun anaknya.
Dua tahun lalu, saat Seno mulai memberanikan diri untuk mencari keberadaan Sania. Ia mendapat kabar bahwa Sania dan putra tercintanya sempat pulang kekediaman orang tua perempuan itu.
Tapi sayangnya Tuhan masih mempermainkan keduanya. Jejak Sania kembali hilang bak ditelan bumi. Anak buah-nya kembali mencari keseluruhan penjuru kota kecuali kota tempat Seno berada. Laki-laki itu beranggapan, tidak mungkin Sania bertinggal disatu kota dengan-nya. Kalau memang benar niat perempuan itu untuk menjauhi dirinya.
Seno menarik kenop pintu. Terpampang para pelayan menunduk begitu ia lewat. Gila hormat!
Tapi Seno tidak perduli, ia hanya memperdulikan secarik kertas dari pengusaha besar bernama 'Daffa' yang mulai tertarik dengan produk-nya.
Seno kembali menggigit roti bakar yang sudah disediakan pelayan. Kembali seperti dulu, saat ia masih menikah dengan Karin. Semua-nya diurus oleh pelayan.
"kira-kira ambil proyek kali ini gak ya? Menurut kamu gimana yang?"
Pelayan yang berada disisi-nya langsung kembali mengurus urusan-nya masing-masing begitu mendengar ucapan Seno.
Ucapan mesra Seno setiap pagi itu hanya tertuju untuk Sania. Seno selalu membawa-bawa foto cetak Sania yang diambilnya secara diam-diam sebelum mereka menikah.
Foto itu menjadi saksi bahwa Seno selalu menceritakan segala kejadian yang menimpanya. Entah kejadian buruk ataupun bahagia. Intinya Seno selalu cerita didepan foto tersebut setiap harinya. Seakan Seno berbicara kepada Sania secara langsung.
"gimana yang? Menerima proyek ini juga sangat menguntungkan bagi perusahaan mas. Kita bisa langsung jalan-jalan keluar negeri kalau proyek-nya lancar. Tapi mengambil proyek besar seperti ini juga sangat riskan. Jika salah dikit aja, perusahaan mas bisa rugi besar" jelasnya dengan mata terus tertuju pada Sania yang tersenyum
"yang?"
Seno menarik nafas dalam-dalam. Bisa-bisanya ia menginginkan Sania untuk menjawab.
"sudahlah. Mas berangkat kerja dulu ya yang"
Seno mengecup foto tersebut lalu menaruh ya dikantung jas. Ia mengambil tas kerja lalu berlalu mengikuti John dan Alex --yang kini bekerja dengannya-- dan segera berlalu menuju perusahaan tempatnya menumpahkan segala kepenatan.
...~§~...
Memasuki kantor Seno dikejutkan dengan keadaan suasana kantor yang sangat ramai dan seketika melihat-nya semua orang menunduk ketakutan.
Sepertinya ada yang tidak beres.
Seno meneliti satu-satu penjuru ruangan sembari berjalan menuju lantai paling atas. Tempat dirinya bersemayam.
"ada apa?" John mendelik lalu menggeleng diikuti oleh Alex yang memang tidak tahu apa-apa
__ADS_1
Tiba-tiba seorang office girl datang lalu bersujud dihadapan Seno dan menangis kencang seraya mengucapkan minta maaf berulang-ulang.
"ini ada apa?" Seno merasa risih dengan lengan perempuan itu yang menyentuh erat kaki-nya
"tuan, maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja" ucapnya membuat Seno mengangkat sebelah alis
Sebenarnya ada apa?
"iya-iya saya maafkan. Tapi lepas dulu"
Office girl bername tag --Cheris-- langsung bediri dan menatap Seno lekat-lekat. Sementara pekerja Seno lainnnya, memuji tingkat keberanian pegawai baru itu.
Seno memang tampan. Tapi tidak ada yang berani membicarakan ketampanan seorang Seno didepan laki-laki. Ataupun menatap lekat-lekat seperti yang office girl itu lakukan.
"apa yang kamu lakukan sampai berani menyentuh tubuh saya? Bukankah semua orang tahu saya paling tidak suka ada orang asing yang menyentuh tubuh saya" Seno mendengus seraya melipat kedua lengan didada bidang-nya
"Saya tidak sengaja memecahkan bingkai foto milik tuan" Cheris tampak gemetar, ketakutan-nya tiba-tiba terkuak melihat Seno yang menatapnya tajam
Yang Cheris maksud adalah bingkai foto berlukiskan perempuan yang Cheris tidak tahu hubungan-nya dengan atasan-nya yang angkat tampan ini.
Hanya saja yang Cheris tahu, semenjak ia tidak sengaja memecahkan bingkai tersebut. Banyak orang yang mengatakan untuk hati-hati kepada atasan-nya.
Cheris ketakutan bukan main. Tetapi semuanya berubah setelah melihat atasan yang pegawai lainnya maksud itu setampan ini. Omg! Ini sangat menguji kejombloan Cheris.
"ulang sekali lagi perkataan anda"
"Saya tidak sengaja memecahkan bingkai foto milik tuan. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya lagi membersihkan kaca itu. Tapi tangan saya yang basah tidak--
"sudahlah! John kau urus bingkai itu. Ganti dengan bingkai yang serupa. Dan Alex segera ikut keruangan saya"
Ketiga pria yang digadang-gadang sangat tampan itu meninggalkan Cheris yang terpana lalu tersenyum sinis.
Lihat sepertinya tuan kalian kepincut dengan saya. Dia tidak akan berani memarahi perempuan secantik saya. Ucapnya dengan penuh kesombongan.
"Alex bagaimana proyek di Pekanbaru? Semuanya lancar?" tanya Seno begitu laki-laki itu duduk dikursi kebesarannya
"lancar, Sen"
Seno memerintahkan Alex begitupun John untuk memanggil-nya dengan nama saja. Ia tidak mau diperlakukan seperti seorang raja oleh orang yang sudah membantu-nya dimasa-masa suram kala itu.
"lancar Seno! Kampung tempat Sania dulu tinggal kini sudah semakin maju akibat proyek yang lu jalanin"
"ck ah, ya sudah sana keluar" Bisa-bisanya, Alex sangat santai membicarakan seseorang yang sangat ia rindukan
Buyar sudah semuanya tentang kerjaan hari ini.
__ADS_1
"biasa aja dong. Makanya kalau rindu, cari sampai ketemu. Jangan jadi pengecut yang cumanya bisa meratapi kesalahan"
"pergi!"
SENO POV END
...~§~...
Disisi lain, waktu yang sama. Sania sedang dipusingkan dengan keberadaan Daffa yang tidak di ketahui. Padahal perempuan itu sedang ingin mengucapkan terima kasih banyak-banyak pada majikan-nya itu.
Daffa menepati janjinya. Biaya rumah sakit yang mencapai --ah entah Sania enggan menyebutkan, saking besarnya-- sudah lunas dibayar Daffa.
"aku sama Sean mau brownies" Danty tiba-tiba datang seraya menggengam erat lengan Sean yang tersenyum
Melihat Sean dan Danty, Sania selalu teringat akan dirinya dulu bersama Seno. Seperti pasangan bak jatuh cinta dan tidak bisa terpisahkan.
Semuanya berawal dari Danty yang menangis kencang lantaran diejek karena tidak memiliki seorang ibu. Bak pangeran, Sean tiba-tiba datang mengulurkan tangan dan memarahi anak yang mengejek Danty.
Sania kalau ingat itu suka tertawa sendiri.
"sudah mba buatin. Ada dimeja, tinggal ambil saja" sahut Sania, "oh iya ayah kamu kemana?"
"Daddy?" Gumam Danty lalu mengerutkan kening seakan pertanyaan Sania merupakan pertanyaan sulit, "oh Daddy di ruang kerja" jawabnya
"ya udah, mba kesana dulu ya. Kamu sama Sean makan saja brownies-nya"
"oke mba"
Sania membuat secangkir kopi terlebih dahulu sebelum memasuki ruang kerja milik Daffa yang hanya boleh dimasuki istrinya saat masih hidup dan kini hanya boleh dimasuki oleh Sania.
"tuan" Sania membuka perlahan pintu
Daffa melirik lalu menurunkan kacamata, "ada apa?"
"diminum dulu tuan, kopinya" ujar Sania membuat Daffa spontan berterima kasih
Sepertinya secangkir kopi sangat cocok untuk menemani file-file yang masih harus ia pelajari.
"sepertinya niat kamu kesini bukan untuk memberikan secangkir kopi saja. Benar?"
Sania mengangguk cepat dan menautkan kedua lengannya, "saya mau berterima kasih sama tuan karena sudah membayar biaya rumah sakit Sena hingga sembuh"
"oh. Sama-sama. Lagi pula saya sudah janji padamu"
"sekali lagi terima kasih tuan. Saya pasti akan cicil pada tuan"
__ADS_1
"tidak usah. Tolong temani saya saja besok untuk menemui client dan saya anggap utang itu lunas"