
PANTI ASUHAN MATAHARI
~berharap agar anak-anak dapat tersenyum bahagia layaknya sinar matahari yang bersinar terang dan dapat menghangatkan orang-orang disekitar nya~
Tulisan yang baru saja dibaca Sania pada papan yang sudah usang didepan sebuah rumah besar namun tampak tidak terurus.
"benar disini mas?" Seno yang sedang direpotkan dengan Sean dan Reyka langsung menoleh dan mengangguk
Sania dan Seno memutuskan untuk mendatangi panti asuhan yang dulu menaungi kehidupan Karin. Mereka tidak akan lepas tangan begitu saja pada Karin.
Setidaknya mereka akan memberi kabar pada kenalan Karin. Karena Karin hanya memiliki kenalan ibu panti nya, maka dari itu Seno mencari info tentang masa lalu Karin dan berakhirlah mereka disini.
PANTI ASUHAN MATAHARI
Tempat yang sangat nyaman untuk ditempati. Dikelilingi pohon-pohon rindang membuat rumah disekitar sangat nyaman. Tapi, berbeda dengan panti asuhan ini.
Panti asuhan yang terlihat sangat suram. Bahkan jika tidak dilihat lebih lanjut, Sania yakin orang-orang akan menganggap ini rumah kosong.
"tapi ko kayak gak terawat gini sih mas"
"mana mas tau"
Tok.... Tok.... Tok.... "assalamu'alaikum"
Terdengar sahutan dari dalam diikuti suara batuk yang cukup terdengar kencang. Sania menoleh mendapati Sean yang memeluknya semakin erat seakan ketakutan berada dilingkungan penuh dengan pohon dan semak belukar. Berbeda dengan Reyka yang masih terdiam saja.
Semenjak kejadian itu, Sania hanya mendapati Reyka yang terus terdiam. Wajahnya yang datar tanpa senyuman membuat perempuan itu sedikit khawatir. Pasalnya yang perempuan itu tahu, Reyka tipe anak yang aktif dan selalu menebarkan kebahagiaan disekitar. Bukan Reyka yang diam seperti tengkorak hidup kayak gini.
"Reyka, sini nak"
"iya mih" Reyka yang sedang memandang sekitar langsung menghampiri Sania dan Seno
Pulang dari rumah sakit, Sania menganjurkan agar Reyka memanggil mereka sama seperti Sean memanggil Sania dan Seno. Seno pun sudah menyetujuinya.
Reyka sempat menolak dan malah bertanya dengan keberadaan sang bunda dan ayah, membuat Sania dan Seno kehabisan kata-kata. Tetapi setelah Sania menceritakan pelan-pelan, walaupun bukan kenyataannya. Akhirnya Reyka setuju dan balik memeluk bahagia pada Sania dan Seno.
Krek... Pintu terbuka menampilkan perempuan paruh baya.
"waalaikumsallam, cari siapa ya" perempuan itu membuka pintu lebar-lebar, "oh iya silahkan masuk. Maaf keadaan rumahnya sedikit berantakan"
Sania balas tersenyum lalu masuk diikuti Seno dan Reyka. Keadaan didalam rumah sangat nyaman walaupun rumah sudah tampak tua.
Mereka duduk dilantai beralasan tikar.
__ADS_1
"oh iya perkenalkan nama Saya Ratih, pemilik panti asuhan ini. Ada yang bisa saya bantu?"
"iya bu, saya Sania dan suami saya Seno ingin mencari info dipanti asuhan ini. Apa ibu kenal--
"permisi" seorang perempuan berhijab sekitaran umur tujuh tahun datang menghampiri mereka seraya membawakan namun berisi teh hangat
"oh iya perkenalkan namanya Lala, dia anak perempuan tertua dirumah ini" sapa Ratih
Lala tersenyum manis, "perkenalkan tante, om nama aku Lala. Perempuan tercantik dipanti asuhan ini"
Sania dan Seno sontak tertawa.
"bohonggg tuhhhh" tiba-tiba anak laki-laki yang lebih dewasa dari Lala keluar dari kamar lalu menunduk sopan kepada Sania dan Seno
Lala merengut kesal lalu mencibir para pria itu. "sudah-sudah, tiap hari kerjaannya ribut terus" Ucap Ratih
"maafin kami bun"
Selanjutnya hampir tiga puluh anak berbeda usia keluar dari setiap kamar dan memperkenalkan nama masing-masing. Sania dan Seno seakan disambut meriah oleh anak-anak.
Setelah itu, Sania meminta Sean dan Reyka untuk ikut bermain bersama mereka saat Sania dan Seno harus berbincang enam mata dengan pemilik panti asuhan ini.
Ratih tersenyum lalu beralih pada Sania dan Seno, "oh iya, ada keperluan apa ya kalian disini"
Mengingat panti asuhan berada ditempat terpencil membuat orang-orang sedikit kesusahan akses menuju tempat ini. Maka dari itu Maya selalu heran jika ada orang yang datang kepanti asuhan seperti ini.
"oh anak itu" Ratih terbelenggu dengan fikiran nya kala itu lalu menarik nafas dalam, seperti memiliki masalah
"ada apa ya bu?"
"tidak hanya saja sudah lama saya tidak mendengar kabar anak itu. Terakhir kali dia hanya mengabari akan menikah. Tapi setelah itu dia tidak pernah lagi kasih kabar hanya uang tiap bulannya saja yang saya dapatkan. Padahal saya gak butuh itu semua"
"kenapa ibu gak butuh itu semua? Maaf nih sebelumnya kalau baru datang udah tanya-tanya seperti ini. Soalnya kamu juga ingin mengetahui lebih lanjut tentang Karin" balas Sania
"dia cari gara-gara lagi ya? Tapi ya sudah tidak apa-apa, saya akan cerita sedikit" Ratih terdiam sejenak, "saya mengenal Karin sejak ia masih bayi. Saya sendiri yang melihat perkembangannya. Bagaimana dia bersikap, bagaimana dia bertingkah laku. Dan saya rasa semuanya ia lakukan dengan baik. Bahkan saya selalu mengagung-agungkan anak itu. Sampai---"
"sampai?" seru Seno
Seno ingin mengetahui cerita lengkap tentang kehidupan Karin. Agar kedepannya ia bersama keluarganya bisa hidup jauh dari bayang-bayang Karin.
"sampai seseorang datang dan menyebut Karin sebagai perusak rumah tangga. Awalnya saya sama sekali tidak percaya bahkan rela mengocek uang cukup besar untuk membela Karin karena perempuan itu bersikukuh ingin membawa masalah itu kepengadilan. Mati-matian saya membela anak itu, hingga saya diterpa kenyataan kalau Karin benar-benar melakukan itu. Merusak rumah tangga orang lain. Bahkan tidak hanya satu, banyak rumah tangga yang ia hancurkan begitu saja untuk diambil uangnya"
Sania terkejut bukan main. Perempuan yang ia bela mati-matian ternyata sudah berbuat buruk pada orang lain.
__ADS_1
"bukan saya menyesal karena sudah mengurus anak itu sejak kecil. Tapi saya lebih menyalahkan diri saya sendiri, ternyata didikan saya selama ini salah pada anak itu. Karena itu juga yang membuat saya lebih memilih menyimpan uang yang ia kasih tiap bulannya daripada menggunakan uang itu. Soalnya saya tidak tahu kehalalan uang itu, walaupun Karin sudah meyakini saya bahwa uang yang ia dapat kini hasil kerja kerasnya sendiri. Tapi saya kurang percaya"
"tapi saya juga kasihan pada anak itu. Sejak bayi sudah dibuang oleh kedua orang tuanya"
Selanjutnya Ratih menceritakan lebih lanjut tentang kebiasaan Karin semasa kecil. Karin yang sekarang sangat berbanding terbalik dengan Karin yang dulu.
Karin yang dulu lebih suka menyindiri diantara teman-teman lainnya. Disaat ada orang yang ingin mengasuh seorang anak, Karin lebih memilih pamit undur diri daripada dipilih oleh orang itu. Padahal banyak yang suka dengan Karin saat itu.
Perilakunya juga sangat aneh. Ia akan berteriak keras jika melihat keluarga bahagia yang sedang bermain bersama anak-anaknya. Jadi, Ratih lebih memilih tidak membawa Karin saat keluar rumah.
"bu, sebenarnya kita mau memberi kabar buruk tentang Karin"
"kenapa? Dia tidak berulah lagi kan?"
"bukan bu, maaf sebelumnya kalau Karin dinyatakan kurang waras. Sekarang Karin sudah ditempatkan dirumah sakit jiwa X"
"APA!!! Ko bisa"
Sania mulai menceritakan kronologis saat itu, "maaf sebelumnya ya bu, tapi memang seperti itu kenyataannya"
Ratih menyambar lengan Sania lalu menangis, "maafin kesalahan Karin ya. Atas nama Karin saya meminta maaf sama kamu dan keluarga kamu"
Sania membawa Ratih kepelukannya. Tubuh rentan itu semakin terisak. "tidak apa-apa bu. Yang penting semuanya sudah selamat"
"terima kasih nak, terima kasih banyak"
"iya bu sama-sama"
"tolong antar saya menemui Karin!"
----
Maaf ya selalu telat update dan aku rasa makin kesini ceritanya semakin absurd.
Dan untuk seminggu kedepan kayaknya author mau izin libur dulu ya. Maaf banget sebelumnya, kondisi author tidak memungkinkan author untuk terus menatap langsung gadget.
Tapi kalau agak mendingan, author usahain untuk tetap update walaupun telat.
Oh iya sebelumnya, takut nanti author gak ada waktu untuk ucapin kalian :
Mohon maaf lahir dan batin semuanyaaa. Semoga apa yang kita lakukan dibulan suci ini menjadi berkah buat amalan kita kedepannya.
__ADS_1
Semoga kita masih dipertemukan bulan ramadhan tahun depan.
Maafin kesalahan author yang disengaja maupun tidak disengaja. Sekali lagi minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.