Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 39


__ADS_3

"ehemm. Anda siapa ya, ada urusan apaa datang kesini" dehaman Seno membuyarkan kerinduan antara Sania dan Gilang yang masih saling menatap


"oh maaf, saya baru melihat ada orang lain disini. Maklum rindu ini membuat saya buta segalanya" Sania terkekeh dibuatnya mendengar candaan Gilang, "oh iya ini...." Gilang menjeda perkataan-nya sambil menatap Seno dan Sania bergantian


"oh iya bang, perkenalkan ini mas Seno, suami Sania. Dan mas Seno, perkenalkan ini bang Gilang, rekan kerja Sania saat dikampung" Ucap Sania lalu beralih pada Sean, "nah ini anak sambung aku, Sean"


Seno mengangguk paham, oalah, rekan kerja. Dikira mantan pacar gitu. Seno tersenyum bangga. Ternyata derajat-nya lebih tinggi dari pria dihadapan-nya.


"anak sambung?"


"iya anak sambung! Memangnya kenapa?! Ada yang salah" sewot Seno, "Sania nikah dengan saya dalam keadaan saya sudah memiliki anak. Memangnya salah hah!"


Gilang menggeleng lalu terkekeh, "biasa saja kali, kenapa sewot?"


"sudah-sudah ih! Mas, bang" ketus Sania


Akhirnya mereka saling berjabat tangan. Tapi tanpa kesadaran Sania, kedua pria dewasa itu saling menatap tajam tanpa mau ada yang mengakhi nya. Bahkan jabatan tangan antara kedua orang itu terasa sangat kencang sampai urat-urat lengan terlihat.


Sania menoleh kurang paham. Seperti ada sesuatu diantara kedua laki-laki itu.


"mmm, bang? Mas?" Perkataan Sania menyadarkan kedua laki-laki itu


Seno tersenyum canggung. "eh San, aku kedalam dulu ya. Sudah waktunya nyemil buat Sean" paksa Seno. Ia menarik Sean begitu saja tanpa memperdulikan rengekan Sean yang terganggu aktivitas-nya


Sania menggaruk tengkuk-nya yang tak gatal. Perasaan, baru satu jam lalu jam nyemil Sean berlalu. Bahkan anak gembul itu sudah menghabiskan cemilan melebihi batas-nya. Tetapi mengapa, Seno memilih pergi meng-atas namakan cemilan Sean?

__ADS_1


Kepergian Seno dan Sean menyisakan Sania dan Gilang yang saling bertatap. Kedua teman yang sudah lama putus komunikasi akibat kepindahan Gilang tiba-tiba. Rekan kerja yang membuat Sania selalu berandai-andai bahwa Gilang-lah tempat perempuan itu berlabuh untuk terakhir kalinya.


Rasa nyaman yang Gilang beri saat itu, nyatanya sangat dibutuhkan oleh Sania. Saat dirumah, ia selalu mendapat amukan dari Sumi dan Andi, maka hanya seorang Gilang yang menjadi tempat keluh kesah perempuan itu. Laki-laki yang selalu menyemangati-nya dalam keadaan apapun. Laki-laki yang pertama kali sudah membuatnya tersipu. Laki-laki yang pertama kalinya juga membuat perempuan itu sakit hati. Sebelum bertemu dengan sosok Kamal.


Intinya, Gilang cinta pertama perempuan itu.


Sania mempersilahkan Gilang untuk duduk dibangku bekas temoat duduk Seno setelah menyingkirkan jaket yang dikenakan Seno. Tidak lupa Sania menyeduhkan minuman hangat pada Gilang.


“Bang, gak nyangka banget bakal ketemu disini! Abang kemana saja? Pergi gak bilang-bilang aku” tukas Sania


“maaf ya, oh iya kabar abang baik. Gimana kabar kamu? Orang yang sudah abang anggap adik sendiri. Ihh, bener-bener gak nyangka bakal ketemu kamu disini” ucap Gilang sambil menjawil hidung mancung Sania


Sania tertawa lalu mengusap pucuk hidungnya, “alhamdulillah kabar Sania juga baik! Oh iya, apa alesan-nya abang tiba-tiba pergi ninggalin Sania begitu saja. Gak tahu saja bu Romlah (pemilik tempat kerja mereka saat itu) langsung kelabakan saat tahu pegawai kesayangan-nya tiba-tiba hilang bagai ditelan bumi”


“hahahah, kamu bisa saja. Maaf ya, saat itu ada urusan mendadak yang gak bisa abang tinggalin”


“abang dijodohin” Gilang menopang tubuhnya dengan senderan kursi, “ya situasi saat itu sangat tidak mengenakan. Abang terpaksa harus meninggalkan sosok perempuan yang abang cintai dan berakhir menikahi perempuan asing”


Sania terdiam mendengar kenyataan. Dulu perempuan itu memang mencintai Kamal, tetapi tidak bisa dipungkiri dilubuk hati paling kecilnya masih tersimpan sangat rapat nama ‘Gilang’. Maka dari itu, Sania tidak terlalu kecewa karena pengkhianatan yang Kamal dan Santy lakukan. Ya karena, Sania memang tidak cinta dengan Kamal.


Tetapi mendengar Gilang sudah menikah, membuat perempuan itu sangat terluka. Harapan kecil yang ia inginkan lenyap begitu saja. Sania menggeleng lalu mengepalkan lengannya, tidak-tidak aku sudah menikah. Aku tidak boleh membiarkan perasaan ini semakin melebar. Kukuhnya


“San?” panggil Gilang


“eh iya bang, maaf aku jadi ngelamun gini” ucapnya gugup, “tadi sampai mana? Oh iya, siapa perempuan beruntung yang sudah menikahi abang?

__ADS_1


“Matahari nama-nya. Aneh memang, abang juga menganggap nya begitu saat pertama kali berjumpa. Tapi kini abang paham arti nama matahari. Ia selalu bersinar walaupun banyak rintangan yang melewati. Dan abang harap saat ini ia sedang bersinar terang diatas sana” Gilang menunduk sembari memainkan ujung jari-nya


“maksud abang?”


“Tuhan lebih sayang pada Matahari. Matahari sudah meninggal satu bulan yang lalu akibat penyakit yang semkain menggerogoti-nya. Aabang nyesel telah melakukan hal buruk sama Matahari selama pernikahan kami. Oleh karena itu, Abang butuh berlibur beberapa minggu dan berakhirlah abang disini”


Sania menghubungkan benang-benang merah dari cerita Gilang, “jadi abang pernah menikah dengan perempuan bernama Matahari itu? Tapi kini istri abang sudah meninggal satu bulan yang lalu?” tanya-nya


Gilang mengangguk lalu meraup wajahnya. Rona bahagia yang tadi dipasang langsung berubah dengan rona kesedihan, “abang nyesal. Andai saja abang bisa merubah waktu, abang akan coba paling tidak untuk menyayangi Matahari disisa-sisa harinya”


“Yang sabar ya bang. Sania turut berduka cita mendengarnya. Semoga mba Matahari diterima disisi Yang Maha Kuasa. Orang baik memang selalu dipanggil terlebih dahulu, begitu juga mba Matahari. Tuhan lebih sayang dengan mba Matahari”


Gilang mengangguk lalu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba Gilang tersenyum, “abang gak nyangka loh kamu sudah menikah”


Sania pun tidak menyangka


Sania hanya tersenyum menanggapi pernyataan Gilang. Setelah itu mereka terlibat percakapan seru dan melupakan waktu yang berlalu begitu saja.


“San…. Sean lapar katanya” Seno memunculkan wajah-nya dari balik pintu kayu


Sania membuka ponsel dan melihat jam-nya, “sudah jam satu siang!!!” Sania berdiri, “bang mau ikut makan siang bareng dengan kami?”


Gilang mengangguk setuju. Sudah lam ia tidak menyicip masakan Sania, dulu Sania selalu membawakan Gilang makan siang. Mereka selalu makan bersama dibawah pohon rindang.


“mas, bang gilang ikut makan siang sama kita ya”

__ADS_1


“terserah!”


__ADS_2