Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 78


__ADS_3

"GAK BISA GITU DONG!" seseorang tiba-tiba masuk dan menyela


Tidak-tidak.


Bukan pertemuan seperti ini yang Sania inginkan.


Seno. Laki-laki itu terdiam menatap balik Sania. Nafasnya tak beraturan melihat sang pujaan hati didepan mata.


Tidak-tidak, kenapa perempuan itu nampak semakin dewasa. Kenapa dia tidak mau menatap saya?


Perempuan yang ia rindukan. Kini sudah berdiri dihadapan-nya. Ingin menghampiri dan memeluk perempuan itu erat-erat. Tapi, entah kenapa tubuhnya serasa kaku. Selain itu seperti ada yang berbisik 'kamu sudah tidak memiliki hak atas perempuan itu'


Tidak hanya tubuh Seno yang tampak kaku. Sania pula mengalami hal yang sama. Tubuhnya bergetar hebat melihat laki-laki yang dulu tampak bugar kini tampak tidak terurus.


Sania memejamkan mata perlahan lalu berlari keluar menghiraukan panggilan berulang kali. Ia hanya ingin menjauh, sumpah dirinya belum siap untuk menjalani ini semua.


Panggilan Seno terus terdengar diseluruh penjuru lorong. Untung saja Sania sigap pergi dari pandangan laki-laki itu, membuat Seno memilih untuk diam saat melihat Daffa yang menatapnya penuh intimidasi.


Setidaknya Seno tahu, perempuan itu ada disekitar sini.


"kamu mantan suami anak saya?" tanya Daffa setelah Alex dan Seno duduk dihadapan-nya bak seorang polisi yang sedang menginterogasi penjahat-nya


"Saya masih suami Sania! Dan apa ayah?" Seno menggaruk tengkuknya, setahu laki-laki itu ayah Sania berada dikampung. Orang yang selalu ia sokong tiap bulan-nya


Daffa menumpu kaki di kaki lainnya, "suami? Orang yang sudah menyakiti Sania dengan mulut pedas-nya?" Daffa melirik Seno dari atas sampai bawah, "ya saya bisa lihat sih, orang seperti anda memang sedikit keras?" sarkas Daffa


"terserah anda mau bilang apa. Sekarang saya mau cari Sania!"


"melangkah keluar sedikit saja, saya pastikan usaha kamu acur lembur"


Ah, gak asih. Main-nya pakai duit segala~ monolog Alex


Seno berhenti melangkah lalu berbalik menatap sengit Daffa yang sedang mencibir, "saya ingin bertemu istri saya! Jadi ini bukan urusan tuan"


"urusan saya, karena perempuan yang anda maksud istri anda sudah hidup dirumah saya selama dua tahun terakhir"


"APA!" fikiran buruk satu demi satu mulai menghinggapi otak Seno. Laki-laki itu mengepalkan tangan


"ternyata benar ya kata Sania, anda selalu menilai buruk tanpa mau mencari tahu kebenaran-nya"


BRAGH.... Pintu terbuka lebar. Daffa meringis dibuatnya. Kecintaan-nya pada dunia desain mengharuskan laki-laki itu untuk memasang pintu disetiap rumah dan perusahaan nya dengan model berbeda. Tentu saja dengan harga tidak murah.


"paman buat mimih nangis ya!" Reyka datang dengan nafas tak beraturan

__ADS_1


"paman apain mamih Reyka?"


"Reykaaaa"


Suara berat merangsang masuk kependengaran anak itu. Reyka menoleh. Wajahnya penuh kejutan saat mendapati --


"ayah?" lirih-nya


"ya ampun nak, maafin ayah. Ayah salah. Ayah rindu banget sama kamu" tidak memperdulikan sekitar, Alex menangis dan memeluk Reyka dengan erat


Tubuh Reyka bergetar bukan main. Anak itu sama sekali tidak memeluk balik Alex.


"gak usah sentuh anak saya. Tidak lihat darti tadi Reyka sangat ketakutan melihat dirimu" Ucap Daffa lalu menarik Reyka dan memeluk anak itu erat.


Alex sedikit memyingkir dan mendapati wajah anaknya yang sangat pucat. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat.


Akhirnya pecah juga tangis Reyka diperlukan Daffa. Sekelebatan fikiran saat Alex memukul dirinya kembali terlihat difikiran anak itu.


"gak mau, mau sama mamih. Mau mamih. Mau mamih"


Ini pertama kalinya Daffa melihat Reyka serapuh ini. Sepertinya benar kata almarhum istrinya, jika orang masa lalu Sania sangat mempengaruhi mereka semua.


"Saya gak mau tahu ya. Kalian semua pergi dari sini!"


"Saya akan pergi sebelum saya bertemu Sania. Saya masih memiliki hak atas perempuan itu"


Bahkan Seno tidak malu untuk berlutut dihadapan Daffa,


"Saya akan mengajak kalian ketemu Sania atau hanya Sean saja! Asal kalian gak boleh gegabah. Jika Sania meminta kalian pergi, kalian harus pergi" Ucap Daffa penuh kesungguhan


Melihat Seno yang sampai berlutut, Daffa mengetahui laki-laki itu sudah berubah dan sedang memperjuangkan cintanya. Seperti ia memperjuangkan Dinda, kala itu.


Seno mengangguk cepat, "setidaknya saya bisa melihat mereka dari jauh"


"atau anda mau melihat Sena?" Daffa tersenyum penuh arti


'Sena? Siapa yang dimaksud Sena?' Seno berfikir penuh arti sampai tidak sadar bahwa Daffa sudah pergi bersama Reyka meninggalkan Seno dan Alex yang sudah bertelungkup menangis bahagia lantaran dapat melihat keberadaan anaknya yang hidup baik-baik saja


Mungkin maksud beliau Sean. Yaps Sean!


...~§~...


Daffa dengan antek-anteknya yaitu Reyka sudah berada didepan rumah yang selalu Daffa kunjungi tiap hari minggu. Rumah Sania.

__ADS_1


Sebelum memilih kembali, Daffa menyempatkan diri mendatangi ruang kerjanya. Benar saja Daffa sudah tidak mendapati Sania dan ketiga tuyul-nya alis Sean, Sena dan Danty.


"mamih udah pulang. Tapi aku gak mau ikut. Aku maunya sama paman. Kirain paman marahin mamih aku" kesal Reyka berkacak pinggang


Daffa tertawa lalu mengusap rambut anak itu. Kejadian itu tidak luput dari perhatian Alex yang masih ada dikendaraan. Memang permintaan Daffa agar Alex dan Seno sedikit jauh dari kendaraan-nya. Agar Sania tidak curiga.


"kalian tunggu disini. Saya tidak mau melihat kejadian Sania kabur kembali. Sampai kalian menghancurkan rencana kali ini. Saya angkat tangan. Saya tidak akan ikut campur urusan kalian kedepan-nya" Ucap Daffa setelah mengetuk kaca mobil mereka dan langsung mendapat anggukan dari keduanya


"Reyka panggil mamih" Pinta Daffa


Daffa memilih duduk menyender ditembok usang. Ia tidak memperdulikan pakaian mahalnya yang bisa saja mengotori jas yang dikenakannya.


Sania membuka pintu. Dapat dilihat wajah perempuan itu sangat sembab khas orang habis menangis. Sania menyeka hidungnya yang memerah, "maaf tuan, gara-gara saya rapat nya jadi berantakan. Saya janji akan ganti kerugian asal tidak mau menjadi asisten tuan lagi"


"kamu gak mau berdamai dengan masa lalu?" tanya Daffa diluar pembicaraan Sania


"Hah!", Sania menunduk dan memainkan kedua tangannya, "bukan seperti itu-- hanya saja saya terlalu takut untuk memulai kembali"


"bukankah saya sudah bilang? Kalau memang kamu selalu takut untuk memulai. Mau sampai kapan kamu ingin meraih kebahagiaan. Tenggelam dalam masa lalu sama saja kamu memilih untuk menyimpan baik-baik luka yang bisa saja malah menyerang balik perasaan kamu"


"sama hal-nya dengan saya. Melupakan Dinda merupakan hal tersulit yang pernah saya lakukan. Tapi saya paham, jika saya terus merasa terpuruk mungkin saja akan terjadi hal buruk selanjutnya. Seperti Danty yang mungkin saja hidup terlantar dan tumbuh tanpa kasih sayang orang tua"


"tapi kisah kita berbeda" cicit Sania


"Saya paham. Setidaknya kamu harus ambil makna dibalik kejadian ini semua. Kamu pergi meninggalkan laki-laki itu membawa semua anak-anak bukankah itu sudah menjadi hukuman bagi laki-laki itu"


Daffa bergumam lalu memandang wajah Sania yang terus menunduk, "dua tahun bukan waktu yang cepat Sania. Dia benar-benar menyesal. Setidaknya kamu temui dia sebentar saja"perintah Daffa


" tapi tuan--


"anggap saat ini kamu sedang meminta saran pada ayahmu. Ayah yang ingin melihat putri nya bahagia bersama laki-laki yang dicintainya"


"Saya tidak sebodoh itu. Mata kalian jelas-jelas memperlihatkan kerinduan yang amat sangat"


Daffa menepuk bahu Sania sebelum beranjak pergi, "kurangi ego masing-masing. Anak-anak masih membutuhkan orang tua yang lengkap. Temui dia dan minta penjelasan"


Sania mengangguk. Setelah kepergian Daffa kedalam rumah, Sania mendapati sepasang kaki yang sudah ada dihadapan-nya. Bau maskulin langsung menyandera penciuman perempuan itu.


Wangi yang sangat ia kenal.


Seno, laki-laki yang dicintainya.


Tanpa aba-aba laki-laki itu berlutut dihadapan Sania dan memeluknya sangat erat. Ia menangis kencang membuat jantung Sania seakan berhenti.

__ADS_1


"maaf. Maafin mas. Maafin semua kesalahan mas. Mas rindu kamu" bisik laki-laki itu berulang kali


Akhirnya pecahlah tangisan Sania


__ADS_2