Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 29


__ADS_3

Happy Reading ~~~


Kepergian Karin membawa keheningan di ruangan VIP itu. Sean dan Sania saling berpandang dan sedikit menjauh dari Seno yang memangku wajahnya.


Dua orang berbeda usia itu seperti paham amarah Seno yang bentar lagi akan meledak karena kedatangan Karin. Mereka memilih menjauh daripada terkena imbasnya.


Diam-diam, Sania meninggiring Sean sekaligus membawa tiang infusnya. Ditidurkan Sean begitu saja diatas ranjang.


"kenapa kalian pergi begitu saja?" sahut Seno mengejutkan Sania


"ah enggak, perasaan mas saja. Sania hanya mau menidurkan Sean, ini sudah waktu istirahatnya Sean"


"memangnya mas tidak tahu kalian berpura-pura seperti itu?"


Sean sudah menelusup masuk kedalam selimut. Anak itu sudah pernah merasakan kemarahan Seno dan itu sangat menakutkan. Jadi, saat ini ia lebih memilih pura-pura tidur daripada terkena amukan Seno.


Aku benci ibu Karin!


"apaan sih mas, perasaan mas saja kali" elak Sania


Seno tersenyum. Rupanya amukan ia tempo hari, meninggalkan bekas yang mendalam bagi Sania dan Sean. Ia menghampiri mereka berdua. Lalu memeluk Sania dari belakang dan mencium leher jenjang perempuan itu, begitu juga Sean. Seno menghampiri anak itu dan mencium kening Sean yang masih pura-pura tertidur.


"kalian gak perlu takut, ayah gak akan marah lagi sama kalian" ucapnya tiba-tiba


"eh?" sahut mereka berbarengan


...~§~...


Dua hari kemudian, Sean sudah dinyatakan sembuh oleh dokter Maya. Seno hanya tinggal membayar sisanya, lalu mereka diperbolehkan untuk pulang.


"sudah mas?" tanya Sania


Seno mengangguk. Tak perlu waktu lama, Seno merapatkan jas yang dikenakannya. Sebenarnya ia tidak ingin kerja hari ini. Hanya saja, cuma jas ini yang ia masukkan kedalam tas saat Seno diminta untuk membawa beberapa pakaian untuk mereka menginap dirumah sakit.


Nyatanya, keluarga 'S' itu sudah menempatkan kamar ruangan Sean seperti rumah mereka sendiri. Tiga hari mereka berada dirumah sakit, tiga hari juga mereka menginap disana dan menyulap ruangan itu sendiri agar terlihat sedikit seperti kamar Sean. Agar Sean tidak rewel.

__ADS_1


"pulang sekarang?" Seno mengangguk lagi


"kamu kenapa sih dari tadi jawab cuma anggukan, gelengan" seru Sania


Seno mengangkat bahu acuh, lalu meninggalkan Sania begitu saja. Sania mengarahkan wajah Sean tepat dihadapan-nya.


"nak, ayah kamu kenapa sih?" tanya Sania


"dak tau mih, tapi tadi pas Eyan bangun tidul" Sean diam sejenak dengan ujung jarinya mengetuk-etuk kepalanya. Seakan sedang berfikir keras mengenai kejadian tadi pagi, "hmm, klo gak tayah, pas Eyan bangun. Ayah ngomong 'mami kamu gak tayang ama ayah! Mami tuma tayang ama Eyan'"


Sania tersenyum bahagia, "bener begitu?"


Sean mengangguk lalu memiringkan wajahnya, "memang Mami gak tayang ama ayah, tayang-nya tuma cama Eyan?"


"ya enggak dong, mami sayang kalian berdua. Tapi karena kamu masih kecil mami memberikan kamu sayang yang lebih daripada sayang mamih ke ayah"


"oh gitu" lalu Sean memeluk Sania dengan erat, "Eyan juga tayang mami"


Kedua ibu dan anak itu tersenyum bahagia dibelakang Seno yang kini semakin merengut mendengar pembicaraan mereka berdua.


Sania mensejajarkan tubuhnya dengan Seno. Sania tersenyum sebentar lalu mengecup tepat dibibir tebal Seno.


Seno terbelalak, tidak menyangka akan mendapat kecupan dari Sania. Sadar dari keterkejutan-nya laki-laki itu sudah ditinggal kabur oleh kedua orang yang seperti anak kecil itu di matanya.


Seno tersenyum lalu memegang kembali bibir-nya. Ah, bahagia nya hari ini.


Mobil keluaran terbaru Tesla Model 3 Standard Range Plus dengan harga hampir miliar-an itu terparkir berbeda dari kendaraan lainnya.


Sania sedikit heran, mengapa Seno sering berganti mobil padahal dihalaman rumah mereka hanya masuk satu mobil. Ditambah mobil dihalaman rumah mereka pun, tidak pure satu mobil saja. Tiap harinya pasti berganti.


"mas, mas bukan pengedar narkoba kan?" tanya Sania sedikit panik


Ia jadi mengingat headline-headline di televisi, tentang pengedar narkoba yang sering sekali berganti kendaraan agar dapat mengecoh kepolisian.


"apaan sih?" heran Seno, "apa yang ada difikiran kamu saat ini?"

__ADS_1


Seno sedikit heran dengan fikiran absurd Sania akhir-akhir ini. Maklum saja umur mereka beda 10 tahun. Seno yang sudah berusia 30 tahun, harus menghadapi tingkah kekanak-kanakan Sania yang masih berusia 20 tahun.


Sania menggeleng kuat," ah tidak, tidak jadi"


Seno mengendikkan bahu lalu membawa Sania dan Sean ke restauran yang sudah ia reverasi sejak kemarin siang. Ia hanya ingin memberi kejutan pada Sean, sekaligus mencari pengalaman pertama bagi istrinya itu.


Sesampainya direstauran yang dimaksud Seno.


Sania memandang penuh decak kagum melihat restauran yang dimodifikasi seperti bangunan jaman dulu. Semuanya dibangun sempurna, tanpa cela. Mungkin beberapa orang akan menganggap bangunan tersebut beneran bangunan peninggalan jaman dulu, jika dilihat dari luar dan jika tidak terkecoh pada plang restauran.


Jadoel '90s' restaurant.


Begitu masuk mereka langsung disambut beberapa pelayan yang menunduk hormat. Tanpa bertanya, Seno langsung melangkah kesebuah ruangan paling ujung.


Begitu masuk Sania semakin dibuat kagum, dengan jendela besar yang menghadap langsung pada danau buatan yang memang sengaja didesain seperti itu.


"siapa sih pemilik restauran ini?" Ucap Sania seraya memakaikan sabuk dikursi khusus untuk Sean


"kenapa?"


"rasanya aku ingin bertemu dengannya, lalu berterima kasih karena sudah membuat bangunan sekeren ini"


Seno tersenyum bangga. Ia mengangkat slaah satu kakinya melingkari kaki lainnya, "pria didepanmu inilah yang memiliki restoran ini"


"HAH mana?" Sania menoleh kesana kemari, tapi tidak menemukan seorang pun selain Seno dan Sean


"kamu bohong!"


"siapa yang bohong. Akulah pemilik restauran ini, bahkan aku sendiri yang mendesain semuanya"


"aku tidak percaya" jawab Sania acuh


Pembicaraan mereka dihentikan oleh beberapa pelayan yang membawa masuk berbagai macam makanan dan dihidangkan-nya dimeja mereka.


Semua jenis makanan dari pasta, steak, dan masih banyak lagi terpampang dihadapan Sania. Sania memilah makanan, dan menaruh makanan yang menurutnya dapat dikonsumsi Sean dihadapan anak laki-laki itu.

__ADS_1


Pokoknya siang ini tidak ada kata jaim dalam makan, ungkap Sania dalam hati.


"terima kasih banyak mas!"


__ADS_2