
Happy Reading ~~
Sania dibuat kewalahan dengan tangisan Sean yang tidak kunjung berhenti. Butuh waktu hampir dua jam untuk menenangkan anak itu hingga tertidur.
Disini perempuan itu masih belum sepenuhnya paham akan apa yang terjadi. Mengapa Seno yang awalnya tertawa bahagia dengan Sean, tiba-tiba berubah dan meneriaki anaknya hingga Sean menangis. Bahkan itu terjadi tidak sampai lima menit.
Apakah Seno terkena gangguan kejiwaan akibat berlarut-larut dalam masalahnya dengan Karin.
Sania menggeleng seketika, menghalau fikiran absurdnya. Ia menarik nafas kembali, dan memberanikan diri untuk membuka kamar Seno.
"mas?" panggil nya pelan
Seno menoleh dan mengansurkan laptopnya dan meminta Sania duduk disebelahnya. Perempuan itu semakin bingung dibuatnya, perubahan sikap Seno terlalu signifikan. Fikiran buruk terus menghantui otak perempuan itu, 'ini bukan seperti fikiran aku tadi siang kan?'
"ada apa sayang" jawab Seno dengan sangat lembut.
Sania bersemu merah, tapi langsung menggeleng-geleng. Ini bukan waktunya untuk malu-malu.
"mas, maksud kamu bicara seperti tadi itu apa ya?" tanya Sania dengan serius, "apa kamu tidak melihat Sean yang terus menangis"
Seno terdiam lalu memangku wajahnya dan meremas rambutnya frustasi, "entah kenapa perkataan Karin saat itu terus terngiang-ngiang diotak mas"
"apa hubungannya dengan mba Karin? Lagi pula Sean tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini"
"tapi, mungkin saja anak itu bukan anakku" sungut Seno, "tapi aku tidak tega melihatnya menangis kencang seperti tadi"
"mas apa yang membuat kamu berasumsi bahwa Sean bukan anakmu?" tanya Sania
__ADS_1
Seno terdiam sejenak. Netranya terus tertuju pada foto Sean yang terpasang didinding ruangan kerja-nya, "bisa saja Sean juga anak laki-laki itu. Toh, yang mas ingat kita berhubungan badan dengan Karin tidak lebih dari tiga kali selama empat tahun nikah"
Sania berdecak, "mas! Jangan salahkan Sean disini. Dia masih kecil, belum mengerti apa-apa. Jangan bentak anak kecil itu, dia sudah cukup paham perkataan mu yang sangat menyakiti hatinya" jelas Sania
Seno terdiam lalu menepis bingkai foto Sean membuatnya pecah berkeping-keping di lantai, "aku ingin mengkasihani nya, tapi fikiran di otakku menyadarkan bahwa Sean bukan anakku" lirih laki-laki itu
Sania mengambil foto Sean diantara pecahan kaca tersebut. Lalu menunjukkan nya dihadapan Seno, "kau lihat mata Sean? Mirip siapa? Mirip denganmu. Kau lihat senyumnya yang terlihat sangat mirip dengan senyuman mu. Jadi dari mana kau berasumsi bahwa Sean bukan anakmu?" jelas Sania dengan suara sedikit meninggi
"tapi Sean lahir dari perempuan itu. Saat ini, aku hanya ingin punya anak darimu saja" ujar Seno seraya menenggelamkan wajahnya pada Sania
Sania mengukuhkan hatinya, ia tidak boleh terlena dengan perlakuan Seno diatas penderitaan seorang anak kecil yang mungkin saat ini sedang bersedih didalam tidurnya.
"aku tidak akan memberikan mas anak sebelum anak menyayangi Sean. Sean anakmu mas!!! Sania yakin, bagaimana kalau kita tes DNA saja. Walaupun tanpa tes Sania yakin Sean merupakan anak aslimu, anak kandung mu!!"
"kenapa malah kau yang ribet! Sean anakku atau bukan itu bukan urusanmu! Kau hanya ibu sambung bagi dia"
"jadi, selama ini kau anggap aku apa. Hah!" pekik Sania sebelum membanting pintu ruangan Seno
Perempuan itu terduduk dibalik pintu ruangan. Lagi dan lagi ia melampiaskan kesedihan dengan memukul dadanya berulang kali.
Salah kah ia saat membela anak sekecil Sania. Walaupun ia hanya berperan sebagai ibu sambung, tak ayal tetap perempuan itu yang merawat nya sejak anak itu masih bayi.
Bukannya ia pamrih, hanya saja kenapa Seno berkata seperti itu. Seolah-olah peran Sania tidak terlalu penting bagi Sean, karena ia hanyalah ibu sambung bagi anak itu.
Tidak, kalau memang peran perempuan itu disini hanyalah ibu sambung bagi Sean. Sania akan tetap membela anak itu, bukan sebagai ibu sambung nya tetapi dari rasa kemanusiaan nya. Ia tidak akan membiarkan anak sekecil Sean harus menderita karena perlakuan ayahnya, alias Seno.
...~§~...
__ADS_1
Dua hari sudah berlalu, suasana dikediaman Sneo masih saja terasa dingin. Sania lebih memilih untuk menghindari laki-laki itu seraya mengajak Sean. Seno pun juga begitu, ia tidak pernah merasa bersalah sama sekali dengan perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.
Seperti malam-malam sebelumnya, Seno akan memilih pulang lebih malam disaat orang lain sudah terlelap tidur. Ia akan berjalan perlahan memasuki kamar Sania dan mencium kening perempuan itu seraya terus meminta maaf.
Tidak hanya kamar Sania, Seno juga akan mendatangi kamar yang didesain khusus untuk Sean. Seno akan menatapi wajah anak itu hampir satu jam dan membelai nya dengan lembut.
Rasanya Seno ingin merengkuh anak itu. Tapi, entah keegoisan dalam dirinya selalu berkukuh kuat bahwa Sean bukan anak kandungnya.
Tetapi berbeda malam ini, Seno memilih pulang lebih awal karena kurang enak badan. Begitu sampai dirumahnya ia mendapati Sania yang sedang bercanda dengan Sean dimeja makan.
"yeayyyy ayah puyanggg" sorak anak itu
Seno hanya melirik sedikit lalu berlalu begitu saja, menyisakan Sean yang kini terdiam dimeja makan.
Makanan yang sejak tadi dimakannya disingkirkan begitu saja.
"mih, ayah mayah sama Eyan ya? Eyan nakal ya?" seru anak itu
"enggak Sean gak nakal ko. Ayah sedang cape saja habis kerja" ujar Sania
"mami bohong! Kata mami, orang bohong gak akan disayang Tuhan. Mami bohon" sahut Sean yang mulai terisak
"mami gak bohong ko, ayah lagi cape saja. Makanya tidak menyapa kamu" Sania menggendong anak itu dan membawanya kejendela besar menghadap taman indah penuh dengan bunga berwarna-warni
"mami bohong, mami bohong, mami bohong" ujar Sean seraya meronta-ronta dibalik gendongan Sania, "ayah udah gak sayang Sean lagi!!!!" pekik anak itu
Tanpa mereka ketahui, sosok laki-laki itu sedang berdiri di balik tembok sembari menatap sayu.
__ADS_1