Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 35


__ADS_3

Happy Reading ~~~ maaf baru sempet update


Rasanya seperti dejavu. Lagi-lagi Sania menoleh kepada Seno, dan menatap khawatir laki-laki itu.


Baru saja tadi pagi, ia merasakan dapat marah pada laki-laki itu. Tapi kini ia seperti ditikam dari depan belakang. Merasa malu walaupun hanya menatap wajah Seno.


"mas marah?"


Seno menggeleng lalu duduk menikmati halaman rumah yang tampak damai. Perempuan itu menarik kursi untuk dapat duduk disamping Seno. Sepertinya mereka butuh waktu untuk saling berbincang.


Seno menepuk punggung lengan Sania. Mereka terdiam tanpa ada yang berniat memulai perbincangan.


Tiba-tiba, suara klaksonan motor mengejutkan mereka berdua. Tanpa sadar Seno sedikit kencang memukul pergelangan Sania, lenguhan Sania membuat Seno kembali bangkit.


Seno baru sadar, ia belum mengobati luka Sania. Lebih baik ia mengobatinya terlebih dahulu, mungkin jika ada keluhan dari mulut perempuan itu. Seno akan langsung memboyongnya kerumah sakit.


Dipinta-nya Sania untuk tunggu sebentar, agar tidak terus mengikuti dirinya. Sania mengangguk lalu lanjut menunduk lagi, tanpa mau menatap Seno.


Suasana langsung hening begitu Seno meninggalkan pekarangan rumah besar itu. Sania kembali menyentuh pelipisnya yang masih terasa sakit.


Lukanya memang tidak terlalu besar. Tetapi tetap saja, yang namanya jatuh dari atas tangga itu sangat sakit! Walaupun Sania sudah biasa merasa kesakitan seperti ini akibat perlakuan orang tuanya.


Huuh, Omong-omong tentang orang tuanya. Sania tidak habis fikir karena berdalih ingin pamer di media sosial sampai berakibat fatal seperti ini.


Ternyata dunia maya semenyeramkan itu. Walaupun, Sania dapat kira pencuri itu masih sangat muda. Bahkan, mungkin masih lebih tua ia daripada kedua pencuri itu.


Jadi, saat mulut dan matanya ditutup Sania tidak terlalu takut. Skill karate dia masih bisa digunakan, jadi jika pencuri itu macam-macam tinggal keluarin jurusan tendangan macan andalan-nya saja.

__ADS_1


Sania jadi tertawa sendiri dibuatnya.


"mamihhhh" Sean datang dengan baju basah akibat sesuatu. Mungkin susu karena Sania bisa langsung mencium aroma susu saat mencium anak kecil itu


"lihat tuh anak kamu, ditinggal sebentar saja udah numpahin susu dimana-mana" Seno datang sambil mencak-mencak dengan kotak p3k dilengan-nya


"heh, gitu-gitu anak kamu ya" sahut Sania


Seno dan Sania menatap sengit. Keadaan menjadi hangat seketika, seakan kedua orang dewasa itu melupakan apa yang baru saja terjadi.


"hihihi, abis gak ada yang ambiyin Eyan susu" ujar anak itu lalu tertawa membuat kedua pipinya terombang-ambing, "Eyan kan aus"


"kan bisa minta tolong sama mami" sahut Sania lalu merapihkan sekitar mulut Sean


Sean merengut, "mami-nya Eyan panggil-panggil tapi gak datang!"


"sudah ah, jangan marah! Anak ayah gak ada yang boleh marah sama orang tua-nya" Seno mencubit pipi anak itu, "gak baik! Udah kamu main dulu aja sana, nanti habis ayah obatin mami baru kita mandi bareng"


"obatin? Mami atit? Mana yang atit" Sean menoleh kesana kemari, "huuhhh, muka tama tangan mami banyak yuka. Pasti atit" sahut Sean seraya menekan-nekan luka di lengan Sania, membuat perempuan itu meringis


Sean meniup semua luka yang bisa terjangkau olehnya, "dah Eyan tiup, dah tembuh!" seru anak itu lalu berlarian mengelilingi halaman seakan bahagia karena sudah bisa menyembuhkan mami-nya


"hoyeeeeee"


Sania dan Seno geleng-geleng dibuatnya. Namanya juga anak-anak, masih belum memahami semuanya. Ya mereka cukup maklum.


Sean menarik lengan kanan Sania seraya membuka kotak p3k. Sania menoleh lalu terkesiap saat mendapati Seno yang sangat serius mengobati obatnya.

__ADS_1


Seno tampak memberi cairan yang Sania tidak ketahui namanya pada sebuah kapas khusus. Lalu ditepuk-tepuknya pada memar yang ada. Sania sedikit meringis dibuatnya, antara perih dan dingin bercampur menjadi satu. Sania belum pernah merasakan ini!


Dulu, jika dia mendapat luka yang ditoreh oleh kedua orang tuanya ia hanya mendiamkan-nya selama beberapa hari hingga luka mengering. Kalau-pun luka itu berada dipunggung-nya ia harus rela tidur secara tengkurap agar lukanya tidak semakin memparah akibat gesekan dengan kain bajunya.


"sakit banget gak sih?" tanya Seno lalu menciup luka yang sudah ia obati


"mana mungkin gak sakit sih! Wong aku jatuh dari tangga gara-gara pencuri itu" Sania terdiam lalu menatap Seno lekat-lekat, "mas aku benar-benar gak tau masalah ini hampir membuat rumah kamu dicuri. Maafkan kedua orang tuaku"


"kenapa kamu yang meminta maaf? Ibu dan bapak kamu saja bahkan tidak mengucapkan kata itu"


Sania menarik nafas lalu menyenderkan tubuhnya dibangku, "sejak kecil aku tidak pernah mendengar satupun kata maaf dari mulut ibu dan bapak. Walaupun mereka tahu itu salah, mereka tetap pada pendirian-nya. Jadi, masalah ini biar aku saja yang minta maaf"


"sebelumnya mas minta maaf kalau kamu tersinggung" Sania mengernyit heran, "kamu bukan anak kandung ibu dan bapak ya? Kenapa kamu sangat diperlakukan berbeda dengan adikmu, Santy?"


"aku anak kandung ibu sama bapak ko! Tapi, entahlah aku juga bingung, kenapa ibu dan bapak memperlakukan aku dengan snagat beda" Sania terdiam sejenak, "yang aku tahu, bagi mereka anak pertama itu acuan. Aku harus serba bisa dan menurut segala hal yang diperintahkan mereka. Ditambah ibu dan bapak anak pertama juga. Mereka dididik keras oleh kedua orang tua nya dan mereka melampiaskan kekesalan mereka ya ke aku"


"kenapa bisa gitu? Gak etis dong! Siapa yang berbuat siapa yang bertanggung jawab"


"aku juga gak tau mas. Yang aku tahu mereka selalu bilang 'kamu juga harus merasakan seperti yang ibu dan bapak rasakan saat kecil' dan ya beginilah jadinya perlakuan mereka padaku. Aku hanya jadi ajang balas dendam bagi mereka" ujarnya


Seno jadi bingung. Tapi mengingat didikan orang tua dikampung dan didesa sedikit berbeda membuatnya mengangguk.


"kamu tidak perlu takut lagi. Kalau ibu dan bapakmu berbuat sesuatu, ada mas yang akan membantu kamu. Jangan ragu untuk bilang, kamu sekarang sudah sah menjadi istri mas. Masalahmu juga jadi masalah mas saat ini"


Sania menatap terharu, "makasih banyak mas!"


"Sama-sama"

__ADS_1


__ADS_2