
"anak-anak ayu masuk" panggil Sania
Serapan langkah mulai terdengar diiringi dengan tawa Sean yang menggelegar. Sania hanya tersenyum maklum.
"mamih ini buat mamih"
Sean dan Reyka berebutan bunga matahari liar yang baru saja mereka petik. Sania tertawa lalu mengambil keduanya.
"gak usah berantem, dua-duanya mamih ambil ko. Udah yuk masuk kita bersih-bersih" ajak Sania
Lihat saja kedua anaknya yang saling tertawa. Menertawakan diri masing-masing yang terlihat sangat kotor. Lantaran mengambil bunga matahari yang letaknya sedikit sulit untuk dijangkau.
"maaf mih" Reyka mengadahkan tangan minta maaf sementara Sean membentuk tangan 'v'
"iya-iya gak papa. Yuk kita masuk" Sania menggiring keduanya memasuki kamar yang dulu menjadi saksi perjuangan hidupnya selama masih mengenyam pendidikan
Tampak luar memang sangat berbeda, tapi Sania rasa tampak dalam rumah ini masih sama seperti dulu. Hanya ada sedikit rombakan dan perabotan yang berbeda. Selainnya isi rumah ini masih sama.
Sania room
Semuanya masih sama. Letak barang bahkan suasana. Sania masih merasakan hawa-hawa seperti dulu. Hawa kenyamanan membuat siapa saja pasti langsung merasa betah didalam ruangan tersebut. Lihat saja Sean dan Reyka yang sudah berbaring diatas kasur yang tidak sebanding dengan kasur milik Seno.
"kalian pada cape ya? Bersih-bersih dulu yu, baru pada tidur" Ucap Sania seraya membuka hijabnya
Tidak ada yang menjawab hanya dengkuran yang terdengar oleh Sania.
Sania terkekeh, "lihat kakak-kakakmu itu" ucapnya disertai elusan ringan, "orang yang mungkin akan menjaga jika nanti sudah lahir"
Semoga saja.
...~§~...
Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga kemarin sore. Rasanya damai tinggal bersama dengan anak tercinta ditempat tinggal dulu ia bersemayam semasa kecil.
Walaupun Sumi sedikit mengganggu anak-anak, bahkan sampai membuat Sean menangis dengan kata kasarnya. Tapi itu semua masih bisa teratasi dengan keberadaan Reyka dan Sania.
Tapi...
"bapak gak mau tahu. Kamu balik sekarang juga kerumah suami kamu!"
Semenjak bapaknya kembali pagi harinya. Entah kemana Andi semalaman. Sania tidak tahu dan tidak mau mencari tahu.
Tadi pagi. Sekitar jam delapan.
Tiba-tiba saja Saja Sania dikejutkan saat dengan memasak dengan bantingan pintu yang dilakukan oleh Andi. Entah tahu dari mana, tapi Andi langsung meneriakan nama Sania hingga kedua anaknya ketakutan dan berlarian masuk kekamar.
"kalau aku gak mau?" tanya Sania berusaha sedikit egois demi kebaikan kedepannya
__ADS_1
"silahkan angkat kaki dari rumah ini"
"pak! Bapak tega sama Sania? Sania anak kandung bapak kan?" tanya Sania
"untuk apa bapak harus tidak tega sama kamu sementara kamu selalu menyusahkan kami sebagai orang tua"
Sania mengernyit heran. Menyusahkan?
"dari segi mana Sania selalu menyusahkan bapak?" Sania menatap tajam seakan tangisannya sudah sulit untuk keluar, "bukankah selama ini bapak sama ibu yang selalu menyusahkan Sania"
"oh bukan" seru Sania menghentikan Andi yang ingin membantah, "Sania sudah menyusahkan ibu sama bapak selama aku hidup. Segala aktivitas yang Sania lakukan cuma membuat susah kalian saja"
"maksud bapak bukan seperti itu"
"Sudahlah pak. Sania bingung mesti mengatakan apa sama kalian. Kedua anaknya tidak ada kabar, tapi ibu sama bapak gak kelimpungan sama sekali. Kalian anggap kami seperti apa sih?"
"tidak sopan kamu membentak orang tua" Ucap Sumi yang kebetulan lewat sembari membawa ponsel canggihnya
"maaf kalau ibu sama bapak menganggapnya seperti itu. Lagi pula Sania harus bersikap apa sama orang tua yang sudah tidak tahu diri" Sania bangkit dan meninggalkan Andi yang masih menatapnya heran, entah ada apa gerangan
Sania menutup pintu kamar perlahan. Tidak ingin mau menambah masalah. Sania mulai terduduk dibalik pintu dan tersenyum sedih.
Sania berjanji, ia tidak akan mudah menangis lagi. Air matanya terlalu berharga untuk dikeluarkan hal remeh seperti itu. Selain menyangkut anaknya, ia berjanji tidak akan mudah meneteskan air mata.
"nak kita pulang yu" ajak Sania disertai senyuman. Lengannya sudah mulai merapihkan baju-baju yang sebagian sudah dikeluarkan dari tas yang ia bawa
"kerumah pipih?" pekik Sean. Sejak kemarin anak itu selalu menanyakan keberadaan Seno. Entahlah Sania hanya berusaha menghiraukan dan menghalau topik jika Sean sudah bertanya tentang Seno
"kemana aja ya nak, yang penting kita terus sama-sama. Ingat target kita mencari kebahagiaan" semangat Sania tidak ingin membuat Reyka kefikiran
Reyka tertawa kecil diiringi anggukan, "siyap mih!"
"jadi kita mau kerumah pipih kan mih? Eyan kangen sama pipih. Linduuuu bangettt" Sean tiba-tiba muncul mengkagetkan Sania yang sedang melipat pakaian
"duh nak, bikin mamih kaget aja" Sania mengelus dadanya, "kita pulang kerumah pipihnya kapan-kapan ya. Pipih masih sibuk kerja. Kita jalan-jalan dulu aja" Pinta Sania
Mendengar kata jalan-jalan membuat Sean mengangguk semangat, "oke mih!"
...~§~...
Sumi dan Andi dikejutkan dengan kedatangan Sania yang membawa tas besar. Lebih besar dari tas yang ia bawa saat itu. Karena sebagian barang berharga milik Sania, ia bawa juga. Jangan lupakan dengan Reyka dan Sean yang masing-masing kini membawa tas ransel yang lumayan penuh.
"mau kemana kamu?"
"seperti ibu sama bapak bilang, ya aku mau balik lagi kerumah mas Seno"
"ya sudah balik sana. Gak baik, jadi istri ko mainnya kabur-kaburan"
__ADS_1
Karena ibu gak tahu yang sebenarnya terjadi!
"iya bu. Maafin kesalahan Sania ini yang selalu menyusahkan ibu dan bapak semasa hidupnya"
Perasaan pria paruh baya itu menjadi tidak enak kala melihat anaknya menjadi penurut dan diam seperti ini. Tanpa membantah perkataannya kembali.
"kamu benar ingin kembali?" Andi menurunkan kacamata yang bertengger dan menutup koran. Merasa perbincangan kali ini cukup serius
"iya pak" dusta Sania
"ya sudah. Urus masalah mu terlebih dahulu. Jadi istri jangan selalu main kabur kalau lagi ada masalah dengan suami"
"iya pak, Sania salah"
"jangan sampai masalah ini sampai mengganggu keuangan kami. Kami akan tuntut kamu, kalau ternyata memang benar kamu sedang ada masalah besar dengan suamimu"
"iya bu! Sania jamin gak akan sampai mengganggu keuangan ibu dan bapak" Sania tersenyum sinis
Sania harap seperti itu. Semoga saja Seno masih berbaik hati untuk menyalurkan keuangan walaupun dia sudah tidak tinggal bersama.
Kalau pun hal tersebut memang dilakukan. Sania janji setelah sukses ia akan kembali dan mengembalikan semuanya yang harusnya masih menjadi hak Seno.
"ya sudah. Cepat pulang sana! Keburu sore. Jangan lupakan salam ibu sama menantu kesayangan ibu ya" Ucap Sumi diakhiri senyuman genit, "kalau bisa transfer-annya tambah lagi"
Sania memutar mata jengah. Tidak perduli dengan permintaan Sumi yang terdengar mustahil. Ia hanya mengendikkan bahu lalu beralih pada Andi dan menyakiti pria yang sudah tampak tidak sehat itu.
"aku pulang dulu ya pak. Jaga diri bapak baik-baik"
Andi mengangguk. Dibanding ibu-nya, Sania lebih menyayangi bapak-nya. Walaupun sikap Andi hampir sama dengan Sumi --memperbudak anak--. Tapi, terkadang disatu sisi Sania selalu mendapati Andi yang menatap sendu padanya.
Seakan ingin berbuat sesuatu tapi tidak bisa apa-apa karena kekuasaan Sumi.
Kemudian Sania mengisyaratkan Reyka dan Sean untuk salim, berpamitan. Tapi yang Sania dapati hanya usiran Sumi yang seakan menatap jijik pada kedua anak yang kini sudah cemberut.
"ya sudah pak, bu. Sania pamit. Sania harap kalian akan hidup bahagia walaupun tanpa kehadiran aku ataupun Santy"
...~§~...
Disini lah Sekarang Sania berada. Dikota metropolitan tempat ia pertama kali berdiri kala itu memilih untuk memboyong diri ke kota. Kota yang sama dengan tempat tinggal Seno.
Perempuan yang hampir selalu menghabiskan dikampung mana mungkin mengetahui daerah-daerah ibu kota. Untuk menghindari hal-hal buruk terjadi, Sania hanya berfikiran untuk membawa anak-anak ketempat yang sudah ia tahu seluk beluknya.
Kota yang sama dengan tempat tinggal Seno. Sania hanya berharap walaupun mereka masih ada disatu kota yang sama, mereka tidak akan semudah itu.
Ia berjanji akan kembali. Tapi bukan saat ini. Ia harus membuktikan dulu pada Seno, bahwasanya seorang pengasuh juga bisa hidup tanpa uangnya.
Dan ia akan kembali bersama kedua anaknya dan satu anak yang masih dikandungnya.
__ADS_1
"sayang mamih" ucapnya disertai senyuman dengan elusan diperutnya
Semoga semuanya terjadi seperti yang aku mau.