Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 08


__ADS_3

"gimana sudah seperti keluarga bahagia kan?"


Blush....


Wajah Sania langsung merona saat wajah Seno berada tepat dihadapan wajahnya. Rahang tegas itu, oh tidak kenapa hati Sania jedag jedug.


Inget aku punya pacar dikampung. Gak boleh sampai suka sama tuan Seno. Gak sebanding.


"kenapa kamu komat kamit gitu? Mantrain saya ya!" Seno merengkuh Sania, agar tidak tersesat ditengah kerumunan pusat perbelanjaan


Alasan, bilang saja ia ingin menunjukkan kepada Karin yang baru saja dilihatnya.


"tuan jangan kayak gini, Sania mohon"


"sudah diam. Turuti perintah saya kali ini, Kali ini saya mohon tunjukkan wajah bahagia kamu depan Karin dan turuti perkataan saya nanti"


Dengan enggan Sania mengangguk. Ia merelakan tubuh mungilnya berada dipelukan Seno dengan Sean digendongannya.


"hai Seno, akhirnya kita ketemu setelah resmi bercerai. Bagaimana kabar kamu tanpa kehadiranku" Karin datang sendirian tanpa Alex disamping nya


Berarti saya slaah lihat tadi ya?


"hai Karin, saya baik-baik saja setelah bercerai denganmu"


"yaa saat ini kau terlihat baik-baik saja, tetapi aku tidak tahu bagaimana kehancuranmu saat aku tidak melihatnya. Mengingat kau sangat mencintaiku" ingat Karin seraya mengingat kembali momen momen Seno yang memaksa dirinya untuk menikah bersama dengan iming-iming uang melimpah


"dulu, semenjak kau memperlihatkan sifat aslimu jangankan cinta, yang ada hanya rasa benci yang terus berlipat ganda tiap harinya" dusta Seno


"baguslah" Karin mengalihkan pandangan pada Sean, "hai Sean, dua minggu gak ketemu ibu kangen tidak?"


Sean mengelak dari gendongan Karin, "mo, ndak mauu"


"kamu gak kangen sama ibu?"

__ADS_1


Sean menggeleng dan merengkuh Sania semakin erat. Sania menjadi tidak enak, ia tersenyum canggung pada Karin.


"selamat siang nyonya"


"tidak usah panggil nyonya lagi, dia buka nyonya kamu lagi" perintah Seno sembari mengalihkan pandangan dari Karin


"baik tuan"


Karin berdecih, "segitu bencinya kah kamu denganku. Dulu saja, tiada henti kamu menggoda ku. Apa kau masih marah karena perceraian ini? Sudahlah semuanya sudah berlalu" balas Karin


"ya, yang dulu biarlah berlalu" jawab Seno dengan ketus


"maaf sayang, percetakan nya ramai jadi aku sedikit terlambat" tiba-tiba Alex datang dan langsung menyambar bibir ranum Karin dan sedikit **********


Sania menutup mata Sean, ya ampun apa mereka tidak malu melakukan hal itu diumum?


"oh iya, mumpung ada kalian" Karin merogoh papeer bag yang dibawa Alex dan diberikannya undangan pada Seno , "aku sama Alex mau kasih undangan ini. Alex memutuskan untuk menikahi aku satu bulan lagi, jangan lupa datang" Karin terlihat sangat bahagia


"diusahakan dong, setidaknya kamu harus datang dengan Sean. Oh iya, jangan lupa ajak Sania. Mengingat ia memakai pakaianku, sepertinya ia mendapat perlakuan spesial darimu" Karin tertawa, "apa kalian sudah melakukan----" Karin menggeleng lalu berdecih merasa jijik dengan perempuan yang dulu bekerja padanya itu


"ini tidak seperti yang nyonya bayangkan" sahut Sania


"sudah ku bilang, jangan panggil dia nyonya! Dia bukan nyonya mu lagi. Oh iya, terserah kamu mau berfikir seperti apa. Saya tidak perduli" Seno menunjuk-nunjuk tepat didepan wajahnya


Alex menahannya, "bisa sopan tidak dengan calon istri saya"


"bekasan saja bangga" Seno menarik Sania untuk mengikutinya pergi dari hadapan Karin


"SENO!!! AWAS YA KAMU"


Sania menoleh, menatap ngeri pada Karin yang masih marah-marah dan ditenangkan oleh Alex. Sania membiarkan tubuhnya yang masih ditarik paksa oleh Seno.


Perempuan itu tahu tuannya dipenuhi oleh amarah mendengar kabar pernikahan mantan istrinya. Cengkraman dilengannya semakin kencang. Sania meringis, ia hanya takut Sean jatuh dari gendongan karena lengannya mulai terasa sakit.

__ADS_1


"tu-- tuan sakit"


Seno menghiraukannya. Ia terus membawa Sania keparkiran yang sepi. Lalu berhenti dibelakang mobilnya dan menatap mengadah pada langit.


"tuan tidak apa-apa"


Sania merutuki perkataannya dalam hati. Jelas Seno sedang dalam keadaan tidak baik lah. Anggap saja seperti, Kamal yang tiba-tiba memberi tahunya mengenai pernikahan ia dengan perempuan lain, saat Sania sedang jatuh hati sedalam-dalamnya dengan laki-laki itu. Kan sakit.


Sania menurunkan Sean, dan membuat anak kecil itu memeluk kaki jenjang Seno. Sania ikut berjongkok, "Sean peluk ayah ya"


Sean mengangguk, "Yahhh.. Yah.... Napa?"


Seno tertawa. Siapapun yang mendengar pasti tahu, Seno tertawa paksa. Laki-laki itu membelai rambut anaknya, "ayah gak kenapa-napa ko"


Sean mengangguk.


Sania menatap manik mata Seno, "tuan benar tidak apa-apa kan?" tanyanya hati-hati


Seno tertawa, "mana ada kata baik-baik saja setelah saya mengetahui semua ini. Tapi ya sudahlah" ia merogoh kantung dan mengeluarkan dompet lalu memberi beberapa lembar uang berwarna merah pada Sania


"kamu belanja berdua saja ya, saya ada perlu keluar dulu"


Sania mengangguk. Ia paham, laki-laki itu butuh waktu sendiri. "baik tuan"


"jaga Sean dengan baik, saya pergi dulu. Untuk pulang kamu bisa kirim pesan apa saya, biar saya suruh supir untuk menjemputmu"


"tidak perlu tuan, saya bisa naik taxi dengan Sean"


"ya sudah, kalau seperti itu. Hati-hati"


"baik tuan" Ucap Sania seraya memandangi Seno yang terus menjauh


Tanpa sadar, lengannya menggandeng Sean dan lainnya menyentuh hatinya. Ko sakit ya?

__ADS_1


__ADS_2