
Aku gak tau ya kalau part ini bakal ngena gak sama kalian. Soalnya aku baca berulang kali tetap aja kayak kurang feel. Pengen rombak gitu, takut kelamaan. Maaf ya kalau kurang feel :v
"tolong kau buka borgol ini agar saya tidak terlihat seperti penjahat didepan anak saya"
Alex menyodorkan tangannya yang masih terborgol, walaupun mereka sudah berada dihadapan rumah besar milik Seno tetap saja Seno tidak gentar untuk terus membuat Alex terborgol. Alex tidak habis fikir.
"bukakan, John" titah Seno
Klik.. Borgol terbuka begitu mereka memasuki pagar besar yang langsung disambut dua penjaga yang menunduk hormat.
Mobil mengitari taman indah terlebih dahulu untuk memasuki pintu utama. Sesampainya dipintu utama mereka langsung
"tunggu disini, biar saya yang bawa Reyka kesini" Pinta Seno
Senandung senyum sudah terukur diwajah tampan Seno. Ia sudah membayangkan keluarga bahagia-nya akan kembali lagi tanpa embel-embel masalah dengan Reyka.
Alex mengangguk cepat. Dengan gelisah ia menunggu kedatangan Seno, sesekali ia menoleh kearah pintu. Se-excited itu Alex.
Sementara Seno langsung meluncur kelantai dua. Namun nihil, tidak ada siapapun yang ditemuinya selain para pelayan dilantai bawah. Seno menarik nafas berulang kali mencoba tenang.
Dibukanya pintu kamar anak-anak yang saling terhubung, tetapi tetap saja tidak ditemukan seorang pun.
Sial.
Teringat lagi perkataannya tadi malam. Perkataan yang semata-mata menjadi alasan Seno saja. Tapi laki-laki itu tidak memikirkan efek yang akan diterima oleh Sania.
Seno menggeleng-geleng, berusaha menghalau segala fikiran buruk yang menghigapi dirinya. Secepatnya Seno berlari menuruni tangga menghampiri para pelayan rumah yang bertindak seperti biasanya seperti tidak ada yang berubah.
“mba, Sania kemana?” tanya-nya cepat disela-sela nafasnya yang masih tersengal
“nona?” pelayan itu menampakkan raut heran.
Sejak tadi siang, ia tidak melihat keberadaan nona-nya sama sekali. Ia hanya berfikiran nona beserta anak-anak nya sedang ikut sang tuan rumah yang tampan itu kekantor.
"cepat jawab!" kesal Seno lantaran hanya melihat pelayan itu yang terdiam dan menatap wajahnya dengan tatapan kagum
"eh i-- iya, saya ti-- tidak lihat nona beserta anak-anak sejak tadi pagi" jawabnya
Brugh... Dengan brutal Seno menendang meja didepan-nya. Bunyi yang dikeluarkan terdengar sampai depan hingga John dan Alex masuk kedalam rumah menghampiri sumber bunyi.
Seno menatap tajam pelayan itu dan mecengkram lengannya, "kemana saja kalian! Kenapa tidak ada yang tahu keberadaan nona kalian!"
__ADS_1
"tuan!" teriakan John tetap saja dihiraukan oleh Seno, "dia perempuan" serunya
"mungkin no-- nona, sedang jalan-jalan disekitar rumah"
Benar juga! Seno berdeham lalu menyeka lengannya. Seakan yang baru digenggam-nya merupakan suatu hal yang kotor membuat pelayan itu menatap sendu. Lalu disekanya pada jas yang dikenakan-nya.
"cepat cari istri saya disekitar rumah!" titah Seno yang langsung disetujui oleh John
Laki-laki yang sudah berjuang dengan Seno itu langsung mengundurkan diri untuk melaksanakan tugas yang diberikan tuan-nya. Sementara Alex hanya memandang penuh tanda tanya pada Seno.
"ada apa?"
"ehem, sepertinya Sania dan anak-anak sedang menikmati jalan sore disekitar rumah"
Alex mengangguk paham lalu duduk dipelantaran sofa.
"Saya keatas dulu" seru Seno tiba-tiba
Entah, didalam hatinya ada rasa sedikit tidak percaya dengan ucapan pelayan itu. Perasaan nya juga mengatakan akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi.
Semoga ini tidak seperti yang saya fikirkan.
Semua barang terletak ditempat yang seharusnya. Lagi-lagi Seno menghela nafas lega. Walaupun tidak dipungkiri dalam hatinya ada sedikit ketidak percayaan.
Kembali Seno menghampiri ruang ganti tempat pakaian berada yang didesain terhubung dengan kamar mereka.
Kosong!
Sebagian pakaian benar-benar hilang ditempat nya. Matanya melotot lalu dicarinya letak tas besar dipojok ruangan atas meja. Tapi tidak ditemukannya sama sekali.
"tidak-tidak, jangan seperti apa yang saya fikirkan" ucapnya histeris
...~§~...
Aroma menyengat tercium dari tubuh Seno. Sementara sang pemilik aroma hanya terus menggumamkan nama Sania berulang kali.
"aish, kenapa gue terus sih yang kena akibatnya!" dengus laki-laki itu seraya membuka jas yang masih dikenakan Seno
Layaknya seorang istri Alex menyeka bulir keringat yang terus keluar dari tubuh Seno dengan saputangan yang sudah diberi air hangat. Laki-laki itu memang sedang kurang enak badan sejak kepergian Sania dan anak-anaknya.
__ADS_1
Dua minggu lalu, setelah Seno melihat sendiri kepergian Sania dengan membawa Reyka dan Sean dari CCTV miliknya Seno menjadi seperti ini. Menjadi gila alkohol!
Kepergian Sean dan Reyka terutama Sania membawa amukan besar bagi Seno pada para pelayan dan penjaga rumahnya.
Mereka hanya menunduk tidak berani menatap Seno yang masih tersulut emosi.
"kalian sebo\*\*\* apa, masa mencari Sania saja tidak bisa!"
"mata kalian kemana saja masa tidak melihat kepergian mereka"
Untung saja Seno tidak sempat melayangkan pukulan karena keburu ditahan oleh John.
Hari itu menjadi saksi bahwa seorang Seno memiliki hati. Laki-laki yang tidak pernah menangisi hal-hal dalam dalam hidupnya kini menangis kencang.
Tidak ada tempat untuk bersandar. Seno menangis tersedu-sedu seraya memeluk foto Sania dan Sean yang tertawa seakan mengejek laki-laki itu.
Karena itu, Seno menjadi gila kerja dan tidak menyempatkan untuk tubuhnya agar beristirahat sejenak. Tak pandang waktu, bahkan Seno pernah bekerja hampir dua puluh empat jam tanpa makan berat hanya meminum teh hangat saja. Karena itu pula, berani badan Seno turun drastis membuat orang yang melihatnya menatap kasihan walaupun tidak menutupi wajahnya yang tetap tampan.
Tubuhnya benar-benar terlihat tidak terurus dengan rambut-rambut halus tipis yang mulai tumbuh disekitar dagu nya.
John dan Alex --semata-mata diminta Seno untuk tetap bersamanya hingga ditemukan Reyka-- menjadi tumbal alias menjadi kerepotan karena ulah Seno yang semakin liar.
Padahal John dan Alex sudah berulang kali memberi tahu agar Seno mencari keberadaan istri dan anak-anaknya lewat anak buahnya yang begitu banyak.
Tapi Seno selalu menggeleng, "saya akan memberikan mereka waktu terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan mereka" ujarnya setiap kali ditanyakan kenapa tidak mencari keberadaan keluarga-nya
Hueksss.... Shit....
Kaus yang dikenakan Alex sudah seperti tampungan muntahan bagi Seno. Seno bangkit lalu memegang kepala-nya yang terasa sangat pening.
Dipandanganya Alex dengan heran, "ngapain lu disini?" tanyanya tanpa rasa bersalah sama sekali
Seno melirik Alex yang mendengus lalu melipir kebagian kaus yang sedikit basah dan tercium aroma yang sangat tidak enak, "gue muntah?" Alex mengangguk
"sorry!" serunya cepat lalu bangkit dan berjalan memasuki kamar dengan masih sempoyongan
Alex hanya terbengong dibuatnya. Kemudian ia menggeleng pasrah lalu membuka kausnya asal meninggalkan perut kotak-kotak nya yang terlihat menggiurkan bagi siapapun.
"gue udah kayak istrinya aja. Laki yang berbuat, istrinya yang bebenah" dengusnya seraya membersihkan lantai yang terciprat muntahan Seno dengan kaus Alex
"gak papa deh demi Reyka" senyum tersungging diwajah Alex
__ADS_1
*Reyka, ayah akan nunggu kedatangan kamu*!