Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 71


__ADS_3

FLASHBACK~


"aapa...!" tangannya sudah lemas melihat hasil testpack


Tubuhnya terbaring lemah dipinggir kasur. Mual yang selalu ia tahan di pagi hari nyatanya membawa kabar bahagia sekaligus kabar buruk bagi perempuan itu. Rasa-nya campur aduk.


Kedatangan-nya yang tiba-tiba diluar rencana membuat Sania semakin tertekan. Awalnya. Hidup ditengah kesedihan yang tengah melanda membuat perempuan itu terus membayangkan hal buruk yang akan terjadi kedepannya.


Hal yang buruk seakan sudah hingga difikiran perempuan itu begitu Sania melihat hasil testpack. Dua garis biru yang diinginkan sepasang dua insan yang sudah menikah.


Jelas sudah, kenapa sudah dua bilang terakhir ini ia tidak mendapat tamu bulanan-nya.


"ahhh aku harus bilang secepatnya sama mas Seno" gumam Sania seraya memegang erat testpack tersebut


Sania berjalan dengan langkah riang mencari keberadaan tunik yang baru ia kenakan kemarin sore. Gerakan-nya tiba-tiba berhenti. Seperti kaset rusak, kilasan kejadian beberapa jam lalu kembali hinggap dikepala-nya.


"gak.. Gak... Aku gak bisa kasih tau anak ini sama laki-laki brengsek seperti dia" Sania menggeleng kuat.


Sayangnya laki-laki yang disebut brengsek itu adalah laki-laki yang sama yang sudah menghamili dia perempuan itu. Anaknya. Seorang anak yang tidak pernah ia fikirkan.


Sania meremas kuat testpack, "gak! Aku gak mau anakku memiliki ayah seperti dia. Bermulut kasar dan selalu berbuat buruk. Tidak-tidak"


Dengan gemetar, Sania memasukkan pakaian-pakaian tertutupnya kedalam tas besar.


Kabur dari rumah. Tidak pernah terlintas di benak Sania sama sekali. Tapi jika seperti ini keadaan-nya, lebih baik ia pergi dan mengasuh anaknya sendiri. Daripada harus mengasuh bersama predator yang tidak tahu diuntung itu.


Enak saja kamu ngatain aku Mandul, mas!


Sania mendatangi kamar Sean dan Reyka yang kebetulan memang saling berdekatan. Didekati-nya Sean dan Reyka yang saling bercanda.


"mamih nangis lagi?" tanya Reyka lalu menghapus genangan air mata yang tersisa, "hua.... Gara-gara Reyka ya? Reyka janji gak akan nakal lagi deh. Atau gak, Reyka pulang kerumah ayah aja deh" sahut Reyka seakan tahu dirinya penyebab keretakan rumah tangga antara Sania dan Seno


Sania mengelus kedua pipi Reyka yang mulai menangis, "kamu ikut mamih ya?"


"kemana?" tanya-nya disela-sela tangisannya


"kita pergi ya dari sini? Kita akhiri kesedihan ini dan kita cari kebahagiaan kita" jawab Sania setelah berfikir keras mencari kata yang tepat


Reyka mengernyit. Kata bahagia seakan sudah hilang dikamus dalam dirinya semenjak melihat bundanya --Karin yang terlihat enggan memiliki anak seperti dia.

__ADS_1


"bahagia?"


"iya bahagia. Kita berdua senang, tertawa tanpa harus menangis lagi. Boleh menangis, tapi hanya untuk menangis karena kebahagiaan kita saja" seru Sania


"mau! Reyka mau" jawabnya cepat. Ia akan ikut kemanapun asal dapat terus bersama maminya


"Eyan?" tanya anak itu dan menyelinap ditengah-tengah pelukan Reyka dan Sania, "eyan mau ikut juga!"


Sania meminta Reyka untuk merapihkan pakaian-nya terlebih dahulu sementara ia akan menjelaskan situasi ini pada Sean. Walaupun sulit.


"Sean mau ikut?" tanya Sania hati-hati. Dalam lubuk hati yang paling dalam, Sania tidak menginginkan Sean untuk ikut.


Bukan karena ia lebih sayang pada Reyka. Hanya saja Sean masih memiliki pondasi yang dapat menopang-nya. Seno. Sudah jelas, sebenarnya ia tidak memiliki hak sama sekali atas Sean. Tapi melihat Sean yang sudah siap menangis jujur saja Sania jadi tidak tenang meninggalkan Sean bersama pria seperti Seno.


Laki-laki yang selalu lupa waktu di tempat kerjaan jika ada masalah dan melupakan hal yang sangat penting. Keluarga.


Sean mengangguk, "eyan mau sama pipih dan mamih"


"gak bisa. Mamih mau pergi sebentar, jadi mamih gak bisa bareng-bareng sama pipih lagi" terang Sania


Isakan mulai terdengar dari mulut mungil Sean, "aku mau sama mamih aja. Gak mau sama pipih!"


"janji gak akan nanya pipih?" tanya Sania, bukannya perempuan itu akan memutuskan hubungan anak dan ayah tersebut. Hanya saja Sania merasa Sean akan lebih terarah jika hidup bersamanya


Lagi pula ia tidak akan pergi selamanya. Setidaknya sampai anak yang dikandung nya mengerti keadaan, ia akan kembali lagi. Tidak perduli jika Seno sudah menikah lagi ataupun tidak.


Ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada laki-laki itu. Laki-laki yang selalu menganggap dirinya tidak bisa apa-apa tanpa dirinya.


Ia akan membuktikan bahwa tanpa Seno ia masih bisa hidup bersama ketiga anaknya, nanti. Semoga saja.


Hanya saja ia tidak ingin membawa terlalu lama anak yang masih memiliki hak dengan laki-laki itu. Sampai umur Sean mengerti, biarlah Sean memilih akan tinggal bersama Seno ataupun dirinya.


"iya mih. Pipih jahat buat mamih nangis mulu. Eyan gak suka!"


"kita bukan tinggal dirumah besar lagi. Gak ada kasur empuk. Gak ada makanan mewah. Gak ada baju mewah?" bujuk Sania


Sean mengangguk cepat walaupun sebanrnya ia tidak paham apa yang Sania katakan. Yang dia inginkan cuma bersama mamih. Sekarang maupun selamanya!


"pokoknya Sean cuma mau sama mamih!"

__ADS_1


...~§~...


Seakan dipermudah oleh yang maha kuasa, Sania tidak perlu diam-diam untuk pergi bersama dua anak kecil. Yang seharusnya sangat ribet.


Entah kenapa, semua pelayan seakan sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang menyadari sang nona rumah sedang membawa tas besar. Khas orang yang sedang pulang kampung atau berniat pergi.


"kita pergi sekarang yu" ajak Sania melihat Reyka yang terus memandang rumah besar itu dengan penuh makna


"kita cari kebahagiaan kita dulu. Nanti baru pulang kesini lagi" lanjut Sania berharap Reyka mengerti


Sementara Sean sudah duduk dengan manis-nya didalam taxi. Tidak paham, bahwa hari ini mungkin menjadi hari terakhir anak itu sebelum kembali lagi dengan usia yang lebih dewasa. Mungkin?


Reyka mengangguk paham lalu menerima uluran tangan Sania seakan menjadi awal mula untuk memulai kehidupan selanjutnya.


Singkatnya Sania bersama Sean dan Reyka sudah duduk manis dibus menuju kampung. Tempat tinggalnya semasa kecil.


"mih kita mau kemana?" tanya Sean. Wajahnya sudah ditempelkan pada kaca bus untuk melihat pemandangan yang sangat asri. Tentu saja setelah Sania membersihkan terlebih dahulu kaca tesebut


"kerumah nenek kamu" jawab Sania disertai senyuman khas-nya


"pipih? Pipih nanti nyusul kan" lanjut Sean dan berbalik kearah Sania, "nanti aku mau jalan-jalan sama pipih"


Sania memaksakan senyuman pada Sean. Tidak sadar perkataan anak itu seperti menggores relung hatinya.


Pipih sudah gak sama-sama kita lagi, nak. Ingin rasanya Sania berteriak seperti itu. Tapi mata polos Sean seakan menghipnotis Sania membuat perempuan itu mengangguk saja.


"mih aku ngantuk" panggil Reyka


Sania menoleh dan merilekskan tubuhnya agar Reyka dapat leluasa tidur di pangkuan-nya.


"sini tidur" Reyka merebahkan tubuhnya dipelantaran paha Sania


Sania memandang jendela yang menampilkan sawah-sawah yang terpampang nyata menandakan sebentar lagi ia akan tiba dikampung halamannya.


Semoga ini menjadi awal ia bersama kedua anaknya akan bahagia. Oh tidak, jangan lupakan anak yang masih didalam kandungan. Sena. Nama yang langsung terlintas difikirannya begitu melihat hasil testpack.


Sania + Seno \= Sena


Ah nama yang indah.

__ADS_1


__ADS_2