
Maaf ya kemaren gak bisa update :( aku sakit gigi sampai nyeri kekepala gitu. Jadi gak bisa mikir apa-apa. Btw, info dong obat sakit gigi yang bagus!
Menjadi penjaga supermarket, kurir barang bahkan jualan didepan tempat sewa sudah Sania lakukan. Tetap saja hasil yang diterima sebanding dengan kerja keras-nya.
Mencari pekerjaan dengan gaji umr bukan perkara mudah bagi Sania yang hanya lulusan sma. Tidak-tidak, lulusan Sma pun masih bisa menjadi orang sukses. Tapi disini kondisi Sania yang menjadi permasalahannya.
Kondisi hamil membuat orang-orang memandang sebelah mata Sania. Hanya segelintir orang yang merasa kasihan dan mempekerjakan Sania, itupun tidak dalam waktu lama.
Hanya sepasang suami istri dan seorang bayi baru lahir yang rela memboyong Sania setelah melihat Sania yang dimaki-maki oleh pembeli sambil meringis hebat memeluk perutnya yang sudah membesar.
Daffa dan Dinda menjadi saksi perjuangan Sania melahirkan seorang anak perempuan secara normal. Rumah sakit, rawat inap yang dikocek semua diurus oleh sepasang suami istri tersebut.
Dari situ, Sania mengenal kedua pasangan suami istri yang baru saja dikaruniai anak setelah delapan tahun menikah. Anak yang cantik sekali bernama Danty.
"kami tinggal dulu ya" Ucap Dinda beramah tamah
Sania menunduk sopan dan kembali mengucapkan terima kasih berulang kali. Setalah kepergian mereka, Sean dan Reyka berebutan melihat anak perempuan yang masih terpejam digendongan Sania.
Awal perut Sania mulai terlihat, Reyka dan Sean bertanya berulang kali.
"perut mamih ko bisa gede?"
"gimana caranya bayi bisa ada di perut mamih?"
"kenapa bayi-nya ada didalam perut. Kasihan dong, gak bisa makan"
Pertanyaan demi pertanyaan Sania jawab dengan hati-hati, agar tidak mencemari otak polos anak-anak.
Tapi dari semua itu, Sania menangkap bahwa Sean dan Reyka sangat senang karena akan memiliki seorang adik perempuan. Menjadikan diri mereka seperti penjaga yang tidak ingin ada yang menyakiti seorang adik.
"namanya siapa mih?"
"Sena" jawab Sania dengan senyuman lembut
Nama yang indah dari perpaduan antara Sania dan Seno. Walaupun Sania cukup membenci ayah dari anak perempuan-nya. Tetap saja tidak dipungkiri bahwa ayah kandung dari anaknya yaitu Seno.
"ih Sena lucuuu"
"mih, aku mau liattt" kini giliran Reyka yang berebutan naik kursi ingin melihat Sena
"sini-sini"
__ADS_1
Anggota baru yang menambah kebahagiaan bagi mereka bertiga. Tidak dipungkiri kedatangan Sena membawa berkah bagi Sania. Karena, pada awalnya Sean selalu merengek minta bertemu pada Seno.
Bahkan Sean sampai mogok bicara pada perempuan itu karena tidak pernah menuruti keinginannya, bertemu Seno. Tapi semua itu terhempaskan begitu saja saat Sean melihat adanya seorang adik perempuan yang harus ia juga.
Lama kelamaan, anak itu sedikit melupakan Seno lantaran Sania yang tidak mau menjawabnya. Walaupun sesekali masih bertanya.
Setidaknya Sania sangat bersyukur dengan kedatangan Sena. Seorang anak yang tidak pernah ia mimpikan.
Anak yang menjadi sumber kebahagiaan-nya, selain Sean dan Reyka.
Mamih sangat mencintaimu Sena.
~FLASHBACK END~
...~§~...
"Dokter bagaimana keadaan anak saya"
Sania segera dipanggil dokter sebegitu tiba diruangan sang anak yang sedang terbaring lemah. Daffa yang sejak tadi turut mengikuti Sania kini sedang berada dibelakang perempuan itu, menjaga jika ada keperluan yang membutuhkan tenaga seorang laki-laki. Seperti suami yang sedang menjaga istrinya.
Dokter perempuan itu menarik nafas lalu mengeluarkan beberapa foto hasil tes, "saya sudah bilang sebelumnya. Rawat inap anak ibu, sebelum mengalami hal seperti ini" seperti biasa dokter tersebut akan menyalahkan Sania yang kala itu tidak percaya pada dokter anak-nya
"Saya akan rawat inap, kalau saya ada uang. Untuk membayar obat saja, saya harus pinjam uang dengan atasan saya" Ucap Sania seakan lupa dengan keberadaan Daffa dibelakang-nya, "sudahlah saya tidak ingin berdebat dengan dokter. Saya hanya ingin mengetahui keadaan anak saya"
"kawasaki?" Daffa memotong pembicaraan dan mulai duduk disamping Sania. Alih-alih diam, laki-laki itu lebih penasaran dengan penyakit yang diderita anak Sania. Pasalnya beberapa kali ia mendengar anak bungsu dari Sena sering keluar masuk rumah sakit.
"benar pak, penyakit yang hanya dapat dialami oleh anak dibawah usia 5 tahun dan penyakit ini menyerang peradangan dan fatalnya bisa sampai komplikasi jangka panjang pada jantung"
Jika saja lengannya tidak menyangga meja, Daffa sudah dipastikan akan terjungkal begitu mendengar penyakit yang sangat serius ini. Daffa tidak habis fikir dengan Sania. Padahal sejak dulu keluarga-nya sangat welcome dengan kedatangan Sania.
Ketiga anak Sania pun sudah Daffa anggap sebagai anak sendiri. Dan jangan lupakan, dirinya-lah yang menjadi laki-laki pertama yang meng-adzan bayi yang kini sedang terserang penyakit serius.
"apakah penyakit ini cukup serius dan membahayakan Sena?" sesi tanya jawab kini beralih pada Daffa dan sang dokter membiarkan Sania yang lagi-lagi termenungu memikirkan bagaimana mendapatkan yang untuk pengobatan Sena selanjutnya
"membahayakan jika dibiarkan" sindir dokter itu pada Sania, "tapi bapak tenang saja. Jika anak rutin diberikan suntik gammaglobulin (IVIG), aspirin dan kortikosteroid, insya allah anak akan kembali pulih. Dan jika bisa, anak dirawat inap dirumah sakit ini agar kami bisa memantau lebih lanjut"
Daffa mengangguk paham.
"penyakit ini memang tidak perlu ditakuti, karena masih ada banyak cara untuk menyembuhkan penyakit ini. Tapi penyakit ini juga tidak bisa dianggap sepele, karena penyakit ini akan merembet ke jantung jika tidak ditindak lebih lanjut"
"baik, saya akan ikuti saran dokter. Lakukan yang terbaik untuk Sena"
"tuan! Saya tidak mau menambah utang lagi sama tuan. Sudah cukup banyak bantuan yang tuan lontarkan pada keluarga saya. Saya malu kalau sekarang masih menerima uluran tangan tuan lagi" Ucap Sania begitu mereka berada didepan ruangan dokter
__ADS_1
"Saya tidak mau mendengar penolakan kamu ya. Bagi saya nyawa Sena lebih penting"
Sania menunduk. Bagi dia juga seperti itu, nyawa Sena jauh lebih penting dari nyawa dirinya sendiri.
Perempuan itu memainkan kakinya disaat Daffa yang mulai mengurus administrasi. "saya janji akan bayar utang saya sama tuan" seru Sania tiba-tiba
Daffa tertawa lalu mengusap kepala Sania yang tertutup hijab, "saya gak anggap ini utang loh"
"tapi tuan--
Uang dengan total 50 juta, bukanlah jumlah yang sedikit. Disini peran Sania tidak lebih hanyalah pelayan, mana mungkin ia menerima begitu saja bantuan dengan jumlah yang besar sementara Daffa tidak mau uangnya kembali. Mau tidak mau, Sania harus memikirkan cara lain untuk mengembalikan uang tersebut. Walaup ia harus menabung bertahun-tahun, lamanya.
"sudah diam! Kita lihat keadaan Sena dulu, baru membicarakan masalah ini"
Sania bungkam dan mencebik. Ingat Sania masih berusia 23 tahun! Cukup muda untuk sudah memiliki tiga anak. Jadi, jangan lupa sifak kekanak-kanakan masih melekat pada diri Sania. Walaupun terkadang semua itu teredam dengan sifat dewasa-nya.
“iya tuan”
Sania terus mengekori Daffa yang lebih tahu ruangan tempat Sena berada ketimbang dirinya. Mereka sampai di bansal anak-anak. Banyak anak berkeliaran dengan pakaian rumah sakit. Sania memandang miris, bagaimana anak sekecil mereka bisa terlihat sangat bahagia berada dirumah sakit ini walaupun dengan menahan sakit dideritanya.
Kriekk….
“mamih” Daffa menyingkirkan dirinya agar Sania bisa terlihat oleh Sena
Anak perempuan yang biasanya ceria kini terbaring lemah dengan berusaha tersenyum di bibir-nya. Daffa dibuat miris, pasalnya melihat banyaknya alat rumah sakit yang menopang tubuh yang sangat lemah tak berdaya itu.
Laki-laki itu berjanji pada dirinya sendiri, ia akan membuat sena kembali tumbuh seperti sedia kala.
Sania memeluk Sena dengan hati-hati, “anak mamih kenapa lagi”
“lihat mih tangan sena. Melah-melah semua, ih selem” ucapnya bergidik sembari menunjukkan lengannya yang memerah pada Sania dan Daffa
“tante, aku permisi dulu ya. Aku masih ada kelas” ucap Rahayu tiba-tiba seraya membereskan laptop-nya yang baru saja dikenakan sembari menunggu kedatangan Sania
“oh iya yu, tante sampai lupa sama kamu” ucap sania, “makasih banyak sudah menjaga Sena dan membawa-nya kerumah sakit. Maaf udah merepotkan kamu” ucap Sania penuh terima kasih
“gak ko tan, gak ngerepotin. Aku pulang dulu ya tan, udah dijemput temen” Rahayu berlari kedepan pintu sembari melambaikan tangan
Sania tersenyum. Dasar anak muda.
Perhatiannya kembali terarah pada Sena dan Daffa yang tampak akrab. Sena kembali mengkeluhkan ruam merahnya yang menjadi salah satu akibat saat terkena penyakit wakasaki. Dengan tulus pandangan Daffa terarah pada Sena dan mengukuhkan agar anak itu kuat.
Sania tersenyum pedih. Mungkin begini pandangan jika ia masih bersama Seno. Bagaimana kabar laki-laki itu? Apa laki-laki itu masih menunggu dirinya atau hanya menunggu Sean?
__ADS_1
Semoga kamu baik-baik saja, mas.