
Malam telah tiba
Dari samping, Sania dapat melihat keberadaan Seno dari cermin yang sedang ia duduki depan-nya. Sania sibuk memoles cream malam seperti yang Seno minta semenjak awal menikah.
Katanya, agar wajah Sania terlihat lebih terurus gitu. Sania hanya mengendikkan bahu mendengarnya dan mengikuti saja segala perintah Seno. Karena saat itu, Sania masih beranggapan bahwa Seno adalah segalanya. Jika ia tidak menuruti perintah Seno, maka akan terjadi suatu hal yang buruk.
"mas Seno" cicitnya benar-benar pelan sampai terdengar seperti desisan saja yang teredam oleh suara-suara disekitar nya
Lagi-lagi Sania menarik nafas pendek. Seno tidak menjawab. Entah memang sengaja apa tidak mendengar.
Sakit sebenarnya didiamkan oleh pria yang sudah tertanam direlung hati Sania. Mendapat sedikit abaian saja Sania akan memikirkan nya berhari-hari.
Apa kesalahan ku?
Apa aku berbuat memalukan didepan Seno dan teman-teman nya?
Tetapi disini yang salah Seno. Sania tekankan sekali lagi. SENO! Perbuatan yang menurut Sania tidak bisa ditolerin begitu saja.
Setiap air mata yang keluar dari mata Reyka membuat Sania kelimpungan sendiri. Reyka terlihat rapuh dimata Sania berbeda dengan Sean yang masih memiliki kekuatan yaitu Seno.
Katakanlah Sania pilih kasih. Tapi bagaimana? Melihat kondisi prihatin Reyka benar-benar membuat hati Sania tergunggah.
Reyka dan Sean sama-sama anak Sania. Walaupun bukan anak kandung. Tetapi perilakunya pada Reyka harus lebih dominan dibandingkan pada Sean. Komitmen Sania.
"mas, kamu ngomong apa sama Reyka?" tanya Sania setelah berfikir sekian lama untuk memulai pembicaraan
"apa?! Dia mengadu padamu?" Seno merutuki dirinya sendiri
Ia ingin berkata lembut dan meminta maaf pada Sania. Tapi setiap Sania menyebut Reyka, entah kenapa dalam relung hatinya tercipta rasa kesal yang mendalam. Akhirnya seperti inilah, hanya ketusan yang terucap dari bibirnya.
"bukan, bukan begitu mas. Hanya saja tadi Reyka sempat keceplosan" ucapnya diiringi dengusan kecil
Berbicara dengan Seno saat ini. Sama saja seperti bermain petasan. Walaupun sudah bermain hati-hati, tetap saja yang terdengar adalah letupan bunyi yang kencang. Sama hal nya dengan Seno, bertanya dengan lembut tapi dibalas letusan bahkan bentakan.
__ADS_1
Aish... Suaminya seperti sedang pms saja.
"sama saja! Benar-benar ya anak itu, sekarang sudah berani mengadu"
Sania bangkit lalu duduk dihadapan Seno. Ia sedikit menyingkirkan map-map yang berserakan membuat Seno mendengus kecil tak ayal tetap membiarkan Sania.
"aku gak tahu ya, kamu lagi ada masalah apa diluaran sana. Tapi apa etis, kalau kamu melampiaskan nya pada Reyka"
Seno terdiam masih memfokuskan diri pada laptop dihadapan-nya. Walaupun fikiran laki-laki itu sudah berlalang buana tak tentu arah hanya karena pembicaraan Sania.
"kenapa diam? Baru sadar. Sania bukan maksud menggurui. Apalagi pendidikan Sania yang jauh dibawah kamu" ucapnya sedikit menyindir perkataan Seno belakangan lalu
"tapi anak sekecil Reyka, gak bisa menjadi alasan kamu untuk melampiaskan emosi. Dia masih lemah. Belum mengetahui kejutan tentang mba Karin, kamu sudah menambahi beban fikiran Reyka. Sania gak mau psikis Reyka terganggu hanya karena ucapan sembarangan kamu"
"ucapan sembarangan darimana" berasa serius, Seno menyingkirkan laptop dihadapan dan membuka kacamata. Ia menyatukan tangan lalu tersenyum, "ada yang salah dari ucapan mas pada Reyka?"
"anak pembawa sial!" seru Sania tiba-tiba hingga Seno terhenyak, "gak ada anak yang disebut sial. Dan kalian dengan seenaknya menyebut Reyka sebagai anak pembawa sial? Kalian gak punya hati?"
"kalian?"
"Reyka bukan anak mas"
"tapi tidak dipungkiri Reyka memiliki hubungan dengan mantan istri yang sangat mas cintai itu. Atau gak, setidaknya mas memiliki hati nurani untuk tidak menyebut anak kecil seperti itu. Siapapun itu entah anak kandung mas sendiri ataupun anak orang lain"
"karena memang dia pembawa sial! Orang tuanya juga"
"Sania fikir, mas kesal dengan orang tua Reyka dan kemudian menjadikan Reyka sebagai objek kekesalan mas. Memangnya salah Reyka apa?"
"dia tidak salah, orang tuanya lah yang salah. Karena adanya dia, Karin rela berbohong pada mas dan jangan lupakan bapak Reyka yang sudah menipu perusahaan mas hingga rugi miliaran rupiah tapi hingga saat ini belum ditemui juga oleh pihak mas maupun kepolisian"
Sania terdiam baru mengetahui kebenaran yang selama ini Seno pendam. Salah satu sifat yang Sania kurang sukai.
Seno selalu memendam masalah sendiri. Entah itu perasaan nya atau masalah yang sedang ia hadapi. Sania paham, ia tidak sepintar itu untuk memahami masalah kantor yang mungkin memang sangat rumit.
__ADS_1
Tapi, bukankah lebih baik membagi-nya pada orang terdekat daripada memendam sendiri dan berujung sakit? Sania juga bisa menghibur Seno walaupun tidak mungkin dapat membantu memecahkan masalah.
Intinya, Seno belum sepercaya itu pada Sania.
"dari semua itu, salah Reyka apa mas. Apa yang membuat mas menyebutkan kalau Reyka itu anak pembawa sial"
Lagi-lagi Seno terdiam. Seakan perkataan Sania menghunjam dirinya. Memang benar, ia hanya asal menyebutkan kata buruk itu.
Karena saat itu Reyka tidak sengaja mengotori kemeja nya dengan kue yang digenggamnya akibat tersandung dari permadani. Jadi, dengan tidak sengaja Seno mengucap kata buruk itu pada Reyka.
"gak bisa jawab kan? Sania mohon, Reyka tidak sepolos yang mas lihat. Anak itu selalu memendam semuanya sendiri dan menumpahkan tangisan pada malam hari. Setiap kita semua udah terlelap tidur. Dia akan menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Sania cuma gak mau, anak itu sampai kenapa-napa"
"kenapa kau terlihat perduli sekali padanya? Padahal dia hanyalah anak haram!"
"mas!" Sania menarik nafas berulang kali agar mengembalikan ketenangan, "sekarang Sania paham kenapa Sania belum hamil seperti sekarang! Karena mas, omongan pedas mas pada anak lain sangat tidak mencerminkan sosok ayah yang bijaksana"
"jangan salahkan saya! Kau belum hamil, karena dirimu yang mandul itu! Saya dengan Karin, tidak selang setahun langsung memiliki Sean. Tapi apa! Dengan kamu, sudah setahun lebih jangankan anak tanda-tanda hamil saja tidak ada!"
"terserah mas! Terserah mas mau sebut Sania apa! Mandul-lah, gak bisa punya anak lah, apalah! Sania capek"
Seno tidak berniat minta maaf. Laki-laki itu hanya menampilkan wajah tak bersalah sama sekali.
"omongan kamu mas! Dari dulu Sania benci sama omongan kasar kamu. Tidak pernah berfikir terlebih dahulu kalau mau berucap. Kamu memang bukan suami yang suka main tangan, tapi omongan kamu juga menjadi salah satu alasan Sania ingin mengakhiri pernikahan ini"
"terserah apa kata kamu! Nyatanya saya memang mengatakan yang sebenarnya"
"tidak pernah merasa bersalah memang menjadi ciri kamu, mas" Sania berdecih, "Bisa-bisanya orang yang mengambil secara paksa kehormatanku adalah orang kayak kamu. Lebih baik Sania tidak menikah dengan kmau kalau tahu begini"
Wajah tenang namun menghanyutkan Sania sedikit memengaruhi Seno. Perempuan itu memilih tidak menangis. Ia tidak mau terlihat lemah dihadapan suaminya yang kasar.
"kali ini, Sania benar-benar kecewa mas sama kamu!" ucapnya klau diakhiri dengan bantingan pintu
Didepan kamar Seno yang masih termenung. Sania terduduk dibalik pintu, tangannya teremas kuat. Tidak memperdulikan lagi pelayan yang akan melihatnya. Ia menangis kencang.
__ADS_1
"jahat kamu mas!"