
"uhuk... Uhuk.... Ada yang datang ya?" Ucap seseorang dengan suara serak mengejutkan kelima orang tersebut
Wanita paruh baya tampak pucat keluar dengan baju tebalnya. Sania hampir tidak mengenali jika tidak melihat kalung khas milik Sumi.
"ibu?"
Perempuan dengan daster lusuh mendongak lalu menangis dan memeluk Sania erat, "Sania sayang, maafin ibu. Maafin ibu"
Seno yang sadar akan situasi memilih keluar membawa ke-tiga anaknya. Membiarkan Sania melepas rindu dengan orang tua-nya.
"pak, Sania pulang" teriak Sumi dengan suara gemetar
Tidak lama kemudian, suara langkah terpogoh-pogoh datang menghampiri mereka. Tidak Sania sangat, pria yang dulunya tampak gagah kini tampak lesu dan tak terurus.
"ibu sama bapak kenapa?" Sania sampai mundur diri dan menutup mulutnya, kondisi kedua orang tuanya benar-benar mencubit perasaan perempuan itu
Jika saja Sania lebih perduli kala itu, mungkin saja Sumi dan Andi tidak seperti ini.
"semua habis nak. Semua habis" Ucap Andi setelah mereka duduk diatas sofa penuh debu hingga Sania membersihkan dulu sebelum mereka duduk begitu saja
"maksudnya gimana bu?" Sania memegang lembut lengan yang sudah keriput dimakan usia
"ibu, bapak sakit. Adik kamu ditinggalin begitu saja. Harta yang suami kamu kasih tiap bulannya selalu diambil paksa"
Suasana semakin tidak kondusif saat Sumi dan Andi menjadi menangis, meratapi keadaan dan Seno sudah mengepalkan tangan dibalik pintu. Mendengar semua kejadian dan merasa malu jadi menantu karena tidak bisa membantu apa-apa.
"siapa yang melakukan-nya bu?" tanya Sania hati-hati
"Chika. Pelayan yang ditaruh suami kamu dimari"
Sania cukup terkejut saat mengetahui orang yang dikirim Seno malah berlaku buruk pada kedua orang tua-nya. Berarti kalau mas Seno tidak mengirimi pelayan itu, orang tuanya tidak akan seperti ini dong?
"jangan salahin suami kamu. Ini sudah takdir kami" Ucap Sumi ketika melihat raut Sania yang seperti sedang geram menahan sesuatu
"oh iya sebelumnya, ibu sama bapak mengucapkan banyak-banyak minta maaf sama kamu. Kami sadar perlakuan kami benar-benar sudah kelewatan sama kamu" ujar Andi
"semenjak kecil hingga sekarang" lanjut Sumi lalu memilin ujung jaket, menghindari raut wajah Sania yang mulai berubah
Sania menarik nafas dalam-dalam. Ia memang masih merasa sakit jika mengingat kala itu, tapi jika Sania terus mendendam bukankah sama saja seperti kedua orang tuanya? Sumi dan Andi saja berani untuk memaafkan. Mengapa dia sulit untuk mengulurkan lengannya juga?
"iya bu, pak Sania maafin" Sania tersenyum seraya memeluk Sumi dan Andi bergantian, "maafin kesalahan Sania selama ini"
"kamu gak salah apa-apa nak. Ibu dan bapak yang selama ini sudah berperan jahat dalam kehidupan kamu"
__ADS_1
"udahlah bu. Semuanya udah berlalu, gak usah gali kejadian yang lalu lagi. Lebih baik kita berjalan kedepan untuk mencari kebahagiaan kita sendiri"
"ih iya bu, ada yang ingin Sania kenalin sama ibu" seru Sania lalu berdiri dan beranjak kearah pintu
Sania dan Seno menggiring ketiga anaknya yang sedikit sulit untuk masuk karena sedikit takut melihat Sumi dan Andi, orang yang belum dekat dengan mereka.
"sini nak" panggil Sumi membuat mereka memberanikan diri, sedikit
Sania duduk mensejajarkan diri dengan tinggi anak-anak, "perkenalkan pak, bu, ini Reyka anak teman mas Seno yang sudah Sania anggap seperti anak sendiri. Ini Sean, anak kandung mas Seno dengan mantan istrinya dan sibungsu, Sena cucu kalian. Anak kandung Sania dan Seno"
"APA!" Sumi dan Andi tampak gemetar, cucu yang sejak dulu mereka inginkan, "sini nak" titah Andi
Sena menggeleng, masih mengeratkan pelukan digendongan Seno.
"katanya mau ketemu nenek" canda Seno
"mayuuuu" rajuknya, lalu menendang-nendang udara berulang kali. Tidak suka menjadi pusat perhatian semua orang
"hahaha, cucu-nya lagi malu nih nek. Nanti lagi ya kenalan-nya" Ucap Seno seraya mengacak-acak surai indah Sena
"ya sudah. Sini-sini cucu nenek sama kakek yang lainnya" titah Sumi membuat Sania menoleh heran
Reyka dan Sean mendekat setelah meminta persetujuan pada Sania dan Seno. Sumi dan Andi langsung memeluk kedua anak itu dengan erat secara bergantian. Terlihat raut penyesalan diwajah Sumi dan Andi.
"maafin Reyka juga nenek, kakek" Ucap Reyka lalu tersenyum, baru merasakan memiliki nenek dan kakek yang selama ini hanya bisa ia dengar dari cerita teman-temannya
"Sean juga" Ucap anak itu ikut-ikutan
Sumi dan Andi tertawa melihat tingkah polos mereka lalu mengangguk setelah meminta maaf berulang kali.
"pasti kalian cape habis perjalanan jauh. Istirahat gih di kamar tamu" titah Sumi yang diangguki oleh Sania dan Seno
...~§~...
Ting... Ting... Ting...
Suara benturan sendok dengan gelas kaca memecah keheningan dapur di malam hari. Semenjak Sumi memerintahkan mereka untuk ber-istirahat sejak itu pula Sania memilih membersihkan rumah yang luar biasa kacau itu.
Ketiga anak dan suami-nya masih asyik tenggelam di alam mimpi. Sania membiarkan mereka mengisi ulang energi daripada malah bermain membuat Sania sedikit kelimpungan karena harus terbagi tugasnya.
Sania merentangkan tangan, menghilangkan pegal diseluruh tubuhnya. Tinggal kamar Sumi dan Andi yang belum terjangkau oleh Sania. Selain itu, setiap sudut rumah sudah tampak bersih.
"aih capenya" Sania duduk selonjoran sembari menikmati teh hangat
__ADS_1
Tidak lama, Sania melihat Sumi dan Andi mendekat lalu duduk dihadapan Sania.
"tapi ibu belum sempat nanya, gimana kabar kamu? Ibu dengar saat kamu kesini itu ternyata kamu sedang kabur. Sejak itu ibu kepikiran bagaimana kamu menyambung hidup dengan dua anak yang kamu bawa. Rasanya ibu ingin menyalahi diri sendiri kalau mengingat kala itu" Sumi tersenyum sendu
"apalagi bapak, yang seharusnya melindungi anak nya terutama anak perempuan malah membiarkan kamu pergi begitu saja. Padahal bapak sadar, saat itu kamu sedang tidak baik-baik saja. Dilihat dari raut wajah kamu yang seperti banyak masalah" sesal Andi
"sudah-sudah, Sania baik-baik aja. Semuanya udah berlalu ini, yang penting kita udah bisa berkumpul lagi, seperti ini. Hanya saja masih kurang Santy. Tadi ibu belum jelasin lebih jelas, gimana kabar Santy?"
"ya gitu" Sumi menyenggol Andi. Meminta laki-laki itu menjelaskan lebih lanjut pada Sania, "seperti yang kamu duga. Berawal dari hal yang buruk akan berakhir dengan hal yang buruk juga. Mereka nikah karena sebuah kesalahan hingga menyakiti kamu"
"maksudnya?" tanya Sania tidak ingin Andi bertele-tele
"adik kamu diceraikan begitu saja sama Kamal, setelah laki-laki itu ketawan selingkuh dengan tiga orang dan diantara dua orang tersebut sedang hamil besar"
Sania tercekat. Dulu ia memang mendo'kan hal buruk menimpa pernikahan Kamal. Tapi bukan ini yang ia inginkan. Melihat adiknya sengsara adalah hal yang paling Sania benci.
Santy terlalu lemah untuk menghadapi hal itu.
"sekarang Santy dimana?" tanya Sania lagi berusaha menyembunyikan nada sumbangnya
"adalah, nanti dia juga datang. Kamu tanya sama dia aja. Ibu gak bisa ngomong lebih lanjut. Suka sakit kalau ingat" jawab Sumi lalu meremas dada, menyalurkan rasa sakit
Setelah itu, Sania dengan Sumi dan Andi saling berbincang diluar topik 'masa lalu'. Mereka ingin membuka lembar baru. Bersama. Membina hubungan baik yang sejak dulu tidak pernah tergapai.
Tidak lama, terdengar derapan langkah menyita perhatian mereka bertiga. Seno datang dengan kaus yang sudah ia ganti. Laki-laki itu tersenyum lalu ikut duduk disamping Sania.
"siang bu, pak. Maaf saya malah asyik ketiduran" seru Seno, "oh iya, sebelumya saya minta maaf. Saya baru dengar dari asisten saya kalau penyebab ibu dan bapak seperti ini tidak lain adalah pelayan yang saya taruh disini"
Sania spontan menoleh pada Sumi dan Andi. Ingin mendengar penjelasan lebih lanjut. Ia masih kurang paham sebenarnya apa yang terjadi.
"sudahlah nak, tidak apa-apa. Sudah berlalu juga" sahut Andi
"kalau boleh tahu saya boleh mendengar cerita? Kalau memang kelewat batas saya akan cari orang itu dan penjarakan dia"
"tidak usah dicari, nanti setiap awal bulan juga dia akan kesini lagi" terang Sumi, "semua berawal dari ibu dan bapak yang selalu memandang remeh perempuan itu. Ya namanya juga manusia, mana tahan terus diremehkan oleh kami. Dia akhirnya memberontak dan mengancam kami. Dia menelantarkan kami begitu saja, kami yang sudah tua ini gak bisa apa-apa. Ditambah dua yang selalu datang awal bulan karena tahu kami sellau ditransfer suami kamu setiap tanggal satu" jelas Sumi
"tapi mereka gak nyakitin ibu kan?"
Sumi dan Andi hanya saling memandang, tidak ingin menjawab dan membuat mereka khawatir.
"assalamualaikum" suara salam menyita perhatian semua orang
"Santy!"
__ADS_1