
Malam semakin larut. Tidak terasa perbincangan antara Sania dan Seno harus selesai.
Banyak yang dibicarakan oleh mereka. Entah itu kehidupan masing-masing selama satu sama lain mereka terpisah. Tentang pertumbuhan Sean dan segala tingkah Sean yang selalu Sania ingat.
Sania sengaja tidak memberi tahu keberadaan Sena. Biarlah laki-laki itu mengetahui dengan mata kepalanya sendiri.
Sania ingin melihat reaksi yang Seno berikan. Lagi pula Sania masih tidak tahu harus berkata apa. Nyatanya laki-laki itu sama sekali, ia memiliki anak dari laki-laki itu.
"kamu pulang saja ya mas, sudah malam" Pinta Sania mengusir Seno
Seno masih memandang hamparan rumput yang bergemerisik dengan danau yang diterpa cahaya bulan. Bayangkan saja, sejak siang mereka masih duduk ditempat yang sama, letak dan apapun itu.
Mereka hanya berpindah saat waktunya makan tiba. Dan kembali ketempat duduk semula. Bak anak remaja, sejak tadi mereka tidak melepas genggaman tangan.
Melepas rindu memang tidak semudah itu.
Seno menggeleng, "aku mau ikut kamu dan ketemu sama anak-anak. Boleh kan?" Seno memasang wajah gemas agar Sania luluh
Sania menggeleng, "kamu pulang dulu aja. Sudah malem gak baik namu dirumah orang malem-malem"
"tapi kan aku suami kamu!" bela Seno
"tapi tetangga Sania gak tahu kalau mas suami aku. Sania gak mau nambah masalah dilingkungan itu lagi. Hidup Sania sudah susah gak mau nambah susah lagi hanya karena omongan tetangga!" dengus Sania sedikit curhat
Hati laki-laki itu menjadi nyeri dibuatnya. Penyebab hidup Sania seperti ini juga tidak jauh-jauh karena ulah dirinya. Lagi-lagi ia hanya bisa merutuki dirinya tanpa bisa berbuat apapun.
Akhirnya Seno mengangguk daripada menambah masalah pada istrinya itu, "ya sudah mas pulang dulu ya. Mas anter kamu, baru mas pulang"
"aku pulang sendiri aja mas. Ada yang mau dibeli dulu dijalan" Sania menjawab diiringi suara bersin yang menyusul
Spontan Seno langsung membuka jas-nya dan dipakaikannya pada tubuh Sania. Hingga tubuh perempuan itu nyaris tenggelam dibuatnya.
Jas yang dirasa sempit oleh Seno, malah terlihat kebesaran ditubuh Sania. Seno hingga terkikik dibuatnya.
"apa ketawa-tawa!" Sania menatap nyalang. Suasana romantis langsung buyar begitu saja lantaran Seno yang tertawa kencang
Seno langsung diam dan berdeham, "eh enggak, mas khilaf. Ya sudah, mas antar kamu pulang. Baru mas pulang juga" Ucap Seno lalu mengetik sesuai diponsel, meminta supirnya untuk datang menjemput
"gak mas. Sania bisa sendiri. Lagi pula, sekarang malam minggu pasti masih banyak orang. Aku pulang dulu" final Sania
Akhirnya Seno mengangguk, "hati-hati ya sayang" ucapnya kemudian menyempatkan diri untuk menyempatkan rambut yang keluar dari hijab Sania
Sania menatap mata Seno yang menatapnya balik hingga membuat Sania sedikit tersipu.
"mas pulang dulu ya, besok pagi mas datang lagi" ucapnya kemudian diakhiri kecupan dikening
__ADS_1
Sania tersenyum lalu mengangguk, "aku pulang dulu ya mas. Assalamualaikum"
"waalaikumsallam"
Sania berjalan riang meninggalkan Seno. Dibalik laki-laki itu, Sania terus memegang keningnya dan tersenyum bahagia.
...~§~...
"puas ya melepas rindunya" Daffa sudah berdiri dibalik pintu masuk dengan lengan yang dilipat siap menginterogasi Sania
"eh?" Sania baru sadar dirinya lupa waktu sampai lupa akan keberadaan anak-anaknya. Pantas saja Daffa masih berada disini. Tidak lupa dengan celemek bunga-sepatu yang masih dikenakan nya. Sania jadi ingin tertawa.
"apa ketawa-tawa!" aish, kenapa perkataan Daffa sangat persis dengan perkataan Sania saat ia sedang menggertak Seno
Sania menggeleng lalu menunduk, "maaf tuan, Sania kelamaan ya"
Diam-diam Daffa tertawa, menikmati wajah khawatir Sania sekaligus ketakutan nya.
"masih nanya lagi. Gak lihat nih saya berantakan gini gara-gara urus anak-anak" Ucap Daffa sembari melihat tubuhnya lalu berdeham karena baru sadar masih mengenakan celemek
"gara-gara kecapean nih, saya sampai lupa masih pakai celemek" kilah Seno lalu buru-buru membuka celemek-nya
"iya deh. Oh iya, anak-anak udah pada tidur?"
Daffa mengangguk, "semua gampang tidur kecuali anak kamu tuh, Sean. Susah banget diajak tidur. Saya harus berperan sebagai kamu agar dia bisa tidur secepatnya" keluh Sania
Akhirnya dengan metode menceritakan horor, Daffa berhasil membuat Sean tidur. Walaupun sempat melewati drama yaitu Sean ketakutan bukan main.
"hahaha, maaf ya tuan. Sean memang susah kalau disuruh tidur. Padahal tinggal kasih susu terus digendong bentar juga Sean pasti tidur"
Daffa mendelik, sudah telat! Badannya sudah keburu pegal-pegal.
"ck, terserah kamu deh. Bagaimana pertemuan kalian" singgung Daffa yang sejak tadi penasaran
"Ya seperti itu" jawab Sania penuh rahasia
"main-nya rahasia-rahasiaan ya. Saya loh yang secara tidak langsung sudah mempertemukan kalian"
"iya. Ya begitu tuan, seperti pada umumnya orang yang melepas rindu setelah sekian lama gak bertemu"
"Saya gak paham" Daffa menyadarkan tubuh disofa, "istri saya sudah pergi untuk selamanya. Jadi, sepertinya tidak mungkin saya akan bertemu dengannya lagi. Kecuali diakhirat"
Sania jadi serba salah, "bukan gitu maksud Sania"
"iya saya paham. Saya hanya bercanda ko" Daffa bangkit dan masuk kedalam kamar Sean lalu keluar dengan Danty yang sudah terlelap digendongan nya, "saya pulang dulu ya"
__ADS_1
"eh iya pak hati-hati" Sania mengantar mereka sampai depan pintu rumah
"jangan lupa berdamai dengan masa lalu, San. Inget anak-anak. Mereka masih membutuhkan figure seorang ayah"
...~§~...
Keesokan pagi-nya Sania dikejutkan dengan Ketukan pintu. Yang lebih tepat, pintunya digedor seperti seorang penagih utang yang memanggil dengan cara brutal.
"ko aku disini sih?" sungut Sania lalu melihat sekitar
Sania baru sadar, ia ketiduran di ruang tamu.
Mendengar gedoran pintu lagi, Sania buru-buru merapihkan kerudung dan mendatangi pintu lalu membukanya, "selamat pagi"
"eh iya, selamat pagi?" Sania memandang matahari yang masih malu-malu memancarkan sinarnya, "kurang pagi" dengusnya
"oh kurang pagi ya? Padahal mas maunya jam 4 datang kesini. Tapi, takut ngeganggu kamu akhirnya jam setengah 6 aja datangnya" Ucap Seno santai seperti tidak paham akan sindiran Sania
"ah tau ah" Sania masuk lalu membuka pintu membuat Seno ikut masuk juga
Laki-laki itu memandang sekitar. Rumah yang memang dibilang tidak besar namun nyaman untuk ditinggal. Seno sedikit miris melihatnya, mengingat ia selalu hidup dengan mewah dirumahnya tanpa memikirkan keadaan Sania yang sebenarnya.
"kamu nyaman tinggal dirumah ini?" tanya Seno seraya duduk disofa yang sudah menipis busanya
"nyaman dong! Malah Sania bersyukur karena allah masih menitipkan rumah ini sama Sania. Masih banyak orang diluaran sana yang menginginkan tempat tinggal yang layak"
"selamat pagi mamih" Reyka menginterupsi perbincangan Seno dan Sania
Anak laki-laki itu memandang heran tak ayal mendekati Seno dan menyalimi tangan laki-laki itu.
"sudah besar ya kamu? Gimana kabarnya Reyka?" tanya Seno sembari mengacak-acak rambut Reyka
Reyka menatap Sania seakan bertanya 'dirinya boleh menjawab atau tidak?' dan mendapat anggukan dari mamih-nya itu, "Reyka baik, paman. Paman apa kabarnya?"
Seperti ada yang menusuk tajam hati Seno. Laki-laki itu sadar jika anak didepan-nya ini sudah membenteng tembok tinggi antara ia dengannya, "ko paman? Papih kabarnya baik ko"
"oh ya udah, Reyka mau mandi dulu ya paman" Ucap Reyka kemudian mengabaikan keluhan Seno
Seno mengeluh lalu memutar-mutar jam dipergelengan tangannya dengan asal, "sepertinya dia sangat membenci saya"
Sania tersenyum lalu menaruh secangkir teh hangat didepan Seno, "semangat dong. Katanya mau ngeluluhin hati anak-anak"
"mamih...." kini giliran Sean yang keluar dengan menggandeng Sena. Spontan Sania menoleh pada Seno ingin melihat reaksi laki-laki itu
"Hah... Papihhhhh" Sean menyerbu Seno lalu memeluk pria itu erat-erat
__ADS_1
Berbeda dengan Seno yang masih terpaku menatap anak perempuan yang menatap bingung padanya, "anak siapa itu?"