Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 82


__ADS_3

"mas tapi aku takut" Sania menghentikan kegiatan melipat pakaian dan menatap Seno


"kamu gak mau tinggal dengan mas lagi?" Tanya Seno


Bukan seperti itu~


Sania terdiam lalu memandang kearah jendela. Diluar sana Sena dan Sean sedang bermain bersama Danty yang baru saja Daffa titipkan. Tidak lupa Reyka yang duduk dibawah pohon ceri seraya menunduk.


"kenapa masih ada yang kamu fikirkan?" Seno meringsut memeluk Sania dari belakang ikut memandang anak-anak


"Reyka. Kamu memang sudah mengambil hati Sena dan Sean, tapi Reyka belum. Anak itu masih memasak jarak diantara kamu?"


"dia kenapa sedih gitu?" tanya Seno penuh ingin tahu


"entah. Reyka memang sedikit diam dibanding anak aku yang lainnya. Reyka lebih asyik dengan dunianya sendiri" Sania menatap sedih


Reyka memang terlihat bahagia didepan Sania. Tapi gak dipungkiri, Sania sering mendapati anak itu melamun dalam diam bahkan menangis. Setiap bertanya Seno hanya menggeleng, dan meminta Sania untuk pergi.


"sepertinya aku penyebab anak itu nangis"


"bukan kamu. Aku rasa, Reyka merindukan kedua orang tua-nya. Dulu dia memang suka melamun tapi semua itu semakin parah saat kamu datang"


"jadi kamu nyalahin mas?"


"bukan, sepertinya Reyka merindukan kedua orang tuanya" Ucap Sania tiba-tiba


Seno mengernyit heran, "kita? Memangnya selama ini kita tidak dianggap orang tuanya"


"bagaimana kalau kamu ajak Reyka untuk ketemu dengan ka Alex" usul Sania


Seno mengangguk setuju. Alex sudah merengek agar dipertemukan pada Reyka. Tapi laki-laki itu meminta Alex untuk menyelesaikan urusan perusahaan terlebih dahulu baru ia akan temukan pada Reyka.


Egois memang! Tapi itu menjadi alasan Seno agar asisten-nya itu tidak mengganggu kebersamaan-nya saat bersama dengan Sania.


"nanti akan mas urus. Kamu disini aja, dan persiapkan barang yang akan dibawa kerumah mas" titah Seno


Sania mengernyit, "memangnya aku udah setuju? Lagi pula aku masih terikat kontrak dengan tuan Daffa. Masih ada yang harus dibayar sama tuanku itu" jelas Sania


Utang tetaplah utang, walaupun Daffa sudah berproklamasi merelakan uang tersebut secara cuma-cuma. Tetap saja dalam lubuk hati Sania yang paling dalam ada rasa tidak enak pada laki-laki yang sudah membantunya selama ini.


"kontrak? Kamu buat kontrak dengan pengusaha sukses itu? Bukan kontrak yang macam-macam kan?"


"tuh kan prasangka buruk lagi" Sania menepus lengan Seno yang melingkar diperutnya lalu berlalu memasuki dapur


Seno berdeham, "ehem, bukan gitu. Maksud mas kamu ada kontrak apa dengan pengusaha itu. Setahu mas, tuan Daffa orang yang paling susah untuk percaya pada orang baru"

__ADS_1


"tuan Daffa orang paling baik yang pernah Sania kenal. Kamu mah kemakan gosip-gosip deh. Tuan Daffa sangat berbeda dengan apa yang diberitakan di televisi" Ejek Sania


"kamu belum jawab pertanyaan mas loh. Kamu punya kontrak apa sama tuan Daffa"


Sania memilin ujung kemeja-nya. Tanda gugup, "aku punya utang yang cukup besar sama tuan Daffa"


"mas bisa bayarin ko" sela Seno cepat, "berapa utang kamu?"


Sania mengendikkan bahu, "aku gak tahu"


Seno mengernyit heran, "kamu minjem ke tuan Daffa-nya berapa? Gak mungkin kan tuan Daffa ngasih kamu gitu aja tanpa kamu sebutin nominal-nya"


"sebenarnya tuan Daffa tidak pernah meminta kembali uang itu. Uang yang digunakan untuk merawat Sena dirumah sakit. Tapi--


"Sena masuk rumah sakit?" sela Seno lantas menghadap Sania, wajahnya benar-benar panik mendengar kabar anaknya yang pernah masuk rumah sakit


“iya, Sena pernah masuk rumah sakit. Bukan penyakit yang serius walaupun tetap saja membutuhkan uang yang banyak untuk merawat inap” ucap Sania menenangkan Seno


Seno mengangguk paham, “ya sudah nanti biar mas bicarakan dengan tuan Daffa” Seno kembali menoleh pada Reyka yang kini sudah menelungkup wajah di kedua lututnya, “mas mau temuin Reyka dulu ya”


“ ya sudah, biar aku alihin perhatian Sena sama Sean dulu”


~§~


Seno terkekeh. Sikap Reyka memang memperlihatkan ketidak-sukaannya tetapi Seno bisa mendapati Reyka sangat bahagia begitu Seno mengajak ngobrol dan menggendong anak itu.


“kenapa gak mau manggil papih lagi. Bukannya dulu kamu yang paling semangat dengan kata itu” Seno tetap fokus menyetir walaupun Reyka tidak bisa diam dipangkuan-nya


“gak, aku gak suka. Papih selalu buat nangis mamih. Aku benci papih!” Reyka memekik diakhir perkataannya


“nangis kenapa?” pancing Seno, laki-laki itu ingin Reyka mengeluarkan uneg-unegnya selama ini


“papih udah bentak-bentak mamih. Papih juga yang udah buat mamih pergi dari rumah. Papih—


Seno mengernyit, “tapi kalian hidup lebih bahagia-kan tanpa papih?”


“kata siapa!” Sewot Reyka, “setelah mamih meninggalkan rumah papih, hanya ada tangisan yang keluar dari mata mamih. Mamih selalu dapat hinaan, ejekan, cacian hanya karena mamih hamil Sena. Karena itu juga, aku sempat benci sama Sena. Karena Sena mamih selalu dapet hinaan dari tetangga. Tapi Reyka tahu, kalau Reyka benci Sena yang ada mamih semakin sedih. Karena itu Reyka coba sayang sama adik kecil Sena” ucap Reyka menggebu-gebu


“terus?” perkataan Reyka sedikit melukai perasaan Seno, tapi jika itu sedikit menenangkan Reyka. Seno tidak apa-apa melakukannya


“aku, Sena sama Sean juga selalu dijauhin ama temen-temen, hanya karena kita gak punya ayah. Kata orang-orang, mamih orang yang gak bener karena udah hamil diluar nikah sampai 3 anak. Reyka gak paham apa itu, tapi Reyka paham perkataan itu buat mamih jadi sedih”


Seno mengepalkan tangan-nya kuat. Ia menjamin akan menjatuhkan tetangga yang sudah membuat istri dan anak-anaknya bersedih.


Reyka sudah mulai terisak dipelukan Seno, “aku gak suka mamih nangis. Semua orang jahat. Aku benci semua orang”

__ADS_1


Seno mengusap punggung Reyka, menenangkan anak itu, “Reyka gak usah fikirin lagi ya. Biar selanjutnya papih yang akan urus semuanya. Papih akan hukum yang udah buat mamih sama Reyka menangis” Seno mengulurkan kelingking promise dan diterima oleh Reyka


“janji ya paman”


“iya janji, sayang”


Tidak lama, Seno sampai diperusahaan miliknya. Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya saat melihat anak kecil digendongan laki-laki itu dengan wajah memerah. Khas orang menangis. Sebagian berfikiran buruk, sebagian lagi memandang tidak suka termasuk Cheris yang langsung melempar kemoceng.


Seno sampai dihadapan pintu ruangan ‘sekretaris-nya’


“Tebak papih mau ajak kamu ketemu siapa?”


Reyka menoleh lalu mata-nya tertuju pada ruangan bertuliskan ‘sekretaris/asisten’. Reyka mengendikkan bahu,


“Reyka gak tahu. Ini perusahaan papih ya?” tanya-nya balik lalu meminta turun pada Seno saat matanya bertubrukan pada bingkai besar yang menampilkan dirinya dan juga Sean, ‘ih ada foto aku” serunya gembira


"didalam juga ada foto kamu. Banyak" Ucap Seno


"beneran?" tanya Reyka antusias


"tapi Reyka tutup mata dulu ya" dengan semangat Reyka menutup mata dengan kedua lengannya sembari tersenyum bahagia


"tunggu sini bentar ya" Reyka mengangguk antusias


Seno membuka pintu Alex perlahan. Alex tampak menekuni laptop tanpa sadar ada yang masuk.


"sstttt"


Alex menoleh, "woi ah! Kerjaan yang lu kasih gak kira-kira banget sih. Gue juga mau ketemu anak gue"


Seno menaruh telunjuk dimulutnya meminta Alex untuk diam, "ada apa?" bisik Alex


Seno menunjuk depan pintu yang terbuka dengan dagunya. Alex tersenyum bahagia, Reyka anak yang sangat ia rindukan kini sedang menutup wajahnya sambil terus tersenyum.


"ini bener?"


Seno mengangguk, "temui Reyka, jangan buat dia nangis. Gue tunggu didepan. Inget jangan buat Reyka nangis!" peringat Seno


"makasih. Makasih banyak" bisik Alex


Setelah Seno keluar, Alex berlutut dihadapan Reyka yang masih tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Anak itu masih tersenyum bahagia.


Alex ingin memanggil, hanya saja ia takut akan melunturkan senyum manis anaknya.


"Reyka sayang" panggilnya dengan suara gemetar

__ADS_1


__ADS_2