Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 42


__ADS_3

Disisi lain, 


Begitu mendengar kabar berita mengenai kecelakaan Karin hingga membutuhkan perawatan intensif membuat Seno langsung menancapkan gas kembali menuju kota tempat asal laki-laki itu. 


Fikiran-nya tiba-tiba kalut, tanpa fikir panjang ia langsung berbalik arah dan memijak gas. Jalan yang lowong memudahkan pria itu untuk menyalip kesana kemari.


Jalan yang harusnya menempuh selama dua jam hanya sampai terpotong hingga satu jam saja. Karena saking kencangnya mobil yang ia bawa.


Sesaat sampai dirumah sakit yang dituju Seno langsung menapaki kaki memasuki loby utama. Semua fikiran-nya hanya tertuju pada satu perempuan saja. Karin.


Tanpa harus bertanya lebih lanjut, John yang sudah berada ditempat akibat perintah dari Seno langsung menunjukkan ruangan Karin berada.


“bagaimana keadaan Karin?” tanya Seno saat berada didalam lift seraya memberikan berbagai macam barang-nya termasuk ponsel


“nyonya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada yang serius, hanya sedikit luka dipergelangan tangan. Tapi nyonya meminta untuk tempat rehat di rumah sakit” jawab John


Oh iya, for your information. Mengapa Seno bisa mengetahui Karin yang kecelakaan? Jadi semenjak mereka berdua dinyatakan  bercerai, Seno selalu memperkejakan orang untuk mem-buntuti perempuan itu saat berada diluar rumah.


Alasan-nya klise, laki-laki itu tidak ingin ibu kandung dari anaknya terjadi sesuatu hal yang tidak baik. Alasan!


Begitu sampai dikelas VIP, Seno segera masuk tanpa mengetuk. Tentu saja ia sudah mendapat informasi bahwa Karin sempat ribut dengan Alex dan berakhir seperti ini.


Karin menoleh dengan wajah sembab-nya. Perempuan itu tersenyum sendu. Orang yang diharap kedatangan-nya, tidak datang sampai saat ini juga.


“Seno? Untuk apa kamu datang?"


“apakah tidak boleh seorang mantan suami menjenguk mantan istrinya yang sedang sakit” ujar Seno, “kemana sih suaminya?”


“Alex, Sen. Alex” Karin mulai terisak, “dia selingkuh dengan sekretarisnya sendiri” pekiknya

__ADS_1


Sebenarnya sudah hampir satu bulan perempuan itu mempertanyakan sikap Alex yang berubah. Bahkan laki-laki itu tidak segan untuk membentak Karin. Padahal dulu Alex selalu memperlakukan dia layaknya ratu. Tapi apa....


Maka dari itu, untuk menghalau kecurigaan-nya. Karin terus mengikuti kepergian Alex. Beberapa kali Karin mendapati Alex pergi kerumah sekretaris nya, Fanya. Tapi perempuan itu berfikir positif, mungkin saja Alex sedang ada urusan kerja dengan Fanya.


Tapi apa! Tadi malam ia mendapati Alex yang sedang berciuman mesra dengan Fanya seraya mencium perut Fanya dengan mesra.


Bantal-bantal yang tak bersalah menjadi pelampiasan amukan Karin. Seno menahan rontaan Karin dengan memeluknya, “iya-iya saya tahu, tapi jangan seperti ini. Kasihan tubuhmu”


“tapi…. Dia lebih memilih selingkuhan itu daripada aku. Bahkan ja**** itu sudah hamil anak Alex. Jahat…. Mereka jahattt, aku salah apa sama Alex” ucapnya dipelukan Seno, “aku sudah memberikan laki-laki itu segala-nya. Bahkan aku rela membantunya disaat-saat terpuruk, tapi apa yang aku dapat?!”


“yang sabar Rin, relakan laki-laki bajing** itu dan kembalilah dengan saya” ucap Seno tanpa fikir panjang


“aku benci selingkuh dan perselingkuhan Sen! Kau tahu sendiri kan” Karin terdiam lalu menatap lekat-lekat Seno, “aku merasakan sendiri betapa sakitnya diselingkuhi oleh orang terkasih, jadi aku tidak ingin menjadi duri dalam pernikahanmu. Aku tidak ingin menyakiti perempuan lain apalagi perempuan sepolos Sania”


"oh iya, apakah Sania tahu kamu kesini?"


“Tuan tadi nyonya Sania mengirim pesan dan menelpon berulang kali, tapi karena tuan memerintah jangan ada yang mengganggu tuan saat berada didalam. Dengan sangat terpaksa saya membuka ponsel tuan dan membalas pesan pada nyonya” cicit John


Seno merampas ponsel miliknya dan membuka ruang chat dengan Sania. Terlihat pesan terakhir yang dikirim John hanya bercentang biru tanpa balasan.


Laki-laki itu menggeram. Bagaimana dirinya bisa lupa dengan rancangan yang sudah ia susun sedemikian rupa hanya karena Karin dan melupakan Sania dan Sean. Bahkan saat ini, laki-laki sudah tidak tahu akan menampakkan wajah seperti apa dihadapan Sania.


Cuplikan singkat mereka saat diair terjun kembali terulang. Kini, Seno menatap nyalang John. Pukulan tak dapat di-elakan, rahang tegas John menjadi bahan sasaran amukan laki-laki itu. Setelah puas, ia berlari kembali memasuki mobil untuk kembali.


Ia harap, semuanya masih sama. Entah itu Sania ataupun perlakuan-nya nanti.


Berkali-kali Seno diklakson oleh kendaraan yang hampir terkena mobilnya. Sembari menyetir ia membuka ponsel dan baru sadar bahwa Sania sudah menelpon-nya hingga ratusan kali dan mengirim pesan sampai puluhan kali. Diantara beberapa pesan, terdapat vn suara. Tanpa babibu, Seno langsung menekan-nya


Mas, aku senang sekali. Terima kasih banyak mas!...

__ADS_1


Gazebo-nya sangat indah, aku tidak tahu kamu mengeluarkan uang seberapa banyak hanya untuk menghias semua ini. Aku berterima kasih lagi sama kamu mas.


Mas, kamu dimana? Sean terus menangis. Kamu tahu sendiri kan Sean paling susah berhenti nangis jika sudah rindu sama kamu


Mas sudah satu jam lebih dong dari perjanjian yang kamu buat. Aku mulai gak tahan sama dingin-nya. Sean sampai ketiduran akibat kecapaian menangis…


Mas disini semakin gelap, semua lilin sudah pada mati hanya tersisa lampion yang menyala.


Mas?


Ini semua rencana kamu kan?


*Mas makanan yang disediakan sudah dingin, aku makan tidak apa-apa kan?


Mas makanan-nya enak, Sania suka!


Mas senoooooo*


Mas dingin?, (terdengar suara rintihan Sania disertai gumaman seperti orang kedinginan), mas anginnya sangat kencang mala mini


Mas banyak suara hewan, aku takut. Tapi tenang saja ko Sean tetap tenang dlaam pelukanku, anakmu juga gak merasakan kedinginan. Tapi aku yang merasa kedinginan.


Tidak hanya dingin, kini aku takut dengan kegelapan yang ada. Mas kamu dimana? Sudah cukup bermain-mainnya.


Mas aku mendapat pesan sepertinya dari sekretaris kamu. Kalau memang jadinya seperti ini, lebih baik kamu kamu tidak mengucapkan kata-kata cinta yang buat aku semakin berharap. Memang benar, mau bagaimanapun mba Karin tetap yang akan menjadi pemenang-nya. Kamu jahat mas! Selamat kali ini kamu berhasil menyentuh titik kesedihanku. Luka yang kamu torehkan sangat dalam, mas! Selamat.


Tanpa terasa air mata laki-laki itu sudah menetes. Laki-laki itu paham, sangat paham atas kesalahan-nya. Kali ini ia tidak akan mengelak. Bahkan ia akan terus menylahi dirinya jika sampai terjadi sesuatu pada Sania dan Sean.


Ditambahnya kecepatan pada mobil, tunggu aku Sania…..

__ADS_1


__ADS_2