
Seno mempersilahkan masuk saat suara ketukan pintu terdengar. Seorang pria berumur 32 tahun langsung duduk dihadapan kursi kebesaran setelah dipersilahkan.
"ada perlu apa tuan Seno memanggil saya?" tanya John yang sedikit kesal lantaran harus menyingkirkan tugasnya begitu saja
Seno meletakkan kedua lengan diatas meja, dengan jemari kukunya disatukan. "kamu pernah merasakan cinta gak?"
Dahi John berkerut heran, tak ayal merutuki pria dihadapannya. Dikira penting, ternyata hanya perkara cinta saja.
"pernah tuan" jawab Jonh sejujurnya
"bagaimana kronologi-nya, ceritakan dong" tanya Seno penuh ingin tahu
John hanya tercengang. Dia tidak habis fikir dengan pemikiran Seno. Kronologi? Bahasanya kurang tepat jika dikaitkan dengan cinta. Memangnya ia buronan!
Tapi bisa apa, John hanya menampilkan senyum pasrahnya.
"cepat!"
"kisah cinta saya tidak dapat dikatakan sukses" jawab John
Laki-laki yang biasanya terlihat gagah dimanapun, kini tampak lesu dan lunglai dihadapan Seno. Wibawa seorang sekretaris profesional yang selalu dipikulnya hilang begitu saja meninggalkan wajah frustasi yang telah dideritanya selama bertahun-tahun.
"ceritakan dong saya ingin dengar. Bisa untuk referensi nih" paksa Seno seraya menekuk lengannya seakan menunggu potongan kalimat terucap oleh John
"kisha cinta saya tidak bisa jadi referensi untuk kisah cinta tuan. Kan tadi saya sudah bilang, kisah cinta saya tuh sad ending bukan Happy ending!"
"kamu berani bentak saya?"
Spontan John menggeleng. "bukan seperti itu tuan... Maksud saya, saya tidak mau kisah cinta tuan akan berakhir sama seperti saya jika tuan mendengar cerita yang gak bermutu ini" balas John
"benar juga kamu" Seno menyetujui ucapan John,"tapi gak papa deh, ceritain garis besarnya aja" ujar Seno tiba-tiba. Sepertinya laki-laki itu sedikit penasaran dengan kisah cinta sekretaris yang telah mengabdinya hampir tujuh tahun belakangan
John menarik nafas dalam-dalam, "dulu saya memiliki seorang kekasih dan sudah berhubungan hampir sepuluh tahun lebih. Hubungan kami juga sudah sangat disetujui sama kedua orang tua kami. Bahkan kami sudah membicarakan sebuah pernikahan yang megah, walaupun memang masih hanya sekedar omongan saja. Tapi semua itu kandas begitu saja, saat kekasih saya hampir tidak ada kabar hampir dua bulan. Dan saya juga tidak berusaha mencarinya karena tugas yang menumpuk juga --
__ADS_1
"kamu sindir saya? Bilang tugas menumpuk pas didepan saya!" tuduh Seno
"tidak tuan! Saya hanya membicarakan fakta saja" Seno mendengus lalu lengannya mengisyaratkan untuk lanjut, "ya saya juga tidak berusaha mencari. Hingga saya mendengar kabar jika perempuan itu sudah menikah dengan pria yang memiliki banyak cabang rumah makan"
Seno menutup mulutnya dengan dramatis. Ia tidak menyangka kisah cinta John bisa sangat menyakitkan itu.
"jadi bisa bayangkan kan tuan, bagaimana perasaan saya" lebay John diangguki oleh Seno, "sakit tuan, sakit"
"duh... Kasihan sekali kamu, terus gimana kabar perempuan itu saat ini? Eh, berarti kalian belum ada bicara kata putus dong"
"kurang tahu, yang saya tahu kita tidak ada bicara kata putus lagi dan saya juga tidak mau mencoba menghubungi nya kembali"
"baguslah, jangan kamu hancuri rumah tangga orang lain. Walaupun kekasih kamu yang berbuat tidak baik jika kamu menghakimi suaminya saat ini"
John mengangguk lalu menyilangkan tangannya, "gak berminat juga"
Kini mereka berdua terdiam dan berlarut dengan fikiran-nya masing-masing. John yang kembali meratapi masa lalunya, dan Seno yang sedang mencari cara untuk dapat maaf dari Sania.
Minta pendapat tentang Cinta kepada asisten-nya tidak membuat fikiran laki-laki itu terbuka. Yang ada hanya semakin buntu.
"kamu tidak berniat untuk mencari pendamping hidup?"
"sudah, dan sampai saat ini belum ada yang mencantol dihati saya" balas John, "Lagi pula hati saya masih tertuju sama masa lalu. Jadi, gak baik jika saya mencari yang baru tapi hati saya masih tertuju sama yang lama. Bukankah itu sama saja berbuat tidak adil pada perempuan baru itu"
Seno tertegun. Tidak berniat menyindir tapi Seno merasa laki-laki dihadapannya seperti menyindir dirinya. Ia tidak bisa marah, karena perkataan John memang sebenar itu.
"jadi maksud kamu sikap saya selama ini salah pada Sania karena masih memikirkan masa lalu?"
John berdeham. Suaranya serasa tercekat, seakan ia baru sadar mulutnya sudah bicara yang tidak-tidak dihadapan Seno.
"bukan seperti itu maksud saya, tuan" cicitnya
"tidak apa-apa, ceritakan saja. Anggap saya ini sebagai teman kamu"
__ADS_1
Mana bisa!
John kembali melirik dan mendapati anggukan dari Seno, "ya menurut tuan bagaimana? Bukankah perbuatan tuan tempo hari sangat menyakiti nona Sania. Tuan lebih memilih mendatangi nyonya Karin yang jelas-jelas jaraknya lebih jauh daripada tuan mendatangi Sania"
"Siapa yang tidak sakit hati jika begitu? Walaupun saya laki-laki, saya bisa merasakan betapa sakit hatinya jika mendapati suami lebih memilih mantan istri ketimbang dirinya" lanjut John, "jangan seperti itu ya tuan. Hati perempuan itu sangat lembut. Jadi, jangan disakiti oleh keegoisan tuan"
Seno terdiam. Kejujuran John ternyata benar-benar membuatnya seperti merasa tersudutkan. Ia seperti tersadar kan dengan tindakan salahnya tempo lalu.
"kamu benar" Seno menatap tejas John, "jadi menurut kamu bagaimana cara agar mendapat permaafan dari Sania?"
...~§~...
"mas sudah pulang?" retoris Sania lalu menyalimi Seno diikuti dengan Sean
Sudah rutinitas setiap jam empat sore, Sania dan Sean akan menunggu dihalaman depan untuk menunggu kedatangan Seno.
Ini bukan perintah! Ini hanya inisiatif Sania saja. Menyambut Seno sepulang kerja menjadi hal yang sangat disukai oleh perempuan itu.
"iya sudah, gimana kabar kamu? Dirumah baik-baik aja kan?"
"baik ko" balas Sania, "mas, kenapa ya akhir-akhir ini aku kepikiran terus sama mba Karin? Kamu ada kontakan gak sama mba Karin"
Seno menggeleng tegas. Menurut Seno, pertanyaan Sania termasuk pertanyaan terjerumus. Jika ia jawab ia, pasti perempuan itu berfikiran tidak-tidak dan beranggapan bahwa Seno masih berhubungan dengan Karin.
Selain itu juga, setelah kejadian yang membuat Sania sedikit tertutup pada Seno. Seno sudah meminta para anak buah-nya untuk tidak kembali mengikuti Karin.
Jadi, Seno sama sekali tidak tahu kabar perempuan yang sempat berada direlung hatinya yang kini sudah mulai terganti kan dengan nama seorang 'Sania'.
"gak tahu dan gak mau tahu" tegas Seno
"yah... Ya udah deh, padahal Sania penasaran banget sama keadaan mba Karin" ujar Sania dengan senyuman kecil
"mas bersih-bersih dulu ya" spontan Sania mengangguk dan mengambil barang-barang kecil yang dibawa Seno
__ADS_1
Dibalik senyuman Seno, laki-laki itu masih memikirkan bagaimana cara melaksanakan hal yang disebut John jika Sania masih saja dirumah.
Aha!