
Ceklek....
Rumah kecil yang menjadi saksi Sania dalam menghidupi anak-anak, sudah terkunci dari luar. Papan 'disewakan' sudah terpasang dirumah itu.
Sania tersenyum lalu menyela debu dilengan nya. Sania yang mengusulkan pada Seno untuk menyewakan tempat ini agar tempat bersejarah-nya tidak terbengkalai begitu saja.
Sania juga sudah berpamitan dengan tetangga-tetangganya tentu saja dengan mengajak keluarga-nya. Sudah Sania duga semua tetangga-nya akan sangat welcome berbeda dengan kedatangan- nya waktu itu.
Lebih tepatnya mereka sangat welcome karena adanya Seno. Semua tampak menggoda Seno tanpa memperdulikan ada Sania di-sisinya.
"papih, ayu buruan pulang. Aku gak mau ketemu ibu-ibu yang udah bikin mamih nangis," seru Reyka
Kerumunan ibu-ibu berdecak dan menatap nyalang Reyka yang sudah mengumpet dibalik Seno.
"ah kamu bisa saja bercanda-nya"
"namanya juga anak kecil, suka bohong" timbrung ibu lainnya
Seno terkekeh lalu mengeluarkan undangan acara yang akan ia buat, merayakan kembalinya Sania. Lalu diberikan - nya pada ibu-ibu itu.
"Saya harap kalian datang ya. Tenang saja banyak hadiah yang tentu saja tidak akan membuat ibu-ibu rugi" seru Seno setelah Sania menggiring anak-anaknya kedalam mobil, menghalau perkataan buruk yang akan keluar dari mulut anaknya
"ah saya sih pasti datang mas. Benar kan bu?" dan disetujui oleh para ibu-ibu yang lainnya
"iya pasti acara mas ganteng ini, siapa sih yang akan menolak"
Seno tertawa canggung. "ya sudah terima kasih banyak. Saya permisi terlebih dahulu"
"jangan sungkan untuk datang kesini lagi ya mas" Ucap salah satu perempuan dengan make up-nya yang tebal
Seno tersenyum lalu berbalik setelah ada jarak diantara mereka, "oh iya bu, sepertinya anak kecil tidak akan pernah berbohong" ucapnya dengan senyum simpul lalu tiba-tiba berubah datar, "saya tahu kalian orang yang sudah membicarakan istri dan anak saya diam-diam. Kali ini saya akan tolerin. Kalau kalian kedapatan bicara atau berkata buruk tentang kami lagi saya tidak akan segan-segan menghancurkan usaha suami kalian"
Ibu-ibu itu terpaku mendengar suara dingin Seno dan kepergian laki-laki yang baru saja mengancam mereka. Mereka semua bergidik ngeri dan langsung ngacir kerumah masing-masing.
"kamu Apakan mereka mas?" tanya Sania begitu Seno duduk dikursi kemudi
"rahasia, yang penting mereka gak akan berani lagi mengusik kamu dan keluarga kecil kita"
"makasih banyak ya mas" Sania tersenyum merasa ia sudah memiliki penguat untuk melindungi anak-anaknya
"iya sama-sama. Sudah tugas mas untuk selalu menjaga keluarga kita" Seno mengenggam lengan Sania dengan netra yang masih tertuju pada jalan raya
...~§~...
"widih lumah pa.. papih bagus bangettt. Kayak istana plinces yang Sena suka baca" semangat Sena setelah membiasakan diri dengan kata 'papih' walaupun masih kagok dibuatnya
__ADS_1
"ih Sean kangen rumah ini deh" seru Sean lalu berlarian masuk menuju ruangan yang sangat ia rindukan
"hati-hati nak" teriak Sania
Seorang para pelayan berlari keluar setelah mendengar teriakan Sania. Merasa takut jika dirumah tuan-nya yang terkenal akan amarahnya sedang terjadi sesuatu hal yang tidak baik.
"ada apa?" tanya Seno merasa heran melihat kedatangan segerombol perempuan berseragam keruang tamu rumahnya
"maaf tuan, kami kira ada hal buruk terjadi" Ucap salah satu pelayan senior
Daffa menggeleng lalu merangkul Sania, "perkenalkan ini istri saya. Kalian masih ingat kan?"
Sebagian dari mereka mengangguk. Sementara pelayan baru yang mendambakan Seno harus menelan pahit-pahit keinginan-nya karena merasa minder jika harus bersaing dengan wanita secantik Sania.
"iya salam kenal semuanya, saya Sania istri mas Seno. Semoga kalian betah kerja disini, jangan sungkan-sungkan dengan saya" peringat-nya
Para pelayan tersenyum bahagia. Mereka saling menunduk sopan berulang kali dan mengucapkan terima kasih.
Setelah kepergian para pelayan, Seno mengajak Reyka dan Sena ke beberapa ruangan disamping kamar Sean. Kamar yang sudah dibuat khusus untuk anak-anaknya.
"waw... Reyka suka banget. Makasih papih!" seru Reyka saat memasuki kamar dengan kombinasi warna abu-abu dan putih serta didesain minimalis agar Reyka betah didalam dengan perpustakaan mini yang sengaja Seno berikan
"makasih banyak papih, Reyka suka banget. Banyak buku, banyak alat tulis" Reyka memeluk erat Seno dan dibalas oleh laki-laki itu
"Sama-sama sayang, ayah sengaja buat kamar sesuai keinginan kamu" sahut Seno, "sekarang kita kekamar Sena"
Seno dan Sania sama-sama mengangguk.
Memasuki kamar dengan nuansa pink dengan mainan 'kuda poni' yang bersarang disetiap penjuru ruangan, menambah kesan --girly yang berlebihan membuat Sena memekik senang.
"kuda poni, Sena suka.... Ko papih tau boneka yang Sena suka?" tanya Sena heran, pasalnya baru-baru ini anak itu menyukai kuda poni setelah menonton sebuah film bersama Danty. Sena juga belum memberi tahu siapapun tentang kesukaan-nya itu
"apa sih yang papih gak tau tentang kamu" Seno mengacak-acak rambut anaknya
Sena memekik riang, "makasih papih" pekiknya lalu menghampiri jejeran kuda poni dan duduk disamping rak mainan-nya
"mamih sama papih keatas dulu ya nak. Kalau ada apa-apa tinggal ke kamar ka Reyka aja. Masih inget kan?" tanya Seno
"masih pih!" Sena memutar mata, jengah
Sania dan Seno keluar kamar dengan bergandengan tangan. Lalu memasuki kamar Sean yang sudah asyik bergelung dalam selimut.
"kangen banget pasti dia sama kasur-nya. Sampai langsung tidur gitu"
Sania terkikik. Lalu berbalik menghadap Seno, "mas makasih banyak ya. Makasih udah turutin semua kemauan anak-anak. Makasih masih nunggu Sania. Padahal dua tahun bukan waktu yang bentar loh"
__ADS_1
"ssstt... Kehilangan kamu adalah hal terberat yang pernah mas rasakan. Setidaknya dengan kejadian waktu itu, kita bisa introspeksi diri masing-masing. Mas gak mau mengulangi hal bodoh itu lagi"
Sania tersenyum lalu berjinjit, "makasih banyak mas. Sania bahagia banget" ucapnya lalu mengecup singkat pipi Seno hingga laki-laki itu tertegun
...~§~...
Seno melenguh kesal. Waktunya untuk bermanja-manja harus hangus begitu John mengirimkan file bahan untuk rapat yang harus ia datangi besok pagi.
Bak anak kecil seno telungkup dibalik selimut dan kepala yang ditompa paha Sania dengan mata terus tertuju pada tablet-nya.
"ck ah, pengen undurin tapi gak bisa. Bahaya main-main sama perusahaan orang penting" dengus Seno kesekian kalinya
"kamu gak bersyukur banget deh. Sudah untung Allah masih menitipkan rezeki untuk kelangsungan hidup anak-anak. Masih aja ngeluh" sahut Sania lalu mengusap penuh sayang rambut Seno
"tapi kan mas masih mau menghabiskan waktu sama kamu dan juga anak-anak" serunya tidak terima lalu merubah posisi jadi duduk
"sehari ini doang mas. Lusa kan kita udah janji mau liburan bareng" tambah Sania
"bener juga. Maaf ya hari ini mas belum bisa kelonin kamu. Pasti kamu kecewa banget" ujar Seno seakan-akan Sania yang sedih karena laki-laki itu lebih memilih sibuk kerja
Sania mendelik, "terserah kamu mas!"
Seno tertawa lalu tersenyum bahagia. Bahagia melihat sumber kebahagiaan - nya sudah kembali bersama dirinya.
Seno yakin, hidup kedepannya akan dipenuhi kebahagiaan-kebahagiaan akibat kembalinya Sania maupun ketiga anaknya.
"hari ini Reyka nginep disini kan?" tanya Sania lalu bangkit dari tempat tidur
"kayaknya sih gitu" jawab Seno sekena-nya, "minggu ini kan giliran Reyka tinggal disini"
Alex memang orang yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Reyka. Tetapi ia tidak ingin membebani Reyka untuk terus bersama-nya. Ia masih ingat pertolongan Sania yang membuat Reyka sangat sayang pada Sania. Ia tidak memiliki hak itu.
Awalnya memang sudah Ketar-ketir, takut Reyka sama sekali tidak mau memilih tinggal bersama-nya. Tapi Reyka mengusulkan untuk seminggu tinggal dengan Alex, seminggu lagi tinggal bersama Sania.
Keputusan itu membuat Alex senang bukan main.
"yang" panggil Seno lantaran Sania yang tidak menyahutinya
"hmmm?" Sania berbalik
"mas bahagia banget" ucapnya dengan nada lirih kemudian memeluk perempuan itu dari belakang
"sama mas, aku juga bahagia bangettt"
"makasih San. Makasih udah mau menunggu sampai mas menjemput kamu kembali"
__ADS_1
Kemudian kedua orang tua itu saling memeluk. Melepas rindu setelah selama ini disibukkan karena mengurus satu dan lain hal.