Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 98


__ADS_3

Sudah lima jam berlalu, tapi Sania tak kunjung bangun juga. Untung saja anak-anak masih terlelap tidur. Setidaknya tidak menambah pusing laki-laki itu. Bukannya tidak mau, hanya saja Seno sudah dibuat khawatir hanya karena Sania seorang.


Masalahnya, khawatir laki-laki itu menimbulkan masalah lain. Sudah tiga dokter dan lima suster yang menjadi bahan amukan Seno hanya karena Sania yang tidak kunjung bangun.


Padahal kapan Sania bangun juga bukan kehendak dokter sama sekali. Intinya Sania tidak apa-apa, dan hanya perlu istirahat untuk memulihkan keadaan.


"udahlah tinggal tunggu aja. Gak usah ngerepotin bisa kan!" bentak Alex begitu Seno masuk kedalam ruangan setelah memarahi suster


Seno mendengus. Merapihkan kerah jas menahan amarah, "lu gak akan tahu gimana perasaan gue saat ngelihat istri pingsan dan gak bangun-bangun hampir lima jam"


Alex tertawa hambar. Seno menyindir hal yang paling tidak ia sukai. "gue memang gak punya istri ataupun orang yang gue cintai saat ini, kecuali Reyka. Tapi yang gue tahu, gak baik menyalahkan orang lain disaat dokter-pun tidak memiliki kehendak atas sadarnya Sania" jelas Alex


"sorry" perdana Seno meminta maaf pada Alex. Bukan karena laki-laki itu membenci mengucapkan kata 'maaf' hanya saja, ini juga perdana Alex marah pada Seno.


Seno memang kerap kali bertingkah. Hanya saja, kalimat fatal ini baru pertama kali terucap dari bibir Seno.


Alex memang sangat membenci orang yang menyenggol masa lalu atau masalah percintaan-nya. Katakan dia berlebihan, tetapi memang kenyataan luka yang ditorehkan Karin sangat membekas dihatinya.


"lu marah sama gue?" seru Seno


Alex menggeleng sembari terus mengusap surai Reyka yang tertidur di pangkuan-nya, "gak ada untungnya gue marah sama lu"


Srek... Seno sigap menoleh lalu memegang kedua lengan Sania saat dirasa perempuan itu memulai mengerjap.


"haus" Ucap perempuan itu terbata-bata


Seno menyandarkan tubuh Sania lalu memberinya minum. Sania meminumnya perlahan.


Berkali-kali Seno mengucap syukur karena akhirnya Sania sadar juga.


"mas, acaranya gimana?" tanya Sania begitu sadar ia sedang berada dirumah sakit lengkap dengan pakaian rumah sakit, entah siapa yang mengganti-nya


Seno tertawa. Sempat-sempatnya Sania masih menanyakan acara ditengah wajahnya yang sangat memucat, "tidak usah difikirkan. Lebih baik kamu urusi kesehatanmu dulu saja"


"tapi-- oh iya dimana Santy!" seru Sania tiba-tiba. Fikiran-nya tertuju pada Santy yang menolongnya. Sania takut adiknya terkena imbas amukan Cheris juga.


"Santy?" kerutan dikening Seno menandakan laki-laki itu sedang bingung, "bener dong, berarti Santy pelaku dibalik penyerangan kamu"


"penyerangan? Terlalu berlebihan" Alex menjawab ketus, sedangkan netranya masih tertuju pada ponsel

__ADS_1


Seno mendelik tajam. Ternyata Alex masih mengibarkan bendera peperangan padanya. Okey, kalau begitu Seno siap meladeni-nya.


"seperti ada yang bicara, tapi gak ada wujudnya"


Giliran Alex yang melirik kesal, "daripada ribut, lebih bagus lu tanya istri lu tercinta siapa yang ngebuat dia sampai terluka gitu"


"Cheris" jawab Sania, tanpa Seno perlu bertanya dulu


Sania meringis kemudian memegang perutnya, "karyawan mas benar-benar brutal. Aku hampir mati kalau Santy gak datang. Oh iya, kenapa perut Sania perih banget" tanya Sania ditengah kesakitan-nya


"ada yang sakit?" tanya Seno panik kemudian segera memencet tombol agar dokter cepat datang


Tidak lama dokter datang dan langsung memeriksa Sania. Dokter muda itu tersenyum, "nona baik-baik saja. Sedikit kram tidak membuat janin terancam bahaya. Hanya istirahat yang dibutuhkan nona saat ini"


Sania dan Seno mengangguk mengerti. Berterima kasih pada dokter dan dua suster yang setia menemani dokter sebelum mereka meninggalkan ruangan.


"ternyata janin aku baik-baik aja" Ucap Sania tanpa sadar seraya mengelus perutnya, "ja--- janin!" Sania menutup mulutnya, benar-benar terkejut dengan berita bahagia ini


"iya janin sayang, kamu hamil baru beberapa minggu. Terima kasih banyak sayang, ini kado pernikahan yang sangat berharga bagi mas" Seno memeluk Sania erat


Sania balik memeluk Seno. Rasa bahagia sekaligus terharu terasa campur aduk. Di moment penting ini, Sania mendengar kabar yang sangat membahagiakan. Hamil? Hal yang tidak pernah Sania fikiran selama ini.


Iri? Tentu saja dia iri. Melihat orang yang ia kenal memiliki dambaan hati sendiri. Sementara dirinya masih nyaman dengan trauma-nya.


"geli" ucapan Alex mendapat delikan dari dua orang yang baru saja selesai berpelukan, "mak-- sud gue, tingkah Cheris benar-benar menggelikan" elaknya daripada terkena amukan Seno


"nah! Cheris. Sekarang juga gue minta lu cari perempuan itu. Cari sampai ketemu, gue gak mau mendapat kabar sia-sia. Apalagi kalau sampai ada kabar perempuan itu keburu kabur dan kalian sulit mencari"


Alex yang paham maksud Seno langsung berdiri. Ia menyempatkan diri untuk menyampirkan jas abu-abu pada tubuh Reyka yang masih terlelap, "gue pergi sekarang! Semoga perempuan itu masih ada disekitar sini"


...~§~...


"mas..." panggil Sania, perempuan itu mengusap perutnya yang masih rata, "aku beneran hamil?" Sania masih tidak percaya dengan apa yang terjadi


"kamu gak percaya? Perlu mas panggil dokter kandungan paling ahli dirumah sakit ini" sahut Seno


"Bukannya gitu... Hanya saja, Sania sama sekali gak ngerasa seperti orang hamil. Sania gak pernah mual. Apalagi mendapat tanda-tanda kalau Sania hamil" heran Sania


Melihat pengalaman pertama saat hamil Sena, Sania jadi mengetahui beberapa hal yang dirasa ibu hamil. Memang benar, hamil Sena tidak terlalu merepotkan Sania. Tetapi tetap saja, ada kekhawatiran pada diri sania. Entah itu apa.

__ADS_1


"mas, apa kita bisa jadi orang tua yang baik?" Sania masih saja terus mengelus perutnya


Ada makhluk mungil didalam perutnya, saat ini. Memang benar Sania sangat khawatir, tetapi disisi lain Sania sangat bersyukur karena Allah masih menitipkan seorang anak pada keluarganya.


Insya allah, ia akan menjaga nya dengan sepenuh hati.


"maksud kamu?" Seno berbalik nanya, setelah jeda sekian lama


"aku rasa kelahiran Sena sendiri sudah membuat Sean dan Reyka sedikit cemburu. Aku gak tahu gimana reaksi mereka jika tahu mereka akan memiliki adik untuk yang kedua kalinya" curhat Sania mengeluarkan kekhawatiran nya sejak tadi


"kenapa harus bingung? Kita kan bisa bicarakan pelan-pelan sama anak-anak. Sepertinya sembilan bulan waktu yang cukup untuk membicarakan ini sama mereka" Seno menunjuk anak-anak yang masih tertidur, sangat pulas padahal mereka tidur disofa


"pokoknya kamu yang ngomong. Aku angkat tangan deh, Reyka sama Sean benar-benar susah kalau urusan cemburu. Persis kayak kamu"


Seno tertawa, membenarkan ucapan Sania. Ia kembali mengecup perut Sania, "mas gak pernah berfikir kamu hamil. Ternyata aku tokcer juga ya" seno memuji dirinya sendiri


Sania memutar mata, kesal.


"oh iya, kamu gak pengen makan apa gitu?" tanya Seno, terlalu sigap sebenarnya. Tetapi yang Seno paham, wanita hamil akan memiliki banyak permintaan tidak masuk akal.


Seno tidak ambil pusing, baginya memenuhi keinginan bumil tidak sesulit orang kira.


Dia belum tahu saja.


Sania menggeleng, "pengen pulang" bujuk Sania


"bukan itu yang mas maksud. Lagi pula mas gak bakal Izinin kamu pulang, kamu masih harus istirahat total"


"tapi kan mas nanya kepengenan Sania apa! Ya Sania pengen pulang" Sania bersungut kesal


"pengen yang lain" Seno menggaruk tengkuknya. Jadi bingung mengucapkan-nya bagaimana, "maksudnya ngidam gitu loh"


Sania menepuk Seno pelan, "aku baru hamil beberapa minggu loh" peringat-nya


Seno mengangguk mengerti. Kini lengan laki-laki itu mulai membelai perut datar Sania, "dia kenapa gak nendang sih. Setahu mas, bayi akan merespon orang tuanya dengan menendang pelan perut ibunya"


Sania menggeram kesal. Ia saja belum tahu berapa lama anaknya sudah bersemayam diperutnya dan itupun belum ada satu bulan. Mengapa Seno malah menanyakan ini itu.


"mas!"

__ADS_1


__ADS_2