Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 24


__ADS_3

Happy Reading ^~^


"mas?"


"hmm?" hanya dehaman yang terdengar dari mulut Seno


Seno tampak meringkuk dibalik selimut tebal nya. Tubuhnya menggigil seraya berulang kali mengatakan 'perempuan jahat'.


Sampai segitunya kah mas, hanya karena mendengar kebenaran ini? Sania tersenyum miris dan mendengus begitu saja.


Satu kata yang Sania dapatkan setelah perempuan itu memegang kening Seno 'panas'. Benar-benar panas.


"mas, ganti baju dulu yu. Tubuh mas penuh sama keringat, nanti malam masuk angin kalau gak diganti" titah Sania sedikit panik


Seno tidak menjawab, laki-laki itu terus pulas tertidur sembari mengucapkan kata serampah kasar.


Dengan sangat terpaksa, Sania mulai membuka satu demi satu kancing kemeja putih yang dikenakannya. Sebelah matanya tertutup, ia membuka secara perlahan agar tidak membangunkan laki-laki itu.


Ini kedua kalinya ia melihat tubuh polos Seno. Jantung nya berdebar kencang, bukan karena cinta tapi karena malu. Siapa sih yang tidak malu melihat perut kotak-kotak laki-laki yang sudah menodai dirinya.


Setelah selesai membuka baju Seno, perempuan itu langsung menyeka keringat tersebut dan kembali mengenakan piama tidur berwarna gelap pada Seno.


"Karin" desah Seno tiba-tiba


Wajah perempuan itu tampak pias. Senyum lembut yang sejak tadi merekah, tiba-tiba luntur begitu saja.


"mas? Bangun dulu yu, minum obat" panggil Sania dengan nada sangat datar


Seno sedikit melirik lalu mengubah posisi dan kini tidur terlentang dengan tumpuan paha Sania. Sania merasakan panas yang sangat terasa, dengan inisiatif perempuan itu mulai memijit-mijit pelan kepala Seno.

__ADS_1


"mas, makan dulu yu" ajak Sania dengan menepuk pelan pipi laki-laki itu. Kemudian Sania berdiri setelah membantu Seno menyenderkan tubuhnya


...~§~...


Sania menunggu dengan sabar, karena kunyahan laki-laki itu tak kunjung selesai juga. Seno tampak seperti mayat, alias seperti diambang kehidupan.


Lihat saja dirinya yang terus menatap satu arah tanpa berkedip sekalipun. Tubuh pucat nya semakin meyakinkan Sania bahwa orang dihadapan-nya adalah mayat hidup.


"mas! Segitu sedihnya kah kamu mendengar kenyataan ini?" Ucap Sania akhirnya seraya menyeka mulut Seno dengan tisu


Seno menghela nafas dalam, "sedih? Sudah pasti. Bayangkan saja selama empat tahun pernikahan kami, sejak awal mereka sudah membohongi mas. Mas lebih baik mundur kala itu, jika memang Karin benar-benar terpaksa menerima mas"


"tapi mas sendiri yang memaksa mba Karin untuk menerima pinangan mas"


Seno menenggelamkan wajah pada bantal, "ya semua ini salah mas. Tapi kenapa ini sangat sakit? Diawal pernikahan ternyata dia sudah hamil dengan laki-laki lain"


Sania meletakkan nampan yang sudah tergerus habis oleh Seno termasuk obatnya juga, "Sania masih bingung deh? Kenapa mas sampai tidak tahu mba Karin hamil? Mau bagaimanapun ibu hamil pasti bisa langsung didapati kan karena perutnya yang membesar"


"yang sabar ya mas" sahut Sania, tidak tahu ingin berbicara apa lagi


Perempuan itu mengumpeti sisi sakit hatinya, demi kebahagiaan Seno saat ini. Lagi pula, Sania paham ko rasa sakit yang dirasakan Seno. Hanya saja menurut Sania, laki-laki itu terlalu lebay dalam menyikapi masalahnya saat ini.


"hmm, San malam ini kamu cantik deh. Peluk dong" rajuk Seno lalu merentangkan kedua tangannya


"apaan sih mas" sahut Sania malu-malu, dengan lengan menahan rentangan tangan Seno


"ish kamu mah! Ih iya kamu pulang dengan siapa? Maaf ya pikiran mas sempat kalut, sampai tidak mengingat kamu dan Sean deang bersama dengan mas"


"sudah tidak apa-apa, sudah terjadi ini"

__ADS_1


"ya udah pelukkkk" rengek Seno sekali lagi


Sania terkekeh lalu membalas pelukan Seno. Ah perasaan sedihnya lenyap begitu saja. Semua serasa tenang. Semoga kedepannya ia akan mendapati rasa tenang ini terus menerus.


"San?"


"iya mas?"


Seno mengubah posisi menjadi duduk dan menatap lekat-lekat pada Sania yang saat ini sedang tersipu malu, "bantu mas untuk melupakan Karin ya. Mungkin kamu akan bosan saat mendengar kalimat ini terus" tukas Seno


Sania mengangguk mengerti, tangannya tak berhenti mengusap tangan Seno yang penuh dengan keringat dingin. "Sania tidak sekuat itu mas, maaf. Kalau mas memang ingin berubah, ya mas harus netapin hati. Jangan seperti tadi, yang langsung berdebar melihat mba Karin lagi. Sania gak sekuat itu mas" Ucap Sania, "Gak selamanya Sania sanggup melewati semua ini" lanjutnya dengan suara pelan, tapi laki-laki itu masih mendengar jelas perkataan perempuan itu


"maksud mu?"


"tidak, Sania hanya asal bicara saja" elak perempuan itu dan tanpa diketahui Seno, Sania menyeka airmata di ujung kelopak matanya


"hm. Kalau kayak gitu, mas istirahat dulu" Seno menyingkirkan piama-nya dan membiarkan tubuh atasnya polos tanpa pakaian, "kamu tungguin mas ya sampai mas tertidur" usek laki-laki itu seraya melingkarkan lengannya ditubuh mungil perempuan itu


Ah, sepertinya laki-laki itu tidak tahu betapa gugupnya perempuan itu saat ini.


...~§~...


Laki-laki itu terbangun terlebih dahulu, ie melirik nakas dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi menjelang siang.


Ia kembali melirik lengannya, seperti ada yang menindih. Seno langsung duduk dan menjatuhkan kain yang sudah mengering dikeningnya.


"Saya kenapa?" tanyanya pada diri sendiri, ia tidak mengingat apapun setelah dirinya meminta Sania untuk menemani nya sampai ia tertidur, malam itu


Laki-laki itu tampak tidak tega melihat Sania yang tidur sembari terduduk. Ia mengangkat dan menaruhnya dengan lembut keatas kasur.

__ADS_1


"maafkan mas, sayang. Maaf mas masih belum bisa mencintai kamu" ucapnya lalu mencium mesra kening Sania.


__ADS_2