Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 100


__ADS_3

Finally sampai bab 100! Yeay, terima kasih yang sudah membaca cerita ini.


Satu per satu masalah sudah mau selesai, detik-detik tamat😘


~


Sementara tangan Seno terulur mengusap perut Sania, "jadi, sampai sekarang anak papih belum kepingin sesuatu gitu?"


Sania memutar matanya lalu menguyel pipi Seno yang terlihat khawatir, "belum mas, nanti ada waktunya ko" jawabnya penuh kelembutan


Seno mengangguk riang seperti anak yang kecil antusias lantaran riang tuanya yang memperbolehkan ia memakan permen, "mas tunggu, cantik!"


"cantik? Memangnya sudah pasti anak ini perempuan?" tanya Sania seraya mengurai pelukan Seno


"aku maunya perempuan. Biar cantik kayak mamihnya" gombal Seno


"kamu kira Sena apa?" Sania bersungut, memasuki rumah dan mulai membersihkan kekacauan yang ada


"aunty" teriak danty yang tiba-tiba datang dengan wajah sembabnya lalu memeluk kaki Sania. Sejak kembalinya hubungan Sania dan Seno, Daffa meminta anaknya memanggil Sania dengan sebutan aunty


"iya kenapa sayang?" menyamakan tinggi dengan Danty yang berkacak pinggang, kesal


Danty menunjuk perut Sania, "kata Sean, dia mau punya adek lagi?"


Sania terbelalak. Bukan karena ucapan danty, tapi karena Sean. Mengapa anak laki-laki itu sudah tahu jika Sania sedang hamil?


Sampai saat ini, Sania dan Seno masih merahasiakan berita kehamilan Sania. Mereka masih bingung untuk memulai dari mana agar ketiga anak mereka tidak merasakan cemburu yang berlebihan.


"mas..."


Seno memandang Sean yang mengintip dibalik tangga. Sontak saja Seno mengikuti anaknya yang kabur kekamarnya.


"aunty!" panggil danty lagi


"eh iya" sahut Sania dengan fikiran yang terus tertuju pada kamar Sean yang tertutup rapat


"aku juga punya ingin adik!"


Daffa yang sedang menyesap kopi hampir saja menyembur jika tidak mengingat ia sedang memegang tablet. Memiliki anak sekecil Danty saja, ia sering dikira sebagai kakeknya. Apalagi jika Daffa menambah anak! Oh tidak, laki-laki itu gak mau memikirkan hal yang tidak akan terjadi itu.


"Danty mau punya adik?"


Danty mengangguk lirih persis anak kecil yang sedang merajuk, "tapi Danty udah gak ada bunda. Jadi gak bisa punya adik"


Sania membelalakan mata lalu memeluk danty


"Danty gak sedih ko aunty, kalau Danty sedih nanti bunda nangis diatas. Kata Daddy gitu"


Daffa menghampiri Danty dan mengacak-acak rambut anaknya, "anak Daddy memang pintar!"


Danty tersenyum dan menunjukkan jempol dikedua lengannya. Kemudian berlarian dan berakhir masuk kekamar Sena.


Sania tidak salah lihat, perempuan itu melihat senyum pedih dibalik senyuman Danty. Semoga anak itu baik-baik saja, harapnya.


" ayah aku mau temani mas Seno bujuk Sean dulu ya"


Daffa mengangguk.

__ADS_1


Didalam kamar Sania disuguhkan dengan pemandangan Sean yang sudah tengkurep dibalik selimut dan Seno bang berusaha membujuk Sean.


Seno menggeleng pada Sania, menandakan ia tidak bisa membujuk Sean.


Sania ikut duduk disamping Seno. Duduk menyilang dan membawa Sean kepelukannya. Anak yang sebentar lagi masuk dalam tk itu menaruh kepala didada Sania.


Lalu terdengar isakan tangis yang berasal dari Sean. Sontak Sania dan Seno langsung saling memandang.


"Sean kenapa nangis?" tanya Sania penuh kelembutan


"sean gak mau punya adik" ucapnya dengan sangat lirih, benar-benar lirih


"siapa yang bilang sama kamu?" tanya Seno to the point, Sania sampai memelototi Seno yang bertanya dengan kesan seperti orang marah


Benar saja, Sean semakin menenggelamkan wajah ditubuh Sania. Tubuhnya bergetar menandakan ia kembali menangis, "om Alex"


Katakan dimana Alex sekarang juga! Ingin rasanya Seno datang dan langsung menghajar laki-laki bermulut besar itu.


"dimana om Alex-mu sekarang?" tanya Seno lagi dengan nada dibuat-buat


"dikamar ka Reyka"


Seno mengisyaratkan Sania untuk terus membujuk Sean sementara dirinya yang akan menemui Alex. Sania juga mengingatkan Seno untuk tidak memakai tangan dalam permasalahan ini. Cukup dengan perkataan saja.


Sania kembali fokus pada Sean. Ia mengangkat Sean hingga ank itu duduk menyilakan kaki dihadapan Sania, "Sean mau kasih tahu mamih kenapa sedih cuma gara-gara mau punya adek?" tanya Sania hati-hati


Sean mengadah dan menatap balik Sania, "kalau punya adek lagi, nanti Sean gak disayang sama mamih"


"kata siapa?"


"kata siapa kayak gitu. Mamih tetep sayang sama Sean ko, walaupun masih banyak anak lainnya"


"mamih bohong! Sean kan bukan anak kandung mamih, pasti lama kelamaan mamih gak sayang sama Sean lagi" ucapnya dengan wajah cemberut, menahan tangis


"ka Reyka juga bukan anak mamih. Tapi mamih sayang ko sama ka Reyka. Apalagi sama kamu, mamih selalu sayang sama kamu. Sekarang dan selamanya"


"bener?"


Sania memeluk Sean erat, "mamih sedih loh pas kamu bilang mamih bukan orang tua yang melahirkan kamu. Padahal mamih sudah anggep kamu sebagai anak mamih sendiri"


"sean takut... Sean takut, mamih gak sayang lagi sama Sean dan ka Reyka kalau adik lahir. Karena itu Sean gak mau punya adik"


"adik sedih loh kalau denger kakaknya ngomong gitu" Ucap Sania seraya mengelus perutnya dan berpura-pura sedih


Benar saja, Sean menatap Sania bingung. "adik nangis? Gara-gara aku?"


"bukan, maksud mamih pasti adik sedih didalam sana kalau dengan kakaknya tidak menginginkan-nya"


Sean mengurai pelukan dan mengelus perut Sania, "adik maafin kakak, kakak janji nggak akan buat adik sedih lagi" seru Sean


"tapi, kakak gak suka sama adik. Adik jadi sedih" Ucap Sania dengan suara dibuat-buat seperti anak kecil


Sean menatap terkejut lalu menatap Sania bergantian, "adik ngomong! Adik ngomong!" pekik Sean antusias


Sania ternganga. Tidak menyangka Sean akan percaya kemudian ia tersenyum lembut. Ternyata anak nya yang satu ini masih sangat polos.


"iyaa, adik ngomong karena mau ngobrol sama ka Sean"

__ADS_1


"benar begitu mih?" Sean mengadah menatap lekat-lekat Sania


Sania mengangguk membuat Sean menatap kembali perut Sania, "adik maafin kakak ya" Sean kembali memeluk Sania, "mamih juga maafin Sean kan?"


"mamih akan terus memaafkan Sean"


Sean tertawa bahagia, "nanti Sean mau kasih tau temen-temen yang lain kalau Sean mau punya adik! Dua adik, Sena sama" Sean merengut, "sama siapa mah nama adik?"


"adik belum punya nama. Nanti Sean bantu mamih sama papih cariin adik nama ya"


Sean mengangguk setuju lalu kembali memeluk Sania erat dan menciumi perut Sania berulang kali.


Sania tersenyum bahagia. Satu masalah terselesaikan. Setidaknya Reyka dan Sena tidak sekeras kepala Sean dan masih bisa dibicarakan baik-baik.


Jadi, Sania hanya berharap mereka berdua menerima tanpa mengeluh sama sekali.


"mamih tunggu kehadiranmu nak" ucapnya sembari mengelus perutnya


...~§~...


Dikamar seberang, Seno dan Alex duduk berhadapan. Seperti sedang disidang, Alex berusaha menatap langit-langit kamar menghindar tatapan maut Seno.


"kenapa bro! Anak gue sampai ketakutan gara-gara lu"


Alex menelungkup Reyka dipelukan-nya.


"Reyka sayang, mamih sama Sean lagi dikamar kamu temuin gih" titah Seno


"baik pih!" ujar Reyka tanpa mau menatap Seno, lalu buru-buru berlari keluar kamar yang suasana nya sudah sangat tidak enak


"kenapa sih bro!" ucap Alex berusaha mencairkan suasana


"lu ngomong apa sama Sean?"


Alex mengernyit. Ia rasa tidak pernah bicara yang aneh-aneh tentang Sean, "ngomong apaan?" tanyanya balik


"tentang hamil!"


"oalah, by the why selamat ya bro. Semoga lancar sampai persalinan"


"aamiin" Seno jadi riang, melupakan rasa kesal yang bergelayut karena orang dihadapan-nya ini, "gue gak sabar deh"


Alex memutar matanya, "sembilan bulan, jadi sabar-sabar aja"


"pengen banget bisa ngerasain jadi suami yang berguna buat istrinya yang lagi hamil"


Paham akan perasaan Seno, Alex jadi merasa bersalah. Secara tidak langsung dialah yang membuat Seno tidak merasakan hal itu.


Saat hamil Sean, Alex membawa pergi Karin keluar negeri. Sementara saat hamil Sena, secara tidak langsung karena kesalahan Karin.


"sorry"


Seno menoleh heran, "sudahlah, sudah berlalu ini. Oh iya, bagaimana perkembangan pencarian Cheris?"


"oh iya!" Alex membuka ponsel-nya dan menunjukkan keadaan Cheris yang terikat, "John sudah menemukan Cheris dan menyekapnya digudang kantor"


Seno tersenyum misterius, "kita kesana sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2