Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 13


__ADS_3

Happy Reading! ^¬^


Pagi hari Sania disibukkan dengan peralatan masak di rumah miliknya. Dua pengantin baru yang baru saja menikah, diangsurkan untuk beristirahat dirumah keluarga Sania. Sementara orang tua tinggal di rumah keluarga Kamal.


"mi lapar" ujar Sean sembari terus mengikuti Sania yang kesana kemari


"iya nak, ini mba lagi masak" jawab Sania


Pagi tadi, rumah dihebohkan dengan tangisan Sean yang menggelegar. Untung saja, Seno tidak sampai bangun akibat kelelahan karena tidak bisa tidur tadi malam.


Maklum biasa tidur dikasur tebal dan dengan AC. Jadi laki-laki itu kaget karena tidur, hanya dengan kasur tipis dan kipas yang menempel ditembok langsung dan hanya menetap kesatu sisi, membuat daerah lain tidak terkena angin. Imbasnya para nyamuk menjadi nakal, dan langsung berburu kaki Seno yang tampak menggugah selera. Bagi nyamuk.


Setelah itu,


Sania langsung membawa Sean kegendongan menenangkan anak kecil itu yang masih terus menangis dan memeluk nya sangat erat.


"ngan pelgi lagiii, eyan linduuu"


"mi jahattt, cemuanya ninggayin eyan"


Sania tertegun lalu memeluk nya erat saat itu. Kemua tidak lupa dengan terus mengucapkan kalimat menenangkan agar Sean sedikit tenang.


Setelah tangisannya reda, Sean meminta makan pada Sania membuat perempuan itu tertawa terbahak-bahak seraya menghunjam ciuman pada Sean. Mengingat Sean yang terus tertidur sejak kedatangan sampai tadi pagi, membuat Sania berasumsi bahwa anak itu benar-benar sedang lapar.


"hmmmm, yummm"


(hmmm, harumm)


Sania terkekeh. Ia kembali menuang mie instan kedalam mangkuk. Iya mie instan! Rumah Sania bukan seperti rumah Seno yang memiliki banyak bahan makanan. Ada mie instan dirumahnya saja Sania sangat bersyukur. Karena jarak warung sangat jauh dirumahnya, tidak mungkin kan perempuan itu keluar pukul 4 pagi hanya karena beli bahan makanan.


"Sean duduk di sofa dulu ya" perintah Sania

__ADS_1


Sean mengangguk lalu berjalan kearah sofa dengan memegang benda yang bisa menopang nya.


Sania membawakan mie instan yang sudah didinginkan ke Sean dan mulai menyuapi anak kecil itu.


"hmmmm enyakk, acih mi"


(hmmm enak, makasih mami"


...~§~...


Sumi dan Andi baru kembali dari kediaman Kamal setelah matahari muncul dengan pacaran sinar yang begitu menyengat. Mereka langsung menginterogasi Sania dan Seno, akibat pernikahan nya secara tiba-tiba.


"jadi alasan kalian untuk menikahi putri saya kemarin karena apa?" tanya Andi seraya memakan tempe goreng yang sudah dingin


"karena saya mencintai putri bapak dan anak saya juga sangat cocok dengan kebersamaan nya bersama putri bapak"


Alah empret! Bilang saja anda menikah dengan aku karena rasa tanggung jawab yang harus dilakukan. Dumal Sania dalam hati


Seno mengangguk, "ada yang salah jika saya seorang duda?" tanyanya sedikit tidak sopan


Bagaimana ingin sopan, jika sejak tadi kedua orang tua Sania menatapnya dengan penuh decak kagum. Kagum karena mobil yang bawa dan pakaiannya dan Sean yang mereka kenakan. Tidak lupa jam tangan yang terletak di alas karpet.


Seno berasumsi bahwa kedua orang tua Sania tipe manusia yang matre!


"nikah ko sama duda. Santy dong nikah sama perjaka ting ting"


Sania yang memangku Sean memeluk anak kecil itu erat, "lebih baik dengan duda daripada nikah hasil dari merebut perempuan lain. Apalagi ngerebut kakak sendiri. Ckckck, ko mau bekasan kakak sih"


Santy menggeram tapi Kamal menahan. Laki-laki itu paham, mereka salah. Ia tidak mau menambah masalah dengan perempuan dihadapannya itu.


"kamu ko sama adik sendiri kayak gitu. Cepat minta maaf!" titah Sumi

__ADS_1


"gak mau! Mereka yang salah, untuk apa aku yang minta maaf"


"istriku yang dulu, bercerai atau meninggal?"


"Saya bercerai bu. Baru beberapa bulan yang lalu setelah istri saya dinyatakan selingkuh. Dan tidak lama lagi, istri saya melangsungkan pernikahannya dengan selingkuhannya. Jadi, kalau ibu mengkhawatirkan Sania. Saya janji tidak akan menyakiti Sania"


"bukan, bukan itu. Hanya saja, jika istrimu meminta uang---


"sudahlah bu" sahut Andi menengahi pembicaraan , "jadi omonganmu yang kemaren bagaimana? Kamu tidak berbohong kan?"


Sania yang langsung paham akan pertanyaan bapaknya langsung menggeleng tidak setuju, "tidak! Bapak apaan sih"


"kalau suamimu tidak mau, ya sudah... Tinggal kamu ceraikan dia saja. Punya mobil ko tidak mampu untuk menuruti perkataannya kemaren. Tinggal kamu cari lagi suami yang kaya macam Kamal" jawab Andi, "iya kan mal?"


Kamal mengangguk. Ia merasa lawannya kali ini jauh dibawah dia, hanya modal mobil dan pakaian mewah saja. Bisa sajakan semua itu hasil pinjaman? Ia hanya ingin terlihat mewah saja dihadapan keluarga Sania. Ternyata aku masih jauh diatas daripada suaminya Sania. Gumam laki-laki itu.


"benar sekali pak. Lebih baik ceraikan saja mereka, mumpung mereka belum mengurus semuanya lebih lanjut"


"siapa bilang belum mengurus nya" Seno mengeluarkan ponsel keluaran terbarunya dan menunjukkan beberapa surat pernikahan yang sudah jadi yang telah dikirim oleh asistennya, "semuanya sudah siap! Saya dan Sania sudah sah menjadi suami istri dalam negara maupun agama"


Andi menyeruput kopinya dan menyadarkan tubuh dalam tembok yang sudah kusam, "jadi?"


"bapak dan ibu tenang saja, pantang bagi saya dalam mengingkar janji yang telah saya buat sendiri. Seperti pembicaraan kami kemarin siang, saya akan mengirim uang sebesar sepuluh juta tiap bulannya dan untuk rumah secepatnya saya akan meminta arsitek untuk mengubah desain rumah ini lalu membangunnya"


Sumi dan Andi saling memandang dan tersenyum puas. Mimpi apa mereka semalam, karena mendapat menantu yang kaya raya dua-duanya.


Sementara Santy yang melihat Sania yang tersenyum bahagia menjadi marah. Ia menghentak-hentakkan kakinya lalu masuk kedalam kamar diikuti oleh Kamal seiring dengan kepergian orang tua Sania keluar rumah.


Sania menoleh pada Seno, "mas maafkan kelakuan keluarga Sania ya. Saya benar-benar malu karena sikap orang tua Sania. Nanti, Sania bantu cicil semuanya"


Seno tertawa, "saat ini kamu sudah sah menjadi istri mas. Sudah tanggung jawab saya untuk membantu keluarga kamu. Tidak usah perdulikan uangnya. Saya hanya meminta balik agar kamu merawat Sean dengan baik, layaknya ibu kandung sendiri"

__ADS_1


"baik mas! Terima kasih banyak" Ucap Sania seraya memeluk Sean erat dan berputar-putar bahagia membuat Seno tertawa kecil


__ADS_2