
"selamat siang" pintu terbuka menampilkan Alex dan sekretaris nya yang masuk dengan senyuman terpampang indah
"siang juga" Seno berdiri menyambut uluran tangan Alex, "senang bertemu dengan kalian"
Alex diikuti dengan Fanya duduk dihadapan Seno dan John yang sudah memegang berkas untuk mengejutkan kedua orang dihadapannya.
"suatu kehormatan saya bisa bekerja sama dengan mantan suami dari istri saya" Alex senyum miring
"oh iya bagaimana dengan kabar Karin?" pancing Seno
"yah kabarnya sangat baik setelah pernikahan kami berlangsung" Fanya mengangguk sesaat ditatap oleh Alex, "benar kan Fanya?"
Tanpa mereka sadari, tangan Alex dan Fanya saling terpaut dibawah meja. Mereka saling tersenyum seakan merasa berhasil telah mengecoh seorang pengusaha besar seperti Seno.
"benar sekali tuan. Kabar nyonya Karin sangat baik, tiada hari tanpa senyuman" balas Fanya dengan senyum simpulnya,
~tiada hari tanpa siksaan. Ujar Fanya dalam hati.
"tapi---" Seno bergumam sambil tersenyum miring pada Alex, "setahu saya, Karin sangat tersiksa belakangan ini jika sudah bersama kamu"
Alex terlihat salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya, "maksud anda seperti apa? Saya rasa Karin lebih bahagia saat hidup dengan saya, daripada hidup dengan anda"
Seno tersenyum lalu mengulurkan tangan. Diberinya sebuah file cokelat oleh John. Dibukanya perlahan dan ditaruh foto-foto Alex dan Fanya yang terlihat mesra.
"Jangan kira saya sebodoh itu, sampai tidak mengetahui kabar utama yang beredar" alibi Seno
Sejujurnya laki-laki itu tidak pernah sama sekali dengan berita terbaru yang menggemparkan masa. Dengan kata lain tidak peduli. Selama itu berita bukan tentang ranah dirinya, Seno tidak peduli sama sekali.
Fanya menelan Saliva dan menatap gugup. Bermain-main dengan seorang Seno hanyalah orang yang ingin cari mati saja, "sepertinya tuan Seno salah lihat. Lebih baik kita percepat pertemuan ini saja, soalnya tuan Alex ada pertemuan selanjutnya yang tidak mungkin dilewatkan"
"Diam saya sedang tidak berbicara dengan anda!" Meja menjadi bahan amukan Seno. Laki-laki itu membalik meja memecahkan beberapa cangkir dan teko yang tadi sempat bertengger manis diatas meja. Tidak lupa pecahan vas bunga yang sudah tersebar dipenjuru ruangan
__ADS_1
Sontak Fanya terdiam. Wajahnya yang sejak tadi mendongak seakan berkuasa kini menunduk dan merengut seperti seorang pecundang.
“siapa anda bisa menyuruh saya! Menuruti perintah istri saja, terkadang saya masih tidak mau. Apalagi anda yang tidak ada hubungan-nya dengan saya”
Fanya bergidik dan mengurungkan niatnya kembali. Pasalnya sejak perusahaan Seno mengajak kerja sama pada perusahaan suaminya alias perusahaan Alex, Karin mulai mencari tahu tentang laki-laki itu. Dirinya dibuat terkesima dengan paras Seno yang terlihat sangat dingin namun mematikan.
Menggoda Seno sama saja ia menggali lubang sendiri. Ia menggeleng tegas, kembali mengurungkan niatnya yang akan menggoda Seno.
“Kenapa anda menggeleng seperti itu!!” Seno menatap tajam, “tidak suka dengan perkataan saya?”
“Kenapa jadi seperti ini ya?” Alex akhirnya bangkit, merasa tidak terima perempuan yang sedang mengandung benihnya terus dipojokkan oleh Seno, “saya datang kesini baik-baik. Kenapa anda malah mencampuri kehidupan saya. Anda iri?”
Tawa menggelegar terdengar dari Seno, “lucu sekali…. Untuk apa saya iri dengan orang yang sudah tega menyakiti istri bahkan mengkhianatinya. Bahkan sampai perempuan itu hamil” balas Seno dengan tersenyum
“ma… maksud anda?”
“tidak usah pura-pura bodoh tuan Alex. Anda menyakiti Karin untuk membela perempuan murahan seperti dia”
“Anda sebut apa tadi? Perempuan murahan?” Fanya menepuk dirinya bangga, “terserah apa kata anda, yang penting saya sudah berhasil merebut laki-laki lain” ucap Fanya dengan congkak. Seakan perbuatan-nya adalah perbuatan mulia
“yang kau sebut murahan nyatanya sekarang istri anda! Dan untuk mencintai Karin? Maaf saya sudah memiliki istri yang jauh lebih baik dari Karin. Jadi, untuk apa masih mengharapkan cinta dari perempuan jahat seperti dia”
“anda sendiri yang bilang jahat. Jadi saya tidak salahkan kalau menyimpulkan yang sama pula” Alex menarik lengan Fanya dan memegangnya erat, “makanya kalau bisa cari sumber permasalahan awalnya. Jangan main hakim seperti ini”
“anda jangan melempar batu sembunyi tangan ya. Nyatanya disini anda yang bermasalah dan lebih memilih perempuan jalang dan anak haram itu”
“anda diam” tamparan dilayangkan Alex tapi dihalanginya oleh John
“jangan berani-berani menyakiti tuan saya” balas John dengan sedikit membentak
Perseteruan antara laki-laki itu bertiga tidak luput dari perhatian Fanya. Perempuan itu menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
“saya memang wanita tidak baik-baik!!!” pekiknya menghentikan mereka semua, “tapi Karin jauh lebih tidak baik dari saya”
Alex memeluk perempuan itu yang tampak lemah dengan tangisannya yang histeris, “saya tahu, saya salah karena sudah menghancurkan pernikahan bahagia mas Alex dan Karin. Saya juga tahu saya salah karena sudah berbohong pada mas Alex demi bisa menyakiti Karin. Tapi dia jauh lebih jahat saat itu”
“maksud anda?”
“karena perempuan itu, ayah saya jadi pergi dari kehidupan keluarga Kami”
Kehidupan seorang Fanya memang tidak dikatakan baik-baik saja semenjak kedatangan perempuan itu. Karin yang Fanya kenal sebagai pembantu dirumah mereka. Karin yang masih seumuran dengannya saat itu (18 tahun) membuat keluarganya terus percaya kepada perempuan itu.
Nyatanya, Karin yang sudah dianggap anak oleh ibu Fanya tega mengkhianati Laras, ibu Fanya. Yang Fanya ingat, ibu dan dirinya sedang berkunjung selama seminggu kerumah sanak saudara. Tapi dipertengahan perjalanan, Laras merasa perasaanya sangat tidak enak dan memutuskan untuk kembali saat itu juga.
Benar saja, sesampainya dirumah Fanya dan Laras dikejutkan dengan sang ayah dan Karin sedang bermesraan (you know lahh) diatas ranjang. Semenjak itu semuanya berubah.
Sang ayah yang lebih memilih Karin ketimbang Laras. Ayah-nya memang tidak menikahinya tetapi keputusan bulat sang ayah membuat Karin tinggal hampir setahun dirumah mereka dan memperlakukan Fanya dan Laras layaknya pembantu. Mereka juga melakukan hubungan badan dengan Laras yang harus melihatnya. Ya, seperti yang Fanya lakukan saat ini.
Jahat? Dirinya mengakui ia sangat jahat. Tapi jahat untuk membela Laras yang kini sudah meninggal akibat perbuatan mereka apa disalahkan? Fanya hanya mempercepat karma yang akan diderita perempuan itu.
Seno dan John tertegun mendengar penjelasan perempuan itu. Ia tidak menyangka masalah ini akan serumit itu. Memang benar, seharusnya dari awal ia tidak ikut masuk kedalam permasalahan ini.
“jadi saya salah melakukan ini semua?” ucap Fanya
“Sebelumnya saya minta maaf karena sudah menyudutkanmu” Seno berdeham, “tapi kalau kamu membalas perbuatan Karin. Bukankah kamu dan Karin sama saja?”
“biarin tuan menyebut saya sama seperti Karin sekalipun. Yang penting saya puas melakukan ini semua dan membuat perempuan itu sampai menangis”
Alex membompong Karin, “jangan hakimi kami lagi! Dan satu lagi ada informasi yang belum kamu ketahui tentang Karin selama ini. Karin memiliki kepribadian ganda”
“maksud anda?”
“oh iya, terakhir kali saya mendengar ia akan menyakiti istri anda. Jadi hati-hatilah, jangan seterusnya percaya dengan perkataan perempuan itu” seru Alex lalu membawa Fanya pergi meninggalkan keterkejutan diwajah Seno
__ADS_1
“Cepat John, hubungi Sania dan yang ada dirumah!!!” perasaan khawatir kini mulai menyergap diri Seno
Jangan sampai hal buruk terjadi...