
"ayah" Sania menubruk Daffa begitu laki-laki paruh baya itu masuk dengan pakaian kantornya
Sudah lama pria kebangsaan German alias Daffa ingin mendatangi Sania yang satu bulan lalu ia angkat menjadi anak. Tetapi kendala satu per satu datang silih berganti hingga Daffa tidak ada waktu sama sekali walaupun sekedar menjenguk Sania. Apalagi Danty yang sudah mengantuk lantaran rindu pada Sean.
"anak ayah apa kabarnya? Maaf kemaren ayah gak sempet datang. Ada kerjaan plus danty lagi kurang enak badan"
Keakraban dua orang berbeda usia tersebut tidak luput dari pandangan Sumi dan Andi.
"dia siapa?" tanya Sumi yang melihat Sania terlihat sangat dekat dan memanggilnya dengan sebutan 'ayah'
"tuan Daffa, pengusaha terkenal dan sudah menganggap Sania sebagai anak sendiri" jawab Alex yang memang sedang berada dirumah Seno untuk beberapa hari kedepan
Sumi dan Andi mengangguk lirih. Anaknya sudah menemukan orang tua tepat dibandingkan mereka. Meskipun sedih mereka harus mengikhlaskan. Lebih baik seperti ini, daripada Sania tidak menganggap keberadaan Sumi dan Andi sama sekali.
Sania yang melupakan keberadaan Sumi dan Andi seketika menoleh, "oh iya bu, pak kenalin ini ayah Daffa. Orang yang udah nolong Sania saat Sania gak punya siapa-siapa"
Tidak ada niat menyindir. Tetapi Andi merasa tersindir dengan perkataan Sania. Sebagai orangtua ia berperan sebagai pelindung anaknya, tapi apa? Ia sadar perilakunya selama ini sangat tidak mencerminkan orang tua baik.
Andi membalas jabatan tangan Daffa, "terima kasih karena sudah merawat anak saya dengan baik"
"Saya juga berterima kasih karena bapak sudah melahirkan anak sebaik dan setegar Sania"
"ih ayah apaan sih" gurau Sania
Lagi-lagi Daffa tertawa, "baru beberapa minggu ditinggal, anak ayah udah manja aja. Oh iya, gimana kabar kamu? Ayah dengar kamu masuk rumah sakit, gara-gara seseorang. Ayah gak akan ngebairin orang itu begitu saja" Daffa mengepal lengannya
Mengenal Sania adalah suatu kebahagiaan sendiri bagi Daffa. Umur mereka memang terpaut tidak jauh untuk seorang ayah sama anak. Tetapi kepribadian Sania menarik perhatian Daffa.
Sania perempuan rapuh namun memaksakan diri untuk kuat. Perempuan yang membutuhkan seorang tameng agar dirinya bisa mengayomi ketiga anaknya. Saat itulah, kesempatan yang tepat bagi Daffa dan almarhum istrinya berusaha menguatkan perempuan itu.
Perempuan yang tahu berterima kasih. Perempuan yang mampu menghibur Daffa kala kehilangan Dinda. Intinya, Sania adalah anak terhebat bagi Daffa.
"ayah kenapa bengong!" sindiran Sania merangsang otak hingga laki-laki itu tersadar dari lamunan nya
"eh iya, kamu bicara apa tadi?" tanya Daffa lagi
"itu kabar Sania baik-baik aja. Dan masalah perempuan itu, Sania minta ayah jangan ikut campur" Daffa mengadah, kesal karena tidak bisa menyalurkan amarah pada orang yang sudah menyakiti Sania
"maksud Sania, biar mas Seno aja" lanjut Sania
"ya sudah. Terserah kamu aja"
__ADS_1
Derap langkah terdengar dari dalam rumah. Sania yang memang berada dihalaman langsung melihat dari celah pintu. Terlihat orang tua beserta Santy datang dengan membawa tas besar.
"ibu mau kemana?" tanya Sania tak kalah panik
"sekarang kan waktunya ibu pulang" Ucap Sumi mengingatkan
"tapi-- Sania masih rindu ibu sama bapak" kekeh Sania, "memangnya ibu gak mau lihat proses kehamilan Sania" serunya sedikit tidak terima
"apa! Kamu hamil" sela Daffa
Sania mengangguk, "memangnya ayah belum tahu? Kata mas Seno aku hamil baru beberapa minggu. Kurang lebihnya aku juga kurang tau"
Daffa menggengam lengan Sania penuh haru, "Akhirnya ayah punya cucu! Makasih nak sudah mengabulkan keinginan ayah" seru Daffa
"sama---
Belum sempat menjawab Daffa keburu berlari kedalam sembari berteriak 'aku akan menjadi kakek' berulang kali. Pria paruh baya itu tidak ingat umur dan malah berlarian kesana kemari.
Sania terkikik," ada-ada aja tingkah ayah"
"kamu bahagia memiliki ayah Daffa?" tanya Andi sedikit dibumbui nada cemburu
Sumi yang juga penasaran beralih menatap Sania.
Sumi dan Andi tersenyum getir. Ingin cemburu, tapi mereka mengingat perlakuan yang sudah di perbuat selama ini. Mereka tidak ada hak! Kata orang tua kandung hanya tersemat di kartu keluarga saja. Selebihnya mereka sudah seperti hanya menumpang hidup dengan Sania.
Ya, mereka akui mereka sudah sangat jahat pada Sania.
"mobil jemputan kalian sudah datang" Seno datang setelah memeriksa kendaraan yang akan mengantar mertuanya pulang kekampung mereka
"iya nak, Sania kami pulang dulu ya" Sumi memeluk Sania erat menyalurkan kesedihan yang tiba-tiba menyergap dirinya
"maafin ibu yang belum bisa jadi ibu yang terbaik untuk Sania"
Sania melepas pelukan dan mencengkeram kedua bahu Sumi, "ibu gak boleh ah ngomong kayak gitu. Ibu adalah ibu terbaik bagi Sania, dan gak ada yang bisa menggantikan kebaikan ibu"
Sania menoleh pada Andi, "bapak juga! Gak boleh berfikiran macam-macam. Mau sebaik apapun ayah Daffa, tetap saja ibu sama bapak selalu menjadi nomor pertama bagi Sania. Prioritas" tekan Sania diakhiri ucapan
"makasih nak, maafkan kami" Andi menepuk kepala Sania dengan lembut
"ya sudah nak, kami izin pulang ya" pamit Sumi
__ADS_1
"iya bu, pak hati-hati"
Seno membantu membawakan barang Sumi dan Andi. Yang kemudian teraku saat Andi menggegam lembut lengan Seno,
"bapak titip Sania ya nak. Maaf kami selalu merepotkan kamu"
Seno tertawa canggung, "sudah tugas saya untuk membantu keluarga istri saya. Jadi ibu sama bapak jangan pernah merasa sungkan"
Sumi tersenyum lembut. Ternyata Sania tidak salah pilih dalam memilih pasangan hidup. "ibu titip cucu ibu ya. Jaga mereka baik-baik" Ucap Sumi sebelum masuk kedalam kendaraan
"pasti! Hati-hati bu, pak"
Ditempat lain, Santy masih menetap dihadapan Sania. Mereka hanya terdiam tanpa mau ada yang memulai pembicaraan.
"ada apa?" tanya Sania dengan nada penuh intimidasi, walaupun sebenarnya ia bercanda. Merasa lucu melihat wajah ketakutan Santy
"aku minta maaf. Benar-benar minta maaf, tulus dari hati" ucapnya sedikit gemetar
"memangnya yang kemarin tidak tulus?"
Santy gelagapan. Matanya tertuju tak tentu arah, "aku... Tulus ko" ucapnya sedikit tidak nyambung
Sania tertawa sumbang. Kemudian memeluk Santy dengan sangat erat, "makasih sudah nolongin kakak saat itu"
Santy menangis sesegukan. Rasa sesak kian menyerang dirinya, "maafin Santy ka, maaf. Maafin perbuatan buruk Santy selama ini. Mungkin kakak masih gak percaya, tapi Santy janji gak akan dekat-dekat lagi sama suami kakak dan lingkungan suami kakak" ucapnya dengan terisak
Sania tertawa sebelum memasang wajah serius, "kakak nggak pernah marah sama kamu. Kakak cuma sedikit menggertak saja. Sedikit doang loh"
"hua... Santy takut banget lihat kakak marah kayak kemarin" ucapnya memeluk Sania erat
Sania melepas pelukan dan mengusap air mata Santy, "maafin kakak ya sudah bikin kamu takut"
Santy mengangguk lirih.
"ibu sama bapak udah nunggu kamu tuh dari tadi" peringat Sania
"eh iya, aku pamit dulu ya ka" Ucap Santy lalu memeluk pelan Sania sebelum masuk kedalam kendaraan
"hati-hati san"
Mobil langsung melaju begitu Seno menghampiri Sania. Tangan Sania melambai sampai mobil tidak terlihat.
__ADS_1
Sementara tangan Seno terulur mengusap perut Sania, "jadi, sampai sekarang anak papih belum kepingin sesuatu gitu?"