Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 84


__ADS_3

Brukkk... Pintu terbuka kencang tiba-tiba, mengejutkan orang didalamnya


"KAKAK!!!"


Pintu terbuka lebar, Sena dan Sean masih mengenakan piama tidur datang berlarian kemudian memeluk Reyka. Seperti seorang ayah, Reyka memeluk bergantian kedua adiknya seraya


"eh, anak siapa nih" kata Alex was was, memandang kedua bocah yang kini mulai menghampiri arena bermain yang ia desain khusus untuk Reyka


"anak gue lah. Lu kira anak siapa" Seno melayangkan kepalan tangannya, memukul pelan


"loh-loh" Alex melirik bergantian, "ko ada dua? Perasaan lu cuma punya Sean. Itu bocah lu ambil dari mana?" sarkasnya


"anak gue!"


Sena yang merasa tidak terima menatap nyalang Alex. Pria yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sena meng-aum seperti seorang macan untuk menakuti Alex tapi malah membuat semua orang tertawa karena kegemasan-nya.


"hosh... hosh... hosh... Udah mamih bilang jangan lari-lari" Sania datang dan menumpu tubuh dikedua kaki dengan lengan kanan-nya, "kalian bener-bener cepat banget sih" keluh Sania


"oh iya" Sania berdiri dan menunduk sopan pada Alex, "maaf, saya bertingkah buruk dipertemuan terakhir kita"


"gak usah formal gitu. Oh iya, saya berterima kasih banyak-banyak karena kamu sudah merawat anak saya dengan segenap kasih sayang hingga tumbuh jadi anak baik seperti ini"


Sania tertawa kecil, "Sama-sama. Saya yang minta maaf karena sudah bawa Reyka tanpa pamitan dulu"


"gak papa, demi kebaikan ini"


"oh iya mas, maaf ya aku ajak kesini tiba-tiba. Sena sama Sean nangis nyariin kakak-nya. Jadi, terpaksa aku ajak mereka kesini" Sania duduk disamping Seno setelah dipersilahkan pemilik ruangan


"untung saja aku masih inget perusahaan kamu mas. Dan oh iya, respon pegawai kamu ko kaya seneng banget pas ngeliat aku. Memangnya ada apa?"


Ya iyalah, semua pegawai selalu jadi bahan amukan Seno setelah situ pergi. Ya pasti mereka seakan melihat keajaiban saat lu datang~ Alex mendengus saat mendapati Seno yang tertawa pelan, tidak bisa menjelaskan apa-apa


"gak ada apa-apa ko. Kamu datang kesini karena anak-anak yang kangen sama Reyka? Atau alasan kamu aja, sebenarnya anak-anak kangen-nya sama aku atau bahkan kamu yang kangen sama aku"


"PD!"


Diseberang, Alex menirukan seperti orang yang sedang muntah. Seno dan tingkat ke-pd-annya yang sudah lama tidak ia jumpai. Tetapi tetap saja, melihat laki-laki yang sehari-harinya menatap datar sangat aneh jika tiba-tiba berubah seperti itu.


"oh iya lu gak bikin acara besar-besaran gitu atas kembalinya nyonya Seno" Alex memainkan kedua alis, menggoda kedua pasangan didepan-nya


"iya nanti gue bikin acara dangdutan 7 hari 7 malam. Nontsop!" balas Seno


Mendengar kalimat random dari Alex dan Seno, berhasil membuat Sania kembali dongkol. "kalian apa-apaan sih gak jelas"


"LOH kamu gak mau? Kita bikin acara besar-besaran, biar semua orang tahu mas dan kamu sudah sah jadi milik orang lain. Biar menghempaskan penggoda-penggoda diluar sana" balas Seno semakin melantur


"terserah kamu aja deh. Mau bilang apa, aku ikut aja" Sania merengut


Seno dan Alex saling ber-tos ria. Nyatanya kedua laki-laki itu berhasil membuat MOOD Sania jadi jelek.

__ADS_1


Tidak ada perbincangan serius, ketiga orang dewasa itu hanya saling bertanya kabar tanpa ada ejekan kembali.


Sementara, anak-anak sudah saling sibuk bermain dengan Reyka yang memimpin. Maksudnya Reyka hanya duduk diam sembari sesekali mengasuh Sean dan Sena saat kedua adiknya bertanya sesuatu atau meminta Reyka melakukan suatu hal.


"udah waktunya anak-anak tidur siang. Aku mau buatin mereka susu dulu. Dapur dimana?"


"susu? Mas gak ada stok susu" Ucap Seno dengan lugu-nya


Sania berdecak, "siapa juga yang minta sama kamu. Aku bawa ko"


"ahhh iya" sadar akan kebodohannya, padahal sudah jelas-jelas sejak tadi Sania bawa totebag, "pantry ada diujung lorong. Mau mas anter?"


"gak usah, aku minta tolong rebahin anak-anak ditempat tidur dulu. Dan jangan lupa suruh mereka cuci tangan sama kaki dulu" titah Sania hingga Alex dan Seno spontan mengangguk, tugas pertama mereka sebagai seorang ayah


"Gue yang anter mereka kekamar mandi. Lu rapihin kamar gue" Ucap Seno setelah Sania keluar dengan tentengan-nya


"siyap bos!"


Disisi lain, Sania berjalan perlahan menuju ujung lorong. Lorong yang dipenuhi foto Sania, Reyka dan Sean menarik perhatian perempuan itu. Ia terus tersenyum membayangkan seorang Seno bisa takluk kepada dirinya. Yang hanya seorang pengasuh.


"pantry... pantry... Nah itu dia" Sania memasuki ruangan yang dipenuhi cemilan dan minuman didalamnya


"selamat siang mba" salamnya sopan saat mendapati seorang perempuan berseragam sedang mengaduk kopi


"siang, eh---" perempuan bername tage --Cheris menatap Sania lekat-lekat, "lo perempuan yang ada di foto itu kan?"


"pasti adiknya tuan Seno yang tampan itu kan?"


"Hah?" Sania bertanya bingung, ingin menjelaskan tapi perempuan dihadapannya malah asyik berbicara dengan dunianya sendiri


"iya, sepertinya tuan Seno sangat sayang sama kamu. Lihat saja foto kamu dan ponakan-nya yang tertempel hampir diseluruh penjuru ruangan"


"tapi--


"kamu tahu gak? Aku pernah gak sengaja pecahin foto kamu dan kamu tahu reaksi dia? Dia gak marah sama aku, padahal sebelumnya yang aku tahu tuan Seno selalu marah-marah jika itu bersangkut paut dengan perempuan yang ada difoto. Dari situ aku simpulkan kalau tuan Seno ada rasa sama aku" jawabnya lalu mengibas rambutnya, merasa pd dengan ceritanya


"maksud kamu?" tanya Sania diselipi nada amarah, walaupun netranya masih tertuju pada gelas-gelas yang sudah terisi susu vanilla kesukaan anak-anak


"iya, tenang ko aku gak akan ambil keberadaan kakak kamu. Aku akan terus suruh tuan Seno untuk merhatiin kamu. Walaupun rasa sayang yang diberikan tuan Seno sama kamu harus berkurang karena terbagi sama aku"


Perempuan bernama -cheris- itu terus bercerita tanpa memperhatikan wajah Sania yang mengeruh. Cheris berbalik pada Sania saat sadar perempuan itu diam saja.


"boleh dong mulai sekarang aku panggil kamu adik ipar?"


Sania tersenyum paksa. Mengangkat nampan lalu melirik sinis Cheris, "aku gak mau dipanggil kayak gitu. Lagi pula aku ini-- oh tidak biar tuan-mu saja yang kasih tau siapa aku sebenarnya"


"kamu cemburu denganku? Kamu gak punya penyakit kakak-adik zone kan?" Cheris mengutip dengan lengannya, merasa heran


"terserah kamu mau ngomong apa lagi. Intinya aku mau ingetin, bangunnn mbaaa... Ini udah siang. Gak usah bermimpi lagi"

__ADS_1


"Kenapa lo yang marah!" pekik Cheris memperlihatkan sifat asli-nya


Kemudian Sania memilih keluar dengan nampan, tidak memperdulikan Cheris yang terus memanggil. Perempuan itu sudah tidak tampak bergairah lagi dengan foto-foto disepenjuru lorong.


"permisi?" pintu terbuka lebar memudahkan Sania yang sedang membawa nampan untuk masuk,


Ketiga orang laki-laki, Seno, Alex dan John tampak kesulitan menangani anak-anak. Jika sedang tidak dalam mode -kesal- Sania pasti udah tertawa kencang lantaran ketiga pria yang memakai jas tampak keren terlihat masing-masing menggendong seorang anak.


Seno dengan Sena


Alex dengan Reyka


John dengan Sean


Pfftt...


"mamih! Mau susu" ujar Sena dan Sean berbarengan


"gak usah teriak-teriak kan bisa! Gak lihat mamih lagi bawa susu, kalau kalian ngagetin mamih bisa-bisa susu-nya tumpah" bela Reyka


Sania tersenyum lalu melanjutkan memberi susu pada Sena, Sean dan Reyka setelah mereka duduk di atas tempat tidur. Dengan Sania yang meminta ketiga pria tersebut menunggu diluar. Jangan menganggu!


"mih, aku gak mau tidur siang" keluh Sean


"ena juga! Ena gak mau tidur, ena maunya main sama ayah" kilah-nya, padahal Sania paham anak itu lebih memilih main dengan mainan daripada bermain dengan Seno


Jarak masih terlihat diantara keduanya.


Sania menidurkan anak-anak kurang lebih dua puluh menit. Kecapean membuat anak-anak lebih cepat untuk tertidur. Lalu ia keluar dan langsung mendatangi Seno.


"mas kamu kenal Cheris?"


"Cheris? Siapa? Memangnya kenapa" tanya-nya bertubi-tubi, memandang heran pada Sania yang terlihat kesal, "kamu kesal sama mas?"


"pakai ditanya lagi!" hormon bulanan membuat Sania cepat kesal lantaran perutnya yang mulai mulas


Dilain sisi, John dan Alex memilih mundur diri. Daripada ikut menjadi sasaran kemarahan Sania.


"kamu kenapa? Biar jelas, mas gak paham"


"cheris! Karyawan yang ngaku-ngaku mau nikah sama kamu. Kamu gak selingkuh selama aku pergi kan?"


"mana ada!" balas Seno cepat, "mas gak pernah ngelirik perempuan lain setelah kamu pergi. Kalau dia ngaku seperti ini, paling gak lebih dari karyawan yang memandang kagum mas. Lagi pula, mana ada yang tidak tertarik dengan ketampanan mas"


"PD!"


"eh... Jangan pergi, kamu gak marah kan"


"enggak!" serunya cepat

__ADS_1


__ADS_2