Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 57


__ADS_3

Nihil


Itu yang didapatkan Seno sesampainya dirumah. Tidak ada satupun keluarganya terkecuali para pekerja yang kini terlonggak pingsan diberbagai ruangan.


Firasatnya semakin buruk saat mendapati bercak darah disekitar kamar Sean. Semua orang suruhan-nya menjadi bahan amukan laki-laki itu untuk melampiaskan rasa paniknya.


“tuan sepertinya saya tahu mereka sedang dimana saat ini” John menampilkan senyum mematikan-nya seakan sudah siap menangkap tikus nakal yang sudah mengganggu ketenangan tuan dan nonanya


“Sekarang juga, antarkan saya kesana!”


...~§~...


Sania POV


“mba” Karin menoleh dan menghentikan kegiatan berdandan-nya, “sampai kapan mba akan tinggal disini?”


Sebenarnya Sania sangat welcome dengan kedatangan Karin, ditambah dibalik itu semua ia sudah menebar kebaikan karena membantu sesama makhluk yang sedang kesusahan. Tetapi semenjak Karin menunjukkan gelagat cemburu-nya saat Seno memperlakukan ia dengan manis, Sania jadi terus kefikiran.


Berhak kan dia cemburu? Saat mengetahui mantan dari suaminya berusaha menarik perhatian Seno. Tidak perduli sedang ada Sania atau tidak. Walaupun Seno tidak menggubris-nya dan malah balik berkata kasar. Tetapi tetap saja, Sania tidak boleh melupakan fakta bahwa dulunya Seno sangat mencintai Karin. Hingga rela melakukan apapun demi perempuan itu.


Jadi… Lebih baik Sania mengantisipasi-nya dari awal, daripada kedepan-nya akan terjadi hal buruk yang sangat tidak ia inginkan.


Brugh…. Lipmate yang digenggam Karin hancur begitu saja digenggaman perempuan itu. Bayangkan seberapa keras Karin menekan lipmate itu sampai pecah berkeping-keping.


“mba?”


Karin tidak terlihat menahan sakit. Padahal Sania kira diantara lipmate berwarna merah menyala itu terdapat darah Karin yang mengalir.


Karin tertawa kecil, “uh maaf kekencangan ya, jadi pecah gini. Padahal seharusnya tempat lipmate ini kuat loh. Tapi nyatanya tetap saja tak kalah kuat dari aku” Sania mengernyit mendengar perkataan Karin yang sedikit mencurigakan


“sini mba aku bantu bersihin”


“tidak usah” Karin buru-buru mengelap lumuran lipmate dan darah didress putihnya menambah keresahan dihati Sania, “oh iya tadi kamu bilang apa?” Karin duduk dipelantaran kursi rotan dibalkon kamar diikuti oleh Sania


“ehem, sebelumnya maaf kalau perkataan Sania menyakiti perasaan mba. Tapi sampai kapan mba akan terus disini?”


“kamu terganggu ya? Tawa Karin, “bukannya kamu sendiri yang meminta Seno agar aku tinggal lebih lama disini. Kalau kamu kayak gitu kan, jadi gak enak sama akunya”


“bukan gitu, setelah Sania fikir-fikir gak baik perempuan lain tinggal bareng dengan sepasang suami istri” cicitnya. Sania tidak berani menatap Karin, ia mengalihkan pandangan dan meminkan kedua kakinya


“kamu benar” Karin terdiam sebentar, “tapi, setelah kamu kasih harapan ini. Jangan harap mba akan semudah itu keluar dari sini” balas Karin dengan senyuman manis


“ko gitu sih mba!” seru Sania tidak terima

__ADS_1


“terserah kamu mau ngomong apa. Mba akan keluar kalau Seno yang memerintahkannya, jadi selama Seno belum menyuruh mba keluar. Jangan harap mba akan keluar. Dan jangan lupakan, kamu yang meminta Seno untuk membiarkan aku tinggal dengan Reyka semau aku. Jadi, menurutku Seno sudah tidak akan menyuruhku keluar lagi”


“mba ko jadi seenaknya gini sih” balas Sania dengan pelan, “baru saja mba disakitin oleh perempuan lain, jadi jangan buat sakit perempuan lain juga. Kalau kayak gitu semuanya sama saja”


ARGHH….. Karin berteriak histeris dan menutup kupingnya yang terus berdengung seraya menunjuk-nunjuk Sania.


"gara-gara kamu Seno berubah!!!!"


Sania semakin dikejutkan dengan Karin yang tiba-tiba merampas jilbabnya dan menyeret perempuan itu. Sania menjerit bukan main. Karin tidak hanya menyeret hijabnya, perempuan itu juga menarik rambut sampai kepalanya sakit bukan main.


"mbaaaa kenapaaaa" pekik Sania mengundang kedatangan Sean dan Reyka yang ada dilantai atas


"tante! Jangan nalik-nalil mami aku!" Sean tidak terima dengan perlakuan Karin yang diluar kata sopan


Karin menoleh dan melepas tarikan dilengan nya malu berjongkok dihadapan Sean, "tante? Aku bukan tante kamu. Aku ibu kamu sayang, ibu yang sudah melahirkan kamu"


"dak mau! Eyan maunya mamih! Bukan ibu. Eyan cuma punya mamih" pekik Sean


Sementara Reyka terdiam, "maksud bunda? Kalau Sean anak bunda terus aku apa?"


"kamu juga anak bunda sayang. Kalian berdua anak bundaa" histeris Karin


"dak mau! Eyan cuma puna mamih!" Ucap Sean seraya memeluk Sania dan mengelus pelan hijab sang mamih yang habis dijambak Karin


Argh...


"jangan gitu mba. Kita omongin baik-baik, jangan kayak gini yang malah memperkeruh suasana" Sania berusaha mengambil pisau lipat itu tapi ditepisnya oleh Karin


"terus aku harus gimana?! HAH. Orang tuaku sudah membuangku! Alex sudah menyelingkuhiku! Seno laki-laki yang dulu tergila-gila padaku kini ikut berpaling! Dan Sean anak kandungku sendiri gak mau menganggap ibu kandungnya sendiri! Terus aku harus apa lagi? Menganggap semuanya baik-baik saja? Enggak. Gak akan pernah"


"tapi kamu masih punya Reyka mba?" Sania tidak membayangkan bagaimana perasaan ank itu saat ini dilihat dari Reyka yang kini sudah menelungkup diatas kasur Sean seakan takut melihat bunda-nya bertingkah seperti ini


"ngapain aku urus anak hasil dari laki-laki yang sudah menyelingkuhiku"


"tapi Reyka gak salah apa-apa mba" cicitnya, "dan kenapa mba melampiaskan semuanya keaku? Padahal Sania udah berusaha bersikap baik sama mba"


Karin menatap tajam seakan menghujam dalam relung hati perempuan itu, "karena kamu yang menjadi alasan Seno dan Sean tidak menganggap adanya aku!"


"tapi kan mba sendiri yang sudah membuat semuanya seperti ini! Mba sendiri yang meninggalkan mereka berdua" pekik Sania tidak sabar


"tapi bukan seperti ini yang aku mauuuu" Karin berulang kali mengacak-acak rambutnya dan tertawa melihat ketakutan Sania


Sania meneguk Saliva yang kesekian kalinya. Ia terus mundur perlahan sesaat Karin terus mendekat dengan pisau masih dilengannya dan membiarkan darah yang terus mengalir. Sesekali Sania menatap keluar pintu kamar Sean berharap para pelayan datang atau tidak Seno yang datang.

__ADS_1


Karin berdecak, "butuh bala bantuan? Tenang saja para pelayan udah aku urus" jawabnya enteng, "dan bukannya Seno sedang dikantor ya?"


Mendengar perkataan Karin membuat Sania semakin kalut. Bukan karena dirinya, ia takut Karin akan berbuat macam-macam pada Sean dan Reyka. Mengingat Sean dan Reyka masih berusaha melindungi Sania. Padahal Sania sudah meminta mereka untuk keluar.


"tante jangan sakitin mami!"


"ibu gak akan sakitin mami kamu ko" Pisau lipat yang digenggam Karin kini sudah menghujam tipis leher Karin, "ibu cuma mau main-main bentar aja"


Cucuran darah mulai keluar dari leher Sania. Sania tidak bisa memberontak . Memberontak sama saja Sania bunuh diri. Ia lebih memilih diam dengan lengan yang terus menahan Sean dan Reyka agar tidak mendekat.


"mba, Sania mohon. Jangan begini. Kita selesaiin masalah, tapi jangan didepan anak-anak" psikis Sean dan Reyka bisa down jika melihat secara terus menerus


"baik tidak disini, tapi kamu ikut saya sekarang juga" Sania mengangguk cepat


Karin berdecih lalu menarik paksa rambut Sania yang sudah tidak terbalik hijab sejak tadi akibat perbuatan Karin pula. Sania terus mengikuti Karin yang menyeretnya membiarkan rasa sakit yang dideritanya.


Sania terus memaksa senyum dan mengisyaratkan agar anak-anak tetap diam dirumah sampai Seno pulang.


Seno dan Reyka terus menggeleng dan tetap mengikuti Sania yang terus ditarik paksa. Sesekali Sania meringis.


Sesampainya dilantai bawah, Sania dikejutkan dengan semua pelayan yang sudah tergeletak tak berdaya.


"kamu apa kan mereka!" tanya Sania ditengah sakitnya yang semakin menjadi


"tidak usah banyak tanya!"


Mereka sudah sampai didepan rumah dan langsung terdapat van hitam. Dimasukkan nya sania secara paksa oleh laki-laki yang mengenakan baju seperti preman.


Karin melipat lengan didepan mobil, "ini bagusnya anak-anak diapain ya?"


"jangan, jangan sakitin mereka. Biarin mereka disini"


Karin menggeleng, "membiarkan mereka disini? Sama saja seperti aku menggali lobang kuburanku sendiri"


Gelap. Tiba-tiba semuanya gelap. Yang Sania ingat terakhir kali ia hanya memanggil nama Sean dan Reyka.


Mas, tolong aku


~~


Sorry to say, kalau aku baru sadar judul cerita sama isinya gak berbanding lurus. Awalnya memang niat cuma ingin menceritakan sisi kebahagian Sean setelah ia menemukan sosok mami seperti Sania.


Tapi gak tau kenapa, ini tangan gatel banget kalau gak ada konflik. Mana konflik nya campur aduk banget lagi 😢

__ADS_1


Oh iya, aku mau ucapin terima kasih sama kalian yang udah mau baca cerita yang masih banyak kekurangan ini. Makasih juga yang udah kasih like atau comment. Maaf gak bisa balesin semuanya comment nya. Tapi aku baca ko dan cukup terhibur sama komenan kalian.


Btw, tinggal beberapa hari lagi lebaran nih. Kalian tim mudik apa tim enggak mudik?


__ADS_2