
Dua tahun kemudian.
"mamih baju aku!"
Rumah dengan suasana yang tenang langsung berubah begitu mendengar teriakan si anak tengah yang mencari baju kegemaran-nya. Dinosaurus.
Keadaan yang tenang langsung tampak riuh dengan si sulung yang berlarian memanggil mami-nya dan si bungsu yang menangis kencang lantaran terganggu tidurnya.
"mih, Adek tuh manggil terus dari tadi" kesal sisulung yang masih mengenakan kemeja putih khas seragam SD
Si anak tengah memang dapat dikatakan paling spesial diantara mereka bertiga. Spesial ini dimaksudkan pada lebih manja, lebih keras kepala dan tentu saja lebih menggemaskan.
Persis banget seperti laki-laki itu!
"kenapa sayang?"
"baju Dinosaurus Eyan ilang" eyan merengut diatas kaus-kausnya yang berantakan karena ulah anak itu
Sean. Anak dari laki-laki brengsek itu yang kini Sania bawa. Entah mereka beranggapan Sania seperti seorang pencuri. Toh, perempuan itu fikir Sean tidak akan berkembang jika hidup dengan laki-laki egois seperti Seno.
Kini Sean sudah berusia lima tahun. Dimana usia tersebut dibilang anak sedang dalam masa aktif-aktifnya. Jadi, Sania sedikit maklum dengan segala tingkah ajaib Sean yang terkadang buat sakit kepala.
"kan baru mamih cuci. Kemaren baru kamu pake loh" terang Sania
"ahhhh.... Tapi Eyan mau pakai baju itu! Sekarang juga!" keras kepala persis seperti Seno
Sania mengerang. Secinta itu Sean pada Dinosaurus setelah anak dari atasan-nya memperlihatkan koleksi dinosaurus yang banyak.
Karena itu Sania membelikan kaus bergambar Dinosaurus sebagai tanda bahwa Sean sudah menjadi anak baik, minggu lalu. Tidak disangka anak itu akan kesenangan sampai-sampai membawa baju itu mengelilingi rumahnya yang tak seberapa itu.
"mamih gak mau ya kalau kamu gini lagi. Masih banyak baju yang lain, pakai yang ada dulu" titah Sania penuh penekanan
Sean merengut kesal, tak ayal tetap memakai baju yang sudah mulai pudar warnanya.
"ka udah selesai siap-siapnya?"
Dengan wajah sumringah, Reyka keluar dengan seragam putih merahnya. Ia duduk dipelantaran tikar lipat sembari mengenakan kaus kaki dan sepatu hitam.
"Sudah dong mih"
"kakak gak papa kalau mamih gak anterin lagi?"
Reyka mengangguk, "sudah biasa ko mih" serunya kemudian mengambil bekal dan dimasukkan-nya kedalam tas
Jawaban spontan Reyka seakan membuat Sania menjadi tidak enak hati. Seharusnya di usia tujuh tahun, anak masih memerlukan perhatian berlebih dari orang tua. Sayangnya Sania tidak bisa mencurahkan itu semua. Semuanya terhalang kerjaan yang membuat perempuan itu selalu sibuk.
"mamih jadi gak enak sama kamu"
"kakak yang harusnya gak enak sama mamih! Mamih rela cape hanya untuk Reyka yang notabene-nya bukan anak kandung mamih" ucapnya lalu memeluk Reyka
Sania membalas pelukan anaknya, "jangan ngomong gitu lagi ya. Mamih gak suka. Mau bagaimanapun, kamu tetap anak mamih"
__ADS_1
Reyka mengangguk, "ingat ya mih, mamih gak boleh cape-cape ditempat kerjaan! Sean sama Sena nanti aku bawa dari tempat mba Rahayu" ucapnya cepat setelah melihat jam, "Reyka pamit!" serunya langsung berlari sebelum menyalimi lengan Sania
"aishh, anak itu kebiasaan"
Sania kembali kepelantaran dapur. Di-osengnya kembali masakan tadi malam. Ayam bakar dan juga cah kangkung. Makanan yang didapat dari atasan-nya. Mana sanggup perempuan itu memasak makanan semahal itu.
"mih, makan apa hari ini?" Sean muncul dipelantaran meja makan dengan kepalanya saja yang muncul
"Sena mana?" tanya Sania balik mencari keberadaan anak bungsu-nya
"masih tidur" sahut Sean
Sania mangut-mangut. Kemudian turut mengangkat Sean keatas kursi.
"makan yang banyak ya biar cepet gede"
Sean mengangguk patuh, "biar cepet ketemu ayah"
...~§~...
Seperti rutinitas-rutinitas sebelumnya,Sania akan sampai ditempat kerjaan-nya pukul 8 pagi. Tentu saja setelah, mengirim Sean dan Sena ketempat penitipan.
"Selamat pagi Sania, selamat bekerja" sapa Daffa, pemilik rumah
Ya, Sania bekerja sebagai kepala koki di-penthouse milik Daffa. Orang yang telah membantu-nya dua tahun lalu. Tidak hanya sebagai kepala koki, kerjaan Sania juga merambat sebagai pengasuh anak semata wayang Daffa.
Istrinya sudah berpulang ke yang maha kuasa satu tahun lalu. Bahkan Sania kenal dekat dengan istri majikan-nya itu. Lantaran sang istri yang tidak pernah membeda-bedakan siapapun.
"Selamat pagi Tuan Daffa" jawab Sania dengan sopan
"Aish saya sudah bilang jangan panggil saya tuan. Panggil saja Daffa. Oh ya, Kau tidak bawa Sean?"
"Tidak tuan, saya menitipkan Sean dan Sena pada tetangga"
"Kenapa tidak dibawa? Kau tahu sendiri bagaimana sedihnya anak saya kalau gak ada teman bermain. Terutama Sean"
"Hanya saja saya wanti-wanti takut kejadian seperti kemarin lagi" jawab Sania, teringat kemarin Sean yang berulah hingga membuat putri majikannya menangis keras
"Namanya juga anak-anak. Saya maklum ko. Sudah mulai besok ajak lagi kedua anakmu untuk ikut kamu kerja dan jangan lupakan Reyka. Suruh anak itu langsung kesini kalau sudah pulang sekolah. Saya senang berbicara dengan anak pintar seperti dia"
"Iya tuan"
Daffa berdecak lantaran mendengar kata 'tuan' lagi. Ia akan membiarkannya kali ini. Ia memerintahkan perempuan itu untuk cepat pergi.
"Baik pak, saya permisi"
Sania mendatangi tempat ia berkuasa, yaitu dapur. Diambilnya beberapa bahan masakan untuk membuat pai susu. Terlalu siang jika Sania membuat makanan berat.
Daffa dan Danty pasti sudah melewati sarapan. Jadi setiap datang tugas Sania hanya membuat cemilan untuk orang dirumah sebelum mengerjakan hal berat lainnya.
Sebenarnya Sania tidak hanya bekerja dirumah ini. Pukul lima sore, setelah pekerjaannya dirumah ini benar-benar selesai. Ia akan mendatangi kafe yang berada tidak jauh dari rumah perempuan itu dan bekerja hingga pukul sepuluh malam.
__ADS_1
Setelah pulang, sudah pasti ia akan menemukan anak sulungnya sedang menunggu diruang tamu. Menunggu kedatangan Sania. Layaknya seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang.
Seperti yang Sania lakukan, dulu-dulu.
Sania menyentuh dadanya yang berdegup kencang, "baru ingat namanya aja udah begini. Apalagi ketemu orangnya" selanjutnya Sania hanya menggeleng, "tapi jangan sampai deh. Aku belum sanggup kalau harus ketemu dirinya"
"hmmmm, wangi banget" Danty datang dengan mengenakan dress bohemian seperti seorang tuan putri, ia duduk dengan anggun dikursi milik dirinya, "mba masak apa?"
"pai susu"
"yah dikira brownies" Danty menghentikan senyuman-nya dan seketika lemas, menopang tubuhnya diatas meja makan
"gak boleh ngeluh. Harusnya bersyukur mba Sania masih bisa masakin kamu" Ucap Daffa yang tiba-tiba datang dengan panggilan --mbanya-- membiasakan sang anak untuk berkata sopan pada siapapun yang lebih tua.
Danty mengangguk, "tapi kan aku maunya brownies"
"ya sudah besok mba bikin brownies nya ya" putus Sania menengahi perdebatan antara anak dan daddy-nya itu
"oke mba" Ucap Danty semangat kembali lalu celingukan kesekitar dapur. Biasanya jika ada Sania pasti ada Sean dan Sena sedang duduk manis menunggu sang mamih selesai memasak, "Sean gak diajak ya mba?"
"iya nona. Mba titipin Sean dan Sena ketetangga. Besok deh, mba bawa mereka kesini"
Wajah sumringah Danty ke beli meredup. Ia turun dari kursinya dibantu Daffa. Kemudian berlari kearah kamarnya.
"aku gak punya temen, hua...."
Bukannya khawatir oknum sang --Daddy malah tertawa melihat anaknya yang menangis kencang.
"maaf ya tuan, gara-gara saya nona Danty jadi menangis seperti itu"
Daffa mengangguk maklum, "bagaimana kalau menerima tawaran saya sebelumnya? Tinggal dirumah ini. Lagi pula rumah besar ini terlalu sepi kalau hanya ditinggal saya dan Danty. Oh iya dengan lima pelayan lainnya"
Yaps, sebesar itu rumah Daffa. Melebihi besar rumah Seno.
Kan, dia ingat lagi.
"akan saya fikirkan terlebih dahulu tuan"
Daffa mengangguk kemudian mulai fokus pada ponsel dan tablet-nya. Mulai menjalankan usaha nya yang semakin meluas.
Ting....
Sania membuka ponsel yang dulu diberi oleh Seno. Salah satu barang milik laki-laki itu yang ia bawa.
Mba Sena masuk rumah sakit lagi. Aku harus gimana dong
Isi pesan dari yang Snai terima. Sania langsung bangkit dan bergegas menghampiri Daffa. Daffa mengangkat wajah dan menatap penuh tanda tanya.
"tuan, Saya ijin pulang dulu. Sena masuk rumah sakit lagi"
"Saya antar" Daffa bangkit dan bergegas berjalan keparkir diikuti oleh Sania dibelakang nya
__ADS_1
Mas, anakmu sakit lagi. Aku gak tau harus gimana lagi.