Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 46


__ADS_3

"hari ini mas ingin mengajak kamu kesuatu tempat" pinta Seno menghentikan Sania yang sedang melipat pakaian


"kemana?"


Helaan nafas terdengar, siapa lagi kalau bukan Seno yang masih menahan kekesalan akibat aksi cuek sang istrinya.


"kerumah sakit"


Sania menoleh cepat, "ada yang sakit? Siapa yang sakit" Sania terdiam sejenak, "oh iya mba Karin"


"Aku gak mau ikut" putus Sania lalu mempercepat lipatan pakaian


Untuk apa bertemu dengan mba Karin lagi? Ada masalah apa? Kenapa mba Karin mau bertemu lagi dengan mas Seno?


Semua pertanyaan itu seakan berputar dibenak Sania. Membuat perempuan itu menyimpulkan bahwa Karin sudah dapat menerima Seno.


Ditambah, Sania dan Seno pernah memergoki suaminya Karin, Alex sedang berjalan dengan perempuan luan. Membuat Sania semakin yakin ada hubungan antara Karin dan Seno.


"kita pergi ya?" pinta Seno sekali lagi, "ada yang harus kamu tahu"


Aku gak mau tahu tentang hubungan kalian!


Sania tetap menggeleng.


"pelgi kemana yah?" sahut Sean tiba-tiba datang, "jayan-jayan? Eyan gak mau jayan-jayan, nanti mami tama ayah malah-malah kayak waktu itu"


Seno dan Sania diam saling pandang. "gak jalan-jalan ko, ayah mau ajak kamu sama mami Sania kerumah sakit"


"lumah sakit? Apaan tuh lumah sakit. Eyan balu dengel"


"lumah sakit tuh tempat untuk merawat orang sakit. Yang waktu itu Sean dirawat ituloh" jelas Sania


Sean mengerutkan keningnya lalu bertumpu pada pangkuan Seno, "ohhhh, Eyan inget! Yang ada mobil ngiung ngiung itu"


"ngiung ngiung?"


"ambulance maksudnya" ralat Sania


"oalahhh" Seno mengusap rambut Sean, "ambulance nak, namanya. Bukan mobil ngiung-ngiung"


Sean menggeleng lalu berbalik dan memeluk Seno, "pokokna ngiung-ngiung!!"


"iyalah terserah kamu saja" Ucap Seno diakhiri tawa kecil


"mih, pih tini deh" Ucap Sean tiba-tiba setelah turun dari pangkuan Seno dan mengingat hal yang ingin ia lakukan saat mamih dan pipihnya sedang bersama seperti yang ia lihat di video ponsel milik Sania


Sania dan Seno saling pandang tak ayal menyetujui permintaan Sean. Mereka mendekat dan berlutut disamping Sean, kanan dan kiri.

__ADS_1


"pih lebih dekat" rutuk Sean


Seno mengernyit, "pih?"


"iya pipih!" seru anak itu dengan tidak santainya, "kenapa pipih juga mau malah, eyan panggil pipih?" Sean berkacak pinggang


Sania terbahak dalam diam. Memang beberapa saat lalu, saat Sean melontarkan keinginan nya untuk memanggil Seno dengan sebutan pipih, Sania kurang setuju. Bahkan bak anak kecil, mereka sedikit cekcok dalam artian bercanda hingga Sean menangis karena merasa tidak terima dengan perkataan Sania.


"bukan marah, cuman aneh aja denger kamu manggil pipih. Kenapa harus pipih? Biasanya juga ayah"


"katana, kalau ayah cocoknya tama bunda. Tapi kan Sean manggilnya mamih bukan bunda" sahut Sean dengan logat lucunya, "telus katana kalau mamih cocoknya dipanggil papih. Tapi kalena eyan tukanya pipih, jadinya eyan panggil pipih aja daripada papih" Ucap Sean belepotan


Seno mengacak rambut Sean, "terserah kamu ajalah, yang penting kamu bahagia"


Sean tersenyum kesenangan lalu meminta Sania dan Seno mencium pipinya berbarengan.


"tu... Ua.... Iga... Yeayyyy" pekik Sean kegirangan saat mendapati hujaman ciuman dari Sania dan Seno bergantian


Sean berdiri otomatis Seno dan Sania yang berada disampingnya kian mendekat. Tanpa aba-aba Seno mencuri kecupan singkat pada bibir Sania.


"mas ih!"


"jangan marah" sahut Seno, "oh iya, siap-siap kita kerumah sakit sekarang juga" final Senk


Sania kira laki-laki itu sudah lupa dengan keinginan nya. Ternyata tidak. Ya sudahlah, Sania tidak bisa menolak.


"iya mas"


Lorong rumah sakit terasa mencekam bagi Sania. Sepertinya bukan karena mereka berkunjung malam hari, hanya saja suasana hati perempuan itu sedang tidak baik-baik saja setelah Seno memaksa ia untuk tetap datang kerumah sakit.


Sania sudah menguatkan diri jika memang hari ini merupakan hari ia bertemu terakhir dengan Sean. Bahkan Sania sudah merapihkan semua pakaian nya. Jaga-jaga, jika ternyata mereka akan memberitakan suatu hal mengenai hubungan mereka.


Sania berjalan dibelakang Seno. Sebelum memasuki sebuah ruangan, Sania menarik nafas dalam-dalam.


Ia hanya berharap semua fikiran yang berkecimpung dibenaknya, hanyalah ketakutan nya.


"Akhirnya kamu datang juga" sahut Karin dengan senang. Tidak ada tampak orang kesakitan didalam diri perempuan itu


"selamat malam, mba Karin" tunduk Sania dengan sopan


Mereka sengaja datang malam hari, karena tidak ingin membawa Sean. Sania dan Seno sengaja menunggu Sean tidur terlebih dahulu dan dititipkan nya kepada pelayan dirumah.


"tidak usah canggung seperti itu, silahkan duduk disini" pinta Karin menunjuk bangku disebelah dirinya


Sementara Seno sudah melipir pada sofa diujung ruangan. Agak jauh dari keberadaan kasur tempat Karin berada.


Sania tersenyum lalu duduk dibangku yang diperintahkan Karin, "ada apa ya mba?"

__ADS_1


"aku meminta kamu untuk datang"


"untuk?" serobot Sania cepat


"ada yang ingin aku ceritakan sama kamu. Mungkin karena kita sesama wanita kamu akan sedikit ngerti. Kalaupun kurang paham, aku hanya ingin mengurangi beban yang aku pikul sendiri" sahut Karin lalu menunduk


Sania mengangguk, "silahkan aja mbak, semoga Sania bisa membantu"


"Alex selingkuh San, laki-laki itu selingkuh" pecah tangis Karin


Kalau Seno sebegitu cintanya dengan Karin. Maka sama dengan Karin yang sebegitu cintanya dengan Alex. Alex bagai belahan hidup bagi perempuan itu.


Jadi ketika Alex pergi dari kehidupan nya. Karin merasa hampa dan benar-benar hampa. Tidak merasakan gairah kehidupan lagi.


"dia selingkuh dengan sekretaris nya San" Karin menarik nafas dalam-dalam, "sampai hamil" lanjutnya


Karin merebahkan dirinya, "sampai saat ini aku gak tahu harus berkata apa-apa. Alex gak ada cerita sama aku juga. Jangankan cerita sudah tiga hari setelah aku memergoki mereka, Alex tidak pernah datang"


Sania tetap terdiam. Ia tidak mau memecah kesedihan Karin. Ia memilih diam dan mendengarkan terlebih dahulu. Jika Karin sudah selesai baru ia akan melontarkan nasihat nya.


"sakit San sakit. Mungkin ini karma aku karena sudah menyakiti perasaan Seno. Tapi, ternyata sesakit ini ya"


"bahkan aku sudah mengalah diri dan menghubungi Alex. Tapi kamu tahu yang aku dapatkan?"


Sania menggeleng, "dia malah membentak ku dan mengatasi aku bukan wanita bener. Dan yang bikin aku sakit hati mereka sudah menikah siri untuk menyelamatkan anak yang dikandung Fanya" lirih perempuan itu


"yang sabar ya mba. Sania kurang paham dan belum pernah merasakan jadi seperti mba. Tapi yang Sania tahu, semua perbuatan pasti ada ganjaran nya. Mungkin tuan Alex saat ini masih merasakan kebahagiaan nya diatas penderitaan mba. Tapi kita tidak tahu, besok, lusa atau minggu depan tuan Alex akan mendapatkan apa?"


Karin terdiam dan memainkan kukunya," bukan Sania mendoakan. Tapi memang seperti itu. Semua perbuatan yang kita lakukan pasti dapat balasannya"


"kamu benar. Aku sudah pasrah lah sama laki-laki itu" desah Karin lalu keduanya terdiam


Sania menoleh bergantian pada Karin dan Seno. Karin bisa melihat wajah ketegangan dalam diri Sania.


"kamu tenang saja san, sekarang aku sudah merasakan bagaimana sakit hatinya jika diselingkuhi. Aku tidak ingin selingkuh dan menjadi penyebab kesedihan perempuan lain"


Karin berfikir sebentar, "oh iya kata Seno, kamu marah dengannya ya? Karena aku?"


Sania mengangguk pelan, "bukan maksudnya aku marah mba. Sania cuma --


"kamu gak usah cerita. Aku sudah mendengar kronologi-nya. Mba juga kalau jadi kamu akan marah. Tapi tolong maafin Seno ya, dia datang keaku dan mohon-mohon untuk menceritakan yang sebenarnya"


Sania terdiam lalu Karin mendekat, "aku gak tahu loh kalau seorang Seno bisa ketakutan seperti itu sama perempuan. Sepertinya dia cinta sama kamu"


Sania tertawa lalu menggaruk tengkuknya, "aku gak marah, cuman kesel aja kalau liat mukanya"


"Mukanya memang ngeselin!" bisik Karin membuat Sania terbahak

__ADS_1


Ternyata ketakutan nya sejak tadi hanyalah bualan belaka. Dan ternyata Karin semenyenangkan itu untuk dijadikan teman.


Sania menoleh pada Seno yang menatapnya balik. Kali ini ia menghela nafas. Hela nafas lega.


__ADS_2