
Happy Reading ~~
Sumi sengaja memberikan teh hangat yang dibuat Sania kepada Seno. Lalu ia duduk dihadapan menantu yang sangat ia sayangi itu. Sayang hartanya maksudnya.
Tidak lama kemudian Andi datang lalu duduk disamping Sumi diikuti Sania yang terus menggiring Sean.
Seno tersenyum melihat pemandangan Sania yang selalu sigap menjaga Sean, anaknya. Beda sekali dengan orang yang pernah ia cintai, Karin alias ibu kandung dari Sean yang tidak pernah peduli sama sekali terhadap tumbuh kembang Sean.
"sepertinya ada yang ingin bapak dan ibu mertua bicarakan padaku?" Seno menyatukan kedua tangannya, "Really?"
Sumi dan Andi saling memandang, kurang mengerti akhir kalimat yang dibicarakan Seno. Tapi tak ayal mereka menganggukan kepalanya kemudian.
"jadi, ada apa ibu dan bapak datang kesini?" tanya Seno, "oh iya sebelumnya maafkan saya yang tidak menjemput ibu dan bapak di stasiun. Sania tidak memberi tahu saya kedatangan ibu dan bapak"
"ah tidak apa-apa" tawa Andi menggelegar, "lagi pula kami tidak memberi tahu Sania. Sengaja ingin memberi kejutan pada kalian
"iya benar, kami sangat terkejut dengan kedatangan ibu dan bapak" jawab Seno disertai senyuman penuh arti dengan kalimat khas penuh sindiran
Tapi Sumi dan Andi tidak menangkap arti lain dari perkataan Seno. Berbeda dengan Sania yang sudah hampir gigit jari, melihat tatapan ramah Seno tapi membunuh itu.
DI posisi seperti ini, Sania tidak tahu harus membela siapa jika terjadi pertengkaran antara keduanya. Disatu sisi, Saat ini Seno sudah berperan menjadi suaminya. Sania juga berharap Seno dapat tegas kepada kedua orang tuanya, agar Sumi dan Andi tidak semena-mena lagi kepada keluarga mereka.
Tetapi disisi lain, Sania berharap Seno tidak memperlakukan kasar pada orang tuanya. Ya, walaupun perempuan itu paham orang tuanya tidak pernah sayang kepadanya. Tapi kan sebagai anaknya Sania sangat menyayangi kedua orang tuanya. Karena perempuan itu paham dengan tabiat kedua orang tuanya, jadi menurut Sania pembicaraan seperti ini ia sudah mendengarnya berulang kali. Jadi Sania menganggapnya dengan enteng, tetapi berbeda dengan Seno yang merasa risih dengan pembicaraan yang cukup memalukan ini.
“Ibu dan bapak ingin menagih janji kamu tempo hari” jawab Sumi malu-malu
Seno mengernyit, “memangnya anak kalian yang satu lagi tidak memberi tahu kalian yang sebenarnya?”
__ADS_1
Seno tidak habis fikir, kejadian tersebut sudah hampir satu bulan yang lalu. Kenapa Sumi dan Andi masih nekat datang kekota untuk menagihnya? Padahal mau dilakukan dengan cara apapun, tekadnya sudah kuat. Ia tidak akan mengingkar ucapannya.
“Santy sudah memberi tahu kami nak” jawab Andi, “tapi menurut kami ini semua tidak adil. Mengapa Santy yang berbuat dan kami yang harus menerima akibatnya?” sungut Andi dengan suara sedikit dikencangkan
“ibu dan bapak kan orang tua Santy, jadi kalian harus menerima perbuatan anak yang sangat kalian sayangi itu” ucap Seno dengan smirk, menyeramkan, “karena didikan kalian lah, Santy dapat berani mencuri dirumah saya”
Sania sedikit terkejut dibuatnya. Mengapa mas Seno sampai tahu kalau ibu dan bapak lebih sayang kepada Santy daripada aku? Apa ibu dan bapak melakukannya dengan sangat kentara ya? Sampai mas Seno bisa tahu
Sumi dan Andi gelagapan, “Sania dan Santy anak kami, kami sangat menyayangi keduanya” ujar Sumi terbata-bata. Ia tidak mau kesalahan-nya selama ini pada Sania diketahui menantu kaya-nya itu. Bisa hancur semuanya.
“memangnya saya tidak tahu?” Seno megangkat salah satu alisnya dengan senyuman. Senyuman mematikan, “terus apa kabar dengan semua luka yang ada dipunggung-nya?”
Walaupun saat memperkosa Seno dalam keadaan mabuk, ia tidak semabuk itu. Ia masih bisa melihat jelas semuanya, walaupun wajah Sania terus bergantian dengan wajah Karin. Bahkan Seno melihat jelas bekas luka yang masih berwarna biru dipunggung perempuan itu.
Awalnya Seno masih membiarkan-nya Tetapi lama-lama laki-laki itu sedikit penasaran. Ditambah ia pernah melihat Sania yang meringis sembari memegang punggungnya. Seno menganggap luka itu seperti bekas pukulan rotan, dan saat mengunjungi kediaman Sania. Ia tidak sengaja melihat rotan yang sama persis bentuknya dengan luka Sania tersimpan rapih didepan pintu kamar Sumi dan Andi. Jadilah, Seno berspekulasi kedua orang tua Sania yang sering memukuli istrinya itu.
“luka? Luka apa? Kami tidak mengerti” jawab Sumi dan Andi seraya saling memandang penuh ketakutan
“maksud nak Seno itu apa ya? Kami sangat tidak paham”
Seno terbahak dibuatnya. Kemudian ia berdeham, merasa tidak enak karena telah menakuti kedua orang tua didepan-nya itu. “sudahlah, tapi untuk membiayai merenovasi rumah ibu dan bapak saya tidak bisa melakukannya----
Sumi langsung menyela diiringi dengan gebrakan meja, “KENAPA?!”
‘Seorang Seno tidak mungkin akan menarik ucapan-nya kembali. Dan juga saya rasa rumah kalian tidak seburuk itu, ibu dan bapak masih bisa tinggal didalam dengan sangat nyaman”
“Tapi kan---“ Kali ini Andi menyenggol lengan istrinya, memberi tahu agar diam. “baiklah kami menerima keputusanmu dengan sangat lapang dada. Tapi, bagaimana dengan uang bulanan kami? Bisakah kami meminta full seperti perjanjian”
__ADS_1
Seno mangut-mangut dibuatnya. Memang benar beberpaa bulan terakhir ia meminta sekretarisnya untuk mengirimi Sumi dan Andi uang setengah dari perjanjian, yaitu lima juta. “bukankah uang segitu sangat cukup untuk biaya dikampung?”
“untuk dulu sangat cukup nak. Tapi zaman sekarang semua sudah berubah, harga sudah pada melonjak naik. Kami sedikit kesusahan untuk membeli ini itu”
Seno bangkit, “sebelumnya akan saya fikirkan terlebih dahulu” lalu menunduk sopan, “maaf jika perkataan saya kurang sopan pada ibu dan bapak”
Merasa sudah selesai pembicaraan antara mereka, Seno memilh mengistirahatkan diri dikamar. Meninggalkan Sumi dan Andi yang tersenyum bahagia.
“sudah selesai mas?” tanya Sania yang sejak tadi sudah berada dikamar Seno
Seno mengangguk lalu merebahkan diri dipangkuan Sania, “sebelumya maafin mas ya jika ada perbuatan atau ucapan yang kurang sopan pada ibu dan bapka kamu. Maklum saja, mas sudah lama tidak merasakan hormat pada kedua orang tua, setelah kedua orang tua mas meninggal dunia”
Sania mengangguk mengerti lalu mengusap-usap punggung Seno membuat laki-laki itu sangat nyaman. Sania sedikit merenung, apakah lebih bersyukur memiliki orang tua tetapi seperti orang tua Sania yang segalanya hanya memikirkan uang? Atau lebih baik tidak memiliki orang tua saja? Nyatanya Sania tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua sejak kecil.
Sania menggeleng kuat, astagfirullah apa yang aky fikirkan
...~§~...
Bruk…..
Sania dikejutkan dengan suara barang jatuh dari luar rumah. Ia sedikit menggoyangkan Seno agar laki-laki itu bangun. Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam, ia sedikit takut untuk keluar sendiri.
“hm? Kenapa San?” tanya Seno
“ tadi aku mendengar suara barang jatuh, kira-kira apa ya?” tanya Sania
“palingan juga tikus” jawab Seno sekenanya, “coba kamu cek, mas tunggu sini saja” ucap Seno seraya mulai terduduk
__ADS_1
Sania mengangguk dan mulai melangkahkan diri keluar kamar. Dibukanya pintu kamar dengan sangat pelan. Ia tidak menemukan apapun, lalu ia melaju lebih jauh. Kemudian saat berbalik,
Aaaaa…… Mas Senoooooo