Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 53


__ADS_3

Maaf baru sempet update :'( kemaren ngilang tanpa kabar. Untuk mengganti hari kemarin, hari ini aku bakal update lagi. Tungguin aja... Kalau gak sore atau malem..


~


"mas mau makan apa?"


Pertama kalinya Sania memandang Seno yang sedang serius bekerja. Ternyata tampan juga ya. Biasanya kan penampilan orang yang sudah berjam-jam bekerja akan tampak lusuh dan menyedihkan. Tapi Seno tidak seperti itu! Dengan rambut acak-acakan dan wajah serius malah menambah ketampanan dimata Sania.


Memang dasar bucin!


"perempuan itu masih disini?"


"masih mas, kan kamu yang ijinin mba Karin untuk nginep disini sampai besok"


"aku gak ijinin ko" sewot Seno, "kamu yang paksa! Aku mana bisa sih nolak permintaan kamu" Seno merengut lalu kembali menelusuri berkas dan laptop bergantian


Jangan lupakan sifat Seno yang belakangan ini sering merajuk. Persis seperti Sean! Kadang Sania sampai bingung membedakan keduanya. Karena semirip itu sifat kekanakan mereka.


"apaan sih mas lebay ah" gerutu Sania


"Bukannya lebay, memangnya kamu tidak takut kalau Karin akan kembali mengambil alih perhatian mas lagi? Kalau mas berpaling lagi gimana? Kan berabe" canda Seno


Memalingkan wajah kearah depan pintu seraya menyilangkan lengan, "jadi mas mau berpaling lagi ke mba Karin? Ah mainnya gitu deh, Sania gak suka"


Seno terkekeh, "siapa yang bilang? Mas gak bilang gitu ko. Yang terbaik bagi mas cuma kamu ko" balas Seno


"apaan sih mas" seru Sania dengan malu-malu, "sudah ah, gak akan selesai-selesai mas mau makan apa?"


"apa aja terserah kamu" Ucap Seno lalu menaikkan kacamata tanda ingin kembali fokus pada kerjaannya kembali


"siyap!"


...~§~...


"selamat tidur anak-anak"

__ADS_1


Perlu waktu hampir satu jam Sania untuk menidurkan Reyka dan Sean bersamaan. Tingkah tidak bisa diam anak-anak yang sudah pada akur itu semakin mempersulit Sania untuk menidurkan mereka bersama.


Semuanya Sania lakukan dengan sendiri. Awalnya Karin sempat menawarkan diri pada Sania, tapi Sania menolak. Sania kira perempuan itu butuh istirahat lebih meng-ingat kantung mata perempuan itu yang terlihat tidak wajar.


Sania mematikan lampu utama dan beranjak keluar kamar. Malam semakin larut, keadaan dalam rumah juga sudah tampak sepi. Lampu-lampu beberapa kamar milik para pelayan juga sudah mati menandakan tidak adanya kehidupan. Kecuali yang satu ini. Kamar yang berhadapan langsung dengan kamar utama.


"mba" lagi dan lagi Sania mendapati Karin yang menelungkup seraya menangis


"kenapa nangis lagi? Karena mas Alex?"


Karin menggeleng lalu melipat kedua kakinya dan meminta Sania duduk lesehan dihapadan nya, "tidak ada yang menginginkanku sejak kecil"


"maksud mba?"


"sakit San, semuanya tidak ada yang menginginkan ku. Lebih baik aku tidak dilahirkan saja didunia ini, jika memang hidupku sangat runyam seperti ini. Memang lebih baik aku mati daripada--"


"astagfirullah mba, gak baik mba ngomong gitu. Sama aja mba menyalahkan takdir yang udah Allah beri. Istigfar mba"


Karin mengerahkan pegangan dan semakin menangis, "sakit San, dari kecil aku tidak tahu siapa orang tua kandungku. Mereka membuangku layaknya sampah pada ibu panti"


Bayi yang ditinggal begitu saja oleh sepasang suami istri yang terlihat masih sangat muda. Ibu panti yang tidak tahu apa-apa, hanya menggendong bayi itu dan menatap bingung seraya kepergian mereka tanpa mengatakan apapun.


"mba" lirih Sania.


"mereka membuangku San! Bagaimana pun alasannya, tetap saja mereka membuangku dengan sengaja. Salah aku apa San! Sampai mereka setega itu"


Hidup dibawah naungan panti asuhan dan yang paling tua membuat perempuan itu memiliki beban untuk tidak bergantung pada ibu panti.


Karin berusaha menghidupi dirinya sendiri semenjak smp. Tidak berbeda jauh dengan kehidupan Sania. Bedanya Sania masih memiliki orang tua dan hasil kerjanya diberikan kepada orang tua sementara Karin tidak memiliki orang tua kandung dan harus kerja ekstra demi menghidupi ibu panti dan adik-adiknya.


"bukan salah mba ko, mungkin ada alasan yang membuat orang tua mba dengan terpaksa meninggalkan mba dipanti asuhan itu" ujar Sania berusaha positif


"terpaksa bagaimana? Kalau memang terpaksa karena keadaan mungkin mereka sudah membawaku lagi"


"semasa hidupku terus dipenuhi rasa benci kepada kedua orang tuaku. Karena itu juga aku selalu menganggap remeh temeh pernikahan. Termasuk pernikahanku dengan Seno, aku tidak pernah mencintai nya, sama sekali tidak. Tapi karena beranggapan Seno bisa menjadi bank uangku dengan terpaksa aku menerima pernikahan ini. Lagi pula ini sama-sama menguntungkan kan? Seno dapat bersamaku dan aku dapat membiayai kehidupanku serta kehidupan panti bersamaan"

__ADS_1


Jahat memang, tapi nyatanya seperti itu. Karin benar-benar berubah setelah semasa kuliah ia dipertemukan dengan Seno. Dimana Seno yang terus-terus mengusik kehidupannya. Dimana Seno yang terus mendekati dirinya dan selalu membiayai segala kebutuhan Karin. Termasuk uang kuliah saat itu.


Karin yang merasa dispesialkan membuat sifat sungkan-nya terangkat tiba-tiba. Dia merasa dijadikan seorang ratu dengan laki-laki yang tidak ia cintai itu membuat dirinya congkak dan berubah sekejap menjadi perempuan yang sombong.


"hingga aku bertemu dengan laki-laki yang membuat ku jatuh cinta, Alex. Laki-laki yang pertama kali membuatku mengenal apa artinya dan pertama kali membuatku merasakan bagaimana sakitnya disleingkuhi" Karin tertawa disela-sela tangisnya, "keren ya Alex, serba pertama"


Sania paham. Karin hanya menghibur diri dengan tawa yang menurut Sania sama sekali tidak lucu.


"mba Karin" beo Sania dengan tatapan sendu


Karin menggeleng, "aku cerita bukan untuk dikasihani. Aku gak suka ditatap seperti itu. Aku lebih suka saat orang menatap ku dan menganggap ku sebagai wanita kuat" Karin terdiam, "bahkan aku lebih suka saat orang membenciku daripada mengasihi diriku"


"kehidupan mba gak jauh dari apa yang Sania rasakan" Karin menoleh dengan tatapan penuh tanda tanya, "mungkin memang Sania tidak tahu bagaimana mba menjalani hidup saat ini. Tapi yang Sania tahu, hidup mba gak jauh dari yang Sania alami saat ini. Hanya berbeda sedikit saja" sahut Sania


"maksudnya?"


"Sania gak mungkin cerita, intinya menjalani hidup itu gak boleh diiringi dengan fikiran negatif. Kalau mba berfikiran buruk, pasti fikiran itu juga yang akan terasa dihidup kenyataan mba. Enjoy aja, anggap masalah yang kita hadapi ini menjadi jalan untuk kita meraih kemenangan"


Sania menarik nafas dalam-dalam, "kemenangan disini maksudnya kebahagiaan kita. Jalanin saja. Memang bicara gampang tapi menjalankan nya sangat sulit, tapi Sania paham. Mau kita berekspresi gimanapun, ujung-ujungnya kita tetap jalanin hidup ini kan?"


"kamu benar"


"yang penting sekarang bagaimana caranya mba lepas dari bayang-bayang masa lalu"


"susah San" kenangan indah bersama Alex kembali berputar, "aku hidup dengan Alex bukan sehari dua hari. Kita udah ngejalanin hampir enam tahun lebih. Gak semudah itu aku melupakan Alex"


"bisa ko mba" Sania memegang lengan Karin, "maaf sebelumnya, tapi mas Seno yang dulu segitu cintanya sama mba. Sekarang bisa ngelupain mba. Walaupun memang sulit, sepertinya. Tapi kalau ada niat dari hati pasti bisa"


Karin mengangguk paham, "kamu benar. Buang-buang waktu saja kalau aku masih memikirkan laki-laki tak memiliki perasaan macam Alex"


"bener sekali! Lebih baik melupakan masa lalu. Ayo kota buat jalan kebahagiaan untuk kita sendiri"


"kamu benar. Hidup bahagia!" seru Karin tiba-tiba


"hidup bahagia" kini sorak mereka berdua membuat mereka tertawa terbahak-bahak seakan lupa dengan permasalahan yang baru ia ceritakan

__ADS_1


__ADS_2