Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 64


__ADS_3

Tanpa Sania sadari, Reyka sudah bangun sejak tadi. Reyka hanya enggan untuk membuka mata, takut air matanya tumpah begitu melihat Sania yang menatapnya khawatir.


"mas harap kamu tahu batasan dalam menyayangi Reyka. Bagaimanapun dia hanyalah orang asing dikeluarga kita. Dan anakmu semata-mata hanyalah Sean"


Degh....


Reyka sakit hati bukan main. Orang asing maksud dari Seno itu dirinya kan? Ternyata keberadaan dirinya memang salah berada ditengah-tengah keluarga S itu.


Kemudian terdengar isakan tangis yang terdengar dari samping tempat tidur yang Reyka kenakan. Tidak salah lagi, pasti mamih nya sedang menangis akibat ucapan sadis papih nya.


Mulai detik ini, Reyka akan mengibarkan bendera peperangan jika Papih menyakiti mamihnya lagi. Walaupun secara tidak langsung.


"mih jangan nangis" seru Reyka tiba-tiba berusaha duduk


Dengan sigap Sania berbalik dan menghalau air mata. Kemudian menghampiri Reyka, tidak lupa dengan senyuman yang terpampang. Seakan bahagia melihat Reyka sudah sadar.


"gimana masih ada yang sakit? Pusing? Mamih panggilin dokter ya"


Reyka menggeleng lagi mah, "gak papa mih. Reyka baik-baik saja. Cuman" mengerakan tangannya yang sudah terbalut perban, "cenat cenut ya tangan aku" ucapnya diakhiri tawa kecil. Tidak ingin membuat Sania khawatir.


"kamu buat mamih khawatir saja" Sania membelai raut polos Reyka, "lain kali kalau mau apa-apa langsung telepon mamih saja"


"iya mih maaf"


"ini juga kamu habis ngapain sih, tangan sampai melepuh kayak gitu. Bener-bener deh buat mamih khawatir aja"


"maaf ya mih, tadi Reyka pengen bikin teh hangat seperti yang mamih suka buat untuk Reyka dipagi hari. Tapi Reyka malah ketumpahan air panas hehe" tawanya kecil


"kenapa bisa ketumpahan? Bukannya mamih selalu sediain termos kecil di dapur?"


Termos berwarna abu-abu yang terletak dipantry paling pojok tertutupi bahan masakan lainnya. Tapi Sania ingat sekali, termos tersebut selalu terisi penuh. Jadi, jika ada yang tiba-tiba meminta kopi ataupun teh. Sania tidak perlu lagi masak air panas terlebih dahulu. Karena dispenser-nya baru saja rusak dan Seno belum sempat meminta pelayan untuk menggantinya.


"aku lihatnya habis"


"gak mungkin habis deh"

__ADS_1


"habis mih!" seru Reyka dengan cepat


"kalau memang habis, kenapa gak minta paman untuk membuat teh hangat. Bukan kamu sendiri yang malah buat. Kamu tuh masih kecil, jadi segala hal berbau dapur masih sangat berbahaya untuk kamu"


Paman yang Sania maksud yaitu para penjaga didepan rumah.


Reyka terdiam lalu meraih lengan Sania dan dipeluknya erat, "maafin Reyka mih. Gak lagi-lagi deh" ucapnya penuh janji


Reyka belum bilang saja. Dalam umur empat tahun saja, dia sudah dibiasakan masak mie instan. Karin dan Alex terlalu sibuk untuk mengurus diri sendiri sampai-sampai terus menelantarkan dirinya.


Fyi, ingatan Reyka cukup kuat untuk mengenang masa lalu. Reyka ingat bagaimana rona bahagianya saat ia diberi tahu bahwa esok hari akan diadakan acara ulang tahun-nya yang kedua.


Tidak bisa tidur semalaman, itu yang Reyka rasakan kala itu. Mengingat orang tuanya akan kumpul bersama dan menemani nya. Ternyata apa? Hal yang paling ditunggu-tunggu menjadi hal yang buruk bagi Reyka. Tidak ada yang datang sama sekali. Entah itu Alex ataupun Karin.


Reyka sendiri. Ditengah-tengah temannya yang datang bersama kedua orang tuanya. Tidak ada yang menemaninya. Yang Reyka ingat, sejak saat itu ia tidak berharap lebih pada. Kedua orang tuanya.


Hingga, Reyka dikejutkan akan pernikahan kedua orang tuanya. Orang tuanya akan bersama selamanya dengan ia. Uhhh, Reyka sangat bahagia kala itu. Hingga fikiran mengenai 'mengapa orang tuanya baru menikah setelah ada dirinya?' hinggap dikepalanha membuat Reyka tidak bisa tidur berhari-hari.


Sampai Reyka mengetahui sebuah kebenaran. Kalau dia lahir diluar pernikahan. Reyka memang belum paham kenapa hal itu dipandang sangat buruk oleh orang-orang. Tapi yang Reyka tahu, kedua orang tuanya telah menyakiti laki-laki yang kala itu menatap tajam dirinya di pernikahan kedua orang tuanya.


"eh enggak ko mih" Reyka tersenyum lalu berhambur dipelukan Sania, "Reyka sayang banget sama mamih"


Sania tersenyum sendu, "mamih juga sayang Reyka"


Pelukan antara dua orang berbeda usia itu tidak luput dari pandangan Seno dan Sean yang baru masuk. Sean semakin merengut dibuatnya. Seakan mamihnya dirampas oleh Reyka.


"mamih jahat!"


Pekikan Sean mengejutkan Sania. Sean yang terkenal kalem, kini seperti mengeluarkan sikap aslinya. Sania berbalik dan memandang lembut Sean.


"maksud kamu nak? Mamih gak ada maksud jahat sama kamu"


"mamih jahat! Mamih lebih sayang ka Leyka, dibanding Eyan. Eyan gak suka. Huaaaaa"


Ungkapan tiba-tiba Sean membuat Sania terpaku. Lengannya menjulur ingin menggendong Sean, tapi ditepisnya oleh Seno.

__ADS_1


"kau urus saja anak kesayanganmu itu"


"Reyka memang anak kesayanganku mas, tapi tak menutupi kalau Sean juga anak kesayanganku"


"tidak, kau lebih memperhatikan Reyka daripada Sean yang sejak kecil kau rawat. Ya mas tahu, keduanya memang bukan anak kandungmu. Tapi setidaknya kau harus adil diantara keduanya"


"kenapa rasanya Sania sangat bersalah disini. Sania hanya lebih memperhatikan Reyka karena Reyka sedang sakit saat ini. Anak itu lebih butuh perhatian ketimbang Sean mas"


"kau tidak paham" Seno mencengkram rahang perempuan itu, "kau tidak paham bagaimana sakitnya mas melihat Sean nangis hanya karena kamu lebih perhatian pada Reyka. Padahal kau tahu sendiri anak itulah yang membuat mas sakit hati berkepanjangan"


"oh Sania paham sekali. Sania sendiri ko yang menyaksikan bagaimana perjuangan mas melupakan Karin dan menyakiti hati Sania. Tapi disini Reyka tidak salah apa-apa. Yang salah orang tuanya bukan Reyka! Camkan itu" Sania menepis lengan Seno menyisakan ruam merah disekitar rahangnya


"kamu berani bentak mas, demi anak itu?!" Seno tersenyum sinis, "demi anak haram itu?"


Plak... Ucapan Seno sudah benar-benar keterlaluan. Sania tidak bisa diam saja, melihat Reyka yang mulai menutup telinga dan terisak kencang.


"mas jaga ucapan kamu! Mas menyakiti perasaan Reyka sama saja mas menyakiti perkataan Sania. Karena hati ibu dan anak akan selalu terhubung selamanya"


"kau tidak akan paham perasaan itu" Seno berdecih


Seno sangat benci melihat Sania yang berusaha sekuat tenaga untuk membela Reyka yang tidak ada hubungannya dengan Sania sama sekali ketimbang mempertahankan dirinya dan Sean.


"maksud mas?"


"kau tidak akan paham perasaan itu, sampai kau memiliki anak sendiri. Nyatanya keberadaan Reyka dan Sean ada karena Karin yang melahirkan. Bukan kamu! Jadi tidak dipungkiri kamu tidak memiliki perasaan yang tersambung antara ibu dan anak itu"


"oh iya ya mas, sampai saat ini Sania belum mampu melahirkan anak untuk mas. Padahal sudah satu tahun ya kita menikah" ujar Sania tenang


Berbeda dengan hatinya yang sudah hancur lembur mendengar pernyataan Seno.


"bu-- bukan gitu maksud mas" sahut Seno setelah sekian lama terdiam, baru sadar perkataan nya menyakiti hati Sania


Tapi ego-nya seakan ingin membiarkan begitu saja. Tidak ingin meminta maaf pada Sania.


"sudahlah mas, seharusnya aku yang minta maaf karena belum memberikan kamu anak sampai saat ini" jawabnya dengan senyuman indah tersampir diwajahnya, "nyatanya memang mba Karin yang sempurna menurut kamu"

__ADS_1


Setelah itu, Sania memilih berlari keluar kamar. Mengeluarkan semua uneg-uneg yang tiba-tiba menghantam dirinya begitu saja.


__ADS_2