Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 33


__ADS_3

Happy Reading ~~~


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan🙏, bagaimana sahur pertama nya??


****


Aaaaaaa mas Senoooo


Seno yang masih menahan kantuk seketika langsung terbangun. Perasaan nya tiba-tiba menjadi tidak enak. Dengan perlahan ia mengambil senjata yang tersimpan rapi di brankas.


Sudah sejak lama ia menyimpan senjata kecil namun mematikan itu didalam rumahnya. Tenang saja, Seno sudah mendapat izin dari pihak kepolisian. Seno juga berjanji akan memakai senjata tersebut saat hal-hal genting saja.


Ia mengendap kearah pintu kamar. Tidak terdengar lagi teriakan Sania membuat Seno semakin panik dibuatnya. Ia menyembunyikan salah satu lengan yang membawa pistol dibelakang tubuhnya.


"berhenti dan angkat tangan!!!" suara tegas Seno menggelegar


Benar saja dugaan laki-laki itu. Pencuri lagi dan lagi.


Dua tahun yang lalu rumah ini pernah kemalingan hampir lima kali. Karin yang tidak menginginkan adanya penjaga dirumah ini membuat pihak pencuri kembali lagi dan lagi mencuri dengan santainya, alasan nya hanya karena membuatnya sedikit ribet? Entah apa yang perempuan itu maksud Seno juga kurang paham.


Intinya sejak kejadian pencurian selama lima kali itu dan sampai menghabiskan seperempat hartanya, pemcurinya hilang begitu saja tanpa jejak. Seno juga tidak repot-repot mengusutnya. Tentu saja karena Karin yang memintanya.


Ternyata malam ini pencuri itu datang kembali. Yaps Pencuri.


Kedua pencuri yang sedang menarik paksa Sania langsung mengangkat tangan. Sania yang sudah di ujung tangga tanpa sadar terdorong begitu saja.


"Sania!!!!!" Seno berlari, tapi naas perempuan yang sejak tadi sudah tertutup mata dan mulutnya kini terbaring tak sadarkan diri diruang antara lantai bawah dan lantai atas


Seno mengangkat pistol kearah pencuri itu, "kalau kalian sampai berjalan satu langkah saja, saya tidak akan segan-segan menembak kalian sekarang juga?!!! Diam disitu"


Kedua pencuri itu diam tidak dapat berkutik. Seno dapat memperkirakan kedua pencuri itu masih sangat muda. Mungkin mereka mencuri hanya karena modal nekat, lihat saja dari badannya yang sangat kecil untuk dikatakan seorang laki-laki.


Dalam satu pukulan saja, Seno yakin mereka akan langsung dibuat KO.

__ADS_1


Seno berlarian menuju ujung tangga, digendong nya Sania begitu saja dan dibawa nya masuk kedalam kamar melewati kedua pencuri yang sudah sangat gemetar.


Mereka sudah masuk kedalam rumah yang salah!


"kalau sampai istriku kenapa-napa, Saya tidak akan segan-segan membunuh kalian!!"


Sania mendesah, dipegang keningnya yang sangat sakit itu. Untung saja Sania sigap menyelamatkan kepalanya dari benturan. Jadi hanya badannya saja yang sedikit berkorban pontang-panting turun kebawah. Dan Sania sangat bersyukur dengan adanya sedikit ruang antara lantai bawah dan lantai dua membuatnya tidak langsung terjun bebas ke bawah.


"sstttt San, maafin massss" Suara tegas diluar sana langsung berubah saat berhadapan langsung dengan tubuh lemas Sania


Ia merasa bersalah, karena menyuruh Sania untuk keluar terlebih dahulu melihat keadaan. Padahal disini ia kepala keluarga-nya, seharusnya ia lebih berani!


Ia menarik Sania dalam pelukan nya. Sania mendorong lemah.


"kamu urus kedua pencuri itu dulu saja" sahutnya dengan lemah


"tapi mas khawatir sama kamu"


Sania menggulung dirinya dengan selimut, "pergi mas!"


...~§~...


Kedatangan John -sekretaris Seno- memecahkan keheningan diantara kedua pasangan itu. Sementara kedua pencuri langsung diringkus oleh polisi yang dibawa John.


Tanpa perlawanan, mereka langsung dibawa begitu saja oleh polisi berbadan besar.


Kini Seno bersama dengan John mengikuti mobil polisi dari belakang. Seno tidak habis fikir, kekhawatiran nya pada Sania malah dibalas ketus oleh perempuan itu.


Sesalah itukah dia meminta Sania untuk keluar dari awal? Mengapa perempuan itu jadi ketus padanya?


Arghhhh. Seno meremas rambutnya frustasi. Baru pertama kali ia merasa dicuekin oleh Sania. Sebelumnya, walaupun mereka sedang tidak tegur sapa tapi jika Seno berbicara Sania pasti akan tetap menanggapi nya dengan lembut.


Baru kali ini ia menerima ketusan dari perkataan Sania.

__ADS_1


Menghabiskan waktu berkecamuk dengan fikiran nya sendiri membuat Seno tidak sadar mereka sudah sejak tadi sampai dikantor polisi. Bahkan Seno tidak tahu kapan John keluar mendului dirinya.


Dan satu lagi! Laki-laki itu baru sadar, ia kekantor polisi masih lengkap menggunakan piama hitam nya. Oh my good! Betapa malu dirinya. Bagaimana wibawa nya selama ini dihadapan John?!


Ia sedikit berdeham untuk menetralisir rasa gugup-nya saat John mendekati dirinya dengan tampang datar.


"tuan, pihak kepolisian ingin berbicara dengan anda" ucapnya tegas


Seno mengangguk lalu berjalan melewati John begitu saja.


"dengan tuan Seno? Rumah yang menjadi bahan pencurian oleh dua pemuda" Seno mengangguk


"selamat malam pak. Kami sudah mendapat keterangan dari pihak pelaku, menurut mereka. Mereka hanya seorang pemuda yang masih dalam status pelajar dan melakukan pencurian hanya bermodalan nekat karena melihat postingan Facebook seseorang yang memperlihatkan banyak nya barang berharga dirumah anda"


"postingan Facebook?" tanya Seno dengan sangat bingung


Jangankan Facebook, media sosial yang sedang digandrungi saat ini seperti 'instagram' saja, laki-laki itu tidak punya. Ia hanya memegang akun instagram atas menamakan perusahaan nya, itupun John yang memegang kendali bukan ia.


"benar sekali pak. Saya sangat menyayangkan hal seperti ini. Hanya karena postingan dapat membuat pihak yang melihat nya merasa iri dan dapat menimbulkan kejadian seperti ini. Jadi, saya sangat minta tolong untuk tidak mengumbar harta kemedia sosial. Untung saja kali ini mereka hanya modal nekat, tapi bagaimana lain kali jika ada yang datang seraya membawa senjata? Keluarga bapak juga kan yang akan dirugikan"


"bentar deh bentar" sahut Seno, "saya masih bingung? Postingan Facebook apa? Saya tidak memiliki akan media sosial sama sekali!"


John yang berada di belakang Seno langsung mengangguk, "benar sekali pak, tuan saya sama sekali tidak memiliki akun media sosial" jawab John


Polisi yang sedang meng-interogasi pun jadi terlihat bingung. Lalu ia mengeluarkan barang bukti yaitu ponsel dari salah satu pelaku, "pihak pelaku sendiri yang bilang, dan ini akun media sosial yang dimaksud" Ucap polisi itu dengan menunjukkan Facebook dan berbagai macam fotonya


Tangan nya terkepal kuat. Foto Sumi dan Andi didepan barang langka-nya sudah menjadi bukti pelaku yang sebenarnya. Pelaku yang memancing pihak-pihak yang sedang membutuhkan uang.


Seno berdiri dan menjabat tangan polisi, "sebelumnya saya berterima kasih atas perhatiannya. Dan untuk pelaku saya harap, bapak bisa hukum dengan seadil-adilnya"


Polisi itu menangangguk, tak ayal bingung. Biasanya pihak korban akan selalu meminta bertemu dengan pelaku dan memukul nya tanpa ampun.


Belum berbicara, Seno diikuti John sudah berjalan meninggalkan kantor polisi dengan amarah yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Tidak akan kubiarkan kali ini!


__ADS_2