Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 31


__ADS_3

Happy Reading ~~


Sania yang sejak tadi tersenyum bahkan tertawa didalam mobil seketika langsung memasang wajah datarnya saat melihat orang yang dikenalnya berada didepan rumah Seno sembari berfoto-foto ria.


Oh my good, Sania benar-benar malu dibuatnya. Walaupun ia berasal dari kampung, tapi saat sampai dikota besar ia tidak pernah melakukan perbuatan yang menurutnya sangat memalukan seperti itu.


Sania menoleh pada Seno yang sudah mengeras kan rahangnya. Perempuan itu sampai lupa keberadaan orang tua-nya selama ini.


Ya orang yang sedari tadi dimaksud adalah orang tua Sania, Sumi dan Andi. Lihat saja kedua orang tua tersebut langsung berdadah-dadah ria saat meouhat kedatangan mobil Seno.


Sania sampai lupa tentang orang tuanya.


Padahal kalau difikir-fikir, orang tuanya tidak mungkin lepas tangan begitu saja saat mendengar kabar yang tidak mengenakan dari adiknya, Santy. Tetapi Sania juga tidak berfikir Sumi dan Andi akan datang seperti ini.


Ditambah kedua orang tua itu membawa tas yang begitu besar lagi. Sania jadi geleng-geleng dibuatnya. Entah apa yang akan dilakukan mereka beberapa jam kemudian dirumah ini.


"mas maaf" cicitnya


Seno tidak menjawab ia langsung keluar mobil dam tersenyum paksa pada Sumi dan Andi yang sudah menghampirinya. Sania langsung keluar, tidak lupa setelah melepas sabuk pada kursi khusus milik Sean.


Dilepasnya Sean begitu saja, membuat anak itu berlarian . Sania dan Seno tidak perlu risau lagi dengan anak itu. Sean sudah cukup bisa berlarian walaupun terkadang masih suka terjatuh.


"menantu ku sayang, akhirnya kamu datang juga. Ibu sudah capai berdiri disini sejak tadi" Ucap Sumi berlebihan


Sania memutar matanya, jengah. Benar kan setelah berbulan-bulan tidak bertemu dengan Sania, mereka sama sekali tidak rindu padanya. Lihat saja dari kedua orang tuanya yang langsung menyerbu Seno daripada dia yang notabene nya anak sendiri.


"untuk apa ibu datang kesini?" tanya Sania seraya menyalimi kedua orang tuanya


"ya kami rindu dengan menantu kami dong" jawab Andi

__ADS_1


Mereka semua mengikuti Seno yang memasuki kedalam rumah. Tentu saja hal itu disambut bahagia oleh Sumi dan Andi. Mereka membiarkan tas besar mereka ditinggal begitu saja.


Dengan sigap Sania membawa tas berat tersebut. Entah ada barang apa saja didalam tas tersebut. Yang Sania tahu, tas ini sangat berat. Lebih berat dari karung yang dulu sering ia bawa saat bekerja paruh waktu.


Sumi dan Andi memandang kagum seluruh ruangan setelah Seno berpamit ingin istirahat. Mereka langsung mengeluarkan ponsel dan mengabadikan berbagai momen didalam rumah untuk dibagikan nya kemedia sosial. Terutama Facebook.


Tidak hanya foto mereka saja. Sumi dan Andi juga memasukkan beberapa foto terkait kekayaan Seno. Seperti guci yang terpasang, lemari khusus menyimpan barang langka dan masih banyak lagi.


"ibu sama ayah apa kabarnya? Santy gimana?" ucap Sania sedikit kencang karena sedang berada didapur, agak jauh dari ruang tamu


Sumi menghampiri asal suara. "wow dapurnya saja sangat bagus ya, beda sekali dengan dirumah. Kenapa sih suami kamu membatalkan merenovasi rumah kami. Kalau tahu gitu, lebih baik kamu menikah dengan juragan beras dikampung"


"mas Seno sudah sangat baik ya bu. Masih memberikan uang bulanan pada ayah dan ibu. Lagian, tanya keanak kesayangan ibu kenapa nekat nyuri perhiasan dirumah ini" sahut Sania seraya menyodorkan juice jambu


"uang lima juta sebulan cukup untuk apa. Perjanjian nya kan Seno akan memberikan ibu dan bapak Sepuluh juta, tiap bulannya. Kenapa jadi hanya setengah dari perjanjian saja"


"jangan salahkan Santy dong, salahkan suami kamu yang terlalu pelit. Masa hanya karena sebuah perhiasan dia sampai seperti itu. Tidak tahu saja Santy selalu mengutuk keluargamu dikampung"


"kenapa jadi dia yang marah?! Kan Santy yang salah" Seru Sania


"suamimu saja yang terlalu pelit" Andi tiba-tiba datang


"jadi kedatangan ibu sama bapak kesini tuh untuk apa?" tanya Sania sekali lagi


"untuk merasakan tinggal dirumah sebesar ini dong" jawab Sumi, "sekalian ingin menagih janji suami kamu itu"


"hanya itu? Ibu bukan datang karena rindu padaku?" tanya Sania dengan suara sangat pelan


"tidak! Untuk apa ibu rindu pada anak nakal seperti kamu. Anak yang tidak tahu diri dan tidak pernah membantu ibu dan ayahmu" jawab Sumi disetujui oleh Andi

__ADS_1


Sania meremas tangannya dibawah meja, 'anak yang ibu bilang tidak tahu diri ini, anak yang sama yang sudah membantu ibu dan ayah mencari uang untuk membiayai kehidupan sejak SMP'


"untuk urusan itu, Sania tidak ingin ikut campur. Kalau ibu sama bapak mau tagih janji pada Mas Seno, bicara saja sendiri. Sania tidak mau membantu ibu dan bapak"


...~§~...


"kau tidur disini ya" Ucap Seno seraya menepuk-nepuk kasur disamping nya


Selama Sania dan Kedua orang tuanya berbincang dibawah, ternyata Seno memindahkan sebagian barang Sania dikamarnya. Ia tidak mau citra nya menjadi buruk hanya karena Sumi dan Andi menemukan mereka tidur secara berpisah.


"mas maafkan kedatangan kedua orang tuamu yang tiba-tiba ya. Sania sama sekali tidak tahu mengenai kedatangan mereka"


"iya tidak apa-apa. Lebih baik kita turun sekarang dan kamu segera siapkan makan malam"


"baik mas"


Sania turun terlebih dahulu dan langsung menyiapkan makan malam. Perempuan itu memilih untuk membuat mie ayam malam ini.


"mii, ayah mana? Eyan lindu ayah" tanya Sean tiba-tiba setelah bosan dengan tontonan ditablet nya


"ayah masih diatas, Sean disini dulu aja ya. Bantuin mami masak" dengan enggan Sean mengangguk


Beberapa menit kemudian, semua orang sudah tiba di meja makan. Dengan sigap Sania langsung menyiapkan semuanya dimangkuk.


"ternyata makanan di kota dan dikampung tidak jauh beda, sama-sama mie ayam" ujar Andi, "memangnya tidak ada yang lain"


"Saya yang meminta Sania untuk memasak mie ayam. Ada yang salah?" bela Seno tiba-tiba


Sumi dan Andi langsung menggeleng dan memakan nya tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Seketika ruang makan langsung hening dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2