
Happy Reading :)
"ah sudahlah, kini mas sudah menikah dengan kamu. Mas harus coba untuk memulai semuanya dari awal. Oh iya, lusa pernikahan Karin. Kamu datang ya dengan mas?"
"memangnya boleh?" tanya Sania hati-hati lalu Sania mengendikkan bahu, "eh tapi terserah mas saja"
"kamu istriku saat ini, siapa yang tidak memperbolehkan nya?"
Hilir angin menyapu rambut panjang Sania. Hawa dingin menyapu seleruh tubuh Sania. Perempuan itu memilih diam atas permintaan Seno, toh memangnya dia bisa menolak?
"kenapa kamu diam?"
"tidak. Hanya saja..." Sania tiba-tiba terdiam. Mata minusnya memaksa mencari keberadaan Sean yang sudah tak terlihat lagi dari jangkauan-nya.
"kau mencari siapa?"
"Sean, anakmu" Sania menghela nafas lega, saat Sean kembali berlari kearahnya. Lengan mungilnya melambai-lambai pada Seno dan Sania
Belum membalas lambaian Sean, anak laki-laki itu terjatuh. Sontak Sania bangkit tapi ditahan oleh Seno.
"kenapa? Aku ingin menolong anakmu"
Gelengan demi Gelengan didapati perempuan itu, "jangan, Sean anak laki-laki. Anak laki-laki harus kuat. Jangan terus membantunya, biarkan dia bangkit sendiri. Aku tidak ingin anakku menjadi anak yang lemah, karena terus dibimbing dari belakang"
Perempuan itu berdeham kecil. Ucapan 'anakku' dari mulut laki-laki itu, membuatnya sadar akan posisinya saat ini.
Tak ada yang menolong membuat Sean berdiri lagi lalu berlari kearah Sania dengan isak tangis yang ditahan.
"miiii, eyan jatuh" adu Sean dengan pipi dikembungkan, "atittt, nihh lliyatt" Ucap Sean dengan menunjuk lututnya yang penuh dengan pasir
Seno terkekeh, ia menepuk punggung anak kecil itu, "jangan cengeng ah. Nanti ayah marah, sudah sana main lagi. Nanti malam ayah beliin ice cream deh"
Binar mata pada Sean langsung terlihat dan menampakkan bahwa anak itu sedang bahagia, "yeayyyy! Eccleam Eccleam....."
__ADS_1
...~§~...
Matahari mulai perlahan turun meninggalkan kegelapan yang ada. Hawa dingin langsung menerpa lingkungan disekitar pantai.
Sania sudah mengenakan dua lapis pakaian, tapi tubuhnya tidak kunjung hangat juga. Padahal perempuan itu masih berada didalam rumah, dengan semua pintu sudah tertutup rapat. Ia memeluk Sean yang sedang berceloteh ria dengan erat, untuk meghalau sedikit dinginnya.
Rasa hangat mulai terasa, tetapi tetap saja bagi perempuan itu malam ini terasa sangat dingin. Ditimbah petir mulai saling bersahutan terdengar.
Grep...
Tubuh perempuan itu direngkuh seseorang dsri belakang, seketika tubuhnya langsung terasa hangat. Damai. Berbanding terbalik dengan keadaan jantungnya yang terus berdetak kencang. Omg!
"mas, lepas" Ucap Sania dengan pelan
"kamu kedinginan kan? Alternatif yang paling ampuh tuh ya gini badan ketemu badan" jawab Seno, "eh sebenarnya yang bagus tuh kulit ketemu kulit. Tapi kalau ada sikucil (Sean) ditengah kita, gak mungkin kan kita langsung lakuin"
"apaan sih mas"
"merah cie, maluuu" ejek Seno
"awalnya, mas ingin mengajak kamu untuk makan malam romantis bertiga ditepi pantai. Tapi angan tinggalah angan, sekarang malah turun hujan gede. Habis sudah semuanya, jadi kita ganti saja makan malam bersama disini. Gimana?"
"ya Sania ikut saja, lagi pula ini semua mas yang rencanakan. Jadi, Sania gak ada hak untuk mengatur mas Seno"
Seno bersidekap, "jangan gitu ah! Kamu istri mas" ucapnya seraya menguyel pipi perempuan itu
"hihihi, embem kaya Eyan" serempak kedua orang tua itu menoleh pada anak kecil yang sudah duduk di kursi makan bayi dan menguyel pipi tembamnya mengikuti gerakan Seno pada Sania
"duh San, sepertinya kita harus cari tempat sepi untuk bermesraan. Tanpa Sean tentunya!" tegas Seno dengan tatapan kilat penuh keyakinan
"memangnya mau makan apa mas?" Ucap Sania mengalihkan.
Bahan makan dalam kulkas tidak terlalu banyak, hanya terdapat berbagai macam sayuran dan ayam saja
__ADS_1
Seno memperhatikan pantry sejenak, "gimana masak sayur kangkung sama ayam goreng. Simple dan mudah kan? Lagi pula, sudah lama mas tidak makan masakan rumahan"
"setujuuuuu"
Sania mulai mengeluarkan beberapa bahan yang ditubuhkan untuk masak makanan malam ini.
"mas, bantuin Sania potongin kangkung nya dong. Sania mau cuci ulang ayam nya dulu"
"siap nyonya Seno!"
Sania terkikik, ada-ada saja kelakuan suaminya.
Suami? Bolehkah Sania memanggil Seno sebagai suaminya. Bukan suami yang hanya tertanda dalam kertas, tapi juga suami yang siap menghantarkan-nya dan membimbingnya selama ia masih hidup.
Belum sebulan mereka menikah, Sania sudah dibuat nyaman dengan kehadiran Seno. Sania merasa kini kebahagiaan dirinya ada pada laki-laki itu.
Bolehkan kali ini perempuan itu memilih egois dan mempertahankan Seno dari perempuan manapun termasuk adiknya yang terus menerus berperan seperti menggoda Seno? Atau ingin mengambil alih pandangan Seno, yang hanya tertuju pada Karin untuk beralih pada dirinya?
Bolehkan?
"jangan bengong! Nanti ayam nya gosong"
Perempuan itu meremang sesaat Seno yang berbicara tepat ditengkuknya. Seno memeluk perempuan didekapannya yang masih mengenakan celemek. Rasa nyaman kembali dirasakan seorang Seno.
Bolehkah kali ini ia mengharapkan Sania sebagai tempat sandaran hidupnya untuk kali terakhir? Tapi, apakah perempuan itu sama juga menyukai dirinya? Atau, kembali lagi hanya seorang Seno yang mencintai orang lain tanpa terbalaskan perasaan nya lagi.
"sekarang giliran mas yang bengong" sungut Sania. Pasalnya laki-laki itu masih menemplok dibelakang tubuh mungil Sania
"ah tidak-tidak" Seno kembali merengkuh erat dan mengecup pipi Sania sebelum melepaskan pelukan itu
Perbuatan mereka tak luput dari perhatian anak kecil yang tertawa-tawa kecil. Mereka lupa akan keberadaan Sean!
"sudah mas, makan malam dulu. Sehabis itu istirahat, besok kita pulang pagi-pagi sekali"
__ADS_1
"iya sayangkuuuu" Sania kembali tersenyum dibuatnya.
Semoga pernikahan ini selamanya bahagia....