Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 93


__ADS_3

"persiapan-nya sudah sampai mana nak?" tanya Andi, melihat beberapa barang yang menumpuk diteras rumah


"sudah hampir seratus persen" jawab Sania lalu mengendikkan bahu, "katanya sih gitu"


"katanya? Kamu gak ikut urus acara kamu sendiri?" Andi sedikit heran dengan pola fikir Sania


Biasanya jika ada suatu acara, pasti pemilik acara akan disibukkan h-1 sebelum acara dimulai. Tapi lihat saja, semenjak Andi datang. Tidak ada tanda-tanda anaknya sibuk ini itu.


Sania menggeleng," aku gak ngerti masalah gituan. Jadi, cuma mas Seno doang yang urus" jelas Sania


Andi mengangguk paham


"ka acara-nya besok ya?" Santy tiba-tiba datang dan memangku wajah diatas tumpuan sofa, memasang wajah imut


"iya, kenapa?"


"Santy belum ada baju sama sekali" Santy memasang wajah -puppy eyes, lalu merengut, "lagian katanya luas dijemput, kenapa tiba-tiba orang suruhan mas Seno datang. Kan Santy belum sempet beli ini itu"


"mas Seno?" Sania memicing kesal


"maksud Santy bang Seno" ralat Santy, memasang wajah tanpa rasa bersalah, "oh iya, masalah baju gimana?" rengek Santy lagi


"oh iya, kakak anter kamu ke ruang ganti. Nanti biar kamu pilih sendiri baju yang kamu mau" Sania beranjak, "ibu sama bapak tenang saja, pokoknya urusan pakaian kalian sudah beres"


"terima kasih nak, maaf merepotkan kamu"


"gak ada yang repot"


Sania mengajak Santy memasuki kamar utama, yang memang keberadaan ruang ganti ada didalam kamar utama. Didalam sana Alex dan Seno masing-masing sedang memangku laptop, membahas kerjaan. Dan anak-anak sedang bermain diatas kasur.


"hai tanteee" seru Sena tidak semangat, ia terlalu mengantuk untuk berbicara


"hai juga cantik"


"oh iya Santy, kenalkan yang didepan mas Seno itu ayah kandungnya Reyka, mas Alex"


Santy menunduk dengan wajah berbinar. Melihat wajah tampan kedua laki-laki didepan-nya.


Jika dibandingkan dengan mantan suaminya, Kamal tidak ada apa-apanya dengan kedua pria dihadapan-nya. Kamal tidak ada apa-apa nya dengan mereka.


"San?" panggil Sania, melihat Santy yang menatap malu-malu pada kedua pria yang kini sudah memutar mata, jengah


"eh iya salam kenal mas Alex" Ucap Santy di lembut-lembutin

__ADS_1


Alex hampir saja muntah jika tidak ingat masih ada Sania didalam ruangan yang sama, "ya... Salam kenal juga"


Santy memajukan mulutnya, mendapat respon dingin dari laki-laki itu. Kemudian dengan sedikit menghentak-hentakan kaki, Santy beranjak mengikuti Sania.


"mas, kau izin kasih satu setel baju untuk Santy dipakai besok ya" Sania muncul dari balik pintu lalu Seno mengangkat jempol begitu saja


"sekarang tinggal kamu pilih baju yang kamu pengen untuk dipakai besok. Dress code warna abu-abu, jadi terserah kamu mau baju yang mana" Sania mempersilahkan Santy untuk melihat-lihat sejenak ruang ganti yang didominasi pakaian milik Sania


Santy mengangguk antusias, "makasih banyak ka"


Sania langsung memperhatikan dari sudut ke sudut lemari begitu Sania keluar. Santy tersenyum bahagia, ia memilah-milah baju. Begitu mendapat yang bagus diambil dan dicocokan dengan tubuhnya. Jika kurang pas ia akan mengembalikan dan mencari kembali. Begitu saja berulang kali.


Hingga...


Santy keluar dengan pakaian yang sudah terganti. Pakaian berwarna abu-abu dengan corak floral.


"bagaimana ka bagus?" Santy berputar-putar didepan ruang ganti, sembari sedikit bergaya


"ba-- bagus ko" jawab Sania terbata-bata


Sebenarnya Sania ingin dibuat tertawa dengan gaya Santy yang terkesan berlebihan. Dress milik Karin itu dipadu padan dengan pakaian lainnya hingga membuat kesan 'norak' bagi yang melihatnya.


Tapi Sania diam saja, mungkin gaya pakaian yang disukai Santy sedikit berbeda dengan gaya pakaian Sania yang lebih menyukai kesan polos.


"bagus kan ka! Gak sia-sia Santy milih lama didalam sana"


"buahhaahahh... Ehemm" Alex menghentikan tawa dan berdeham begitu Sania memandang tajam, "keren!"


"kalau menurut kakak ipar gimana?" tanya santy


"ya bagus" singkatnya tanpa menoleh


"tuh kan pilihan Santy memang yang paling keren deh" pekik Santy dan berusaha menetralkan detak jantung yang mulai tak keruan semenjak berada didekat Alex dan Seno


"ya sudah, kamu bawa baju itu kekamar kamu. Masih inget kan kamar yang waktu itu" perintah Sania


Santy mengangguk mantap, "ya udah, santy mau kekamar dulu" pamit Santy lalu melambaikan tangan sebelum keluar kamar


"itu adik kamu, san?" tanya Alex begitu Santy keluar


"iya kenapa?" heran Sania seraya membenarkan posisi anak-anak yang sudah pada tertidur


Alex terkikik sebelum menggeleng, "gak, gak papa"

__ADS_1


Sania ber-oh ria kemudian meninggalkan kamar untuk menyiapkan makan siang.


Selepas Sania pergi Alex tertawa keras melupakan keberadaan anaknya yang mungkin saja terganggu, "gila.. Gila... Adik ipar lu bener-bener deh"


Seno bergidik, "ya gitu deh"


"gaya-nya itu loh" Alex puas tertawa hingga keluar air mata disudut netranya


"sudah! Nanti kalau terdengar yang lain malah jadi masalah" Ucap Seno walaupun sebenarnya setuju dengan perkataan Alex


...~§~...


"nanti selepas makan siang mas sama Alex akan kembali kekantor ya" Ucap Seno, lalu menerima makanan yang sudah disiapkan oleh Sania


Sania mengangguk mengerti. Tidak mempermasalahkan kesibukan Seno. Ia sudah jelas, bahwa Seno tidak tentu waktu untuk mendatangi kantornya. Terkadang pagi-pagi buta saja, Seno bisa mendatangi kantor jika ada hal yang genting.


"mas, gimana kalau aku kerja dikantor mas Seno aja" tanya Santy penuh harap


"sebelumnya maaf sekali panggilan 'mas' hanya boleh digunakan oleh istri saya. Terserah kamu memanggil saya dengan sebutan apa, asal jangan dengan kata itu. Saya muak mendengarnya" sindir Seno


"mas" Sania memegang lengan Seno, agar tidak terlalu keras pada santy tapi Seno terlihat tidak perduli


Santy menyegarkan dahaga yang tiba-tiba kering, "eh maaf. Oh iya, bagaimana kalau aku kerja ditempat abang Seno?" tanya Sania lagi


"maaf sebelumnya, untuk lulus sma saja kamu tidak bisa. Saya mengingat sendiri bagaimana kamu menyingkirkan pendidikan demi menikah dengan mantan suami kamu kala itu. Kalau seperti itu sepertinya cukup sulit untuk kerja diperusahan saya"


Santy hampir saja memekik kalau tidak ingat saat ini ia sedang jaga image, "tapi kan abang bisa bantu Santy. Setidaknya jadi sekretaris abang"


Alex menyela, "mohon maaf sebelumnya, bukan saya menyepelekan lulusan sma. Hanya saja untuk menjadi seorang sekretaris perusahaan Seno harus menerima setidaknya lulusan s2. Perusahaan bukan tempatnya main-main"


Alex memandang kesal pada Santy. Jujur saja melihat Santy, Alex seperti melihat wajah-wajah Karin didalamnya.


Picik.


"tapi kan---


"sudah dengar kan apa kata Alex? Dia salah satu asisten saya. Dan ingat perusahaan saya bukan perusahaan yang bisa kamu anggap main-main. Perusahaan saya cukup bergengsi dan menerima pekerja yang benar-benar serius bukan main-main seperti kamu"


Santy semakin cemberut, "aku gak main-main ko!"


"oh iya sen, perusahaan kekurangan office girl. Gimana kalau adik ipar lu gue tempatin disitu" canda Alex


Santy langsung menggeleng, "enggak! Lebih baik aku jaga toko dirumah daripada harus jadi office girl. Cape" keluhnya yang memang sudah pernah merasakan kerjaan tersebut

__ADS_1


"ya sudah kalau tidak mau" Alex mengendikkan bahu lalu tertawa diam-diam


"huh!"


__ADS_2