Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 77


__ADS_3

"sempurna!"


Daffa meng-smirk setelah Sania keluar dari ruangan ganti di butik milik almarhum istrinya yang sudah mengenakan setelan yang Daffa pilihkan.


"jangan ragukan kemampuan seorang Daffa. Benar kan, orang berhijab juga punya style kantor sekeren ini. Kamu sih selalu meragukan saya" sengak Daffa dan beranjak dari tempat duduk. Waktunya sudah mepet dengan pertemuan dengan rekan bisnis-nya.


"iya deh, Sania setuju. Istrinya aja seorang desainer" jawab Sania tidak sadar sembari netranya terus tertuju pada kaca besar yang menampilkan pakaian kasual-nya


Ternyata aku cantik juga ya?


Sania tertawa sendiri mendengar gumaman-nya lalu menoleh pada Daffa yang tidak terdengar suaranya sejak tadi sejak ucapan-nya tentang istri tuan Daffa.


Apa istrinya! Sania menoleh perlahan, penuh ketakutan


"benar, saya paham style karena selalu lihat istri saya yang selalu memadu padan pakaian" Ucap Daffa dengan nada suara berbeda sedikit melemah dibanding sebelumnya


Shit! Sania rasa ia sudah salah mengatakan mending istri dihadapan tuan-nya. Ia menoleh takut-takut dan mengusap tengkuknya yang terlapisi hijab.


"maaf tuan, saya tidak sengaja"


"hahaha tidak apa-apa, hanya sedikit flashback saja. Ya sudah kita berangkat sekarang"


"siap tuan!"


Daffa dan Sania menghampiri anak-anak yang sejak tadi memilih menunggu didalam mobil yang sudah di desain dengan banyak mainan.


"wihhh, mamih cantik banget" puji Reyka begitu Sania memasuki mobil dan memasang seat bealt


"siapa dulu dong yang milih baju" Daffa mengangkat kedua bahu seakan menyombongkan diri pada anak-anak yang menatapnya kagum


"ck.. Ck... Paman memang keren bingits" seru Reyka.


Reyka kembali berdiri dan melipir duduk dipangkuan Daffa. Reyka sudah menjadikan Daffa sebagai --role model anak itu. Sementara Sena, Sean dan Danty sedang asyik dengan dunia-nya.


Daffa semakin menyombongkan diri ditambah dengan Reyka yang sudah terkikik dipangkuan laki-laki itu.


"paman yang terbaik" Reyka mengacungkan jempol


...~§~...


"kalian tunggu disini ya. Jangan kemana-mana" Ucap Daffa berulang kali


"iya Daddy! Danty dak kemana-mana. Kan ada ka Leyka" Daffa memang tidak pernah menyediakan jasa pengasuh untuk menghidupi Danty.


Menurutnya, sangat tidak efektif membiarkan tumbuh tanpa didampingi kedua orang tua. Jika memang ada yang sangat genting, mau tidak mau Daffa meminta Sania untuk menjaga anak semata wayangnya. Selain Sania, laki-laki itu tidak mau anaknya dirawat oleh orang lain.


"pokoknya gak ada yang boleh keluar pintu. Kalian harus nurut sama Reyka. Kalau mau makan atau minum ada di-tas kalian" ingat Daffa sekali lagi


Sania memutar bola mata jengah. Ruangan yang didesain lengkap dengan mainan anak-anak mana mungkin membuat anak-anak pada bosan. Daripada memilih keluar, sudah dipastikan siapapun lebih menyukai ruangan ini.

__ADS_1


Sebenarnya sejak tadi masuk perusahaan yang luasnya lebih besar dari perusahaan Seno kala itu, Sania dibuat berdecak kagum dengan desain yang tidak biasa.


Warna krem berpadu dengan putih sangat kontras dengan tanaman yang selalu ditemui dipenjuru ruangan. Seperti perusahaan ini mengusul konsep --go green--. Sania jadi semakin senang dibuatnya.


Penempatan barang ataupun pot-pot kecil tak ayal membuat Sania betah berada ditempat itu. Besarnya satu ruangan --seperti ruangan milik Daffa-- bisa mencapai besar rumah Sania yang kini ia tempati. Malah lebih besar, mungkin.


Intinya yang Sania paham, suaminya ralat --Seno-- memang sangat kaya. Tapi Daffa jauh lebih kaya dari Seno.


Senangnya jadi orang kaya.


"siap Sania?" Daffa mengejutkan Sania yang masih terpana akan ruangan


Sania mengangguk kaku dan mengeratkan genggaman-nya pada map. Ini pertama kali perempuan itu berada dilingkungan seperti ini.


Bekerja dalam perusahaan dan langsung menemui yang katanya orang penting ini. Sania hanya takut ia akan bertindak tidak wajar dan malah mengacaukan pekerjaan Daffa.


"tuan, Sania takut" cicit Sania berulang kali


Daffa menepuk kepala perempuan itu untuk menenangkan-nya. Perbedaan usia yang cukup jauh, yakni 7 tahun. Membuat Daffa selalu beranggapan bahwa Sania adalah putrinya.


"katanya mau hidup berubah. Masa cuma ketemu client aja tremornya berlebihan gini"


"ih bukannya gitu. Tapi kan, ini pertama kali Sania bekerja dilingkup perusahaan seperti ini"


"iya-iya saya mengerti. Anggap saja saat ini kamu bekerja sebagai asisten saya dan tugasnya cukup menjawab seperlunya juga menyatat pembicaraan penting saya dan client nanti.


" tapi kan ini pengalaman pertama Sania? Kalau-kalau malah mengacaukan semuanya gimana?"


Sania mengangguk membenarkan perkataan Daffa.


"memangnya asisten tuan kemana?" seperti halnya Seno, sudah dipastikan pengusaha besar Daffa pasti memiliki seorang asisten yang akan menuruti segala hal, bukan?


"minta resign? Biasa mau nikah, malah milih resign. Mau gak mau saya mesti cari orang lagi walaupun sampai sekarang belum dapat yang pas sama sekali"


Daffa berdeham, "hari ini saya akan lihat performa kamu. Kalau pas, saya akan angkat kamu sebagai asisten saya"


Benarkah! Jika seperti itu, Sania akan berusaha sebaik mungkin. Bekerja dikantor, merupakan impian perempuan itu sejak dulu. Sania hanya takut memulai dan mendapatkan komentar buruk dari orang sekitar.


Karena itu, ia tidak berani meng-injakan kaki diperusahan apapun yang berperan sebagai pelamar pekerjaan. Ia akn memilih menapaki kaki di kios-kios sederhana. Yang menurutnya sangat cocok dengan akhir pendidikan nya.


"siyap tuan! Sania akan kerja sebaik mungkin"


"sudah siap?" tanya Daffa sekali lagi sebelum membuka pintu besar dihadapan-nya seakan menjadi awal penentuan nasib perempuan itu kedepannya.


Sania mengangguk tegas, "siap tuan"


Sania menarik nafas dalam-dalam. Dengan tegap ia mencoba mengikuti langkah Daffa dengan menyimbangkan tubuhnya karena tidak terbiasa menggunakan high-heels.


Seorang laki-laki menggunakan jas abu-abu sudah duduk membelakangi pintu masuk.

__ADS_1


"selamat pagi. Maaf saya sedikit terlambat" Ucap Daffa


Orang itu berbalik sembari membenarkan jas, "pagi juga. Tidak apa-apa, saya cukup maklum dengan kesibukan anda, tuan Daffa"


Sania yang sedang menunduk langsung mengalihkan pandangan begitu mendapati suara yang sangat ia kenal.


"tuan Alex!" map yang dipegang Sania berhamburan begitu saja mengakibatkan kertas didalamnya beterbangan


Sania tidak siap menghadapi semua orang yang ada di masa lalunya. Termasuk Alex, ayah dari anak yang Sania bawa dan kini berada ditempat yang sama.


"no-- nona Sania! Alhamdulillah, akhirnya saya bertemu nona" ucapnya cepat seraya memegang lengan Sania berulang kali


Sania berusaha menghindar, Daffa mengedepankan tubuh tegapnya demi menutupi tubuh mungil Sania.


"se-- Seno mencarimu kemana-mana!"


"Seno kangen denganmu"


"oh i-- iya, bagaimana kabar anakku! Dimana Reyka! Aku ingin bertemu dengannya" Alex mendesak terus menerus


Melihat Sania memakai pakaian mahal, Alex beranggapan perempuan itu hidup dengan melimpah. Setidaknya Alex akan menyingkirkan fikiran dibenak-nya yang selalu menampakkan hidup anaknya penuh kesusahan.


"sebenarnya ada apa ini! Anda bisa diam dulu tidak!" Daffa benar-benar tidak paham dengan tingkah client-nya yang membuat Sania ketakutan


Sania hanya menggeleng lalu mencengkram kedua lengannya. Sania hanya takut keberadaan Alex akan mendatangkan pria masa lalu-nya yang sampai saat ini masih bertengger dihatinya.


Tidak-tidak! Mereka tidak mungkin bersama. Sejak dulu mereka tidak akur. Mana mungkin sekarang mereka berteman.


"dia siapa?" tanya Daffa


"ayah-nya Reyka" cicit Sania yang hanya terdengar oleh Daffa


Daffa sedikit mengetahui cerita masa lalu Sania setelah almarhum istrinya menceritakan semua masa lalu yang dialami perempuan itu. Dan, ya... Daffa cukup prihatin dengan keadaan Sania.


Daffa mengangkat alis dan memainkan bolpoin dilengan nya , "sepertinya asisten saya sangat ketakutan melihat anda. Lebih baik, kerja sama ini saya batalkan" tegas Daffa hingga suaranya terdengar keluar ruangan


"GAK BISA GITU DONG!" seseorang tiba-tiba masuk dan menyela


Tidak-tidak.


Bukan pertemuan seperti ini yang Sania inginkan.


-----


Kalian


Tim Sania langsung maafin kesalahan Seno


atau

__ADS_1


Tim Seno harus dibuat menderita oleh Sania dulu, baru mereka hidup bahagia?


__ADS_2