
"kenapa harus semewah ini?"
Dekorasi perpaduan antara warna putih, abu-abu dan soft pink memadu ruangan besar, tempat yang rencananya akan menjadi acara Sania dan Seno berlangsung.
Bunga-bunga asli juga mulai dirangkai oleh perangkai bunga profesional yang disewa Seno. Tidak main-main, Seno sampai harus mengocek hingga belasan juta demi membawa orang asli Belanda itu.
"buat kamu, kenapa enggak?" Seno menarik tengkuk Sania lalu mengecup singkat bibir ranum Sania, "hukuman buat kamu yang dari tadi ngomel mulu!"
"ih siapa yang ngomel" Sania menghentak-hentakan kaki kesal lalu mengikuti Seno dari belakang
"istri mas! Gak sadar apa sejak tadi kamu ngomel terus. Padahal yang bayar semua juga mas, uang juga hasil kerja mas sendiri. Kenapa kamu yang repot"
"bukan gitu loh mas...." Ucap Sania penuh geregetan, "Sania lebih bersyukur kalau uangnya kita gunakan untuk hal yang lebih baik kayak sedekah atau membuat masjid dan perihal acara, Sania gak muluk-muluk harus mewah kayak gini. Buat acara BBQ ditaman belakang rumah mas aja udah cukup sama keluarga terdekat"
"mas akan ngelakuin semua perintah kamu, tapi untuk yang satu ini maaf. Mas hanya ingin menepati janji mas dulu" jawab Seno sedikit melembut
"ya udah kalau itu keputusan kamu. Maaf dari kemaren aku rewel terus. Mengocek dengan jumlah uang cukup besar buat Sania ketar ketir sendiri" Sania tertawa
Seno mengangkat salah satu alis. Memandang bingung, "kenapa?"
"karena Sania pernah merasakan gimana sulitnya mencari uang" sahutnya pelan
Sania berjalan mendekati kaca besar menghadap langsung jalanan dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Entah tiba-tiba dadanya serasa sesak sekali, "cari uang gak segampang mas kira"
"ssttt. Iya sayang, mas paham"
"dimarahin pelanggan, dipandang buruk karena hamil, dilecehkan dengan kata-kata tajam dan masih banyak lagi yang aku rasakan" Sania menarik nafas dalam-dalam, "semua itu aku lakukan hanya untuk mencari uang demi anak-anak"
Sania berjongkok dengan menutup wajahnya. Seno mengisyaratkan agar semua pegawainya keluar ruangan dan langsung dituruti oleh mereka.
Seno mengusap puncak kepala Sania. Rasa bersalah kepada Sania kini terasa semakin besar.
Memang benar, semenjak mereka bertemu tidak pernah ada yang memulai pembicaraan ini. Bagaimana sulitnya hidup Sania saat tidak bersama Seno, sakitnya saat mendapat hinaan, lelahnya saat harus menopang ketiga anaknya dibahu yang super rapuh.
"maaf" Ucap Seno lirih, "maafin mas, maaf" Ucap Seno tidak menghentikan kata maaf dan memeluk perempuan itu
"mas janji tidak akan menghambur-hamburkan uang lagi. Ini yang terakhir kalinya, mas janji" jawab Dimas, "jangan marah sama mas hanya karena masalah ini"
"Sania gak marah sama mas ko, Sania juga gak marah karena udah hambur-hamburin uang untuk acara ini. Toh, acara ini juga nanti kita berdua yang akan nikmatin" Sania menatap sayu pemandangan siang hari, "hanya saja tiba-tiba Sania merasa flashback aja"
"maafin mas ya sekali lagi"
"bukan salah mas!" seru Sania lalu tersenyum
Sania meninggalkan Seno dan memperhatikan tempat yang sudah disusun sedemikian rupa. Bangku berwarna emas dan putih membelah keberadaan karet merah ditengah ruangan.
__ADS_1
Pilar-pilar berisikan hadiah Seno juga menghiasi sudut ruangan. Kalian tidak akan bisa membayangkan-nya, karena memang seindah itu tempat yang beberapa hari kedepan akan menjadi tempat dengan Sania dan Seno sebagai peran utama-nya.
"oh iya mas mau ajak kamu kesatu tempat"
"kemana?" Sania menggeleng pelan, "kita harus cepat-cepat pulang mas. Anak-anak gimana? Oh, jangan lupakan Reyka. Sekarang harusnya aku udah ada disekolah dia untuk jemput Reyka" Ucap Sania setengah panik setelah melihat jam dilengannya
"gak usah khawatir. Semuanya sudah beres. Alex akan jemput Reyka dan jaga anak-anak selama kita pergi"
"tapi---
"sudah, sekarang waktunya kita untuk menghabiskan waktu bersama. Kita belum pernah memiliki waktu berdua loh" Ucap Seno berusaha menjelaskan
"ya sudah. Hari ini waktunya kita. Sania dan Seno" sahut Sania lalu cekikikan
"kajja!"
...~§~...
Kemerlip bintang kafe yang didesain malam hari memenuhi langit-langit ruangan. Seno mengajak Sania ke sebuah kafe dekat pusat perbelanjaan. Kafe yang sedang populer karena desain-nya yang sangat keren. Dengan desain seperti malam hari membuat siapapun akan terkecoh jika berada didalamnya, padahal waktu diluar sedang siang hari.
Seperti kafe remang-remang. Ingat remang-remang dalam artian lain!
"ka-- kamu ajak aku kekafe?" tanya Sania seraya menunjuk dirinya sendiri, "gak salah?"
"permisi tuan nona. Selamat datang di kafe ini" ucap perempuan itu lalu memberikan buku menu pada Sania dan Seno
"kamu mau apa?" tanya Seno, "ice americano satu sama kue mocca nya satu" Seno mengucapkan pilihannya
"Saya ice matcha satu sama rainbow cake satu. Itu saja mba"
"baik. Silahkan ditunggu" pelayan itu berlalu begitu Sania dan Seno mengucapkan pesanan nya
"ayang, salah gimana?" ulang Seno sedikit merajuk
"kita gak cocok nongkrong-nongkrong gini mas. Apalagi disini didominasi anak muda, aku berasa tua sendiri" bisik Sania
Seno tertawa, "orang tua juga pengen kali menikmati masa-masa seperti anak muda"
"tapi udah bukan masa-nya!"
"gak papa, kita bikin masa-nya sendiri. Pokoknya khusus hari ini, kita harus kencan seperti anak muda gitu" goda Seno
Sania merengut tak ayal mengangguk, 'sepertinya bukan ide yang buruk'
"permisi" makanan dan minuman sesuai pesanan yang sudah tersimpan rapih diatas meja, "selamat menikmati"
__ADS_1
"iya mba terima kasih"
Pelayan itu menjawab tersenyum lalu beranjak mendatangi meja lain yang membutuhkan dirinya.
"mas aku pernah jagi pelayan dirumah makan loh" sombong Sania lalu memotong rain om cake dan diluncurkan begitu saja dimulutnya
'hmmm manisss' mata Sania terpejam menikmati rasa manis yang menjadi favorit nya
"oh iya? Terus gimana?"
"ya gitu. Aku jadi pelayan tuh pas sedang hamil 7 bulan, untung aja saat itu Sena gak pernah rewel sama sekali. Pokoknya itu pengalaman yang sangat menyenangkan" seru Sania semangat, "walaupun juga ada menyedihkan nya"
"menyedihkan?" tanya Seno turut penasaran
"ya gitu, masa-masa itu menurut Sania adalah masa yang paling kelam. Hampir saja Sania kehilangan Sena saat itu
"Hah! Ko bisa" serobot Seno merasa khawatir
"biasa mas, pandangan orang kala itu sangat buruk sama Sania. Ditambah kedatangan Sean dan Reyka yang semakin menambah nyinyiran orang-orang. Intinya, saat itu Sania ribut karena gak terima anak-anak Sania dikatain hal yang sangat tidak baik dan karena itu lawan Sania mendorong Sania. Hampir saja meja-meja besi jatuh ke perut Sania kalau gak Sania peluk perut dan tahan meja itu, bisa-bisa Sania keguguran " ucapnya sembari menerawang kala itu
"kamu masih inget tidak orangnya? Mas gak akan main-main kalau menyangkut keluarga mas" Ucap Seno bersiap menelepon seseorang
"gak usah mas" Sania menurunkan ponsel-nya, "yang penting semuanya baik-baik saja"
"tapi kan, tetap saja" Seno merengut seraya mengajak Sania beranjak keluar kafe, tentunya setelah membayar di kasir
"ya sudah lah mas. Sekarang kita mau kemana?" Ucap Sania berusaha mengalihkan pembicaraan
Ini yang Sania tidak suka dari Seno. Laki-laki itu selalu gegabah dan mencelakan orang lain dengan uang-nya. Hal itu juga yang membuat Sania enggan bercerita hal-hal buruk lainnya yang menimpa ia.
Jika tahu, bisa-bisa semua orang bisa berakhir buruk hanya karena Seno.
"nonton, gimana?" sahut Seno tiba-tiba
"kalau nonton mah, dirumah aja" Sania tertawa, "lagi pula udah waktunya anak-anak makan siang, kita harus pulang"
"ta-- tapi kan beda sayangg" Seno mengeluh
"nanti ya sayang, kita cari waktu berduaan. Jangan seharian kalau bisa sampai satu minggu" Sania mengedipkan mata satu lalu tersenyum lembut
Seno yang merasa terbuai langsung mengangguk, "iya sayang"
"hahaha... Gampang banget bujuk suami aku yang satu ini" ucap Sania penuh sayang
"huh!"
__ADS_1