
Happy Reading ^_^
Sudah waktunya Sania dan Seno kembali kekota dengan status baru.
Barang yang dibawa Seno tidak terlalu banyak, jadi Sania tidak perlu mengemas pakaian. Seno juga tidak memperbolehkan Sania untuk membawa pakaiannya. Mungkin karena laki-laki iuu sedikit ilfil dengan pakaian kumuh nya.
"sudah siap San?"
"aaaaa!" Sania dikejutkan dengan kedatangan Seno dan Sean yang hanya memakai anduk dipinggulnya. "kalian habis pada ngapain sih?!"
Seno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "lupa bawa baju" Ucap Seno diakhiri tawa
"ck, sana buruan ganti baju! Nanti masuk angin" Ucap Sania seraya memberikan kaus rumahan, "gimana sih bisa sampai lupa. Kamu sih gak papa udah besar, tapi Sean? Nanti masuk angin lagi"
Bukannya marah, laki-laki itu malah merasa tersentuh. Baru hari ini, ia merasakan bagaimana diperhatikan oleh orang lain. Ketegasan kedua orang tuanya dalam membimbing Seno, membuat laki-laki itu tumbuh dalam tekanan.
"iya maaf, mas ganti baju dulu ya"
Sandra mengangguk seraya memakaikan minyak telon pada Sean, "hmmm anak mba udah wangi" ciuman Sania membuat Sean tergelak
"geyiiii" Sean meronta dan berlari keluar kamar
Brukkk... Hua....
"minuman mahal saya jadi tumpah kan! Makanya punya mata dipakai" pekik Sumi
Minuman mahal yang dimaksud perempuan paruh baya itu hanyalah segelas juice mangga yang didapatnya dari tetangga.
"Sania bisa belikan lagi bu! Tapi, jangan ibu dorong anak Sania!" sentak Sania lalu segera menggendong Sean
"alah, anak tiri saja kau bela. Ibu kalah hanya dengan anak tiri itu. Oh iya, kalau bisa kamu singkirkan anak itu, agar harta suamimu jatuh kepada anak kandungmu. Makanya cepat-cepat kau hamil!" bisik Sumi
Sania mendelik, "ibu apaan sih!"
"kamu diberi tahu malah marah-marah. Kalau harta suamimu berangsur ke anak kandungnya saja, kamu juga yang repot"
"Sania minta maaf yang sebesar-besarnya ya pada ibu! Sania mohon kali ini, jangan ikut campur urusan Sania"
__ADS_1
"durhaka ya kamu jadi anak!"
Sania pergi begitu saja, lalu mengajak Sean bermain didepan teras rumahnya.
Teriakan Sumi terdengar sampai dalam kamar membuat Seno buru-buru keluar. Dilihatnya Sania sedang mengajar Sean diteras rumah, "ada apa ibu teriak-teriak?" tanyanya berbisik
"bukan suatu yang penting" jawab Sania, "mau pulang sekarang?"
Seno mengangguk, "iya sekarang saja daripada kemalaman. Besok pagi-pagi mas ada rapat"
Sania menyerahkan Sean pada Seno lalu masuk kedalam rumah.
"kamu mau pulang sekarang?" tanya Andi
"iya bu, pak Sania pamit sekarang juga. Tidak apa-apa kan?"
Terdengar gesekan jalan tergesa dari kamar Santy, "ka aku sama Kamal ikuttt" sahut Santy dari dalam kamar
"untuk apa?" balas Sania dengan teriak
Santy dan Kamal datang sembari membawa dua tas besar lalu memberikannya pada Sania. Sania yang tidak siap menerima begitu saja tas yang sangat berat itu.
Dengan sigap Seno menerima kedua tas berat itu dan memasukkan nya kedalam mobil. Sania tersenyum menandakan terima kasih.
"untuk apa kalian liburan? Bagaimana sekolahmu selanjutnya"
"libur dua minggu lah. Udah kaka diam saja sih! Bukan urusan kakak juga"
"sekolah kamu tuh kaka yang bayar! Jadi, kakak berhak dong memantau kegiatan sekolah kamu. Awas saja kalau sampai tahun ini tidak lulus lagi"
Yap, Santy pernah menetap di kelas delapan selama dua kali. Tahun ini aja, perempuan itu naik karena ada sogokan yang Sania beri.
Bukannya Sania mendukung perbuatan jahat itu, tapi Sania terus didesak agar memberikan uang besar dan menyelamatkan Santy dari omongan orang-orang.
Sejak kecil tingkah Santy selalu bertolak belakang dari sikap Sania. Sania yang sopan, Santy yang brutal. Sania yang lembut, Santi yang kasar. Tapi mau bagaimanapun, Sania sayang dengan Santy. Walaupun begitu, Santy kan adik kandung Sania. Tapi, saat ini Sania sedikit menyayangkan keputusan adiknya untuk menikah muda.
Umur Santy belum genap 17 tahun, tapi perempuan itu sudah memutuskan untuk menikah. Padahal yang Sania tahu, pernikahan tidak semudah itu. Tantangan kehidupan baru dirasakan setelah melaksanakan pernikahan. Banyak yang harus dilakukan saat menjadi ibu rumah tangga. Sania tidak yakin, adiknya akan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, mengingat pola fikir adiknya yang masih kekanak-kanakan.
__ADS_1
"kaka berisik! Sudah cepat kita pergi" Santy tampak mengkipas-kipas tubuhnya yang terpapar langsung sinar matahari yang begitu terik, siang ini
Seno mengangguk lalu menunjuk dengan dagu, meminta Sania untuk membukakan mobil.
"tapi mas---
" sudah-sudah, kau bukakan mobil itu. Jangan lupa pasang kursi khusus untuk Sean. Ada yang ingin mas bicarakan dengan kedua orang tuamu"
Sania mengangguk lalu meraih kunci mobil Seno.
"bu, pak saya dan Sania izin pergi dulu" Seno mergoh tas dan mengeluarkan amplop cokelat berisikan uang sepuluh juta, "ini uang untuk bulan ini seperti yang saya janjikan"
Andi langsung menyambar amplop tersebut dan langsung tersenyum sumringah saat melihat uang berwarna merah itu.
"oh iya jangan lupa secepatnya untuk renovasi rumah kami. Ibu sudah tidak betah untuk tinggal dirumah kumuh ini"
"baik bu, secepatnya akan saya hubungi arsitek"
Andi dan Sumi saling memandang dan tersenyum puas.
"kami pamit pulang dulu bu"
Andi dan Sumi mengantarkan kedua anaknya dan suami mereka sampai depan rumah. Sania mengendalikan lengan dengan melambaikan lengan mungil itu.
Sumi tersenyum masam, tak ayal tetap membalas lambaian lengan Sean karena Seno masih menatap tajam.
Semua sudah masuk kedalam mobil. Sejak tadi Santy dan Kamal sudah bersantai dikursi penumpang mobil membiarkan kedua orang tuanya yang terus berdadah-dadah ria.
Sania dan Seno yang tidak ingin banyak bicara, akhirnya duduk dikursi penumpang paling belakang. Karena kursi depan sudah dikenakan oleh supir keluarga Seno.
"mas, maafkan sekali lagi atas kelakuan adik aku ya. Atau kalau mas keberatan, Sania suruh Snaty untuk pindah kursi"
"sudahlah, biarkan. Mungkin ia takut mabuk kalau duduk dibelakang"
"maaf ya mas"
Seno mengangguk, "tidak apa-apa"
__ADS_1
Mobil mulai melaju, meninggalkan Andi dan Sumi yang sudah merebutkan siapa yang akan menyimpan amplop tersebut.