Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 51


__ADS_3

Matahari semakin beranjak naik saat kami berjalan didekat trotoar. Area car free Day yang kini dibebaskan dari para pedagang kaki lima membuat mereka sedikit leluasa melangkah.


Seno dan Sania dengan tidak sengaja memakai pakaian olahraga dengan warna yang sama, membuat berpuluh-puluh mata tak segan untuk menatap mereka. Ditambah sikap Sean yang membuat keadaan sekitar hingga mereka menjadi pusat perhatian.


"anaknya lucu banget sih" ucap seorang perempuan paruh baya dan mengusap pipi Sean


Sean menghindar lalu mengusap pipi tembamnya, "gak boleh ada yang pegang pipi eyan! Nanti muka eyan kotol" sungutnya


Tidak hanya orang lain, bahkan Sania ataupun Seno selalu dilarang memegang wajah Sean kecuali mereka sudah cuci tangan.


Alasan tangan kotor hanya menjadi alibi anak itu. Tentu saja, sebenarnya Sean merasa risih jika ada yang terus-terusan memegang wajahnya.


Ia tahu, wajahnya tampan. Makanya banyak orang yang suka sentuh sana sentuh sini! Huuh!


"gak boleh begitu ya Sean, namanya gak sopan" peringat Sania


Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum canggung lalu berpamitan diri.


Seno tersenyum puas berbeda dengan Sania yang sudah bersiap menasihati Sean. Laki-laki itu beranggapan sikap Sean sudah sangat tepat terhadap orang asing.


Walaupun memang benar adanya sikap Sean sedikit tidak sopan pada perempuan yang bahkan jauh lebih tua dari dirinya. Tapi bukankah bagus jika Sean berlaku tidak sopan pada orang asing? Siapa tahu orang itu Ingin berniat buruk padanya?


"sudahlah biarin saja" Seno menggendong Sean dan menghalau amukan Sania


Berlebihan untuk dikata amukan. Sania hanya ingin menasihati Sean sedikit saja. Perihal hanya menyentuh wajah, bukankah gak baik Sean sampai membentak segitunya?


"terserah kamu saja mas" Sania mulai berlari pelan meninggalkan Seno yang sibuk dengan celotehan Sean pada para penjual makanan kesukaan anak itu


"tuh kan, mamih kabur gara-gara kamu sih"


Seno menyudahi tatapan Sean yang masih tertuju pada rambut nenek yang sedang dibuat.


"yah--


" gak! Gak boleh. Nanti gigi kamu sakit" refleks Sean memegang sebelah pipinya


"oke deh!" Sean sudah kapok dengan yang namanya sakit gigi. Anak laki-laki itu susah merasakan bagaimana sakit yang diderita jika sudah sakit gigi. Gigi terus berdenyut tidak lupa kepala juga yang ikut berdenyut membuat anak itu tidak bisa tidur.


Sean tidak mau lagi!


"mas pulang sekarang? Apa makan dulu?"


Peluh keringat memenuhi wajah polos Sania. Disekanya dengan handuk kecil yang memang sengaja ia bawa.


Seno yang sedang duduk dipelantaran trotoar langsung mendongak, "kamu kemana saja sih!"


Setelah insiden Sean yang tidak mau lepas dari penjual rambut nenek, Seno tidak menemui keberadaan Sania. Padatnya tempat car free Day membuat Seno sedikit kesulitan mencari perempuan dengan pakaian biru dongker itu.


Mau tidak mau, Seno memilih duduk diatas trotoar bersama Sean mengikuti pejalan kaki yang juga kelelahan setelah melihat kendaraan nya masih ada. Berarti Sania tidak ketempat kendaraan mereka berada.


"aku keliling sebentar" ujarnya sembari meratakan kerudung instan-nya, "maaf deh, bukan maksudnya ninggalin"

__ADS_1


"tahu ah aku marah" ambek Seno


Tidak dipungkiri, ditengah kerumunan yang ingin melakukan olahraga juga banyak terdapat laki-laki. Seno tidak bisa membayangkan bagaimana para laki-laki menatap Sania saat tidak bersama dengannya.


Seno mengakui Sania sudah cukup cantik jika tidak memakai jilbab. Tetapi perempuan itu semakin sempurna saat jilbab terpasang dikepalanya. Dengan kata lain, walaupun memakai jilbab kecantikan Sania tetap terpancar.


Seno bangkit dan menepuk bokongnya menghalau debu yang menempel. Tidak lupa ia lakukan hal serupa pada Sean.


"maafin Sania ya mas" Sania mencuri kecupan


Seno tersipu malu. Perasaan nya langsung menghangat, rasa cemburu yang baru dirasanya menguap begitu saja. "iya deh, lain kali jangan gitu lagi ya" Seno menepuk kepala Sania, dengan antusias perempuan itu mengangguk


"Sean mau kemana lagi?"


"mau makan" dipegang perutnya yang sudah berbunyi meminta makanan pada sang empunya, "bubul" tambahnya


Disepanjang jalan, penjual makanan untuk menu sarapan yang bertebaran dimana-mana. Mereka sedikit kesulitan untuk mencari stan bubur yang diinginkan Sean.


Sebelumnya saat berjalan sendiri Sania sudah Stand lontong sayur yang sudah terbayang-bayang dipelupuk Sania hilang begitu saja mendengar keinginan Sean pada bubur. Akhirnya mereka memasuki salah satu penjual bubur ayam yang terbilang tidak cukup ramai.


"pak pesen bubur dua porsi aja"


...~§~...


"minggu besok lagi ya"


Keasyikan olahraga dilingkungan yang tidak ada mobil dan motor membuat Sania jatuh cinta. Selain membuat tubuh lebih bugar Sania akan dapat bertemu orang banyak. Sania suka.


Padahal tadi pagi Seno diribetkan oleh Sania yang memaksa tidak mau ikut. Selain tidak pernah olahraga, perempuan itu juga lebih memilih membersihkan rumah daripada berjalan santai tidak jelas.


Seno harus membawa-bawa nama Sean dan akhirnya setuju juga. Dan lihatlah sekarang, malah perempuan itu yang jatuh cinta pada olahraga pagi dihari minggu.


Sania mengangguk antusias, "banyak jajanan juga, Sania suka!"


Jangan lupakan Sania masih berumur belia jauh dibawahnya. Tentu saja ada beberapa hal yang membuat perempuan itu masih terlihat kekanakan. Tapi Seno memakluminya, malahan laki-laki selalu gemas melihat tingkah kekanakan Sania.


Para pelayan menyambut kedatangan mereka begitu mereka masuk. Salah satu pelayan yang dikenal sebagai ketua diantara mereka semua menghampiri Sania dan Seno.


"tuan, nona ada tamu yang sedang menunggu" sontak keduanya menoleh pada ruang tamu, tetapi tidak ada keberadaan orang disitu


"tamunya sudah pulang?"


"belum nona, tamu yang menanyakan nona sama tuan sedang ada ditaman belakang"


"taman belakang?"


Mengingat keberadaan taman yang tidak terlalu diketahui oleh publik, membuat mereka sedikit penasaran pada tamu yang bahkan sudah tahu ada taman bunga dibalik rumah megah ini.


"siapa?" tanya Seno memastikan


"Saya kurang tahu tuan, baru pertama kali saya melihat mereka"

__ADS_1


"mereka?" tandas Seno, berarti tamu yang datang melebihi satu orang


"iya tuan, seorang perempuan bersama anak laki-lakinya"


Seno mengangguk, "terima kasih, suruh tunggu mereka sebentar lagi. Dan jangan lupa bawakan minum untuk mereka"


"baik tuan" jawab perempuan itu mengiringi kepergian-nya


"menurut kamu siapa yang datang, yang?" Sania mengendikkan bahu sambil memilih baju untuk dikenakan oleh Seno


"mana Sania tahu. Ini kan rumah kamu, kayaknya juga tamu yang datang pasti kenalan kamu bukan kenalan aku" Sania memberikan baju santai pada Seno, "kamu mandi duluan aja, Sania mau cek Sean dulu"


"cek Sean nya nanti aja. Sekarang kita bersih-bersih dulu" ujar Seno


“Tapi kan?” melihat senyuman mesum Seno sontak saja Sania memukul pelan suaminya itu, “apaan sih mas! Sudah ah, kasihan tamunya nunggu lama”


Derai tawa Seno terdengar sampai keluar kamar mereka. Rona malu terpancar diseluruh tubuh Sania. Seno yang berbuat mesum, perempuan itu yang malu. Memang dasar!


“Sean” kamar terbuka begitu Sean membukanya dari dalam


“napa mih?”


“mau mandi gak” diusapnya ceruk leher Sean yang masih dipenuhi peluh keringat, “lengket banget kamu”


“dak mau! Dak mau mandi, mau tidul” Rengekan khas seorang anak kecil terdengar dari mulut mungil anak itu. Sean bersiap menarik selimut tetapi kalah saat Sania segera mengangkatnya, “huuh mamih! Janan ganggu eyan lagi”


Lagi? Tadi pagi, Seno juga melakukan hal yang sama pada Sean. Tidak hanya megannggu dirinya yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah, laki-laki itu juga menganggu kelelapan anaknya. Sean yang memang gampang bangun walaupun hanya mendengar suara pelan tak tahan dengan degala tingkah Seno dan dengan sangat terpaksa bangun. Walaupun suara tangisan kencang Sean terdengar sampai penjuru rumah. Seno tidak perduli, ia hanya berbangga diri karena sudah membangunkan anaknya yang memang tidak biasa bangun pagi.


“gak boleh tidur, kalau belum mandi. Kalau gak __


Sean yang sudah tahu segala ancaman yang akan dilontarkan sang mamih langsung terpaksa duduk, “iya-iya mandi! Tapi sama mamih ya”


“siyap bos”


...~§~...


Rasa bersalah sempat meliputi hati Sania, pasalnya mereka semua baru selesai bebersih diri hampir satu jam setelahnya. Yang artinya mereka sudah membiarkan tamu mereka selama itu.


“mas gak papa kan? Aku jadi gak enak nih sama tamu-nya” Sania memutuskan untuk membuat juice sementara Seno


“gak papa santai saja” dikecupnya kening sang istri, “jangan lupa keluarnya pakai hijab, walaupun masih dilingkungan rumah ini”


“iya mas”


Seno beranjak menemui tamu yang membuat mereka penasaran sedari tadi.


"ko mas Seno lama banget sih?" Sania menolak penawaran pelayan untuk membawa juice yang sudah dibuatnya


Perempuan itu berjalan dengan hati-hati menuju belakang rumah tepat taman berada. Dibukanya dengan didorong menggunakan kaki pada pintu yang berhubungan langsung dengan tempat taman berada.


"mba Karin?"

__ADS_1


__ADS_2