
Aku update lagi nih ✌️, jam segini masih ada yang baca ya gak?
Happy Reading ~~
Pagi-pagi Sania dikejutkan dengan Sean yang datang kekamar nya dnegan suhu tubuh yang begitu tinggi, setelah Sania menyentuh kening Sean. Anak itu menyeret tubuhnya sembari membawa satu boneka pooh, yang memang sudah menjadi ciri khas seorang Sean.
Sania semakin dibuat histeris saat Sean tumbang begitu saja dihadapan dirinya. Ia yang sedang merapihkan tempat tidur, tanpa berfikir lebih panjang lagi langsung mengangkat anak itu berlarian menuju kamar lantai atas, kamar Seno.
"mas... Mas.... Buka..... Mas Sean mass" histeris Sania
Dengan wajah menahan kantuk Seno membuka pintu kamar dan langsung menatap dengan penuh tanda tanya melihat Sania yang menggendong Sean dan terus menepuk pelan pipi anak kecil itu.
"mas jangan bengong!!!! Ini anak kamu pingsan" histeris Sania
"eh, apa!" dengan panik Seno kembali masuk kedlama kamar untuk sekedar berpakaian dan membawa kunci mobil
Seno melempar kain tebal untuk menutupi tubuh Sean dipelukan Sania, "pakai ini"
Sania mengambilnya dan membalut anak itu. Mata Sean tetap terpejam dengan indahnya, tapi mulut kecilnya terus memanggil ayahnya.
Seno tidak bisa fokus ditempat duduk kemudinya. Ia melirik terus kepada Sean, "maafin ayah nak, maafin" Ucap Seno dengan sangat lirih
...~§~...
Sania menangis dipelukan Seno seraya menunggu dokter yang memeriksa Sean. Mulut kedua orang tua itu terus berkomat-kamit untuk mendoakan kesembuhan Sean.
__ADS_1
Mereka semakin dibuat khawatir karena mendapati Sean yang sempat kejang saat dihantar keruangan yang sangat dibenci anak-anak itu. Padahal Sean sempat sadar dan langsung tersenyum dibalik tubuh lemahnya saat mendapati Seno tetapi tubuh anak itu seketika langsung berguncang hebat diiringi gerakan menyentak di lengan dan tungkai, serta kehilangan kesadaran.
"San, maafkan mas. Maafkan karena keegoisan mas membuat anak tak bersalah seperti Sean sampai sakit seperti tadi"
Sania menatap wajah Seno lekat-lekat, "lihat mas! Lihat, gara-gara kelakuan kamu Sean sampai masuk rumah sakit. Lihat senyuman kecil anak itu saat menatap kamu disela-sela ia sedang menahan sakit" sahut Sania dengan tangisan yang tertahan dan tatapan tajam tertuju pada Seno
"maafin mas, maafin mas" Ucap laki-laki itu, sesekali ia menunggu pintu ruangan itu terbuka. Ia akan langsung berlari dan memeluk anaknya yang beberapa terakhir ini ia abaikan begitu saja. Ia menyesal.
Pintu ruangan terbuka disaat Seno membuka mata untuk kesekian kalinya. Sania dan Seno langsung berdiri dan menghampiri dokter yang masih muda itu.
"bagaimana keadaan anak saya dok?"
"kalian orang tua dari pasien didalam?" tanya dokter bername tage 'Maya' dengan tenang
Peraturan kode etik dirumah sakit kali ini membuat Seno sedikit mendengus. Bertanya tentang pasien yang ada didalam pada orang yang sedang menunggu nya. Bukankah sudah jelas saat seorang perempuan dan laki-laki membawa anaknya sudah pasti mereka merupakan orang tua dari anak tersebut??
"iya dok, kami orang tua dari pasien bernama Sean tersebut" jawab Sania
Maya mengangguk lalu meminta mereka untuk memasuki ruangan nya setelah melihat bahwa Sean sedang tertidur dengan pulas dengan infus terpasang dilengan nya.
"jadi, anak saya sakit apa dok?" tanya Seno
"bukan penyakit yang serius, anak anda terkena kejang demam. Kejang demam biasanya dipicu dari anak yang demam dan suhu dari anak yang begitu tinggi" jelas dokter tersebut
Sania hanya mengangguk. Disaat seperti ini ia akan meminta Seno lebih maju dihadapan-nya. Dengan kata lain, ia menyerahkan segala urusan pada Seno. Hal seperti ini bukan urusan perempuan itu, ditambah ia tidak terlalu mengerti apa maksud dari dokter.
__ADS_1
Maklum Sania hanya lulusan Sma jurusan sma. Bukan, bukan perempuan itu meremehkan lulusan sma. Sedangkan banyak yang diluaran sana menjadi orang sukses walaupun hanya lulusan sma bahkan smp. Setiap orang pasti sukses, tergantung orang itu mau menjalani nya atau tidak.
"apa kejang demam sama seperti epilepsi? Apa penyakit itu dapat membahayakan anak saya?"
"Kejang demam berbeda dengan epilepsi atau ayan. Epilepsi ditandai dengan kejang berulang tanpa perlu menyertai demam. Meskipun umumnya tidak berbahaya dan hanya terjadi sebentar, tapi jika dibiarkan penyakit ini dapat mematikan pada anak. Apa sebelumnya Sean sudah merasakan kejang saat belum dibawa kerumah sakit?"
Kali ini Sania menggeleng," saya juga kurang tahu dok. Hanya saja tadi pagi anak itu datang kekamar saya dengan keadaan tubuh yang sangat panas dan seketika pingsan ditempat"
"sepertinya tidak ada yang serius" jawab dokter itu seraya melihat-lihat hasil tes Sean
Sania dan Seno seketika bernafas lega, "jadi kapan anak saya bangun dok?"
"mungkin sebentar lagi. Tuan dan nona tidak perlu khawatir kami sudah melakukan pemeriksaan dari darah, urine, lumbal pungsi, pemindaian otak, atau elektroensefalografi (EEG) dan semua hasilnya dalam batas normal. Jadi sudah dipastikan Sean hanya kejang dikarenakan suhu tubuhnya yang terlalu tinggi"
Seno dan Sania serempak mengangguk lalu memundurkan diri setelah mengucapkan terima kasih pada dokter Maya.
Memasuki ruangan VIP yang merawat Sean, Seno langsung didapati anaknya yang sudah bangun dan tersenyum lebar melihatnya.
Seno memeluk anaknya dengan erat membuat Sania sedikit khawatir dengan infusnya yang masih tergantung.
"ayah maafin eyan, eyan nakal ya yah?" jawab Sean dengan sendu
Seno menggeleng, ia menghujami kecupan berkali-kali pada anak itu, "tidak, ayah yang nakal. Maafin ayah nak" seru Seno
Sean menangis dibalik tawanya. Anak itu sangat bahagia mendapat ayahnya sudah kembali seperti sedia kala. Sania yang melihat hanya tersenyum penuh haru melihat merek yang masih saling memeluk.
__ADS_1
Sania harap mereka akan bahagia selamanya.